Marvel

Marvel
Bab 24 : Rupanya Kamu



Beberapa hari ini Siska dan Marvel kembali seperti dulu lagi, bahkan dimana dulu mereka sering bersitegang kini berubah menjadi tempat berbagi tawa. Siska kembali membantu Marvel seprti jadwal dulu lagi yang mereka atur.


Hubungan keduanya semakin hari semakin dekat, keakaraban keduanya lagi – lagi menjadi pusat perhatian. Mike dan Yuda pun tak luput menjadi bahan pembicaraan, dimana terkadang Mike dan Yuda sering memperhatiakan mereka dan dianggap menjadi korban perasaan.


Seminggu sudah berlalu namun Marvel masih belum bertemu dengan kedua orang tuanya, dia lebih memilih tinggal diapartemen yang dihadiahkan oleh neneknya. Marvel mencoba menjalani hari – harinya tanpa beban, tetapi pikirannya selalu tertuju pada permintaan mamanya untuk pindah.


Hari ini tiba – tiba Marvel kembali dipanggil keruang kepala sekolah, kegundahan yang selama ini dia coba pendam kembali mengatut hati dan pikirannya. Sebelum menemui kepala sekolah Marvel menatap Siska disampingnya, mereka saling bertatapan dan tersenyum menyiratkan tidak akan terjadi apa –apa.


“ udah pergi sana, nanti dimarahin kepsek kelamaan nunggu”. Ujar Siska melihat Marvel yang masih enggan mengubris perintah gurunya.


“ tapi gue belum siap”. Ungkap Marvel khawatir karena harus pindah.


“ lo pasti bisa kok, semangat”. Tukas Siska dengan senyum manisnya walaupun hatinya juga ikut khawatir jika Marvel harus pindah.


“ ok, gue duluan ya”. Marvel izin pamit dari kelas dan menuju ruang kepala sekolah.


Siska memandang sendu punggung Marvel yang kini telah hilang diambang pintu kelasnya. Walaupun Buk Dila telah berjanji untuk tidak egois, tapi masih belum dipastikan bahwa Marvel tidak akan jadi pindah sekolah.


Begitu juga dengan Marvel yang ragu untuk mengetuk pintu ruangan didepannya itu. Marvel menderu nafasnya dan bersiap untuk mengetuk bongkahan kayu tersebut, namun baru saja Marvel mengangkat tangannya pintu itu telah dibuka dari dalam.


“ Silahkan masuk Marvel”. Seru kepala sekolah yang sedari tadi menunggu Marvel.


Marvel mengiyakan dan masuk kedalam ruang tersebut, Buk Dila yang melihat putranya tersenyum dan menepuk kursi disebelahnya itu. Marvel menatap datar wanita yang selama ini dipanggil sebagai mamnya dan ikut duduk disana.


“ kabar kamu gimana sayang, maaf ya hari ini mama gangguin kamu lagi”. Ucap Buk Dila merasa bersalah namun tidak digubris oleh Marvel.


“ jadi untuk keputusan pindah sekolah setelah saya dan ibu kamu bicarakan, ini semua tergantung dari kamu Marvel, apa kamu masih ingin lanjut sekolah disini atau kita teruskan proses surat pemindahan kamu”. Tukas kepala sekolah meminta keputusan Marvel.


“ maksudnya apa ya pak, jadi mama?”. Marvel terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh kepala sekolahnya dan menatap ibunya.


“ iya sayang, mama ikutin kemauan kamu, kamu mau ikut mama boleh, ikut lanjut sekolah disini juga boleh, jadi keputusannya ada dikamu”. Tutur Buk Dila melapirkan senyum diwajahnya.


“ mama serius?”. Marvel masih tidak percaya kini mamanya meminta persetujuan padanya.


“ iya mama serius”. Buk Dila semakin mencercahkan senyumnya karena baru pertama kali melihat Marvel senang.


“ makasih banyak ma, makasih karena mama masih peduli sama Marvel”. Marvel berhambur memeluk mamanya dengang kegirangan.


“ Ngapain kamu terimakasih segala, kepala sekolah masih nungguin keputusan kamu loh”. Tukas Buk Dila mengusap punggung anaknya.


“ eh iya”. Marvel melepas pelukannya masih dengan semburan senang diwajahnya.


“ saya tetap lanjut sekolah disini pak”. Sambung Marvel dengan penuh keyakinan akan keputusannya.


“ baik kalo begitu, saya harap kamu semakin menunjukkan perkembangan kamu ya”. Kepala sekolah juga ikut senang akan keputusan Marvel.


Marvel dan mamanya keluar beriringan dari ruang tersebut, bahkan Marvel dengan senang merangkul mamanya sampai keparkir sekolah. Ini adalah hari pertama kalinya dimana mereka meraskan antara anak dan ibu.


“ makasih banyak ya ma, mama udah mau ngertiin Marvel, maafin juga waktu itu Marvel marah – marah sama mama”. Ujar Marvel menggenggam tangan mamanya.


“ iya aku ngerti kok ma”. Balas Marvel memeluk mamanya.


“ oh iya, kamu juga harus sampein terimakasih sama teman kamu”. Ingat Buk Dila akan gadis yang menceritakan tentang perubahan Marvel.


“ teman?”. Tanya Marvel melepaskan pelukannya.


“ iya teman kamu, aduh mama lupa lagi namanya, yang pasti dia itu manis, tingginya sebahu kamu deh kayaknya, imut juga gak seperti anak SMA”. Jelas Buk Dila yang masih ingat akan ciri –ciri Siska.


“ Siska?”. Gumam Marvel namun masih dapat didengar oleh mamanya.


“ iya Siska, dia yang udah ceritain perubahan kamu dan itu semua ngebuat mama sadar akan keegoisan mama selama ini”. Ucap Buk Dila sendu akan kesalahannya.


“ hem rupanya kamu”. Marvel baru sadar akan penyebab perubahan Siska yang kini mulai perhatian lagi padanya.


Selepas mamanya pergi, Marvel kembali masuk ke kelas menampakkan wajah sendunya dan membuat Siska ikut merautkan wajah sedihnya. Siska ingin menanyakan apa yang terjadi pada Marvel, namun niatnya itu diurungkan ketika gurunya meminta untuk kembali fokus terhadap ayang sedang dijelaskan.


Selama mata pelajaran berlangsung, Siska mencuri – curi pandang pada Marvel yang masih setia menguratkan wajah murungnya. Siska hanya bisa mengusap pungung tangan Marvel dan mencoba menapakkan senyum untuk menyemangati Marvel.


Bel tanda istirahat pun berbunyi, dengan sigap Siska menahan lengan Marvel yang akan keluar kelas bersama kedua temannya. Siska menarik tangan Marvel dan memintanya untuk duduk kembali.


Sontak membuat Andi, Kevin, Adel dan Maya juga ikut memperhatikan apa yang dilakukan Siska. Marvel berusaha menahan senyumnya melihat sikap Siska yang begitu lucu dimatanya dan mempertahankan wajah sendunya.


“ lo gak apa – apa kan?”. Tanya Siska yang penasaran akan penyebab murungnya Marvel.


“ lo dengerin gue gak sih, emangnya apa yang dibilang sama Kepsek sampe lo murung gini”. Sambung Siska yang semakin penasaran karena tidak mendapati jawaban dari Marvel.


“ Vel, ih Marvel, jawab”. Siska mencoba menguncangkan tubuh Marvel agar mendapati jawaban.


“ apa lagi yang harus gue bilang, lo juga pasti udah tau jawabannya”. Jawab Marvel semakin berniat menjahili Siska.


“ lo beneran pindah?”. Tukas Siska dengan nada seraknya yang tak diduga telah meneteskan air matanya.


“ eh kok lo nangis sih”. Marvel kelahapan melihat Siska menangis.


“ Sis, lo gak apa – apa kan?”. Seru Adel mengusap punggung sahabatnya.


“ gak apa gimana, orang dia udah nangis kayak gini”. Sahut Andi yang tidak mengerti kenapa masih harus dipertanyakan.


“ ish, bisa diam gak sih beb”. Seru Maya menatap tajam pacarnya.


“ bocil, lo ngapain nangis sih, gue gak jadi pindah kok, udah dong nangisnya”. Ucap Marvel membuatnya ditatap tajam oleh kedua temannya dan sahabat Siska.


Jangan lupa like, vote dan giftnya kakak,


Tambahkan ke list favorit kalian juga ya, terimakasih😊