Marvel

Marvel
Bab 38 : Calon Pacar



“ brengsek lo”. Satu bogeman mentah diterima Yuda saat ia hampir mencium Siska.


Yuda terhuyung ke tanah dan merasakan perih di ujung bibirnya serta terdapat darah saat disekanya, ia menggeram kesal saat Marvel kembali secara membabi buta memberikan bogeman mentah diwajahnya.


Flashback off


Marvel berniat menceritakan semua kebenaran dibalik tabir berita yang menyudutkan namanya. Seperti kata Mike, Marvel tidak akan mungkin bisa membuktikan Yuda adalah dalang dibalik ini semua. Apapun yang dilakukan Yuda tentu sangat berbalik dengan sosok Yuda dimata semua orang.


Andi dan Kevin pun yang dimintai bantuan juga tidak dapat menemukan bahwa Yuda bersalah, yang mereka tau Brian adalah sosok yang terakhir mereka lihat berada diruang infokom sekolah sebelum kejadian tersebar berita tersebut. Jadi tentu saja jika Brian pun harus mengakui, ia pasti tak memiliki bukti bahwa Yuda dibalik itu semua.


Hanya menceritakan kebenaran lah yang bisa ia andalkan untuk membuat Siska percaya kepadanya. Namun saat Marvel telah lama menunggu Siska dan berniat menyapanya, kembali ia urungkan saat melihat Yuda bersamanya. Marvel menetralisir emosinya terlebih dahulu, ia tak mau kegabahan dirinya untuk menghajar Yuda membuat Siska semakin tak mempercayainya.


Awalnya ia merasa tegang saat mendengar Siska ingin menyampaikan persaannya untuk Yuda. “ kak, aku mau jawab pertanyaan kakak tentang perasaan aku untuk kak Yuda”. Ucapan Siska hampir membuatnya berbalik meninggalkan tempat itu, ia belu siap hatinya terluka bahkan saat ia baru mau memulainya.


Marvel menghentikan langkahnya dan merasa senang saat mendengar Siska telah menolak Yuda dengan terang, itu artinya harapannya semakin besar untuk mendapatkan Siska.


“ yes, thanks cil”. Ucap Marvel senang atas keputusan Siska walaupun itu mungkin menyakitkan untuk Yuda. Terkadang bersenang diatas kesakitan seseorang tak pernah terhindar dari kita.


Marvel pun tetap berdiam diri ditempatnya dan memantau dalam diamnya, ia ingin memberikan waktu untuk mereka berdua, apalagi untuk Yuda agar bisa berbicara secara baik dengan Siska dan menerima ikhlas akan keputusannya.


Namun Marvel tak menyangka Yuda akan berbuat kasar kepada gadis yang dicintainya, seketika emosi yang sudah diredakannya kembali menbuncak berkali – kali lipat saat melihat Siska meringis kesakitan segaligus takut dengan air mata membasahi pipinya.


Flashback on


“ brengsek lo”. Marvel langsung meninju Yuda dan membuatnya terhuyung keras, entah seberapa besar tenaga yang ia keluarkan.


Siska masih terdiam gemetar karena syok akan perubahan sikap Yuda padanya, bahkan ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk melerai Marvel yang terus menghajar Yuda, hanya isakan tangis yang mampu keluar saat ini dari bibirnya.


Kegaduhan itupun terdengar oleh satpam komplek yang tak jauh dari sana. Keduanya dilerai dan dibawa kepos satpam. Untungnya kedua orang tua Siska sedang tidak ada dirumah, Siska takut jika ayahnya juga akan semakin brutal menghajar Yuda karena kelancangannya.


“ saya harap permasalahan kalian sudah selesai disini dan tidak akan mengulanginya lagi”. Ucap pak satpam saat sudah selesai mengintrogasi ketiga remaja itu.


Permasalahan mereka tidak berbuntut panjang karena Siska menjelaskan hanya terjadi kesalahpahaman diantara dua cowok itu, ia tak ingin cerita sebenarnya bisa terebar luas diarea komplek dan sampai ditelinga kedua orang tuanya.


Yuda segera berlalu disana, ia merasa bersalah atas sikapnya yang telah memaksa Siska bahkan membuat gadis itu takut untuk menatapnya. Namun tatapanya juga tak luput dari tatapan rivalnya yang telah membuat wajahnya babak belur. Keduanya saling bertatapan tajam menandakan masih bengaruh perang yang belum padam.


Setelah kepergian Yuda, Marvel menemani Siska untuk pulang kerumahnya masih dengan wajah tertekuk dan mata yang sembab. Sikap Siska yang juga sedikit menjaga jarak darinya karena masih takut akan perlakuan Yuda membuat Marvel mebuang nafas kasar.


“ udah gak usah dipikirin, mending lo buruan masuk sana”. Ujar Marvel saat telah sampai didepan rumah Siska.


“ makasih udah nolongin gue tadi, gue gak tau lagi kalo gak ada lo, hiks,, gue..”. Siska kembali berurai air mata mengingat kejadian tadi.


“ gue takut vel, gue gak nyangka kak Yuda bisa ngelakuin gitu ke gue”. Ujar Siska masih syok akan sikap yuda.


“ iya tapi sekarang lo gak usah takut lagi, kan ada gue disini, ok?”. Marvel sedikit menekukkan kaki panjangnya agar dapat melihat kentara wajah gadis didepannya itu.


“ lo makin jelek tau gak kalo nangis”. Goda Marvel melihat gadis itu masih merengut sedih sehingga membuat Siska kesal.


“ biarin, biar gak ada lagi cowok yang suka sama gue”. Sahut Siska merasa tenang jika ia tak akan mendapatkan perlakuan seperti itu lagi.


“ cih, gimana gue gak akan suka sama lo, kalo lo kek gini”. Terang Marvel membuat Siska mengadahkan kepalanya menatap penuh selidik dan bertatapan dengan netra Marvel.


“ napa, lo gak percaya?”. Tukas Marvel masih setia menatap lurus manik indah didepannya itu.


“ apaan sih Vel, gak usah ngelucu, gue gampol lo”. Siska berusaha menutupi debaran dihatinya, kata – kata itu membuat lebur kejadian tadi dan terluapakan begitu saja.


“ ck, lo suka amat nolak semua perasaan cowok yang suka sama lo”. Ledek Marvel tersenyum melihat Siska sudah seperti Siska yang ia kenal.


“ udah ah, gue mau masuk dulu bye”. Siska tak lagi ingin mengubris ucapan Marvel, yang ada ia kan berakhir dengan keusilan cowok itu dan membuat mereka bertengkar seperti Tom and Jerry.


“ eh tunggu, jangan lupa lo pikirin omongan gue, gue serius ni cil, gue suka sama lo”. Tukas Marvel yang melihat Siska sudah diambang pintu rumahnya. Ia tak ingin ucapannya cuma sebatas dianggap angin berlalu.


“ gak mau” balas Siska berbeda dengan isi hatinya seraya sedang mencoba mencari kunci rumah di tasnya.


“ serius lo gak mau, tapi muka lo sampe merah gitu”. Marvel kembali mencoba menggoda Siska.


“ ih, nyebelin banget sih lo, udah pulang sana”. Usir Siska semakin geram karena ketahuan pipinya terasa panas saat mendengar ungkapan Marvel, entah itu serius atau tidak.


“ iya gue pulang, jangan lupa mimpiin gue ya calon pacar”. Marvel kembali tersenyum melihat tingkah Siska yang merasa malu tapi ditutupi dengan raut kesal.


“ ish ogah”. Siska langsung menutup pintu dan merutuki dirinya dibalik bilahan kayu itu.


“ ih kenapa harus sekarang sih lo ngomongnya, gue belum siap, udah gak ada romantis – romantisnya lagi”. Keluh Siska merasa ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan perasaanya setelah baru saja menykiti persaan orang lain.


“cih, dasar bocil”. Marvel berlalu dari sana dengan semerbah senyum disana, memang tak ada balasan atas ungkapannya, tapi juga berarti itu penolakan karena Siska malah menunjukkan sikap yang bisa ia deskripsikan bahwa gadis itu juga meiliki rasa yang sama untuknya.


“ gue pastiiin lo sendiri yang akan bilang suka sama gue cil untuk selanjutnya”.


Mohon dukungannya semua,


jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar kalian ya, Terimakasih 😊