
Marvel tidak akan menjadi pengecut kali ini, jika dulu saat ia ingin bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Rio sahabatnya itu terpaksa diurunginya karena telah adanya kesepakatan antar dua keluarga.
Semua menjadi mudah bagi seorang Rama Mahendra, sang pengusaha besar yang menaungi banyak perusahaan di Indonesia bahkan luar Negeri. Tidak pernah ada satu kata cacat atau hal kecil yang bersifat buruk tercantum pada berita tentang dirinya.
Saat kejadian yang tak sengaja menyebabkan kecelakaan fatal pada seorang siswa yang diketahui akan ulah putranya, ia langsung bertindak membuat kesepakatan antar keluarga dengan ganti rugi yang besar. Tentu hal itu akan menjadi mudah dikarenakan keluarga Rio termasuk kelas ekonomi rendah.
Keluarga Rio pun tak akan mudah jika membawa hal itu keranah hukum, apalagi mereka percaya bahwa tragedi itu hanyalah kecelakaan. Marvel yang selama ini mereka kenal sangat dekat dengan Rio tidak mungkin akan melakukan hal itu padanya.
Kabur dari masalah merupakan hal yang paling disesali oleh Marvel, entah itu murni kesalahannya atau tidak, tetapi jelas sampai saat ini ia masih takut untuk menampakkan dirinya pada keluarga sahabatnya itu.
“ dasar pengecut”. Marvel meneriaki dirinya sendiri serta membanting tasnya ke tanah ditaman rumah sakit yang sangat sepi.
Ia sudah sampai dirumah sakit tempat sahabatnya dirawat, tapi ia tetap tak berani melangkahkan kakinya kedalam ruang itu. Dari bingkai kaca yang terdapat dipintu, ia dapat melihat dari balik tembok masih banyak alat yang menempel ditubuh Rio. Sudah setahun lamanya Rio tertidur disana dan masih dalam keadaan koma.
Marvel menangis mengingat kebersamaan ia dan Rio dulu, seorang anak yang terlebih dulu mengajaknya berteman saat ia memilih sendiri. Dari dulu Marvel selalu bersikap dingin kepada semua orang dank arena latar belakangnya yang lebih kaya membuat anak – anak lain tak berani mendekatinya.
Berbeda dengan Rio yang juga sering kali menyendiri karena mendapat perlakuan yang berbeda oleh para temannya. Walaupun ia dikenal ramah dan pekerja keras oleh banyak orang, namun kesederhanaanya menjadikan ia selalu diusik oleh para anak yang suka berkuasa.
Flash Back
“ buahahaha…..sepeda jadul gini masih lo pakek?, mending lo jual aja jadi barang rongsokan”. Gelak tawa beberapa anak mengiringi Rio yang sedang memarkirkan sepeda bututnya itu.
Rio tak menanggapi ocehan ledekan yang dituturkan para perisak yang tak pernah berhenti menggangguinya. Pernah ia melawan, namun beasiswanya hampir terancam dicabut karena terlibat perkelahian. Melihat tak ada gubrisan dari Rio, mereka menendang sepedanya sehingga mengakibatkan goresan dibody motor Marvel yang terparkir tepat disampingnya dan membunyikan alarm keamanan motor.
“ wah gila lo, motor si kutub tu”. Ujar salah satu dari mereka ketakutan melihat ulah dari temannya.
“ cih sial, buruan cabut”. Mereka langsung meninggalakn area parkir dimana Rio sedang mendirikan sepedanya.
Marvel yang mendengar alarm pun bergegas ketempat parkir, disana ia melihat anak kelasnya sedang membenarkan posisi sepedanya. Marvel mengecek motornya dan kemudian berdecih kesal karena ada goresan dimotornya. Namun saat menyadari siapa yang mengakibatkan motornya lecet, ia hanya menatap jengah ke Rio dan berlalu meninggalkannya.
“ Sorry, bukan gue yang ngebuat lecet motor lo”. Ucap Rio mengikuti Marvel takut ia dituduh dan diminta ganti rugi.
Marvel tak mengubris ucapan Rio dan kembali ke kelas dan merebahkan kembali dirinya untuk tidur dikelas. Rio sedikit merasa senang karena Marvel tak menyalahkan dirinya dan ikut duduk dikursinya.
“ Vel, lo gak marah sama ni anak, goresannya lumayan tu”. Ucap anak yang sebenarnya mengakibatkan kejadian itu.
Melihat Marvel yang masih terdiam dan tenang dengan tidurnya, ia pun merasa kesal karena tak digubris olehnya. Ia pun kembali menatap tajam Rio dan berusaha mengusiknya dan membuat Marvel agar terpancing menyudutkan Rio.
“ heh, bersyukur lo, lo kerja angkut barang dipasar selama setahun juga gak akan cukup bayar tu motor”. Ucapnya menghina Rio namun yang dihina hanya diam saja.
“ mana cukup bro, ganti sepeda butut aja gak sanggup”. Gelak tawa mereka membuat Rio menggeram kesal namun tak bisa berbuat apa –apa.
“ sekali lagi lo ganggu gue tidur, habis lo pada”. Gertak Marvel membuat mereka menutup rapat mulutnya dan menatap kesal karena Marvel terlihat lebih berkuasa dari mereka.
Diarea lapangan sekolah ketika jam olahraga, Marvel masih setia dengan kegiatannya yang hanya tiduran dibangku panjang yang tak jauh terlatak disana. Rio yang melihat Marvel pun mendekatinya, ia percaya bahwa ada sisi baik dalam diri Marvel namun tertutupi oleh sikap dinginnya.
“ makasih lo udah percaya kalo bukan gue pelakunya”. Ucap Rio tulus dan tersenyum melihat Marvel yang masih dengan posisi yang sama, padahalia yakin marvel mendengarkannya.
“ gue baru tau ternyata didunia nyata ada ya pangeran tidur, beda dari dongeng yang adek gue baca”. Kekehan Rio membuat Marvel membuka matanya dan menampilkan tatapn jengah yang kemudian dipejamkannya kembali.
“ hei Marvel Rahendra, bisakah izinkan diriku membangunkanmu dari kutukan itu, ah sepertinya aku harus melakukan seperti apa yang ada di dongeng”. Terang Rio menggoda Marvel dan mencoba menundukkan dirinya pada wajah Marvel.
Marvel langsung terkesiap bangun dari tidurnya saat mendengar penuturan siswa itu yang diiringi bayangan yang menutupi terik matahari diwajahnya.
“ lo gila ya”. Tatap tajam Marvel saat melihat wajah Rio hampir mendekati wajahnya.
“ cih, seorang Marvel Rahendra yang dikenal dingin bisa takut juga ternyata”. Ledek Rio melihat raut kegelian dan kesal dari Marvel.
“ mau apa sih lo, sana pergi jauh – jauh dari gue”. Usir Marvel dan berniat melanjutkan tidurnya.
“ kali ini gue beneran ngelakuinnya ya”. Sontak ucapan Rio membuat Marvel mengurungkan niatnya.
“ gak usah jijik gitu kali, gue normal kok, gue cuma mau bilang makasih, udah itu aja”. Ujar Rio yang tak canggung meninju ringan lengan Marvel.
“ heum, udah sana lo pergi”. Usir Marvel masih waspada pada cowok didepannya itu.
“ ini tempat umum kali, jadi bisa aja semua orang duduk disini, bukan lo aja, lagian gue juga mau ngetes kisah dongeng itu nyata apa enggak ya”. Rio masih betah menggoda Marvel.
“ sialan lo”. Ucap Marvel namun seketika juga ikut tersenyum melihat gelak tawa Rio yang menertawakan dirinya.
Baru kali ini Marvel merasakan tak ada kesepian meliputi dirinya, irit bicara, menyendiri membuat ia lupa akan rasanya berinteraksi sedekat itu apalagi terdapat tawa yang mengiringi mereka.
“ wah, elo senyum, ini baru gila namanya”. Rio berdecak kagum akan apa yang ia lihat, seorang Marvel bisa tersenyum.
“ lo kira gue orang gila”. Marvel ikut terdecak senang mendengar Rio mengatakan ia tersenyum, bahkan ia sendiri pun lupa kapan terkahir ia tersenyum.
Itulah awal kedekatan mereka, walaupun derajat mereka berbeda, tetapi Rio tak pernah memanfaatkan Marvel. Keduanya menjadi sahabat dekat, bahkan sangking dekatnya Marvel selalu membantu Rio bekerja dan merasakan jalan hidup yang berbeda dan itu membuatnya senang karena kebersamaan mereka.
Jangan lupa dukungannya ya
Terimakasih 😊