Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Levi Strauss and the Journey to the North-West - Golden Castle




Golden Castle


“KUHARAP KONDISIMU SEKARANG sudah benar-benar baik karena aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian. ” Lord Betelgeuse berkata saat ia sedang membuat simbol sihir di pasir gurun. “Tempat ini berbahaya meskipun kelihatannya ditinggalkan. Toh, aku tidak ingin menyulut api peperangan dengan Navarro jika kau ditelantarkan di tempat ini. Mager banget.”


Levi baru saja mengenakan jas kebanggaannya dan mengambil napas panjang. Matahari sudah terasa terik, meskipun belum sepenuhnya tengah hari. Ia mengeluarkan napasnya pelan-pelan kemudian berjalan mendekati Lord Betelgeuse. “Aku sudah baik seratus persen. Penyembuhan itu bekerja baik saat aku terlelap,” ungkapnya. “Aku juga tidak yakin Lord Betelgeuse akan meninggalkanku sendirian. Iya, kan?”


Lord Betelgeuse nyengir kuda. “Pede banget!”


Tak lama berselang, simbol sihir yang dibuat oleh malaikat jatuh itu memancarkan asap dan sinar keunguan. Dari dalam lingkaran, menjelma kereta kencana yang ditarik oleh ular. Levi masih terkesima memandang kereta kencana yang memukau itu, tetapi sesaat kemudian ia ingat bahwa ular-ular tersebut menyukai daging lelaki muda. Terlebih saat mereka mendesis ke arahnya dengan lidah menjulur.


Perjalanan mereka menuju kastel tak terlihat dimulai. Radar pada jam tangan Levi tak henti-hentinya mendeteksi titik besar di tengah gurun, membuatnya bertanya-tanya seperti apa tantangan yang akan mereka hadapi sebentar lagi. Di sampingnya, Lord Betelgeuse hanya diam memandang ke luar. Wajahnya tampak sedikit cemberut.


“Anda baik-baik saja, Lord?”


Lord Betelgeuse tidak memandang Levi ketika ia membalas pertanyaan anak itu. “Aku tidak apa-apa. Hanya, aku benci auraku mulai diserap perlahan-lahan. Curang sekali!”


“Diserap? Aku bahkan tidak merasakan energiku berkurang saat ini.”


“Ya, karena kau sudah kulindungi. Meskipun dari jauh, radiasi dari serpihan Asteroid Emas dapat menyerap energi siapa pun yang mendekatinya. Manusia tidak akan bertahan lama, karena mereka sangatlah rapuh. Aku benci hal itu. Kita dipaksa menjadi lemah, meskipun aku tidak akan pernah menjadi lemah, ya! Enak saja.”


Levi terkekeh seketika, yang otomatis menimbulkan mimik bingung pada wajah Lord Betelgeuse. “Meskipun mengerikan, Anda kadang-kadang bisa tampil lucu juga, ya, Lord.”


“Kau mengejekku, Levi Strauss?”


Levi menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku sangat menyukai hal-hal yang menarik. Anda salah satunya, Lord. Yah, meskipun tak banyak yang kutemukan bahkan semenjak aku bersekolah di sana. Hanya cewek itu satu-satunya yang dapat membuatku penasaran. Soalnya dia ada kemiripan sifat denganku.”


“Kutebak, kau tidak memiliki banyak teman, kan?”


Anak itu mendesah kesal. “Bahkan hampir tidak ada. Semua orang tidak menyukaiku, terlebih setelah insiden penerimaan siswa baru. Aku tak sengaja mengacaukan malam penutupannya, padahal aku hanya iseng. Lagian acara mereka benar-benar membosankan,” jelas Levi. “Setidaknya aku berkontribusi menjadikan malam itu semakin menarik.”


Lord Betelgeuse manggut-manggut. “Kau tahu, Levi Staruss. Alasan aku mengajakmu dalam misi ini sebenarnya karena aku tertarik padamu. Bukan dalam hal yang aneh-aneh tentunya, tapi kau mengingatkanku dengan masa lalu.”


Levi melongo. “B-benarkah?”


Pria itu mengangguk pasti. “Kau dan aku memiliki kesamaan dalam hal kenakalan dan agak eksentrik. Terlebih lagi, kau baru saja menciptakan kehebohan yang merugikan asramamu. Bagus sekali! Kuacungi seratus jempol untuk itu!”


“Oh, aku merasa sedikit terhina.”


Lord Betelgeuse tertawa renyah. “Dahulu, aku dan kepala sekolahmu berada di satu sekolah yang sama. Kami saling berkompetisi bahkan dalam hal perempuan.”


“Katakan padaku, bahwa Anda yang menang Lord?”


Dia menggeleng. “Kami tidak memenangkan apa-apa. Perempuan itu memilih pria lain. Tak disangka-sangka memang,” jelasnya, kemudian tersenyum simpul setelah mengenang masa lalu. “Nah, Levi Strauss, apakah ada perempuan yang kami sukai di sana?”


Mendengar pertanyaan tak terduga itu, jelas membuat Levi tersentak. Ia mulai bertingkah aneh dan malu-malu. Dia benar-benar tidak bisa mengatur reaksinya. Di sampingnya, Lord Betelgeuse menatap dengan mata menyipit, kedua tangannya terlipat di dada. “Aku asumsikan jawabannya, iya.”


Levi tak sengaja berteriak. Seluruh mukanya merah. “Anda benar, Lord Betelgeuse. Ada satu perempuan yang kusukai, tapi aku masih belum mengutarakan perasaanku. Menurutmu, apakah aku bisa?”


“Tentu saja, Nak. Lagipula kau seorang laki-laki. Apa pun jawaban yang akan kau terima, itu perkara nanti. Hal paling buruk yang akan terjadi adalah dia menolakmu… atau mungkin dijadikan ‘teman’. Big deal!”


“Argh! Kenapa kedengarannya menyedihkan sekali?”


Lord Betelgeuse tidak menanggapinya lagi. Ia lebih memilih melanjutkan bacaannya pada sebuah buku sambil mengurut dagu. Levi menghela napas. Anak itu mengatur kacamata penelitan yang selalu melekat di atas rambutnya. Ada satu perkara yang ingin dia tanyakan sebenarnya. Mengenai sosok Pangeran Empat Darah. Malam itu, Levi yakin Lord Betelgeuse tidaklah sakit perut biasa. Perubahannya sangat janggal dan terkesan mendadak. Pasti ada sesuatu tentang sosok yang ia temukan di dalam mimpi.  Namun, Lord Betelgeuse tampak sedang tidak ingin diganggu. Ah, bodo amat dari pada mati penasaran, mending tanyain aja.


“Hmmm?”


“Main game, yuk?”


 Kastel megah itu berdiri dengan kokoh di tengah gurun. Sinar keemaasan memancar kuat, seakan-akan setiap inci bangunannya terbuat dari emas. Tidak ada apa pun yang berdiri di samping kastel itu. Membuatnya menjadi satu-satunya primadona. Levi memandang dari kejauhan menggunakan teropong. Segala sisi ia pantau, tapi tak menemukan satu pun tanda kehidupan.


“Aku tidak menemukan adanya penjagaan,” tuturnya. “Bukankah ini terasa mencurigakan, Lord?”


“Kau benar. Kastel semegah itu sudah jelas ada penjaganya,” balas Lord Betelgeuse. “Mungkin sengaja dibiarkan begitu agar siapa pun yang mendekat akan terkena jebakan. Apalagi, energi yang dipancarkan sangat kuat. Aku yakin kau juga merasakannya sekarang.”


Levi manggut-manggut mengiyakan.


“Sekarang mari kita tes,” sahut Lord Betelgeuse. Dia menciptakan hewan sihir dari tangannya. Seekor tikus hitam. Kemudian, pria itu melemparkan tikus yang tidak tahu menahu itu ke arah pintu penjaga sampai dua sosok pria bertubuh besar dengan kepala menyerupai Anubis muncul tiba-tiba. Mereka mengibaskan kapak dan menghancurkan hewan tak bersalah itu. “Bahkan kepada hewan pun seperti itu. Kejam sekali.”


Levi menelan ludah. “Bagaimana caranya kita masuk ke sana tanpa terbelah menjadi dua?”


Lord Betelgeuse mendengkus. “Jangan banyak bertanya, Bocah.”


Mereka berjalan mendekati penjaga berwajah Anubis yang diam tak bergerak. Lord Betelgeuse menyuruh Levi berhenti karena jika berjalan selangkah lagi, kapak tajam itu akan menebas tubuhnya. “Ada jarak tertentu yang akan membuat penjaga ini bergerak,” jelas Lord Betelgeuse santai. “Namun, bukan berarti mereka tak terkalahkan.”


“Anda tahu cara mengatasinya?”


Tidak menjawab pertanyaan penasaran Levi, malaikat jatuh itu menatap ke arah penjaga bertubuh besar. Lord Betelgeuse hanya diam tak bergerak, sampai kedua matanya menyala terang. Tak lama setelahnya, hal yang spektakuler terjadi. Mendadak, dua penjaga tersebut berlutut seolah mereka berdua adalah orang yang harus dihormati.


“Bagaimana muingkin Anda bisa melakukannya?” kata Levi kaget setengah hidup.


“Aku memiliki kemampuan manipulasi pikiran, Levi Strauss,” jawabnya sambil melangkah santai masuk melewati penjaga. “Apalagi, mereka tipe yang penurut dan tidak memiliki akal. Sangat mudah dimanipulasi. Aku hanya perlu mengubah ingatan mereka seakan-akan aku adalah raja tempat ini. Ya, walaupun tidak akan permanen, sih.”


“Keren sekali,” sahut Levi terkesima. “Sehabis ini, maukah Anda mengajari saya kemampuan itu, Lord?”


Lord Betelgeuse memainkan telunjuknya. “Tidak akan pernah.”


Levi Strauss mencibir. “Pelit banget!”


Mereka sampai di halaman utama kastel emas. Ada tangga panjang yang menghubungan gerbang penjaga dengan pintu utama kastel. Lord Betelgeuse menyuruh agar mereka berpencar. Ia sendiri akan menyamar dan masuk ke dalam istana itu menghadap penguasanya, sementara Levi disuruh untuk mengikuti titik pada radar di jam tangannya. Titik yang mengarah langsung pada tempat serpihan asteroid berada. Kedengaran seperti dibuang dengan halus.


“Anda tidak sedang berniat mencampakkanku, kan?”


Lord Betelgeuse tertawa. “Mengapa kau berpikir begitu, Nak?”


“Berhadapan langsung dengan serpihan asteroid, menurutku kedengaran seperti bunuh diri.”


“Aku memercayakan ini padamu bukan maksud mencampakkanmu, Levi Strauss,” sahut Lord Betelgeuse menyemangati Levi. “Aku yakin kau bisa menahannya sampai aku datang. Lagipula, cara ini akan sangat efektif.”


“Jika aku mati, aku bersumpah akan menggentayangi Anda selamanya, Lord,” kata Levi kemudian bergerak pergi mengikuti radar.


Lord Betelgeuse menggeleng melihat tingkah bocah nakal itu. Kemudian, ia menatap ke depan sambil berjalan dengan tenang. Tak lupa, ia mengganti sosoknya menjadi seorang pengelana jauh dengan pakaian ala-ala mesir.


“Siapa di sana?”


Suara seorang perempuan menggema dari dalam kastel.


“Saya datang menemui Anda, Yang Mulia Ratu.”