Marvel

Marvel
Bab 31 : Blush



Keheningan dan kecanggungan itu kembali hadir diantara mereka, Siska bahkan sulit untuk mengucapkan kata –kata saat netra mereka bertemu di motorcycle mirror. Marvel sering kali membagi fokusnya antara menelisik jalanan ibu kota dengan pantulan wajah seseorang yang sedang memunggunginya dengan raut yang membuat jantungnya menari disana.


“ ka, lo gak mau pegangan gitu, bahaya tau naik motor gak pegangan”. Usik Marvel memecah keheningan diantara mereka.


“ ada, ini gue pegangan di handle jok motor lo”. Polos Siska yang langsung menyambut gusikan Marvel.


“ ck, pegangan ditempat yang paling aman kan bisa”. Gerutu Marvel melihat Siska dengan sifat polosnya itu.


“ lah ini kan emangdibuat untuk tempat pegangan, emang ada yang lain?”. Tanya Siska bingung apa ada modifikasi terbaru yang digunakan sebagai tempat pegangan.


“ ada, sini tangan lo”. Marvel menjulur tangannya kebelakang dan menggenggam tangan Siska yang patuh untuk memeluk dirinya.


“ lah kok disini, ini namanya modus tau, lepasin tangan gue”. Celoteh Siska saat tangannya merasakan roti sobek Marvel yang ditutupi kaosnya itu.


“ pede amat sih, mukanya sampe merah gitu”. Marvel semakin menggengam erat tangan Siska yang berontak untuk dilepaskan.


“ eh gak ada ya, ini namanya pake blush on tau gak”. Seketika Siska diam tak memberontak untuk dilepaskan dan memilih meneliti mukanya yang tak bisa diajak kersama itu di motorcycle mirror Marvel.


Lengkungan sudut bibir Marvel juga ikut tampak diwajahnya saat melihat tingah lucu gadis yang pernah dia benci itu. Bukan Marvel rasanya jika tak ada tingkah jahil yang dilakukannya, cowok berparas tampan itu tiba – tiba menambah kecepatannya dan membuat Siska terhuyung kedepan.


“ ah..Marvel….”. teriakan lengking itu beradu dengan kerasnya deruan kendaraan lain yang ikut memecah jalanan.


“ gue takut Vel, pelanin tolong”. Pinta gadis itu mengeratkan jemarinya yang bertautan diperut Marvel serta membenamkan wajahnya dibahu kekar itu dengan menutup matanya.


“ gue bilang juga apa, pegangan yang benar makanya”. Tukas Marvel yang diiringi tawa tipis yang nyaring ditelinga Siska.


“ iya gue janji bakalan pegangan disini, tapi please pelanin motornya”. Sahut gadis itu masih dengan memejamkan matanya.


Marvel kembali membawa motornya dalam mode kecepatan normal, raut kesal bahkan tak dapat terbantahkan untuk terhindar dari wajah Siska. Terpaan angin membuat ujung rambut Siska yang tak ditutpi helm pun menari indah mengikuti alunan arah angin, membuat Marvel hampir tak fokus mengendarai motor kesayangannya itu.


“ bawa motor itu pandangannya kedepan, jangan liatin gue mulu, kalo gak gue cabut ya”. Ancam Siska yang semakin salah tingkah saat mendapati dirinya yang terus ditatapi.


“ pipi lo kenapa sih, perasaan tadi gak semerah itu”. Goda Marvel yang menutupi senyuman salah tingkahnya dengan senyuman meledek.


“ kan gue udah bilang ini karena pake blush on”. Ketus Siska yang terus diledek oleh Marvel.


‘oh muka bisakah dirimu biasa saja, tolong jangan perlihatkan padanya jika diriku salah tingkah didepannya’. Gerutu Siska dalam hatinya.


“ blush on itu apa?, pemerah muka? Ngapain dipake?”. Tanya Marvel bingung dengan kelakuan para wanita, untuk apa pemerah muka, bukankah sudah cukup dengan benda yang bernama lipstick itu sebagai penamabah kesan warna bibir.


“ ya make up lah, kalian cowok itu gak akan pernah ngerti”. Percuma menjelaskannya, karena wanita seribet itu.


“ fungsinya buat apa?”. Tanya Marvel ingin membuat Siska semakin kesal, karena raut kesal itu begitu lucu dimatanya.


“ udah ah, ngapain bahas itu sih, bisa aja muka gue merah karena kedinginan”. Kesal Siska menatap nyalang mendapati Marvel mencuri pandang padanya lagi.


“ bukannya gue yang harus bilang kedinginan, gue modal kaos doang cil, jaket gue kan di elo”. Marvel tersenyum cerah karena merasa malam ini seperti keberkahan untuknya karena telah membantu pak supir tadi.


“ ya sorry, lo pake lagi aja deh kalo enggak?”. Tautan jemari itu memudar namun segera dipereratkan kembali oleh Marvel.


Siska terhenyak sejenak akan apa yang dilakukan Marvel, seketika rasa panas dijantungnya mebuatnya semkin berdetak tak beraturan. Ia langsung membenankan wajahnya dibahu Marvel dan mengangguk pelan, gadis itu merasa malu jika Marvel akan memergoki dirinya lagi karena tak dapat mengontrol rasa yang bergejolak didadanya.


Marvel ingin rasanya bersorak saat ini, entah kenapa ia pun tak bisa mengontrol emosi yang telah memenuhi jiwanya. Seakan tembok besar dihatinya seketika runtuh karena perasaan yang hanya dia dapatkan jika bersama Siska saja.


Gadis itu sudah mengubah nasib alur hidupnya, awalnya Marvel merasa kata sayang, cinta, itu hanyalah kata yang tak perbah terbentuk wujudnya. Namun kini dia tau apa rasanya saat memiliki rasa itu bertuan dihatinya. Entah benar jika hatinya kini telah bersemayam dua kata itu yang tak luput nama Siska telah terukir dihatinya.


Kebisuan yang dilandasi dengan kehangatan itu pun tak terasa harus terhentikan, andai saja jarak dan waktu berjalan lama, tak ingin ia segerakan akhir ini menjemput mereka. Marvel menghentikan laju motornya didepan rumah yang sudah pernah dia bertamu padanya.


“ cil, udah sampe turun, betah amat melukin abang”. Ledek Marvel melihat Siska yang seprtinya tertidur dibahunya.


“ hoam, udah sampe ya”. Siska mengucek matanya agar terjaga dari tidurnya.


“ udah dari tadi, kenapa?, nyaman ya bahu gue”. Goda Marvel menaik turunkan alisnya, jangan lupa juga senyuman ledek namun terasa manis jika diperhatikan.


“ enak aja, ni helm lo”. Ujar Siska masih dengan rasa kantuknya menjulurkan malas helm kepada Marvel.


“ ih, hapus dulu tu iler lo, basah kayanya baju gue”. Tipu Marvel memperlambat akhir kebersamaan mereka.


Siska langsung membelalakkan matanya dan mengecek ujung sudat bibirnya, namun apa yang ditakutkannya tak terasa di sentuhan jarinya. Mata elang itu pun kini hadir dimatanya dan karena rasa kesal tangannya juga tak ikut diam saja, ia mencubit Marvel karena telah membohonginya.


“ woi, sakit banget cubitan lo, shitt”. Keluh Marvel seraya mengusap lengannya nyag nyeri.


“ rasain, emang enak, suka banget ngeselin gue”. Ketus Siska menatap jengah akan Marvel.


“ ya kan gue kasih tau, bisa aja kan iler lo udah nempel di baju gue”. Ucap Marvel meledek Siska lagi.


“ apaan sih, gak jelas, btw makasih udah anterin gue”. Ucap tulus Siska.


“ gak usah makasih, kan sekalian, orang rumah gue disini”. Timpal Marvel.


“ ya udah, pulang sana, entar lama – lama lo suka lagi sama gue”. Usir Siska ditambah celotehannya dan membalikkan punggungya untuk masuk kerumah.


“ emang udah suka”. Gumam Marvel pelan.


“ hah, lo bilang apa?”. Tanya Siska seakan mendengar sahutan tipis Marvel.


“ enggak, gue pulang dulu ya”. Sarkas Marvel menyembunyikan kalimat yang tertera begitu saja dimulutnya.


“ oh oke bye”. Jawab Siska melambaikan tangganinya mengiringi kepergian Marvel.


Jangan lupa Like, vote, dan gift nya


Tambahkan juga ke list Novel favorit kalian


Terimakasih 😊