
Bad Luck
SUARA SEPATU BERSAHUTAN mengetuk lantai koridor. Venalu tampak kesusahan menyeret tubuhnya. Efek mati rasa karena terkena cairan tadi pagi sudah memudar, meski belum sepenuhnya. Dibantu Efron, Venalu berjalan perlahan sekembalinya dari ruang wakil kepala sekolah. Sementara jauh di belakang sana, Lily dan Maya malah asyik tergelak.
Cih, mereka pikir karena ulah siapa aku begini? cibir Venalu dalam hati. Ia merasa seolah dirinyalah yang terkena hukuman, alih-alih si Rambut Api. Selama beberapa saat berada dalam ruangan Miss Elafir sudah membuat telinganya sakit. Belum lagi dengan tugas tambahan yang diberikan untuknya, makin membuat hari-harinya akan menjadi neraka.
“Nona James, sepertinya kau sangat menikmati hukumanmu di kandang satwa, ya.” Miss Elafir tersenyum anggun, tetapi mampu membuat siapa pun yang melihatnya menjadi berdebar-debar-karena takut. Ia mengibaskan rambut panjangnya, lalu melipat tangan di depan dada. “Baiklah, karena sepertinya kau terlalu bersemangat di sana hingga menciptakan sebuah pesta kecil. Maka dengan ini, aku mengizinkanmu bermain-main di sana sampai batas waktu yang tak ditentukan. Dan, Nona Venalu Vaxalim,” Miss Elafir berhenti sejenak dan menatap Venalu prihatin, “sebagai hadiah dan dengan rasa penuh prihatin dariku, aku mengutusmu untuk mengawasi murid kesayanganku ini dengan sebaik-baiknya. Ya, setidaknya dia akan membantumu, kau bisa menyuruhnya apa pun, dan aku menjamin ia tak bisa menolak perintahmu.”
Miss Elafir berjalan mendekati Lily, meraih telapak tangannya, lalu bergerak seperti menempelkan sesuatu. Di telapak tangan Lily tertempel simbol rune yang memiliki arti hukuman. Miss Elafir kemudian menjentikkan jari yang menyebabkan Lily meringis kesakitan. Jemarinya terasa panas selama beberapa saat. “Nah, kira-kira seperti itu. Efeknya akan berbeda-beda setiap dia menolak perintah Nona Vaxalim,” ucap Miss Elafir bangga. “Bersenang-senanglah kalian!”
Dengan segala kekuatan dari dunia tengah, Venalu ingin mengumpat saat itu juga. Mengawasi Lily artinya selalu bersama gadis kepala merah itu. Sama saja ia mengantarkan dirinya pada kesialan. Venalu mendadak ingin menenggelamkan diri ke dalam Lakevender agar terhindar dari nasib buruk ini.
“Dia makin mirip nenek-nenek yang ingin menyeberang,” kelakar Maya.
Venalu mendesis tidak suka. Meski tak sepenuhnya mendengar apa yang Maya katakan, tetapi ia yakin bahwa kalimat tersebut adalah olokan. “Teman-temanmu itu ...,” geram Venalu yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Efron yang sedang membantu Venalu pun ikut berhenti. Ia tersenyum maklum dan sedikit merasa tidak enak. Ia akui bahwa teman-temannya itu memiliki kadar aneh yang cukup tinggi. “Mereka memang seperti itu,” ucapnya sembari menatap Venalu yang tingginya hanya mencapai telinga Efron.
Venalu balik menatap Efron. Namun, saat netra keduanya bertemu, Venalu mendadak merasa gugup. Venalu berdeham untuk menetralkan suasana dan berkata, “Um, kupikir aku sudah bisa berjalan sendiri.”
Efron sedikit tersentak lalu melepaskan tangan yang sebelumnya menahan tubuh Venalu. “Apa kau yakin?”
Venalu mengangguk kaku lalu menyeret tubuhnya menjauhi Efron. Dengan langkah tertatih, Venalu berkata, “Ya. Kau bisa melihatnya, 'kan? Aku ... bisa.”
Efron tersenyum manis dan mengangguk. Memilih mengawasi Venalu dari jarak dekat tanpa menyentuhnya. Sementara itu, ia tak menyadari bahwa senyum itu mampu membuat Venalu makin salah tingkah. Dan, tentu saja dengan diawasi dua teman gilanya dari belakang.
“Apa kau juga melihat yang barusan?” bisik Maya. Ia terus memperhatikan Efron dan Venalu di depan sana dengan antusias. “Sepertinya aku bisa melihat aura berbeda dari tubuh nenek-nenek itu.”
“Namanya Venalu, bodoh!”
“Iya, maksudku Benalu itu,” ralat Maya.
“Terserah lah. Kau tadi ingin berkata apa? Aura apa?” tanya Lily penasaran.
Maya tersenyum penuh arti, lalu menyatukan telunjuk dan jempolnya membentuk sebuah simbol dan menunjukkannya tepat di wajah Lily. “Seperti ini.”
Memangnya uang untuk apa? batin Lily bertanya-tanya. Sedangkan Maya sudah berjalan mendahului dengan mengentakkan kakinya kesal.
Venalu menatap lalu-lalang di halaman sekolah. Sebentar lagi adalah acara penyambutan tahun ajaran baru. Semua siswa akan berkumpul untuk menerbangkan kunang-kunang harapan. Bagi Venalu, kegiatan seperti ini akan sangat membosankan. Terlebih ia yang tidak suka keramaian membuatnya sangat malas.
“Omong-omong, bisakah kauambilkan buku apa pun dari perpustakaan?” perintah Venalu yang makin merasa bosan.
“Apa? Kenapa harus aku?” protes Lily. “Ambil saja sendiri! Aku tidak—mbeeek!” Lily terkejut saat tiba-tiba ia menirukan suara kambing. Ia segera menutup mulut rapat-rapat. "Apa-apaan ini? Pokoknya aku tidak—mbeek!”
Venalu mengulum bibir menahan tawa. Mungkin ini karena hukuman dari Miss Elafir dan Lily tidak bisa menolak apa pun perintah Venalu. “Nah, kau tidak bisa menolakku, 'kan? Ayo cepat ambilkan!”
Lily menggembungkan pipinya. “Tapi acaranya segera dimulai, Ve. Ayolah, nanti saja kuambilkan, ya,” tawar Lily, tetapi mendapat gelengan dari Venalu. “Baiklah, baiklah. Aku akan memanggil Maya sebentar.”
“Tanpa Maya.”
Dengan terpaksa Lily harus menuruti permintaan Venalu. Ia terus mencibir selama berjalan. Menendang-nendang angin dan terus mengomel. “Peraturan macam apa ini? Sekolah aneh!”
Lily mengambil sembarang buku dan berjalan cepat kembali ke halaman sekolah, berharap tidak ketinggalan acara hingga tak menyadari ada anak kecil yang menghalangi jalannya. “Hei, minggir kau! Anak siapa, sih, dibiarkan keluyuran di akademi?” gerutu Lily saat melihat tatapan polos anak kecil itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Lily, anak itu justru mengeluarkan buku catatan bergambar Hello Kitty dan menuliskan sesuatu. “Membuat kekacauan di kandang satwa, tidak terima dengan hukuman, dan menjelek-jelekkan sekolah. Hm ....” Anak itu tampak sibuk menghitung dengan jemari kecilnya, lalu menelengkan kepala seraya berkata, “Poinmu berkurang lima puluh.”
"A-apa? Sebenarnya kau ini siapa?"
“Hai, namaku Mevel. Aku hanya senang mencatat dosa siswa-siswi di sini. Mulai tahun ajaran baru, aku akan mengawasi kalian. Sampai jumpa!” pamit Mevel dengan senyum lugu lalu melompat riang menyeret payung clover di tangannya.
“Apa harapanmu, May?” tanya Lily yang heran melihat Maya terlalu serius berbisik pada kunang-kunang harapan. Pasalnya, hampir semua telah menerbangkan kunang-kunang harapan masing-masing, tetapi Maya tak kunjung selesai membuat harapan.
“Rahasia,” ucap Maya yang akhirnya melepaskan serangga bercahaya itu dari tangannya. Salah satu kunang-kunang milik Maya tampak kesulitan terbang dan kehilangan keseimbangan.
“Aku curiga denganmu,” kata Lily, “pasti akal bulusmu merencanakan yang tidak-tidak,” lanjutnya.
“Itu kau, tahu! Kenapa harus bertanya?” Maya berjalan sedikit ke depan dan mendongak untuk melihat cahaya kunang-kunang yang hampir menghilang. Digantikan dengan warna kemerahan yang entah kenapa makin lama makin pekat. Disusul dengan suara ledakan dan hujan abu merah mengguyur halaman akademi petang itu.
“Wow! Apakah ini kembang api? Menakjubkan!” seru Lily saat semua orang sibuk berlarian menyelamatkan diri dari hujan abu. Ia asyik melompat-lompat kegirangan sembari bertepuk tangan bahagia dan melontarkan pujian.
Sedangkan di sisi lain, seorang laki-laki yang awalnya malu karena percobaannya kembali gagal merasa sedikit tersanjung dengan tingkah bodoh yang mencolok dari gadis berambut merah itu. Levi Strauss, laki-laki itu tertawa pongah dan menandai gadis yang sampai saat ini menikmati percobaan gagalnya. “Dia akan menjadi teman pertamaku,” gumam Levi diakhiri dengan tawa membahana.