
“ Mau kemana kamu?”. Tanya Pak Rama menghdang putranya dan meneliti balutan pada tangan Marvel.
“ Itu bukan urusan anda”. Jawab Marvel dingin menatap nyalang Pak Rama.
“ Marvel, saya papa kamu, dimana sopan santun kamu sebagai seorang anak?”. Geram Pak Rama karena Marvel berbicara angkuh padanya.
“ heh, saya bukan anak anda, bukankah saya adalah kesalahan bagi anda karena telah lahir ke dunia ini”. Marvel tak takut membalas tatapan sang papa yang murka akan kata – katanya.
“ Marvel, jaga ucapan kamu, kami berdua adalah orang tua kamu, kamu bukan kesalahan bagi kami sayang”. Ujar Buk Dila semakin terisak mendengar pernyataan orang tuanya.
“ jadi begini kelakuan kamu sekarang, lihat, apa ini hasil didikan kamu selama ini, menjadi seorang ibu saja tidak becus, tak salah jika kamu mewarisi sifat lelaki itu”. Sarkas Pak Rama membuat Marvel semakin pitam dan membawa sang mama keluar, namun ditolak oleh sang mama.
“ enggak sayang, ini rumah kamu, semua ini salah mama, maafin mama, tolong kasih kesempatan untuk aku sekali lagi”. Pinta Buk Dila melepaskan genggaman Marvel dan berlutut dikaki sang suami.
Marvel merasakan hatinya teriris melihat sang ibu sampai melakukan hal itu, ia pun membuang mukanya dan meluapkan tangisnya dalam diam mendengarkan permohonan sang mama.
“ kesempatan untuk keberapa kalinya, bukankah dengan bercerai kamu bisa menikah dengan laki – laki itu”. Pak Rama menahan emosinya yang semakin membuncah mengingat istrinya adalah mantan sang sepupu.
“ saya bersumpah bahwa saya tidak punya hubungan apapun dengannya, dan kamu juga tau bahwa saya menikah dengan kamu karena kita saling cinta, dan saya tidak tau ia adalah saudaramu”. Jujur Buk Dila agar suaminya percaya.
Dulu ia memang berhubungan dengan Rian, namun saat mereka akan menikah Rian malah menghilang tak tau kemana. Disaat itu pun Buk Dila tak sengaja dijodohkan oleh orang tuanya dengan Rama yang ternyata sepupu sang mantan.
Setelah saling mengenal, Buk Dila pun perlahan – lahan mulai melupakan Rian dan mencintai Rama sepenuhnya. Hubungan keduanya pun berarah ke jenjang serius dan tak lama akhirnya Buk Dila mengandung.
Namun kehidupan bahagia itu harus hancur saat Rian kembali dan memp*e*r*k*o*s*a dirinya. Pak Rama yang datang untuk membantu sang istri saat dinyatakan hilang pun mendadak murka saat mendapati sepupunya sedang berhubungan dengan sang istri.
Sejak saat itu sikap Pak Rama berubah menjadi sangat dingin dan kasar, ia selalu melampiaskan amarahnya pada Buk Dila, namun sengaja tak menceraikannya karena tak ingin kedua orang ini bersatu dengan mudah.
Bahkan kelahiran Marvel pun tak membuatnya luluh, ia malah selalu bersikap acuh saat Marvel mendekatinya. Ia merasa jijik saat berdekatan dengan putranya karena membayangkan bahwa bisa saja apa yang dilakukan laki – laki brengsek itu tedapat dalam tubuh Marvel.
“ cinta, jika kamu cinta apa kamu akan melakukan hal itu dengannya bahkan saat kau mengandung anakku”. Pungkas Pak Rama menghentakkan kakinya dan membuat Buk Dila terhempas seperti ditendang.
“ cukup, cukup anda menghina mama saya, belum cukupkah selama ini anda menyiksanya, jika sekali anda melakukan hal ini, saya pastikan saya tidak akan menahan emosi saya”. Ucap Marvel nyalang kembali membawa sang mama keluar tanpa mendengar bantahannya lagi.
Saat ia berusaha menggopong sang mama yang lemas dengan tangisannya, membuat luka Marvel kembali terluka dan mendesis kesakitan saat tangannya kaku sulit untuk digerakkan. Buk Dila dan Pak Rama yang mendengar desis Marvel membuat mereka segera meneliti putranya.
“ ada apa dengan kamu, kenapa kamu bisa terluka seperti ini”. Ucapan Pak Rama membuat Marvel menyunggingkan senyum devil, ia tak percaya bahwa papa yang selama ini tak mempedulikannya kini bertanya tentangnya, namun hal itu malah membuatnya semakin jengah akan lelaki didepannya itu.
“ kenapa anda khawatir, bukankah darah yang sedang anda perhatikan ini membuat anda jijik terhadap saya”. Sarkas Marvel membuat Pak Rama mengingat hal itu dan memundurkan langkahnya.
Buk Dila yang mengerti akan perasaan anaknya saat ini, apalagi tetesan bening itu mengalir begitu saja dipipi putih putranya. Buk Dila pun menngikuti ajakan Marvel tadi, bahkan sekarang malah ia yang harus menahan Marvel yang berlangkah gontai karena tak sanggup menahan rasa sakit dihatinya.
Didalam mobil Buk Dila semakin merasa bersalah pada putranya, hal yang kejam yang terjadi padanya dulu kini membuat sang anak juga ikut merasakan saat dikucilkan oleh ayahnya sendiri.
Buk Dila bahkan dulu tak sanggup menahan rasa sakitnya saat melihat Marvel setiap hari dengan raut bahagia menunggu sang ayah untuk memamerkan setiap prestasinya. Tetapi Pak Rama tak pernah mempedulikannya, dan membuat ia ingin bercerai.
Marvel yang masih belum mengerti tak ingin berpisah dengan papanya, membuat ia kembali menekan egonya dan memilih bertahan menjalani sebuah rumah tangga yang tak jauh dari kata bahagia.
Suasana didalam mobil pun sangat sunyi tanpa ada satupun yang berbicara. Marvel memilih memandang keluar jendela kaca mobilnya yang semakin melaju dan membuat angina menyapu wajah tampannya. Ia hanya berharap rasa sakit itu perlahan menghilang dalam hatinya.
Sesampainya dirumah pun Marvel hanya membisu dan mengantarkan sang mama ke kamar tamu dan mulai membersihkannya karena ini kali pertamanya sang mama tidur dirumahnya. Buk Dila hanya menatap sendu putranya, ia tak berani memulai bicara karena pasti Marvel sedang membungkam amarahnya.
“ mama, tidur disini saja malam ini, untuk selanjutnya mama akan tidur dikamar aku, dan aku yang akan tidur disini”. Pamit Marvel meninggalkan sang mama didalam kamar.
Marvel memejamkan matanya dan buliran bening kembali membasahi pelupuk matanya yang sedari tadi ia tahan didalam mobil, apalagi kini ia masih mematung didepan pintu kamar mamanya yang sedang menangis didalam.
“ maafin Marvel ma, seharusnya mama sudah bahagia sekarang jika aku tidak mencegah mama saat itu”. Ujar Marvel kemudian beralih berlalu menuju kamarnya.
Dibalkon kamar, Marvel ingin menghilangkan stresnya dengan dengan menghis*ap rokok. Namun saat ia akan menyulutkan api, ia teringat akan Siska yang tak menyukai ia ketika merokok dan membuat ia kembali menyimpannya dalam kotak.
Deringan ponsel diatas nakas membuat ia tersadar, ternyata tadi ia lupa membawa benda pipih itu. Baru saja pikirannya dihiasi gadis itu dan sekarang ia sudah ada disebrang sana menunggu penerimaan panggilan dari dirinya.
“ hai bocil, tumben video call, kangen ya”. Goda Marvel seraya bersenyum menyembunyikan raut sendunya.
“ kamu habis darimana sih Vel, ngilang semalaman, sampe aku nelpon dan nyampirin kerumah kamu gak dijawab”. Ketus Siska yang kesal karena tak mendapati Marvel saat ia akan mengantarkan makan malam suruhan mamanya.
“ ha, kamu kesini?, sorry – sorry tadi aku habis jalan sama mama”. Jawab Marvel terkejut dan terpaksa berbohong.
“ Vel kamu kenapa?”. Tanya Siska dapat melihat ada raut sendu dari matanya Marvel.
Jangan lupa like, vote and giftnya,
Mohon Share dan promosiin juga ya
Terimakasih