
First Ring
BEBERAPA MURID AKADEMI yang sedang ada di halaman sekolah memperhatikan dua orang yang berjalan masuk dari arah gerbang. Keduanya berjalan berdampingan, yang laki-laki membawa sesuatu di tangannya. Entah apa karena terbungkus selimut.
Sementara itu, sepasang murid yang menjadi perhatian murid lainnya itu berjalan dengan penuh perasaan bahagia. Perempuan berambut merah berjalan bersisian sambil menggumamkan nada-nada lagu cinta. Lirih, tapi dapat terdengar ke telinga Thedon. Membuat laki-laki itu tersenyum penuh arti.
"Hei, Thedon! Dari mana saja kau seharian?" tegur Elle. Perempuan berkacamata itu memandang Thedon dan Chalia dari ujung rambut ke ujung sepatu. "Kalian berdua benar-benar berantakan."
"Hanya sedikit misi tambahan dari Miss Therenia." Thedon menjelaskan tanpa membeberkan.
Mulut Elle membulat sempurna. Kesehariannya di perpustakaan membuat perempuan itu memahami kesukaan pustakawati memanfaatkan tenaga murid laki-laki, terutama yang seperti Thedon.
"Pantas saja, seharian ini wajahnya tidak enak dilihat." Elle mengingat kembali bagaimana Miss Therenia menjawab pertanyaan dari beberapa murid dengan tidak bersahabat. Taringnya masih setia menghiasi wajah cantiknya. "Sebaiknya kau segera bergegas ke sana," tambah perempuan berambut panjang hitam itu.
Mendengar informasi itu, Thedon segera mempercepat langkahnya. Dia bergegas sambil sesekali menegok ke samping. Memastikan Chalia berjalan di sisinya.
Di koridor, Thedon berpapasan dengan Amara. Tanpa banyak kata, Thedon hanya mengangguk. Dia melihat senyum Amara merekah. Wajah perempuan berambut putih itu merona seketika. Laki-laki itu memutar bola matanya malas. Aish, dia pasti membaca isi kepalaku lagi.
Chalia dan Thedon berdiri di depan pintu perpustakaan. Keduanya merasa canggung harus masuk. Mereka melihat kepala sekolah sedang berbincang dengan Miss Therenia.
"Mungkinkah mereka membicarakan buku ini?" tanya Chalia pada Thedon.
Laki-laki itu tidak menjawab. Dia hanya melihat buku yang berbalut selimut dalam genggamannya. Buku itu memang ada di puncak sebuah pohon. Tepat di arah yang ditunjuk Chalia. Olive berhasil membawa buku itu turun. Demi keamanan, Chalia menyarankan agar buku itu dibalut sesuatu. Menghindari pandangan orang-orang yang berniat buruk.
"Ayolah, kita masuk!" ajak Chalia. Dia sesungguhnya sudah merasa lelah. Ingin lekas berbaring di kasur dan beristirahat.
"Tapi, di dalam ada kep–"
Tanpa memedulikan kalimat Thedon, Chalia berjalan masuk ke perpustakaan. "Selamat sore, Miss Therenia!" Sapaan ceria dari Chalia membuat dua orang di dalam perpustakaan menoleh bersamaan.
Miss Therenia yang melihatnya langsung tersenyum. Entah bagaimana keceriaan itu menular. Taring Miss Therenia seketika menyusut.
Mendengar sapaan yang terlontar dari mulut Chalia membuat Thedon mau tidak mau ikut masuk. Dia berjalan di belakang gadis itu.
Melihat kemunculan Thedon membuat Miss Therenia semakin berseri. Dia menyongsong dua murid itu. Apalagi melihat buntalan di tangan Thedon. "Itukah?" tanyanya sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.
Thedon tersenyum lalu mengangguk mengiyakan. Dia kemudian memberikan buntalan itu kepada Miss Therenia.
Tanpa segan, pustakawati yang gemar berbaju merah itu segera mengambil buntalan tersebut. Baru saja tangannya hendak membuka buntalan, sebuah deheman menghentikannya. Seketika tangan Miss Therenia menggantung di atas buntalan.
Tidak hanya sang pustakawati, baik Thedon maupun Chalia pun mendengar suara dehaman itu. Kedua siswa yang baru saja kembali dari Ginkgo Forest menoleh ke sumber suara.
Mr. Navarro berdiri dalam jubah kebesarannya dengan ornamen seperti cincin dan kalung berbentuk clover. Thedon sedikit tersenyum, melihat clover yang identik dengan kepala sekolah, justru malah mengingatkannya pada si kecil Mevel yang selalu membawa payung daun clover kemana pun.
"Terima kasih," ucap Mr. Navarro. Dia hanya menerimanya dan langsung menyimpannya di balik jubah yang dikenakannya.
Miss Therenia mendesah kecewa. Dia berharap bisa mengintip isi dari buku tersebut. Melihat hal itu, perempuan itu pun kembali ke tempat kebesarannya. Di balik meja sirkulasi buku.
Mr. Navarro menatap Thedon yang terus melihat ke balik jubahnya. Pandangan matanya bukan penasaran seperti Miss Therenia. "Ada yang ingin kau sampaikan, Nak?"
Pertanyaan itu memecah lamunan Thedon. Dia menatap kepala sekolah lama. "Ah, tidak, Sir. Hanya …." Thedon merasa ragu untuk menyampaikan apa yang didengar Chalia. Namun, hal itu harus diungkapkan.
"Ungkapkan saja. Keragu-raguan hanya akan memberatkan." Nasehat bijak keluar dari mulut Mr. Navarro.
"Jadi, saat kami menemukan buku itu. Para pencuri mengatakan bahwa buku itu milik tuan mereka. Pangeran mereka."
Kepala sekolah mengernyitkan alis. Mencoba memahami pangeran dan tuan yang dimaksud.
"Dan saya menyimpulkan kalau kemungkinan yang mereka maksud itu adalah Pangeran Empat Darah."
Kalimat terakhir Thedon hanya membuat kepala sekolah tersenyum. Pria itu bahkan terkekeh. "Ahh, rupanya begitu." Mr. Navarro menatap Thedon yang melihatnya keheranan. "Kau pasti bingung kenapa aku tidak merasa khawatir?" tanyanya.
Thedon diam sesaat lalu mengangguk. Dia mengharapkan ada penjelasan. Penyebutan Pangeran Empat Darah membuat dia merasa khawatir.
"Buku emas yang kau bawa adalah salah satu buku yang mencakup keterangan mengenai Asteroid Emas. Buku yang amat langka. Karena memang jatuhnya bersamaan dengan Asteroid Emas."
Chalia mengatupkan mulutnya. Dia terkejut mendengar fakta tersebut.
"Buku ini merupakan panduan bagaimana menemukan pecahan asteroid lainnya yang tersebar."
"Bukankah buku ini berbahaya?" tanya Thedon. Jika tadi dia khawatir, sekarang laki-laki itu pun gelisah.
"Tenang saja, sama halnya Asteroid Emas yang hanya bisa dipanggil oleh Pangeran Empat Darah. Buku ini pun memiliki mekanisme yang serupa. Dapat dipergunaka oleh mereka yang memiliki empat darah campuran."
Thedon mulai memahami semua yang terjadi. Pencurian buku emas. Dwarf. Dan Pangeran.
"Sir, perlukah kami merasa khawatir?"
Mr. Navarro tersenyum penuh arti lalu menggeleng. "Tidak perlu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan aku mengucapkan terima kasih banyak atas usaha kalian merebut kembali buku ini." Mr. Navarro menepuk jubahnya.
Thedon dan Chalia tersenyum bangga dan menganggukkan kepala. Mereka senang bisa menolong kepala sekolah.
"Ah, dan kuucapkan selamat atas cincin peraknya." Mr. Navarro mengerling jahil sambil mengedipkan sebelah mata.
Thedon dan Chalia melihat cincin yang terjalin di jari mereka. Seketika, wajah mereka merona. Cepat mereka menyembunyikan tangan di balik jubah mereka.
Mr. Navarro berjalan ke luar perpustakaan sambil tersenyum. Meninggalkan dua sejoli yang kini saling menautkan jemari.