Marvel

Marvel
Bab 26 : Nyaman, Tapi?



Malam ini Siska bertemu dengan Yuda disebuah café yang ditemani oleh Mike. Awalnya mereka bercanda gurau bersama, tetapi saat Mike melihat Siska sudah larut dalam pembicaraan mereka, Mike pamit sebentar ke toilet untuk memberikan waktu pada Yuda dan Siska.


Yuda yang semula masih bisa mengontrol emosinya, tiba – tiba gugup saat berduaan dengan Siska. Namun malam ini Yuda harus memproklamirkan isi hatinya pada Siska, apapun yang terjadi.


“ Sis, kakak mau ngomong sesuatu sama kamu”. Ucap Yuda mengawali proses ungkapan hatinya.


“ ngomong aja kak, ngapain canggung gitu sih”. Siska hanya menanggapi biasa yang diiringi senyuman dan kening berkerut melihat Yuda bersikap tidak seperti biasanya.


“ kakak mau ngomong serius sama kamu”. Tutur Yuda lagi berusaha menutupi kegugupannya.


“ kamu tau kan selama ini perasaan kakak ke kamu itu gimana?”. Lanjut Yuda yang mendapati sorot kebingungan dimata Siska.


“ kok kakak tiba – tiba bahas itu sih”. Tanya Siska yang ikut canggung ditatap Yuda.


“ kakak cuma mau tau, selama ini kamu ngerasain perasaan kakak ke kamu gak?”. Yuda semakin ingin mengulik perasaan Siska padanya.


“ maaf kak, Siska awalnya gak mau kegeeran, tapi banyak yang bilang sikap kakak ke Siska itu beda, dan itu tandanya kakak suka sama Siska kan?”. Seru Siska pelan.


“ menurut kamu sendiri gimana?”. Yuda masih ingin mendengar penjelasan tanggapan Siska akan perhatiannya selama ini.


“ ya gitu”.


“ ka, kalo kamu paham maksud sikap kakak selama ini sama kamu, kira – kira nama kakak ada dihati kamu gak?”.


“ maaf kak, Siska gak ngerti gimana harus mendekripsikan perasaan aku ke kakak, kakak sama kak Mike adalah orang yang selalu ada buat aku, tapi aku terimakasih banyak kok kakak udah perhatian sama Siska”. Siska semakin canggung menghadapi rentetan pertanyaaan dari Yuda.


“ ngapain bilang makasih, sampai kapan pun kakak akan ada buat kamu, ya walaupun saat ini posisi kakak masih setara sama Mike, tapi kakak akan berusaha sampai kamu anggap kakak bukan lagi sebatas rasa kakak, kakak mau lebih dari itu ka”. Jelas Yuda setelah mendapati posisinya saat ini dihati Siska.


“ tapi kak”


“ kamu gak harus jawab sekarang, yang pasti kasih kakak kesmpatan ya”. Pinta Yuda agar Siska mau membuka hatinya.


Siska hanya mampu menundukkan kepalanya, perasaan aneh tersinyalir dihati dan pikirannya. Pikirannya mengatakan apalagi yang jurang dari seorang Yuda Agustiawan, bukankah selama ini Siska merasa terjaga dan nyaman apabila bersama Yuda.


Tetapi kenapa hatinya masih ragu untuk menerima Yuda, apakah karena rasa takutnya yang harus berhdapan dengan fans Yuda disekolah, tapi bukankah memperjelas hubungannya dengan Yuda akan membuat merka mundur, apalagi ada Mike disisinya.


Setelah sampai dirumahnya, Siska kembali memikirkan akan perasaannya kepada Yuda. Langit kamarnya seakan menjadi televisi yang memutar ulang setiap perhatian Yuda kepadanya, bukankah apa yang dialaminya merupakan impian setiap gadis disekolahnya?


“ akh,,, gue harus gimana”. Gerutu Siska yang frustasi akan jalan pemikirannya.


“ kok gue ngerasa jahat banget sih sama kak Yuda, oh hati katakanlah Iya atau Tidak”. Seru Siska membenamkan kepalanya diboneka Bear putih kesayangannya.


Keesokan paginya Siska merasa jengah harus kesekolah, apa yang harus dilakukannya jika bertemu dengan Yuda. Semalaman Siska lelah menunggu seonggok daging bernama hati itu melampirkan jawabannya, namun sampai saat ini hatinya masih diam membisu.


Siska masuk ke kelasnya langsung merebahkan kepalanya diatas meja sebagai sandarannya. Tingkah Siska dengan raut wajah lesunya membuar beberapa siswa dikelas menganga heran.


“ cerewet salah, diam salah, salah gue apa sih”. Tukas Siska dengan bibir manyunnya.


“ ya bukan sih, tapi aneh banget lo hari ini”. Sahut Maya lagi.


“ lo sakit, atau lagi ada masalah?”. Adel juga ikut kepo akan perubahan sahabatnya itu.


“ hati sama otak gue yang lagi masalah”. Curhat Siska masih dengan posisinya.


“ What, lo habis kecelakaan atau gimana, eh tapi bentar, lo baik – baik aja kok gak lecet sama sekali”. Telisik Maya pada tubuh Siska.


“ kak Yuda nembak gue”. Bisik Siska pelan seraya menepis tangan Maya yang menelisik dirinya.


“ gila, Yu…”. Mulut Maya keburu dibungkam oleh Adel dan Siska.


“ maksud lo si ketua OSIS itu”. Seru Marvel yang tiba – tiba berdiri disamping kursinya.


Melihat plototan kedua temannya Maya berjanji tidak akan heboh dan meminta mereka agar melepaskan tangan dimulutnya. Siska yang terkejut akan kehadiran Marvel pun langsung menariknya untuk duduk disampingnya seraya menempelkan telunjuk dibibirnya agar Marvel diam.


Adel dan Maya juga langsung berantusias menarik kursi mendekati Siska untuk menetralisir rasa kekepoan mereka. Ketiga orang itu menatap Siska dengan penuh selidik untuk menuntaskan rasa kepo dihati mereka.


“ lo beneran ditembak sama Yuda, terus lo mau?”. Kepo Maya dengan suara yang amat pelan.


“ gue juga gak tau kak Yuda nembak gue apa enggak, tapi yang pasti semalam kak Yuda nanyain kek mana perasaan gue ke dia, dan gue gak tau, karena buat gue dia sama Kak Mike sama”. Cerita Siska apa penyebab yang membuatnya gundah.


“ berarti lo anggap dia cuma sebatas kakak”. Ujar Marvel tenang denagn sedikit senyum tipis diwajahnya.


“ gak nyangka gue seorang Yuda bisa jadi Sad Boy”. Celoteh Maya yang prihatin akan Yuda.


“ terus yang ngebuat lo lesu gini karena apa?, bukannya lo udah jujur sama perasaan lo”. Sambung Adel tak kalah keponya.


“ nah itu dia, Kak Yuda minta gue kasih kesempatan buat dia usaha untuk ngeyakinin perasaan gue, karena jujurly gue nyaman sama dia, tapi ya itu, gak beda saat gue bareng Kak Mike”. Jelas Siska akan situasi yang sedang dihadapinya.


“ susah juga ya jadi lo, padahal nih, Yuda itu udah perfect banget buat jadi pacar lo, tapi masalah hati sih kita gak tau”. Tukas Maya yang juga tidak memiliki solusi akan permasalahan Siska.


“ menurut gue perasaan lo udah jelas, lo gak ada rasa apa – apa sama dia”. Jawab Marvel sembari mengeluarkan hp disakunya.


“ terus menurut lo gimana, gue harus iyain permintaan Kak Yuda atau enggak?”. Tanya Siska berharap menemukan solusi dari Marvel.


Marvel hanya menatap diam pada Siska, ada rasa nyeri sebenarnya saat Siska mengatakan dia nyaman bersama Yuda. Jelas ada sedikit nama Yuda dalam hati Siska, dan perasaan lebih itu akan hadir tak terbantahkan jika Siska memberi ruang untuk Yuda mebuka hatinya.


Jangan lupa Like, Vote, comment dan giftnya untuk dukung novel ini,


Tambahkan juga ke list novel favorit kalian ya, terimakasih 😊