
Marvel yang sedari tadi menangis dalam tangkupannya tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan dirinya. Sosok lelaki yang pernah menjadi rivalnya itu yang selama ini tak diketahui keberadaannya tiba – tiba mendapati seseorang yang kecewa akan dirinya sendiri sama seperti dengan keadaannya saat ini.
Marvel terperangah menyadari ada seseorang yang tiba – tiba saja duduk disamping dirinya, dan menempelkan minuman dingin ditanggannya. Ia terkejut menyadari siapa yang kini bersama dengannya, apalagi kondisinya saat ini mungkin bisa saja ditertawakan oleh rivalnya itu. Marvel segera menata dirinya kembali yang terlihat sangat kusut.
“ gak usah sok kuat, gue udah liat sisi lain lo yang dari tadi, nih minum”. Tukas Mike sedikit menyudutkan ujung bibirnya melihat Marvel yang berusaha menutupi keadaannya itu.
“ sejak kapan lo disini?”. Tanya Marvel seraya mengambil minuman kaleng yang disodorkan Mike.
“ sejak sebelum lo kesini, teriakan lo ngebangunin gue lagi tidur soalnya”. Jawab Mike jujur.
“ jadi lo denger semuanya, ck kenapa gue gak liat sih”. Sesal Marvel tak teliti melihat area sekitar, padahal ia yakin tempat itu begitu sepi.
“ hem, seberapa pecundangnya elo, gue pikir berita itu gak bener, tapi gue langsung lihat sendiri seberapa”. Ucapan Mike terputus karena dipotong oleh Marvel.
“ makasih udah sempat percaya sama gue”. Marvel menarik nafas panjang dan menghembusnya kasar, setidaknya ada yang percaya sama dia.
“ heh, jadi segitu doang mental lo, gue pikir Siska udah milih orang yang tepat”. Ujar Mike meneguk minumannya.
“ cih, milih gimana, dia sama sekali gak percaya sama gue”. Marvel tersenyum getir melihat Siska tak berpihak padanya.
“ lo bodoh atau gimana sih, lo gak liat atau ngerasa dia suka sama lo?”. Mike tersenyum melihat mantan rivalnya itu tak peka dengan tingkah Siska.
“ suka darimana, orang dia kesel banget gue gangguin terus”. Marvel tak percaya bahwa Siska juga merasakan hal yang sama sepertinya.
“ pasangan yang cocok, yang satunya gak sadar udah jatuh cinta, yang satunya lagi gak peka”. Mike berdiri ingin beranjak dari sana dan melanjutkan rencananya yang tertunda.
“ gue harap lo bisa sabar hadepin sepupu gue yang super bawel itu”. Ucap Mike beranjak dari sana.
“ eh bentar gue mau tanya, lo tau siapa yang kira – kira udah nyebarin berita itu”. Tanya Marvel mungkin saja Mike mengetahui siapa yang memiliki akses mengunggah di platform sekolah.
“ mau lo buktiin gimana pun lo gak akan bisa, gue rasa lo juga udah tau dari awal orangnya siapa”. Tukas Mike kembali berlalu dari sana.
“ Yuda”. Marvel tak salah menuduh Yuda yang telah melakukan hal ini semua, ia semakin geram rivalnya itu telah bersaing tak andil dan mencari masalah dengannya.
“ gue ikutin alur permainan lo”. Ucap Marvel seraya memendam amarahnya dan juga berlalu dari sana.
Sepulang dari sekolah Siska mengiyakan untuk bertemu dengan Yuda, apapun yang terjadi ia tak boleh melewatkan kesempatan lagi untuk menyampaikan perasaannya pada Yuda. Siska dan Yuda pergi ketempat awal mereka menjadi teman akrab.
“ ka, kamu kenapa malah mau kita datang ketempat ini sih?”. Heran Yuda akan niat Siska yang memilih tempat itu.
“ kakak ingat gak, waktu itu aku pertama kali jumpa kakak disini”. Ujar Siska tersenyum mengingat awal mereka ketemu.
“ ia kakak ingat, waktu itu kamu lucu banget datang kesini tiba – tiba marahin Mike”. Tawa Yuda juga ikut bernostalgia.
“ kak kita main basket yuk, dulu kakak bantuin aku masuin ini kesana sebagai syarat biar kak Mike mau ikutin perintah aku”. Siska mulai mendribbling bola yang terletak dilapangan tempat pelatihan basket.
“ emang kamu udah bisa?”. Tanya Yuda yang tau gadis itu tak pernah bisa memainkan permainan olahraga itu.
“ mau tes, ayok”. Tantang Siska yang disetujui oleh Yuda.
Yuda mulai merebut bola dari Siska dan menggiringnya membuat Siska mengejar dirinya. Tak terasa mereka telah berlama – lama disana sampai waktu menunjukkan sang surya kini hampir berpamit diri.
Setelah menunaikan kewajibannya, mereka kembali memilih tempat yang menjadi saksi cerita kebersamaan mereka. Warung bakso yang tak jauh dari tempat olahraga yang mereka kunjungi sebelumnya. Karena sering mengawasi Mike, Siska selalu mengisi perutnya ditempat itu bersama Mike dan Yuda.
“ kayaknya kamu gak pernah bosan ya makannya disini”. Tukas Yuda melihat Siska kembali mengajaknya ketempat yang sering mereka kunjungi.
“ udah khas banget rasa bakso disini sama lidah aku kak, jadi gak pernah bosen”. Celoteh Siska dengan binar melihat pesanan mereka yang sudah datang.
Setelah menghabiskan waktu seharian bersama, kini mereka sudah sampai didepan rumah Siska. Siska mulai mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan perasaannya pada Yuda.
“ kak, aku mau jawab pertanyaan kakak tentang perasaan aku untuk kak Yuda”. Ucap Siska menatap lurus pada yuda.
“ kamu udah tau perasaan kamu untuk kakak?”. Tanya Yuda yang belum siap menerima jawaban Siska yang diwakili oleh tatapan sendunya.
“ maafin aku kak, aku gak bisa maksain perasaan aku buat suka sama kakak, aku takut itu malah akan menyakiti kita berdua”. Siska berusaha meluapkan apa yang dirasakannya selama ini, jujur ia tidak ingin menyakiti Yuda.
“ enggak ka, kamu belum ngerti perasaan kamu untuk kakak, kita masih bisa laluin hari seperti ini lagi untuk tau perasaan kamu”. Kekeh Yuda memaksa Siska untuk belajar mencintainya.
“ udah gak bisa kak, hari ini itu aku mau mencoba mengulang kisah awal kita, dan itu sama aja, gak ada yang berubah, kak Yuda adalah seseorang yang selalu ada untuk aku ngehadapin kak Mike. Dan sampai hari ini kak Yuda adalah sosok teman yang paling aku kagumi, kita itu..”. Penuturan Siska dipotong begitu saja oleh Yuda.
“ kamu udah jatuh cinta sama Marvel kan?, apa sih yang kamu liat dari dia yang kakak gak punya, mau kamu liat dari segi manapun, kakak yang lebih cocok untuk kamu, bukan dia”. Sarkas Yuda tak sanggup menerima penolakan Siska.
“ kak, kok kakak jadi begini sih, kakak bukan lagi seperti yang kak Yuda aku kenal”. Siska tak percaya sosok yang ada didepannya saat ini telah berubah.
“ heh, kenapa?, kamu kaget kakak juga bisa bersikap sama seperti dia, iya?”. Yuda benar – benar sudah tak dapat mengontrol emosinya lagi.
Yuda mendorong Siska ke tembok dan menguncinya disana, amarah yang tak lagi terbendung walaupun melihat Siska sudah dengan raut ketakutan tak lagi ia pikirkan. Dengan sigap Yuda mencekal kedua tangan Siska agar tak bisa melawan dan mencoba meraup bibir gadis itu dengan paksa.
“ brengsek lo”. Satu bogeman mentah diterima Yuda sat ia hampir mencium Siska.
Mohon dukungannya semuanya,
Terimakasih 😊