
Sea
“YO, KALIAN SUDAH bangun?”
Addison mengerjapkan mata ketika mendengar suara seseorang. Ia mencoba melihat sekeliling, tetapi cahaya terang menusuk retinanya. Selama beberapa saat, ia hanya menyipitkan mata sampai bisa menyesuaikan intensitas cahaya. Sementara itu, panas matahari dan riak air yang mengempas tepian perahu memenuhi pendengaranya.
Setelah matanya bisa menyesuaikan dengan cahaya, Addison melihat hamparan laut putih. Sangat putih dan rasanya menusuk mata. Tidak ada daratan sama sekali. Di sekeliling hanya lautan berbuih.
“Ayo anak muda. Saatnya melakukan perjalanan. Jangan bermalas-malasan. Perjalanan kita sangat panjang.” Suara Mr. Navarro membuat Habibie yang berada di sebelah Addison juga ikut bereaksi.
“Wah, di mana kita sekarang? Lautnya sangat berkilau. Sangat putih dan terlihat tidak normal,” kata Habibie sambil memajukan tubuh ke pinggir perahu. Naga yang ada di punggungnya menguik seakan ikut bertanya.
“Kita berada di Laut Putih. Salah satu laut lepas yang jauh dari daratan. Ini portal paling dekat menuju Mirror Island.” Mr. Navarro duduk di bagian depan perahu, mengenakan tudung kepala dan memegang payung clover. Rambutnya yang jatuh ke depan dan melewati tudung kepala menari-nari diterbangkan angin.
“Sudah lama Anda menunggu kami, Sir?” Thann juga ikut bertanya.
“Cukup lama sampai gusiku gosong saking panasnya aku duduk di sini,” balas Mr. Navarro yang mereka rasa itu hanya gurauan. Lelaki itu tidak berkeringat sedikit pun, padahal ia memakai pakaian tertutup, tebal, dan penutup kepala. “Kita tidak boleh membuang waktu, saat melanjutkan perjalanan, Anak Muda.”
“Baik, Sir,” jawab Addison sambil bercermin untuk merapikan pakaiannya yang sedikit acak-acakan. Padahal peduli amat dengan penampilan di tengah laut lepas di atas perahu yang isinya semua laki-laki.
“Jadi sekarang bagaimana, Sir?” tanya Habibie masih memandang sekeliling dengan curiga.
Mr. Navarro mengambil kipas portable bewarna pink masih bergambar kucing yang tergelatak di dasar perahu, lalu menyalakannya. Angin mulai berembus dari kipas kecil itu. “Ada gunanya juga buatan manusia ini, meski energi sihirnya cepat habis. Lebih bagus magicnology buatan kita dengan menyerap energi sihir,” kata Mr. Navarro mengabaikan pertanyaan Habibie.
“Sir, jadi bagaimana dengan lanjutan misi ini?” Thann mengulang pertanyaan Habibie dengan sangat sabar. Lelaki beranting itu mulai melonggarkan kancing seragam misinya. Rasanya tidak estetik kalau malaikat terlihat berkeringat.
Kepala sekolah tiba-tiba tersenyum. “Kau masih memegang kipas yang diberikan Mevel tadi, kan?”
Thann mengangguk dengan wajah bingung.
“Nah, saatnya kamu mendayung dengan itu. Kamu bertugas sebagai pendayung sampai kita sampai di tujuan dan Habibie sebagai navigator.” Mr. Navarro memandang Thann dan Habibie bergantian untuk membagi tugas mereka.
Habibie malah memandang Addison. “Bagaimana dengannya, Sir?” kata Habibie sambil menunjuk lelaki berkulit pucat yang sibuk membongkar tasnya mencari kipas portable milik Tristian yang ia pinjam diam-diam.
“Mati aku! Kipas Tritstian sepertinya terjatuh ketika melewati portal tadi,” kata Addison sambil menepuk jidatnya dengan panik.
“Ada tugas khusus untuknya,” balas Mr. Navarro sambil tersenyum cerah. “Ayo anak muda, bersemangatlah! Saatnya melanjutkan perjalanan. Habibie, saatnya gunakan bakatmu. Pecahan meteor itu mengeluarkan radiasi, kamu harus bisa mendeteksi dan melacak keberadaannya. Aku sudah melatihmu dengan sungguh-sungguh mengenai itu. Jangan kecewakan aku.” Tiba-tiba Mr. Navarro tersenyum sangat lembut—angker.
Ketiga remaja yang melihat senyuman itu langsung bergidik. Mereka sudah tahu makna senyuman itu. Mampus aku kalau tidak bisa mendeteksi keberadaan meteor sialan itu! rutuk Habibie dalam hati sambil membayangkan maksud di balik senyuman kepala sekolah.
Thann menghadap ke belakang dan mulai mendayung dengan kedua tangan menggunakan kipas bergambar kucing yang setiap detiknya semakin ia benci. Habibie duduk di bagian tengah perahu berkonsentrasi dengan kemampuannya untuk melacak keberadaan benda asing itu. Sejauh ini, ia bisa merasakan keberadaannya meski tidak begitu kentara. Rasanya seperti membaca peta kosong. Sementara Addison memakai topi pantai yang ia pinjam diam-diam di kamar Elleanor duduk di sebelah kepala sekolah, tangan kiri memegang payung clover dan tangan kanan memegang kipas portable. Addison seakan berperan sebagai kacung kepala sekolah untuk memayungi dan mengipasi.
Selama hampir satu jam, mereka terus membelah lautan putih dengan perahu kecil itu yang nanti mereka sadari juga bergambar kucing. Sesekali berbelok sesuai arahan Habibie. Sesekali kepala sekolah minta berhenti secara tiba-tiba. Ketika ditanya, ia hanya mual dan merasa aneh karena tidak bisa naik perahu dengan kecepatan tinggi lama-lama.
Sedangkan, semakin dekat dengan Mirror Island, Addison merasakan perasaan yang berbeda. Ia tidak tahu, apa yang akan ia temui di sana. Apa mungkin ada anak yang seperti dirinya yang juga dikurung di pulau cermin itu? Kata kepala sekolah, Mirror Island memang tempat tinggal beberapa demigod. Meskipun tidak semua Mirror Island ada yang menempati.
Sambil memandang laut putih yang berbuih, Addison mengingat bagaimana sepinya hidup sendiri di Mirror Island yang melayang di atas laut lepas. Tidak ada siapa pun yang ia temui karena Mirror Island tidak bisa ditemukan secara sengaja.
Hanya itu ingatan tentang ayahnya sampai sekarang yang Addison ingat. Mengenai ibunya, ia tidak memiliki ingatan sama sekali. Addison merasa beruntung dan berterima kasih ketika kepala sekolah membawanya keluar dari pulau itu. Meski kepala sekolah terkadang bersifat aneh, menyeramkan, dan agak pelit memberikan biaya perawatan, ia sudah menganggap kepala sekolah sebagai orang tuanya dan menganggap Mevel sebagai adiknya. Mungkin Mevel juga menganggap Mr. Navarro orang tuanya, kata Addison dalam hati.
“Addison, kenapa kau melamun? Kipas yang kau pegang hampir saja mencolok mataku!”
“Ma-maaf, Sir, saya tidak sengaja,” jawab Addison dengan gugup, membuat Habibie terbahak dan membuyarkan konstrasinya. Thann pura-pura tidak mendengar, ia masih tidak bisa menerima kenyataan mendapat peran sebagai buruh kasar alias tukang dayung. Bisa-bisanya kepala sekolah menyuruh malaikat sekaligus bangsawan menjadi pendayung. Namun, ia juga tidak mau mendapat peran Addison yang menjadi kacung.
“Addison, ambilkan air yang disiapkan Madam Polina di dalam tasku. Tadi ia sudah menyiapkan ramuan antimabuk, tetapi sepertinya tidak berfungsi sama sekali.”
Addison bergegas mengambil botol minuman aneh berbentuk labu dengan totol-totol mengerikan. Melihat botolnya saja sudah membuat mual. “Yang ini, Sir? Botolnya terlihat mencurigakan?” tanya Addison memastikan agar ia tidak salah dan dikuliti kepala sekolah hidup-hidup.
Kepala sekolah mengangguk, lalu mengambil botol yang disodorkan, dan menenggak minuman itu dengan rakus.
“Satu lagu, ada presker aroma terapi yang aku beli di minimarket manusia. Urutkan di keningku. Pusingku sepertinya semakin parah. Aku tidak tahu apa yang dimasukkan Madam Polina ke dalam botol itu.” Wajah kepala sekolah yang sejak tidak berkeringat sedikit pun sekarang malah terlihat titik-titik bening.
“Baik, Sir. Ada lagi?” Addison masih sibuk membongkar peralatan yang dibawa kepala sekolah yang ternyata lebih banyak dari yang dibawanya.
“Tidak.” Mr. Navarro menggeleng. Ia membuka mata lalu memandang Habibie. “Masih jauh?” tanya kepala sekolah seperti orang tua yang cerewet.
“Saya sudah bisa merasakan efek radiasinya lebih jelas. Tidak jauh lagi, Sir. Mungkin beberapa mil lagi,” jawab Habibie. Pak kepsek telihat seperti orang tua. Umurnya berapa, ya? tanya Habibie dalam hati.
“Mr. Navarro umurnya berapa?” bisik Habibie sambil memutar tubuhnya ke belakang, ke arah Thann.
Thann memutar tubuhnya menghadap Habibie dan mengerutkan kening. Lelaki bertato itu tidak langsung menjawab, ia terlihat berpikir. “Mr. Navarro seangkatan dan berteman dengan lord dari kerajaanku. Berarti umurnya ratusan tahun. Namun, kau jangan bertanya kepada seseorang yang umurnya sudah ratusan tahun.”
“Kenapa?” tanya Habibie penasaran.
“Lord di kerajaanku pernah mengutuk seseorang jadi bajing loncat karena bertanya soal umur dan mengatakan ada keriput di wajahnya,” kata Thann sungguh-sungguh. “Jangan sesekali membahas umur kepada seseorang yang berumur panjang!”
Habibie hanya bergidik ngeri dan langsung membalikkan tubuh kembali memandang kepala sekolah.
“Addison, sepertinya aku mau muntah. Mana kantong muntahku?” kata Mr. Addison lalu menutup mulutnya dengan tangan rapat-rapat.
Addison panik membongkar peralatan kepala sekolah. “Sebentar Sir, peralatan Anda banyak sekali. Saya bingung mencarinya!”
Mr. Navarro semakin menunjukkan gelagat mencurigakan. Sementara Addison belum juga menemukan kantong yang dicari. Beberapa detik berlalu begitu lambat, sementara perahu terus melaju penuh membelah lautan.
“Sepertinya Mr. Navarro akan muntah,” kata Habibie dengan wajah panik. Naganya menguik dan bersembunyi di balik punggung lelaki berkulit cokelat itu. Seakan tahu yang akan terjadi selanjutnya.
Addison semakin panik. “Sir, tahan sebentar lagi. Saya hampir menemukannya. Ini dia! Jangan muntah dulu di pera—“
Hueeek …
Cairan itu melayang ditiup angin melewati Habibie dan Thann.
Kenapa justru kepala sekolah yang jadi beban dalam tim ini, sih? Merepotkan saja! ucap Thann dalam hati. Aku mau mandi dan pulang.