Marvel

Marvel
Bab 23 : Baikan



Sudah lama Marvel tidak pergi keatap, tempat ternyaman yang dipilhnya untuk memendamkan gusaran dihatinya. Marvel berharap bahwa kini bukan kali terakhir baginya berada ditempat ini.


Marah, kecewa, bingung kini berkecambuk dalam pikirannya, berapa banyak lagi kebohongan yang harus ditutupinya menghadapi realita kehidupannya. Baru sebentar baginya untuk merasakan indahnya kehidupan, namun kini harus runtuh karena keegoisan orang tuanya.


Hembusan angin diharapkan membawa lukanya, sinar matahari yang cerah diharapkan mampu membakar perasaan dihatinya dan menjadikan hatinya setenang matahari bercahaya.


Mata Marvel mengerjap saat merasakan panas matahari tak lagi menemaninya. Senyuman tipis yang dia rindukan menjadi pemandangan pertama saat dia membuka matanya. Marvel tersenyum geli dan kembali memejamkan matanya karena tidak mau terlarut dalam halusinasinya.


“ lo pengen banget gue berdiri disini, lama – lama pegel tangan gue ni, nutupin matahari buat lo”. Gerutu Siska melihat Marvel tidak mempedulikannya.


Marvel terkejut langsung mebuka matanya dan berdiri berhadapan dengan Siska. Marvel membolak – balikkan badan Siska untuk mengetahui gadis didepannya saat ini adalah nyata.


“ woi lo ngapain sih, kepala gue pusing ni”. Tukas Siska kesal terhadap apa yang dilakukan Marvel padanya.


“ eh sorry, ini beneran lo kan?”. Tanya Marvel masih tidak percaya.


“ iya ini gue, emang siapa lagi kalo bukan gue”. Jawab Siska memijat keningnya yang terasa pusing.


Mendengar hal tersebut, Marvel langsung memeluk Siska dengan erat dan mencercahkan senyumannya dengan semangat. Perasaan senang dihatinya yang membara memudarkan perasaan sedih yang berkecambuk sebelumnya.


Siska yang masih pusing kaget karena sekarang telah berada didalam pelukan Marvel. Degupan jantungnya kembali berdenyut kencang bahkan saling beradu dengan degupan jantung Marvel. Ingin rasanya Siska membalas pelukan Marvel namun mengurungkan niatnya.


“ gue gak bisa nafas”. Bohong Siska agar Marvel melepaskan pelukannya.


“ maaf, gue kelepasan”. Marvel menjadi salah tingkah karena telah memeluk Siska.


“ bilang aja lo mau cari kesempatan dalam kesempitan”. Ledek Siska dengan raut kesalnya.


“ kalo iya emang kenapa?”. Balas Marvel ingin menjahili Siska lagi.


“ Dasar tukang Modus, udah ah gue mau balik ke kelas dulu”. Ujar Siska ingin menghindari Marvel karena degupan jantungnya semakin berdetak cepat.


“ eh tunggu dulu, percuma udah telat, yang ada kena hukum kita nanti”. Tahan Marvel masih ingin melepaskan rasa rindunya.


“ iya juga sih, tapi..”.


“ gak usah tapi – tapian, mending lo temenin gue disini”. Marvel kembali dengan wajah gusarnya karena sadar mungkin saat ini menjadi waktu terakhirnya bersama Siska.


Siska yang ditarik paksa pun mengikuti keinginan Marvel dan duduk dibangku kayu tempat dimana dia dan Marvel membuat perjanjian diawal perkenalan mereka. Marvel dan Siska saling pandang dan tersenyum mengingat awal pertemuan mereka.


“ lo udah maafin gue?”. Tanya Marvel ingin memperjelas kesalahpahaman mereka yang sudah berakhir.


“ mau lo gimana?”. Jawab Siska tersenyum sinis pada Marvel.


“ harus ya ditanyain balik, bukannya lo udah tau mau gue gimana?”. Tanya Marvel lagi.


“ ya dengan keberadaan gue disini lo juga udah tau kan jawabannya apa”. Jawab Siska membuat Marvel bingung.


“ lo mau jahilin gue balik ya, ok gue terima”. Tukas Marvel yang tak mau kalah dari Siska.


“ terima apa?”. Tanya Siska yang malah dibuat bingung oleh Marvel.


“ oe itu, gue juga terima permintaan maaf lo, ya walaupun kesalahan lo lebih besar sih”. Balas Siska yang tak terima seolah hanya dia saja yang bersalah dalam permasalahan mereka.


“ hem, makasih lo udah mau maafin gue”. Marvel tersenyum senang karena harapannya telah terkabulkan sebelum dia pergi.


“ sama – sama”. Balas Siska cuek ingin membalas kecuekan Marvel kepadanya dulu.


“ ck, gak enak ya rupanya kalo dicuekin”. Marvel akhirnya mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain saat dia bersikap dingin.


“ baru tau?”. Ledek Siska semakin membuat Marvel tersenyum karena kejutekan Siska.


“ lo kenapa bisa kesini sih, bukannya lo udah ke kelas ya tadi?”. Tanya Marvel kenapa Siska tiba – tiba menghampirinya.


“ heem, gue baru masuk kelas, tiba – tiba dua sejoli lo ngadu kalo lo dipanggil keruang kepsek, jadi gue samperin deh”. Jawab Siska masih dengan sikap acuhnya.


“ lo khawatir sama gue?”. Marvel merasa senang karena Siska masih peduli padanya.


“ cih gr amat lo, gue samperin lo karena mereka bilang lo dipanggil kepsek karena permaslahn lo sama gue, ya gue samperin lah”. Jawab Siska menutupi perasaannya.


Marvel menganggukkan kepalanya dengan kecewa karena salah mengartikan kehadiran Siska. Cukup berselang lama keduanya saling terdiam menetralisir pikiran dan hatinya masing – masing.


“ gue mau pindah”. Marvel membuka obrolan diantara keduanya dan ingin memberitahukan Siska akan kepindahannya yang dia sendiri ingin menolaknya.


“ mau pindah kemana?”. Tanya Siska berpura – pura tidak mengetahui kepindahan Marvel.


“ gue mau ke paris, ikut mama kesana”. Jawab Marvel menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihannya.


“ yah, berarti perjanjian kita lo dapat nilai 75 pas ujian nanti gagal dong”. Siska menunjukkan gurat kecewanya.


“ ya mau gimana lagi, gue harus jadi korban dari keegoisan orang tua gue”. Marvel ingin menumpahkan segala perasannya pada Siska untuk yang terakhir kali.


“ Vel, lo gak apa ngomong gini ke gue?”. Ujar Siska ragu menjadi orang yang harus dipercayai Marvel.


“ gue percaya kok sama lo, gue cuma mau meluapkan apa yang selama ini gue pendam, gue gak sanggup lagi nanggung ini sendirian ka, lo cukup denger aja”. Terang Marvel yang dibalas anggukan dari Siska.


“ sedari kecil gue udah dituntut menjadi pewaris perusahaan dari kedua keluarga gue, awalnya gue terima aja karena itu emang akan menjadi hak gue nantinya, tapi sayangnya mama sama papa gak pernah peduli apa yang gue jalanin untuk ngewujudin ekspetasi mereka”. Marvel menatap Siska yang serius mendengarkan ceritanya.


Siska yang merasa canggung ditatap oleh Marvel pun mengalihkan perhatiannya. Marvel tersenyum melihat tingkah Siska dan semakin yakin untuk melanjutkan ceritanya.


“ gue ngerasa dilahirin kedunia ini hanya jadi budak mereka bukan anaknya, gue gak pernah ngerasain perhatian dari kedua orang tua gue, bahkan dalam sebulan bisa dihitung gue ketemu sama mereka berapa kali, dan lebih parahnya itu cuma seperkian menit sebelum mereka izin pergi mau urus bisnis mereka”. Marvel mulai tersendat karena menahan tangisnya.


“ banyak hal yang gue lakuin biar dapetin perhatian mereka, tapi mereka tetap sama aja. Bahkan gue yang terus pindah sekolah pun gak pernah dipeduliin sama mereka, dan sekarang hubungan mama sama papa yang kacau gue juga harus ikut jadi korban dari keegoisan mereka”.


Disela menahan rasa tangisnya, Marvel dipeluk oleh Siska yang sudah memecahkan bendungan air matanya sebelum Marvel. Isakan tangis Siska didanya membuat Marvel menggulum senyum seolah Siska sudah mewakili Marvel untuk menangis.


Marvel menghapus air matanya dan membalas pelukan Siska dengan erat. Lega rasanya apa yang dipendamnya kini hilang begitu saja. Usapan lembut dikepala Siska dan pelukannya akan menjadi kenangan yang takkan terhapus dimemorinya.


Ambil hikmah dari apa yang dialamin Marvel ya,


Jangan lupa like, vote serta komentarnya, terimakasih 😊