
Marvel telah memberikan tumpangan kepada ibunya, Mary, untuk mengunjungi rumah Adara. Mary sangat ingin bertemu dengan Adara yang baru saja bergabung dengan perusahaan Marvel. Mereka berdua berbicara dengan antusias tentang pertemuan ini selama perjalanan.
(dengan senyum) "Mama, aku yakin kamu akan suka dengan Adara. Dia adalah teman yang luar biasa."
(dengan bahagia) "Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya, Marvel. Aku senang kamu memiliki teman yang baik."
Namun, saat perjalanan mereka menuju rumah Adara, nasib berkata lain. Mereka mengalami kecelakaan mobil yang serius di persimpangan jalan yang sibuk. Kecelakaan itu mengguncang mereka, dan mobil mereka rusak cukup parah.
Saat mereka keluar dari mobil dan melihat kerusakan yang terjadi, mereka merasa sangat bersyukur bahwa mereka berdua selamat dari kecelakaan itu. Mereka kemudian melihat kerumunan orang dan sirene mobil pemadam kebakaran yang mendekat. Kecelakaan itu tampaknya menarik perhatian banyak orang.
Sesaat kemudian, berita tentang kecelakaan tersebut menyebar luas. Orang-orang yang berada di sekitar kejadian itu mulai mengambil foto dan video, dan berita tersebut dengan cepat tersebar melalui media sosial. Kabar bahwa Marvel, pemilik PT BINA STAR LIFE, telah mengalami kecelakaan, membuat banyak orang terkejut dan khawatir.
Salah satu saksi mata yang melihat kecelakaan memberikan wawancara kepada seorang wartawan yang tiba di tempat kejadian. Dia menceritakan apa yang terjadi, dan berita tersebut segera ditayangkan di berbagai saluran berita.
"Kami berada di tempat kejadian di mana pemilik PT BINA STAR LIFE, Marvel, dan ibunya, Mary, mengalami kecelakaan mobil yang serius. Meskipun mobil mereka rusak parah, beruntungnya mereka selamat dari kecelakaan ini. Saat ini, mereka sedang menerima perawatan medis dari petugas yang tiba di lokasi."
Sementara itu, di rumah Adara, berita tentang kecelakaan Marvel juga tersebar dengan cepat. Adara yang awalnya senang menyambut kedatangan Marvel dan ibunya segera merasa cemas dan panik ketika dia mendengar kabar tersebut. Dia segera mencoba menghubungi Marvel, tetapi tidak mendapat jawaban.
(dalam kepanikan) "Apa yang terjadi? Saya harus tahu apakah mereka baik-baik saja."
Situasi ini membuat Adara sangat khawatir. Dia merasa terjebak di rumahnya, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Marvel dan ibunya. Dalam hatinya, dia berharap mereka berdua baik-baik saja dan bahwa kecelakaan ini tidak terlalu serius.
Setelah mendengar berita mengerikan tentang kecelakaan yang menimpa Marvel dan ibunya, Adara segera menghubungi teman-temannya dari geng Marvel. Mereka semua merasa cemas dan khawatir tentang keadaan Marvel dan Mary. Mereka merasa bahwa mereka harus bersama-sama untuk mendukung Marvel dan ibunya dalam situasi yang sulit ini.
(telepon Adara) "Adara, apa yang terjadi dengan Marvel dan Mary?"
(dengan nada khawatir) "Mereka mengalami kecelakaan mobil. Saat ini, Marvel berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Kita harus pergi ke sana dan memberikan dukungan kepada mereka."
"Saya setuju. Kami harus bersama-sama dalam saat-saat seperti ini."
"Apa yang kita butuhkan untuk membantu mereka?"
"Mari kita pergi ke rumah sakit terlebih dahulu dan mengetahui kondisi mereka. Kemudian, kita bisa memutuskan langkah selanjutnya."
Teman-teman Geng Marvel segera berkumpul di depan rumah Adara, dan mereka bersama-sama menuju rumah sakit di mana Marvel dan Mary sedang dirawat. Di sana, mereka bertemu dengan ibu Marvel, yang ditemani oleh sopir Marvel.
(dengan wajah khawatir) "Terima kasih, semuanya, telah datang. Marvel sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut di dalam. Kondisinya tidak terlalu serius, tapi tetap ada luka pada bagian kepalanya."
(menghibur) "Kami ada di sini untuk mendukung Marvel dan Anda, Ibu Marvel. Bagaimana dengan ibu?"
"Saya baik-baik saja, hanya sedikit guncangan. Terima kasih, supir Marvel, telah membantu saya."
"Tidak ada masalah, Ibu. Saya senang bisa membantu."
Teman-teman Geng Marvel duduk di ruang tunggu rumah sakit, menunggu kabar lebih lanjut tentang kondisi Marvel dan Mary. Mereka saling memberikan dukungan dan berharap agar semuanya berjalan baik.
Sementara itu, Marvel masih berada di ruang perawatan, menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut untuk memastikan bahwa luka-lukanya tidak terlalu serius. Dia merasa bersyukur karena selamat dari kecelakaan tersebut, tetapi juga khawatir tentang kondisi ibunya.
(pikirannya) "Saya harap ibu baik-baik saja. Saya harus kuat untuknya."
Ketika Marvel akhirnya selesai dengan pemeriksaan medisnya, dia mendekati Adara dan teman-teman gengnya yang menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Mereka semua bersyukur melihat Marvel keluar dengan selamat meskipun dengan luka-luka kecil.
(dengan lega) "Marvel! Bagaimana keadaanmu?"
(dengan senyum tipis) "Aku baik-baik saja, Adara. Luka-lukanya tidak terlalu serius. Terima kasih telah datang semua."
"Kami selalu ada untukmu, Marvel. Bagaimana dengan ibumu?"
"Ibuku juga baik-baik saja. Dia sudah diambil pulang oleh sopirku. Mari kita pulang ke rumah dan berkumpul dengan ibu."
Mereka semua setuju untuk kembali ke rumah Marvel untuk bersama-sama memberikan dukungan kepada Mary. Meskipun kecelakaan itu mengagetkan, mereka tahu bahwa sebagai keluarga yang terpilih dan teman-teman dekat, mereka akan menghadapinya bersama-sama.
Ketika Marvel keluar dari rumah sakit dan melihat wajah Adara dan teman-temannya yang terkesan kaku dan canggung, dia merasa ada yang aneh. Dia menangkap pandangan mereka yang tampak malu-malu.
(dengan senyum sinis) "Terimakasih telah datang, Adara, teman-teman. Rasanya istimewa sekali merasakan dukungan kalian."
(sambil bergumam) "Eh, ya, kita senang kamu baik-baik saja, Marvel."
(menyesal) "Kami benar-benar khawatir tentangmu, Marvel."
"Tapi kami tidak membawa oleh-oleh, maaf."
(dengan wajah canggung) "Kami tahu kami seharusnya membawa sesuatu untukmu."
Marvel melihat reaksi mereka yang terlihat malu dan terdiam. Dia tahu bahwa mereka semua datang dengan niat baik, tetapi mungkin mereka lupa membawa oleh-oleh karena terlalu terburu-buru atau panik saat mendengar tentang kecelakaan tersebut.
(dengan nada sinis) "Oh, tenang saja. Aku tidak mengharapkan oleh-oleh. Hanya saja aku merasa istimewa karena kalian semua ada di sini."
(merasa bersalah) "Maafkan kami, Marvel. Kami seharusnya lebih memikirkan hal itu."
"Kami akan membawakan oleh-oleh nanti."
(menghibur) "Tidak perlu khawatir, teman-teman. Yang penting, kita semua bersama saat ini."
Setelah mendapatkan izin untuk pulang dari rumah sakit, Marvel memberi tahu teman-temannya bahwa dia ingin mereka mengantarnya ke dealer mobil. Teman-temannya, yang sudah berencana untuk mengantarnya pulang, terkejut dengan permintaan ini dan penasaran mengapa Marvel ingin pergi ke dealer mobil.
(dengan rasa ingin tahu) "Marvel, kenapa kamu ingin pergi ke dealer mobil? Bukankah kita harus mengantarmu pulang?"
(sambil tersenyum misterius) "Tenang saja, teman-teman. Aku memiliki alasan khusus mengapa aku ingin pergi ke dealer mobil."
(penasaran) "Boleh tahu alasannya, Marvel?"
"Tentu, Adara. Aku ingin membeli mobil baru."
(terkejut) "Mobil baru? Kamu tidak akan memperbaiki mobil lama?"
"Tidak, teman-teman. Mobilku sudah cukup tua, dan setelah kecelakaan ini, aku merasa sudah waktunya untuk menggantinya dengan yang lebih aman."
"Wow, itu akan menjadi langkah besar, Marvel. Tapi apa hubungannya dengan dealer mobil?"
"Aku ingin melihat berbagai pilihan mobil dan melakukan pengujian. Aku ingin memastikan aku memilih mobil yang sesuai dengan kebutuhan dan keamananku."
"Itu masuk akal. Kami mendukungmu dalam keputusan ini."
"Kami akan mengantarkanmu ke dealer mobil, Marvel."
Meskipun teman-temannya awalnya terkejut dengan keputusan Marvel untuk membeli mobil baru, mereka segera mengerti alasan di baliknya dan mendukungnya sepenuhnya. Mereka tahu bahwa keamanan Marvel adalah yang terpenting, dan jika mobil baru dapat memberikannya rasa aman yang lebih besar, maka itu adalah keputusan yang bijaksana. Bersama-sama, mereka menuju dealer mobil untuk membantu Marvel dalam proses pemilihan mobil yang tepat untuknya.
Marvel dan teman-temannya tiba di dealer mobil, tempat berbagai jenis mobil dipamerkan. Marvel mulai berjalan-jalan di sekitar dealer, menilai setiap mobil yang ada. Teman-temannya menyaksikan dengan antusias, siap memberikan pendapat jika Marvel membutuhkannya.
(sambil menunjuk mobil) "Apa pendapatmu tentang yang ini, Marvel?"
"Ini terlihat bagus, tapi mari kita lihat pilihan lainnya juga."
Marvel terus berjalan, mencoba beberapa mobil yang berbeda. Dia mencari mobil yang tidak hanya aman, tetapi juga sesuai dengan gaya hidupnya yang aktif dan petualang.
"Apa dengan mobil ini, Marvel? Ini terlihat cukup keren."
"Ini mungkin pilihan yang baik. Mari kita coba test drive."
Setelah mencoba beberapa mobil dan berdiskusi dengan teman-temannya, Marvel akhirnya menemukan mobil yang sesuai dengan keinginannya. Itu adalah SUV yang tangguh dan aman, dengan berbagai fitur keamanan canggih.
"Aku pikir ini mobil yang tepat. Saya akan membelinya."
"Anda membuat pilihan yang bagus, Pak Marvel. Bagaimana Anda ingin membayar?"
"Saya akan membayar secara tunai."
Setelah proses pembayaran selesai, Marvel, bersama teman-temannya, meninggalkan dealer mobil dengan mobil baru yang cemerlang. Mereka semua merasa senang dan puas dengan pilihan Marvel, dan mereka tahu bahwa mobil baru ini akan memberikan keamanan dan kenyamanan ekstra bagi Marvel dalam perjalanannya.
"Selamat, Marvel! Mobil ini sangat keren."
"Sekarang, kita bisa pergi ke mana saja dengan gaya."
"Terima kasih, teman-teman, atas bantuannya. Aku sangat senang dengan mobil ini."
Mereka semua naik ke mobil baru Marvel dan memulai perjalanan pulang. Mobil baru tersebut membawa kegembiraan dan antusiasme baru dalam perjalanan mereka bersama-sama, menandai awal babak baru dalam petualangan mereka.
Setelah mereka semua tiba di rumah Marvel, suasana tenang mulai mengisi udara. Marvel merasa bersyukur telah mendapatkan mobil baru yang aman, dan teman-temannya senang telah bisa membantunya dalam proses tersebut.
(sambil tersenyum) "Senang melihatmu senang, Marvel. Mobil barumu terlihat keren."
"Terima kasih, Adara. Ini adalah langkah besar, dan aku senang kalian semua ada di sini untuk mendukungku."
"Kami selalu ada untukmu, Marvel. Sekarang, aku rasa kita harus pulang."
"Iya, sudah cukup larut. Sampai jumpa, Marvel!"
"Sampai jumpa, Marvel. Jaga dirimu baik-baik."
(mengucapkan terima kasih) "Terima kasih, teman-teman, sudah mengantarku ke dealer mobil dan memberikan dukungan. Sampai jumpa!"
Teman-teman Geng Marvel berpamitan dan meninggalkan rumah Marvel satu per satu. Marvel merasa terharu dengan kehadiran mereka dan dukungan yang telah mereka berikan. Dia tahu bahwa persahabatan mereka sangat berarti baginya.
Setelah teman-temannya pergi, Marvel memutuskan untuk bersantai sejenak di ruang tamu rumahnya. Dia merasa lega dan puas dengan pilihan mobil barunya. Namun, dia juga merenung tentang perjalanan hidupnya, dari kehidupan yang penuh dengan kenakalan hingga saat ini, di mana dia memiliki perusahaan sendiri dan teman-teman yang mendukungnya.
(pikirannya) "Hidup memang penuh dengan perubahan. Aku bersyukur telah menjalani perjalanan ini bersama teman-teman yang luar biasa. Mereka adalah bagian berharga dari hidupku."
Dengan pikiran yang penuh rasa syukur, Marvel memutuskan untuk istirahat sejenak, mengetahui bahwa esok akan menjadi hari baru yang penuh dengan potensi dan petualangan.
.
.
Tunggu part selanjutnya ya guyssss