
****
Sedangkan Kharel dan Briella yang sedang makan siang terlihat begitu mesra, Briella sering terlihat menyuapi Kharel. Tetapi entah kenapa setiap Briella bersikap manis, Kharel merasa berbeda sedikit risi.
Wajah cantik nya yang terlintas dipikirannya.
Nay yang sudah masuk kedalam mobil segera menyuruh pak Sarif untuk mengantarkannya kerumah.
Sesampainya dirumah Nay masuk kamar dan meluapkan semua air matanya, rasa sakit dihatinya mengingat apa yang ia lihat direstoran.
Nay begitu kacau, lama ia tidak keluar dari kamar, Nay duduk termenung disofa didalam kamar mereka cukup lama ia duduk pikiran entah kemana mana, ia galau. tiba tiba arah pandangan Nay tertuju pada kalender kecil didekat meja nakas.
Iya mengingat tangan bulananya.
Ia merasa sudah telat beberapa minggu, seketika Nay berdiri dan langsung mengambil tas kecilnya untuk pergi ke apotek.
Nona mau kemana, makan siang dulu nona... Biar saya siapkan, 'ucap Salah satu pelayan.
Belum lapar bik, Nay mau pergi ke apotek sebentar aja kok dan akan langsung pulang, 'jawab Nay.
Nay pun berlalu dan mengambil kunci mobil, karna tidak terlalu jadi ia pergi sendiri.
Karna dia baru saja lulus menyetir sehingga Nay melajukan mobilnya dengan pelan pelan.
****
Dirumah.
Kharel baru saja tiba, ia melihat kamar kosong tidak melihat sosok Nay.
Kali ini Kharel pulang begitu cepat, Kharel merasa ingin sekali melihat Nay karna akhir akhir ini Kharel jarang berinteraksi dengan Nay.
Kharel keluar kamar melihat ke ruang kerja, tetapi Nay tetap tidak ada.
Bikkk.. Bikkk 'panggil Kharel.
Iya tuan, 'jawab sang pelayan.
Bik, Nay kemana, apa belum pulang? 'tanya Kharel.
Nona sudah sejak tadi siang pulang tuan, tetapi sejak setengah jam lalu nona pergi keluar tuan padahal nona belum ada makan siang.
Kata nona, tadi dia hanya keluar sebentar mau keapotek terdekat. 'jawab sang pelayan.
Kenapa di biarin pergi sendiri, kalian tau Nay belum mahir menyetir. 'ucap Kharel marah kepada para pelayan termasuk sopir Nay.
Maaf kan kami tuan, 'ucap para pelayan.
Nay yang sudah tiba dirumah mendengar suara ribut dari dalam rumah.
Ada apa ini, 'tanya Nay memecahkan suana mencekam didalam rumah itu.
Semua pandangan beralih kearah Nay, Kharel menatap Nay tajam sedangkan para pelayan kembali menundukkan kepalanya.
Kamu kemana saja, kenapa pergi sendirian? Kalo kamu kenapa kenapa diluar sana gimana? Kenapa tidak mintak diantar pak Sarif? 'ucap Kharel begitu lantang dengan penuh emosi.
Tadi aku hanya pergi sebentar dan tidak jauh dari rumah, makanya tidak minta pak Sarif antar. 'jawab Nay.
Maaf yah karna aku kalian dimarahin, kalian bisa pergi bekerja. Nay minta maaf sebelumnya. 'ucap Nay kepada para pelayan.
Para pelayan menganggukkan kepalanya.
Melihat Nay yang masih sempat sempanya minta maaf kepada para pelayan, membuat hati Kharel melunak.
Tetapi dia tetap kembali marah kepada Nay, karna Nay sudah pergi sendirian tanpa izin terlebih dahulu.
Nay, langsung masuk kedalam kamar mereka diikuti Kharel dari belakang dengan rasa amarahnya.
Didalam kamar Nay langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa sempat memberikan waktu untuk Kharel bicara.
Nay merasa sangat kecewa dengan Kharel, tetapi dia tak berani bertanya sehingga ia memilih menghindar.
Nay sudah keluar dari kamar mandi sudah berpakain piama hendak tidur padahal masih hampir pukul tujuh malam.
Dia ingin tidur cepat hinggal lupa untuk makan malam.
Nay yang sudah naik ke atas kasur dicegat Kharel, Kharel meraih lengan Nay.
Kamu kenapa bersikap seperti ini, dan kenapa kamu keluar rumah sendirian? 'ucap Kharel emosi.
Lepasin tanganku, aku mau tidur capek, 'jawab Nay.
Tetapi Kharel terus mengcengkram lengan Nay, sehigga Nay merasa kesakitan.
Kamu belum jawab, kenapa pergi tanpa izin? Aku sudah bilang kalo mau pergi sendiri tanpa supir atau dtemani pelayan kasih tau aku.!! 'ucap Kharel dengan masih mmencengkram lengan Nay hingga tangan Nay berubah warna merah.
Lepasin tanganku, sakit! Aku uda bilang aku ngantuk,capek malas untuk berdebat. Aku tadi sudah bilang aku hanya dari apotek terdekat tidak jauh dan aku tidak lama. Kenapa harus semarah ini. 'ucap Nay air matanya tidak terbendung lagi, Nay menangis sesunggukan apalagi Kharel masih mencengkram lengan Nay membuat Nay meringgis kesakitan.
Kharel yang sudah melihat Nay menangis, langsung melepaskan cengkramannya. Kharel melihat lengan Nay sudah berubah warna merah. Kharel tidak sadar sudah mengcengkram lengan Nay cukup kasar hingga Nay kesakitan.
Setelah Kharel melepaskan cengkramannya, Nay langsung kembali naik keatas ranjang dan berbaring, ia ingin segera tidur dan melupakan segalanya.
Akhirnya Kharel mengalah ia berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Kharel selesai mandi, Kharel keluar dari kamar mandi dan melihat Nay yang menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut.
Bersambung...