Marvel

Marvel
CHAPTER 18



Pagi hari yang seharusnya dimulai dengan kedamaian, Marvel terbangun dengan kejutan yang sangat mengerikan. Ia melihat mamanya, Mary, tergeletak di sofa dengan tubuhnya penuh luka dan bersumpah darah. Marah dan ketakutan, Marvel segera berusaha menghubungi bantuan darurat.


(panik) "Mam! Mam! Apa yang terjadi?!"


Marvel mengambil ponselnya dan dengan gemetar menelepon nomor darurat. Ia mencoba menjelaskan situasi yang sedang terjadi dengan sejelas mungkin.


(telepon darurat) "Ada keadaan darurat! Mam saya terluka dan perlu pertolongan medis segera!"


"Coba tenang, kami akan mengirimkan bantuan segera. Di mana Anda berada?"


Marvel memberi tahu operator alamat rumahnya sambil berusaha mempertahankan ketenangan. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada mamanya, tetapi yang jelas, mereka membutuhkan pertolongan segera.


Sementara menunggu kedatangan bantuan medis, Marvel mencoba memeriksa luka-luka yang ada pada tubuh Mary, meskipun dengan rasa cemas yang mendalam.


(dengan air mata di matanya) "Tolong, mam, tetaplah bernapas. Bantuan akan datang segera."


Beberapa menit kemudian, ambulans tiba di rumah mereka. Tim medis segera mengambil alih situasi, dan Marvel merasa sedikit lega bahwa bantuan telah datang.


"Kami akan membawa ibu Anda ke rumah sakit sekarang, Pak Marvel. Anda harus tetap tenang."


"Harap segera bantu mam saya!"


Mereka segera membawa Mary ke ambulans, dan Marvel menyusulnya dengan hati yang berdebar. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada ibunya, tetapi ia merasa perlu untuk tetap kuat dan mendukungnya.


Di dalam ambulans, petugas medis berusaha secepat mungkin untuk merawat luka-luka Mary dan memberikan pertolongan medis yang diperlukan. Marvel duduk di samping ibunya dengan mata yang penuh kekhawatiran.


"Kita sudah mendapatkan kontrol atas situasi ini, Pak Marvel. Kami akan berusaha yang terbaik untuk ibu Anda."


(dengan suara lembut) "Terima kasih, tolong selamatkan mam saya."


Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, dan Marvel hanya bisa berdoa agar ibunya akan segera pulih dan kembali dalam kondisi yang baik. Sedangkan pertanyaan mengenai apa yang telah terjadi pada Mary masih tetap menggantung di pikiran Marvel, dan ia tahu bahwa akan ada banyak pertanyaan yang perlu dijawab di kemudian hari.


Kedatangan Marvel dan Mary ke rumah sakit disambut dengan cepat oleh tim medis yang berusaha menyelamatkan nyawa Mary. Mereka membawa Mary ke ruang gawat darurat dan segera memulai upaya penyelamatan.


(sambil berbicara cepat) "Kami butuh transfusi darah segera! Siapkan semua yang diperlukan!"


(sambil bergerak cepat) "Saya akan segera menyiapkan prosedur transfusi darah!"


Marvel merasa hatinya berdebar keras saat melihat upaya medis yang berlangsung di hadapannya. Ia tahu bahwa setiap detik sangat berharga dalam situasi ini.


(dengan nada cemas) "Tolong, dokter, tolong selamatkan mam saya!"


(sambil berusaha tenang) "Kami akan melakukan yang terbaik, Pak Marvel. Semua akan tergantung pada kecepatan transfusi darah ini."


Sementara itu, suster dengan cepat mempersiapkan prosedur transfusi darah. Mereka tahu bahwa keadaan Mary sangat kritis, dan transfusi darah adalah satu-satunya harapan untuk mengembalikan kestabilan kondisinya.


(ke Marvel) "Silakan menunggu di luar, Pak Marvel. Kami akan segera memberi tahu Anda perkembangan terbaru."


(dengan mata berkaca-kaca) "Tolong, berikan yang terbaik untuk mam saya."


Marvel menunggu dengan gelisah di luar ruang gawat darurat. Setiap detik terasa seperti jam. Dia mencoba untuk tetap kuat, tetapi kekhawatirannya untuk ibunya membuatnya hampir tak bisa menahan air mata.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah serius. Marvel langsung mendekatinya dengan penuh harapan.


(dengan suara gemetar) "Bagaimana kondisi mam saya, dokter?"


(dengan air mata di matanya) "Tolong, katakan sesuatu, dokter."


(dengan penuh penyesalan) "Maafkan kami, tapi kami tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Ibu Anda telah meninggal."


Kata-kata itu seperti pukulan yang sangat keras bagi Marvel. Dia merasa dunianya runtuh saat mendengar bahwa ibunya telah pergi untuk selamanya. Air mata mengalir deras dari matanya, dan dia merasa seperti kehilangan segalanya.


(dengan suara terputus-putus) "Tidak, tidak bisa... Mam saya..."


Dia merasa terpukul dan tak bisa percaya bahwa ibunya telah meninggal begitu tiba-tiba. Perasaan kehilangan yang mendalam dan duka yang mendalam menghampirinya saat dia mencoba memahami kenyataan yang tidak bisa diubah. Ia tahu bahwa kehidupannya telah berubah selamanya, dan ibunya akan selalu dikenang dalam hatinya.


Pemakaman Mary, ibu dari Marvel, adalah momen yang penuh duka dan kepedihan bagi Marvel dan seluruh gengnya. Mereka berkumpul bersama di pemakaman, mencoba memberikan dukungan dan kekuatan bagi Marvel dalam saat-saat sulit ini.


(dengan suara lembut) "Saya sangat menyesal mendengar kehilanganmu, Marvel. Mari saya tahu jika ada yang bisa saya lakukan untukmu."


(dengan mata berkaca-kaca) "Terima kasih, Adara. Kepergian mam saya sangat sulit bagiku. Dia adalah segalanya bagiku."


"Kita semua di sini untukmu, Marvel. Kami adalah keluargamu."


"Mari kita bersama-sama mengenang dan merayakan kehidupan yang indah yang telah dimiliki mammu."


Pemakaman dimulai dengan doa dan kata-kata penghiburan dari pendeta. Semua yang hadir mengenang kebaikan Mary dan bagaimana ia telah memberikan cinta dan dukungan selama ini.


"Mary adalah seorang wanita yang luar biasa, penuh cinta dan kasih sayang. Kehadirannya akan selalu dikenang dalam hati kita."


Seiring dengan kata-kata penghiburan, Marvel merenung tentang momen-momen indah yang telah ia bagikan bersama ibunya. Air mata tak bisa ia tahan lagi, dan ia membiarkan mereka mengalir bebas.


(sambil menangis) "Mam, saya merindukanmu. Terima kasih atas segala yang sudah kamu berikan padaku."


Teman-temannya memeluk Marvel, memberikan dukungan yang sangat ia butuhkan saat ini. Mereka tahu bahwa perasaan kehilangan ini akan berat, dan mereka berjanji untuk selalu ada untuknya.


Setelah pemakaman selesai, mereka berkumpul di rumah Marvel untuk berbicara lebih lanjut. Adara juga tetap bersama mereka, mendukung Marvel dalam saat-saat sulit ini.


(sambil menenangkan) "Waktu akan menyembuhkan luka, Marvel. Kami di sini untukmu, kapan pun kamu butuhkan."


(menghela nafas) "Terima kasih, Adara. Aku beruntung memiliki teman-teman seperti kalian."


Mereka semua menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang kenangan indah bersama ibu Marvel, dan berjanji untuk menjaga kenangan Mary tetap hidup dalam hati mereka. Meskipun mereka telah kehilangan sosok yang sangat dicintai, mereka tahu bahwa dengan dukungan satu sama lain, mereka dapat melewati masa-masa sulit ini.


Malam tiba di pemakaman, tetapi Marvel masih duduk di pinggir makam ibunya yang baru saja dikuburkan. Dia merasa sepi dan hampa, seolah dunia di sekitarnya telah berhenti berputar. Lampu-lampu kecil di sekitar pemakaman menyinari makam Mary, menciptakan suasana yang hening dan sedih.


(sambil berbicara pelan pada makam) "Mam, aku tahu kamu tidak akan bisa mendengar ini, tapi aku merindukanmu begitu banyak. Aku merasa seolah dunia ini tidak lagi sama tanpamu."


Dia merenung tentang semua kenangan indah yang pernah dia bagikan dengan ibunya. Bagaimana mereka sering tertawa bersama, berbagi cerita, dan mendukung satu sama lain dalam setiap situasi. Ibu Mary adalah orang yang selalu ada untuknya, dan kehilangannya seperti kehilangan sepotong hati.


Beberapa temaram di sekitar pemakaman membuatnya merasa seperti dia sendirian di dunia ini. Keheningan malam hanya dipecah oleh desiran angin lembut yang melintas. Marvel mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, tetapi perasaan kesedihan dan kehilangan begitu kuat.


(dengan suara gemetar) "Saya berjanji, mam, saya akan menjaga kenangan Anda hidup. Anda akan selalu ada di hati saya."


Dia merasa seperti dia ingin berbicara dengan ibunya lebih banyak lagi, mengenang masa lalu yang indah bersama. Dia ingin berbicara tentang bagaimana hidupnya akan berlanjut tanpa kehadiran ibunya.


Di bawah langit yang penuh bintang, Marvel terus duduk di sana, tidak tahu berapa lama waktu berlalu. Ia merenung tentang kehilangan yang begitu mendalam dan mencoba menerima kenyataan bahwa ibunya telah pergi. Di sampingnya, makam Mary adalah tempat di mana kenangan mereka akan selalu terukir, dan dia berjanji untuk menjaga api cinta dan kasih sayang ibunya tetap menyala dalam hatinya.


Tbc