
Rolling Pumpkin
“TERNYATA KAU PENYEBAB poin asrama berkurang.” Shalima melipat lengan di depan dada sembari menatap nyalang Lily. Pasalnya, beberapa waktu ke belakang ia direpotkan dengan hilangnya 50 poin. Angka yang cukup besar apalagi sekarang baru hari kedua di awal tahun ajaran.
Lily menoleh ke kanan-kiri seolah tak melihat siapa yang berbicara. Ia sedang asyik memilih menu makan siang saat tiba-tiba Shalima datang dan mengomelinya. “Aku seperti mendengar suara orang berbicara,” gumam Lily.
“Demi cula Erumpent! Aku sedang berbicara denganmu!” seru Shalima dengan entakan kaki yang cukup keras. Wajar saja jika Lily tidak melihatnya, sebab tinggi mereka terpaut cukup jauh. Lily adalah gadis jangkung yang tingginya hampir menyamai laki-laki, sedangkan tubuh Shalima terlihat mungil di matanya.
“Apa itu Erumpent?” tanya Lily pada Venalu yang berdiri di sampingnya, sementara Shalima belum berhenti mengomel.
Venalu menatap malas Lily. Sepertinya ia perlu menyetok kesabaran lebih banyak untuk hari-hari berikutnya. Di hari keduanya saja ia sudah menemukan adegan labrakan seperti ini. Menghela napas dalam, Venalu menjawab, “Satwa gaib bertubuh besar dan bercula.”
“Ada apa dengan culanya?”
“Apa pun yang dikenainya akan meledak,” jelas Venalu pelan.
“Bisul-nanah-Bubotuber! Apa kau tidak mendengarku?” seru Shalima sekali lagi.
Lily berdecak, “Apa itu bisul nanah butuh bubur?” Bahunya terkulai malas dan melipat lengan persis seperti yang dilakukan Shalima. “Aku tak mengerti apa yang kau katakan. Kau bahkan seperti buku ajaib milik Miss Therenia yang mampu berbicara tanpa diminta.”
Kali ini Shalima menatap Lily dengan tatapan permusuhan. Seolah bendera perang telah berkibar di antara mereka. Dalam hati ia akan menandai setiap pergerakan gadis jangkung itu. Tak akan ia biarkan Lily berulah kali ini, itu tekadnya. “Aku peringatkan kepadamu, jangan sampai kau mengurangi poin asrama fantasi lagi. Kalau tidak ….”
“Kalau tidak apa? Aku tidak takut!” tantang Lily.
Hampir saja Shalima mengumpat, tetapi Elleanor yang sejak tadi diam segera mencegah. “Lihat saja nanti,” katanya dengan anggun, lalu menarik lengan Shalima untuk menjauh.
“Huh, dasar cebol!” maki Lily cukup keras.
“Apa katamu?” Shalima yang belum terlalu jauh langsung menoleh berteriak tak terima. Namun, belum sempat terjadi kericuhan, Elleanor lagi-lagi menarik Shalima pergi.
Venalu yang sedari tadi mengamati drama picisan itu bergidik. Menurutnya, manusia—terutama yang berjenis perempuan—memang aneh. Untung tidak ada Maya kali ini. Pun tak ada Amara, sahabat Shalima yang terkenal bermulut tajam. Bisa-bisa ruang makan ini berubah menjadi arena battle.
Selain Venalu, ada siswa lain yang mengamati Lily. Siswa baru dengan rambut putih yang dikuncir, ditambah syal di leher itu tampaknya sangat menikmati pertunjukan dan terpana dengan keberanian Lily. Lily yang menyadari ia dipandang terus menerus langsung menoleh dengan tatapan menusuk. “Apa kau lihat-lihat?”
Venalu mendengkus. Dari tatapan siswa baru tadi, sepertinya ia mencium aroma cikal-bakal generasi pembuat onar.
Cahaya matahari mulai tampak melalui celah-celah pepohonan pagi itu. Menciptakan kilau keperak pada tubuh gelap Venalu yang dibasahi keringat. Sudah hampir satu jam ia berlatih pedang di belakang gudang penyimpanan yang jarang dilewati orang.
Sudah sepekan ia meninggalkan kebiasaannya berlatih pedang karena tugasnya untuk mengawasi Lily. Banyak sekali hal yang harus ia korbankan termasuk kedamaian batin. Sebab tak ada hari tenang jika sudah berurusan dengan Lily James—dengan bonus Maya tentu saja. Saat pelajaran Ramuan, misalnya. Bisa-bisanya mereka membuat cairan penumbuh bulu meletup-letup, lalu bertepuk tangan riuh dan tertawa keras di saat yang lainnya panik menghindar.
“Aku terinspirasi pertunjukan Levi Strauss,” kata Lily dengan bangganya.
Berada di sekitar Lily James adalah sebuah ujian kesabaran, kata Venalu dalam hati.
“Pedangmu bagus.”
Venalu terperanjat, lalu segera memakai mantel untuk menutupi lengannya yang terbuka. Karena ini hari libur, ia bebas mengenakan pakaian apa pun. Untuk berlatih pedang, Venalu lebih suka mengenakan baju tanpa lengan. “Oh, hai Efron. Terima kasih, tapi pedangku biasa saja,” ucap Venalu sedikit salah tingkah.
“Aku baru tahu kalau kau punya tato di lengan atasmu.”
Seketika Venalu memegang lengan kanannya. “Hm, begitulah.”
“Tato yang bagus. Kupu-kupu yang indah.”
Mendengar pujian itu, entah kenapa membuat Venalu berdebar. Telinga runcingnya pun bergerak-gerak sebagai bukti bahwa ia sedang malu-malu. “Omong-omong, untuk apa kau kemari?” tanya Venalu yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Ah, iya. Aku sampai lupa.” Efron tertawa kecil dan menepuk dahinya pelan. “Ini. Lily yang menyuruhku,” lanjutnya sembari menyerahkan pot kecil dengan tanaman berbentuk seperti bambu kecil.
Efron mengangkat bahu. “Entahlah. Dia beralasan sakit perut dan pergi begitu saja bersama Maya,” jelasnya, “tapi katanya ini bambu keberuntungan.”
Venalu mendengkus tak percaya. “Yang ada aku dapat sial.” Ia mengambil pot kecil dari tangan Efron. Kemudian mengangkatnya tinggi dan mengamati dengan teliti. “Lagipula kau terlalu penurut.”
Efron terkekeh, merasa apa yang dikatakan Venalu memang benar. Ia terlalu penurut. “Mungkin kalau kau meminta bantuan, aku lebih bisa diandalkan,” candanya.
“Dan aku meminta bantuan untuk memanggil Lily dan katakan padanya bahwa aku menunggu secepatnya di Villagic,” kata Venalu yang dibalas senyum oleh Efron. ”Aku serius. Tidak sedang bercanda.”
“Lama sekali,” protes Venalu saat mendapati Lily yang terengah-engah mendekat padanya.
“Kau! Kau hanya bilang menemuimu di Villagic tanpa memberitahu tepatnya di mana. Kau pikir Villagic itu hanya selebar lubang hidungmu? Aku lelah mencarimu tahu!” keluh Lily. Ia membenahi rambut panjangnya yang lepek terkena keringat, juga pakaiannya yang sedikit kacau karena tergesa-gesa.
“Berisik. Cepat ikut aku!”
“Kita akan ke mana?” Lily mengibaskan rambut berkali-kali untuk menghilangkan gerah. “Huh, seandainya saja tadi aku meminjam pendingin portabel milik Maya.”
“Kita akan menemui Bibi Poppin.”
“Siapa Bibi Poppin?”
“Fairy penyewa labu untuk kendaraan kita nanti.”
“Wow! Fairy? Labu untuk kendaraan?” Dalam kepala Lily kini muncul sebuah kisah klasik yang digemarinya. Seorang putri yang menaiki labu yang disulap oleh Fairy menjadi sebuah kereta untuk mendatangi pesta kerajaan. Bukankah ini terdengar menakjubkan?
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di sebuah bangunan bergaya medieval dengan halaman yang cukup luas dipenuhi labu-labu yang siap panen. Seorang Fairy berperawakan kurus sedang berjongkok dan mengetuk-ngetuk labu entah untuk apa.
“Hai, Ve! Lama tak berjumpa. Kau datang dengan siapa?” sapa Fairy yang tak lain adalah Bibi Poppin saat menyadari kehadiran Venalu dan Lily.
“Dia temanku, Lily.”
“Oh, hai Meli!”
“Namaku Lily!” protes Lily tak terima.
“Psstt, biarkan saja. Pendengarannya memang sedikit kacau,” jelas Venalu sebelum Lily membuat keributan.
“Seperti biasa, kan, Ve?” tanya Bibi Poppin tidak peduli. Tidak mendengar lebih tepatnya.
Venalu mengangguk. Kemudian dengan tergesa Bibi Poppin mengambil salah satu labu di keranjang dengan terhuyung-huyung, seolah labu itu sangat berat. Setelahnya, labu itu diletakkan tak jauh dari Venalu berdiri. Bibi Poppin menepuk tangannya lalu labu itu berubah ukuran menjadi sangat besar.
“Nah, Rolling Pumpkin sudah siap,” ucap Bibi Poppin bangga sembari berkacak pinggang.
“Ayo, naik.”
“Hah? Apa ini? Kukira labu itu akan berubah menjadi kereta,” cibir Lily. “Lagipula bagaimana caranya masuk kalau tidak ada pintu?”
“Jangan banyak bicara. Cepat masuk!” Venalu mendorong tubuh Lily hingga menubruk labu raksasa tadi. Namun, ternyata labu itu bertekstur seperti jelly, sehingga saat Lily menabraknya, ia langsung masuk ke dalam labu tersebut.
“Pakai pengamannya atau kau akan menyesal,” perintah Venalu setelah ia masuk menyusul Lily.
“Iyuh, tidak akan! Serabut-serabut ini menjijikkan, berlendir pula.” Lily menjauhkan serabut-serabut di dalam labu. Bagian itu memang seperti berlendir terutama yang melingkupi biji-biji labu.
“Sudah siap, anak-anak? Saatnya berguling!” teriak Bibi Poppin dari luar. Ia menepuk tangannya sekali, lalu labu itu terlapisi kulit yang lebih keras. Kemudian, ia menepuk tangan sebanyak tujuh kali yang menyebabkan labu raksasa itu menggelinding dengan kencang, menjauh dari kediamannya.
Lily yang tak mau menggunakan pengaman pun ikut berguling seiring putaran labu. Sesekali tubuhnya menimpa Venalu, karena labu itu berputar tak tentu arah.
Demi labu raksasa yang menggelinding, lagi-lagi aku tertimpa sial! keluh Venalu dalam hati.