Marvel

Marvel
Bab 34 : Lapangan



Lagi – lagi Siska mendapati hukuman yang tak pernah didapatkannya sebelum bertemu Marvel. kini ia dan Marvel harus berlari sebanyak 5 putaran lapangan sekolah yang tergelar luas ditengah sekolah mereka.


Berlari disana ditengah jam mata pelajaran otomatis akan membuat mereka menjadi tempat perhatian para murid disekolah. Mungkin ia akan melakukan hal yang sama seperti Marvel yaitu kabur, tapi ia takut akan kembali menemukan masalah baru jika tak melakukannya.


Matahari yang sedikit terik membuat rasa panas dikulitnya, Siska menatap kesepanjang pinggir lapangan menunggu Marvel yang mungkin akan kembali menemaninya berbagi sinar sang surya.


“ mana sih tu anak, masak gue keliling sendiri panas – panas gini”. Ucap Siska menunggu Marvel, Namun yang ditunggu tak kunjung datang membuatnya memilih sedikit melakukan pemanasan sebelum melaksanakan olahraga ekstra itu.


“ gue mulai aja lah, daripada nambah lagi hukumannya”.


Saat ia akan melangkahkan kakinya, kerah bajunya terasa tertarik sehingga langkah kakinya merasa tergantung dan hampir membuat wajahnya bersapa dengan tanah lapangan. Marvel awalnya ingin mengejutkan Siska tetapi ternyata gadis itu tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya sehingga hampir terjatuh.


Marvel mencoba menahan tubuh Siska dengan berusaha tidak melepaskan kerah baju gadis itu dan langsung menarik lengan gadis itu agar lebih mudah mempertahankan supaya Siska tak terjatuh. Namun yang terjadi adalah saat ia membalikkan tubuh Siska, keseimbangan kedunya runtuh dan membuat Marvel terjatuh menimpa Siska.


Pipi mereka bertemu karena Marvel menjatuhkan kepalanya kesamping Siska. Menyingsikan rasa sakit yang dialami keduanya dengan degupan jantung yang tak beraturan.


Marvel mencoba mengangkat kepalanya dan membuat netra mereka bertemu dengan jarak beberapa centi itu. Keduanya menatap seraya saling terdiam, deruan nafas hangat dapat mereka rasakan sehingga semu merah dikedua wajah mereka saling menyapa.


“ woi, jangan jadi kucing lo berdua, modal dikit napa”. Teriakan nyaring Andi menyadarkan mereka sehingga segera bergegas berdiri dan menghadirkan jarak diantara keduanya.


“ bus** ni orang, kagak liat tempat apa?, dah cuacanya panas nambah bikin gue gerah aja”. Sambung Andi melihat Marvel dan Siska melalui jendela kelasnya.


“ omongan lo di filter juga bego, lo juga harus liat tempat kalo ngomong”. Toyor Kevin pada kepala sahabatnya itu.


“ gimana gue mau saring, otak gue lo bocorin terus, ya ember lah mulut gue”. Sahut santai Andi kembali menatap Siska dan Marvel.


Marvel dan Siska segera menyapu baju dan kulit mereka yang tertempel debu seraya saling melirik canggung. Siska menundukkan wajahnya karena pipinya serasa menghangat menandakan sedang merona, apalagi tingkah keduanya kini sedang diperhatikan oleh seluruh penghuni sekolah.


“ sial banget sih gue hari ini, mau ditaruk dimana muka gue”. Gerutu Siska masih membersihkan bajunya.


“ emang muka lo pernah ditaruk dimana aja?”. Tanya Marvel heran mendengar penuturan Siska.


“ ya dimuka gue ini lah, masih nanya lagi”. Jawab Siska kesal.


“ terus kenapa lo mau taruk ditempat lain, bisa dicopot tu muka”. Ledek Marvel gemas melihat tingkah Siska yang kesal seraya malu atas apa yang terjadi pada keduanya.


“ ish, lo bisa diem gak sih, ini semua gara – gara lo tau gak”. Ketus Siska menatap Marvel.


“ lah kok gara gue, lo duluan yang jambak gue tadi, dasar cewek”. Jawab Marvel menggeleng – gelengkan kepalanya.


“ heuhhh, awas lo ya”. Tukas Siska berlari melanjutkan hukumannya ketika sadar buk Rini masih mengawasi mereka.


“ Ck, gemes banget sih kayak panda”. Ujar Marvel tersenyum dan melilih ikut melanjutkan hukuman mereka.


“ ngapain lo lirik – lirik gue, mesum lo ya?”. Tuduh Siska waspada seraya mempercepat kecepatan langkah kakinya.


“ ni pakek, jangan bikin orang pada mesum liat lo”. Ucap Marvel melemparkan jaket pada Siska dan meninggalkan gadis itu yang seketika menjadi patung.


“ idih, makasih”. Teriak Siska setelah mengetahui tujuan Marvel memberinya jaket.


Marvel hanya menanggapi dengan acungan jempolnya dan tersenyum melihat Siska mengikat jaket dipinggangnya. Marvel juga sedikit memperlambat langkahnya agar dapat menunggu Siska agar hukuman keduanya selesai bersama.


“ lemot amat kaki lo, nungguin gue ya?”. Tanya Siska yang sudah dapat mensejajarkan langkah kakinya dengan Marvel.


“ pengen banget gue tungguin?”. Balas Marvel menggoda Siska.


“ ya.. biar gak disebut cowok brengsek aja sih”. Timpal Marvel melampirkan senyumnya yang juga dibalas oleh Siska.


Setelah menyelesaikan tugasnya, keduanya kini berteduh dibawah pohon disekitaran lapangan. Mereka mengistirahatkan sejenak raga nya yang telah berkeluh kesah sambil memijat kedua kakinya.


“ heh, baru segitu aja lo udah ngos – ngosan, pake sok acara suka jogging segala”. Sindir Marvel mengingat Siska pernah berlari ditaman sekitar komplek mereka.


“ biarin, suka – suka gue lah, orang kaki gue juga”. Tukas Siska menjawab ledekan Marvel.


“ heum, lo udah maafin kejadian tadi pagi kan?”. Tanya marvel setelah keheningan menyelimuti keduanya sesaat.


“ ya berdasarkan perjanjian sih ada syaratnya”. Ingat Siska akan es krim yang dijanjikan Marvel.


“ cih, gak ikhlas banget maafinnya”. Sahut Marvel tersenyum melihat Siska tersenyum devil menagih janjinya.


“ ya itu semua tergantung lo sih, yang jelas gue gak boleh sia – siain kesempatan kali”. Tukas Siska menjahili balik Marvel.


“ iya gue beli, kalo perlu sekontener gue beli buat lo, biar puas”. Jawab Marvel menimpali ocehan Siska.


“ serius ya, gue pegang omongan lo”. Siska menatap binar Marvel.


“ gue cicil tapi ya”.


“ eum boleh aja sih, berarti kalo dihitung – hitung 2 atau 3 tahun kedepan setiap hari lo harus kasih gue es krim, gimana?”.


“ itu namanya lo ngemanfaatin gue cil”. Sahut Marvel yang kemudian tergelak tawa bersama.


Tak disangka diujung sudut lapangan sana terdapat sepasang mata yang geram menatap kebersamaan mereka. Ia tak boleh menunda lagi rencana tadi pagi yang diperintahkannya pada Brian.


Yuda menelpon Brian memintanya bergegas menjalankan tugasnya, ia tak dapat menahan dirinya lebih lama lagi jika melihat Siska dan Marvel semakin dekat. Setelah menguasai emosinya, Yuda menghampiri Siska dan Marvel.


“ hai, ganggu gak?”. Sapa manis Yuda.


“ banget”. Tukas Marvel Singkat menatap jengah Yuda.


“ eh kak Yuda, gak sama sekali kok kak”. Jawab Siska canggung karena sedang bersama Marvel.


“ ka, kakak mau ngomong sesuatu sama kamu boleh?, tapi gak disini”. Lanjut Yuda melihat tingkah Siska yang seperti menjaga jarak dengannya.


“ eum, iya boleh kak, dimana?”. Setuju Siska mungkin ini saatnya ia harus jujur akan perasanya pada Yuda.


“ikut kakak aja ya”. Pinta yuda senang Siska menyutujui ajakannya.


“ oke, Vel gue duluan ya”. Pamit Siska pada Marvel, namun hanya anggukan yang dibalas Marvel bukan penolakan.


Jangan lupa like, comment, vote dan giftnya


Tambahkan juga ke list favorit novel kalian


Terimakasih atas bentuk dukungannya


Terimasih juga yang masih setia ikutin Novel ini 😊