
“ aku akan tanya jika kamu gak keberatan”. Siska tak ingin Marvel mengunkapkan permasalahannya jika ia tak nyaman.
“ aku gak keberatan”. Ujar Marvel ingin menceritakan luapan yang dirasakannya selama ini.
“ baiklah, apa yang paling kamu sesali sekarang”. Ucap Siska bersikap tegar akan mendengarkan seksama cerita Marvel.
“ aku menyesal telah mencegah mama dulunya untuk bercerai dengan papa, aku menahan mama yang saat itu akan pergi dari rumah”. Ungkap Marvel mengingat kejadian itu.
Flashback off
“ ma, mama jangan ninggalin Marvel ma, Marvel janji akan selalu menjadi anak baik dan pintar agar mama papa bangga sama Marvel, Marvel gak mau kehilangan mama sama papa”. Pekik Marvel seraya menahan kaki mamanya yang akan mencapai pintu rumhnya.
Sang papa hanya diam saja berdiri didepan tangga menatap jengah apa yang terjadi didepannya saat ini. Apapun yang menjadi keputusan Dila akan ia turuti, toh taka da lagi cinta diantara mereka.
Buk Dila tak mampu menahan air matanya dan memeluk Marvel kuat, ia memutuskan tak jadi pergi dari rumah itu hanya karena Marvel. Setiap hari Buk Dila selalu berpura – pura menjadi seorang ibu yang bahagia didepan putranya.
Namun berbeda dengan Pak Rama yang acuh tak acuh dengan sandiwara istrinya. Akhirnya Buk Dila pun ikut menyibukkan dirinya dengan urusan kantor karena tak saanggup berlama – lama menjadi wanita yang bahagia didepan putranya.
Kesibukan kedua orang tuanya pun dirasakan oleh Marvel, dimana tak ada yang mempedulikan dirinya. Seminggu sekali Marvel hanya bisa menikmati makan bersama kedua otang tuanya, itupun dalam suasana hening tanpa ada kehangatan keluarga yang ia rasakan.
Flash back on
“ apa aku salah jika menginginkan keluarga yang utuh?”. Tatap Marvel pada Siska dengan nerta sendunya.
“ itu bukan salah kamu, namun terkadang situasi tak berpihak kepada kita, tante Dila sudah berusaha untuk kamu”. Pungkas Siska ikut sedih mendengar apa yang dialami pacarnya itu selama ini.
Mendengar itu pun Marvel mengambil keputusan, ia tak ingin mamanya semakin dilukai hatinya oleh sang papa. Mama berhak bahagia pikirnya, dan ia akan memilih untuk ikut mamanya.
“ jadi bagaimana, apa sekarang kita bisa pulang?”. Tanya Siska pada Yuda yang sudah tenang.
Marvel mengangguk mengiyakan ajakan Siska, ia segera bangun dan dibantu oleh Siska. Keduanya memilih untuk segera pulang agar Marvel dapat segera beristirahat. Siska pun mengingat bahwa Marvel tinggal sendiri, ia pun berniat menemani Marvel sebentar karena tak ada yang merawatnya.
Sesampainya mereka dirumah Marvel, seketika Marvel mengingat keadaan rumahnya yang sangat kacau, apalagi keadaan kamarnya yang seperti kapal pecah. Walaupun seminggu sekali mamanya mengirimkan seorang Art untuk membersihkan rumahnya, tetap saja rumahnya tak karuan karena ulahnya.
“ eum cil, lo tunggu disini bentar aja, 10 menit eh 5 menit oke”. Ujar Marvel seraya langsung masuk kerumahnya dan menggunci pintu dari dalam.
Dengan langkah yang gontai menahan rasa sakitnya ia berusaha membuang sisa snack dan memungut baju kotor yang berserakan di ruang tamu. Ia segera membawa itu kedapur dan membuangnya ke tong sampah dan keranjang baju kotor.
Mendengar panggilan Siska, Marvel menjadi semakin tak karuan karena ia belum sempat memberekan kamarnya. Alah itu nanti saja pikirnya, karena tak mungkin Siska akan sampai masuk ke kamarnya yang berada dilantai dua.
Setelah melihat lantai 1 sudah lebih mendingan dibandinkan yang sebelumnya, Marvel segera membuka pintu dan melampirkan senyum penuh pada Siska seraya mempersilahkannya masuk.
“ kamu tadi ngapain sih, pake ninggalin aku segala lagi”. Ketus Siska heran melangkah masuk kedalam.
“ enggak, enggak apa kok”. Tukas Marvel masih melampirkan senyum dan segera menghela nafas lega saat Siska tak menelisik lebih dirinya.
“ kamu beneran tinggal sendiri disini, enggak takut apa?, aku aja yang tinggal berempat sama bik inah masih suka takut kalo sepi”. Seru Siska memperhatikan rumah Marvel yang tak jauh kalah luas dari rumahnya.
“ ya kan beda, aku laki dan udah terbiasa juga dari kecil”. Ungkap Marvel dengan sendu dikalimat terakhirnya.
“ maaf”. Ucap Siska tak enak hati karena kembali mengingatkan Marvel pada ceritanya.
“ gak usah, aku ambil aja sendiri, malah kamu yang harus istirahat, kamu mau minum apa?”. Tanya balik Siska berniat menuju area dapur.
“ eits cil, gue aja”. Kejar Marvel mengikuti Siska.
Saat sampai diarea dapur Siska mencium bau aroma tidak sedap, ia pun memperhatikan sisa makanan di tong sampah yang tak dibuang dan melirik Marvel. Marvel pun hanya bisa melenguh dan tersenyum pada Siska serta menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Siska hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Marvel, sekarang ia paham kenapa Marvel tak memperbolehkan dirinya masuk tadi, pasti ia sedikit membereskan kekacauan yang ada dalam rumahnya.
“ maklum cil, bujang tinggal sendirian”. Tukas Marvel dengan senyum canggungnya.
“ biasanya juga ada ART yang dikirim mama buat ngebersihin, cuma mungkin mama lupa, ya jadi gini deh”. Lanjut Marvel membela dirinya sebelum mendapat ocehan Siska.
“ ya udah deh, karena gue udah disini, jadi biar gue bantu lo bersih – bersih dan lo cukup duduk disana tanpa berkomentar ok”. Pungkas Siska dengan nada tak ingin dibantah.
Marvel pun hanya bisa menuruti perkataan Siska dan berlalu untuk duduk di meja makan yang tak jauh dari area dapur. Dari sana ia dapat melihat bagaimana gesitnya gadis kecil itu membuang sampah dan mencuci piring kotor.
“ mulai sekarang walaupun kamu tinggal sendiri tapi setidaknya kamu harus jaga kebersihan juga, gak susahkan cuma buang sampah yang punya kemarin sama cuci piring, ini juga demi kesehatan kamu”. Nasehat Siska pada Marvel disela aktivitasnya.
“ iya nanti aku usahain”. Jawab Marvel walaupun mungkin hal itu takkan dia lakukan.
[krek]. Suara pintu rumah seperti terbuka membuat keduanya terkejut dan segera bersembunyi diarea dapur.
“ itu siapa?”. Tanya Siska berbisik pada Marvel.
“ mungkin itu ART yang dikirim mama, lagian kenapa kamu sembunyi sih?”. Tanya Marvel heran dimana Siska langsung bersembunyi membuat ia juga tanpa sadar menghampiri Siska dan ikut bersembunyi disana.
“ ya aku gak mau nanti kita dikira ngapain, dan kamu kenapa juga malah ikut sembunyi disini, kan kamu yang punya rumah”. Gerutu Siska melihat Marvel malah mengikutinya.
“ ya reflek liat kamu sembunyi, ya udah bangun yok”. Ajak Marvel untuk tak bersembunyi.
“ gak mau, kamu dulu yang bangun pastiin itu benar Art yang dikirim mama kamu atau bukan”. Tolak Siska takutnya itu malah maling.
“ bhaaaa”. Teriak Buk Dila mengejutkan dua remaja yang ada disana.
“ mama, tante”. Ucap Marvel dan Siska bersamaan menatap tak percaya siapa yang mengejutkan mereka.
“ kalian, loh ngapain kalian disini”. Ngernyit heran Buk Dila mendapati mereka, awalnya ia berpikir untuk mengambil minum namun tak sengaja mendengar suara berbisik.
“ wah ada anak kamu ya jeng dirumah, aku boleh…”. Wanita paruh baya itu pun ikut terkejut siapa yang sedang bersama temannya itu.
Marvel dan Siska semakin tak percaya melihat siapa yang datang bersama Buk Dila kerumahnya. Keduanya pun menelan ludah kasar tak tau apa yang harus mereka jelaskan.
Jangan lupa like, vote and giftnya,
Mohon Share dan promosiin juga ya
Terimakasih