Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
The Vision from the Sky - Shine




Shine


SHALIMA DUDUK DI sebuah kursi kayu. Di meja yang ada di hadapannya, terserak beberapa buku dan sebuah tablet yang sedang memproyeksikan tanaman berwajah mirip manusia dalam bentuk tiga dimensi. Ruangan itu dikelilingi rak berisi buku-buku tua, botol-botol ramuan, dan toples obat. Tempat tidur sederhana, lengkap dengan tiang infus yang berjejer rapi di bagian kanan ruangan.


Gadis itu tengah berada di salah satu klinik sekolah, tempat para tenaga medis dan kesehatan memberikan pelayanan medis dasar. Sejak awal tahun, Shal bergiliran magang di beberapa klinik yang ada di Maple Academy. Selain belajar soal penyakit dan obat, Shal juga melakukan pengamatan tentang penanganan medis. Dia bahkan sudah diizinkan memberikan penanganan pertama kepada pasien.


Saat ini, para tenaga medis dan kesehatan sedang rapat. Shalima diminta untuk berjaga sambil membuat catatan tentang mandrake sampai jam magangnya selesai. Bukannya menyelesaikan catatan, Shal malah mengamati gambar-gambar Zovras sambil senyum-senyum sendiri.


Tiba-tiba, Shal mendengar suara langkah kaki memasuki klinik. Saat menoleh, dia melihat Thann sudah duduk di kursi yang ada di sampingnya dengan santai. Sudah lima hari berlalu, tapi Thann sama sekali belum memberikan penjelasan apa-apa kepada Amara—yang sudah seperti wali Shal kalau di sekolah. Sekarang lelaki itu menemuinya. Mau apa?


“Apakah di sini ada orang yang kompeten untuk menyembuhkan luka?” Thann bertanya sambil menjulurkan tangan kirinya di depan wajah Shalima.


Shal bisa melihat tiga luka sayatan di telapak tangan Thann. Dengan khawatir Shal meraih tangan Thann untuk menelitinya lebih lanjut. Tiba-tiba ingatannya muncul ke permukaan. Shal tahu mengenali luka itu karena pernah melihatnya. Itu adalah luka sayatan duri pohon Sommare yang ada di salah satu taman terpencil Maple Academy.


Di tingkat satu, Shal pernah mengambil daun pohon Sommare untuk dijadikan koyok. Namun, tangga yang digunakannya ternyata rapuh sehingga gadis itu terjatuh. Si Tudung Hitam yang kebetulan ada di situ menahan badan Shal, tapi sebagai gantinya justru tangan kiri Si Tudung Hitam yang tersayat duri pohon itu.


“Sekali lagi aku lupa kau bisa self-healing,” keluh Si Tudung Hitam. Saat Shal mau mengobatinya dengan salep, lelaki itu menolak.


“Percayalah, aku tahu siapa yang bisa menyembuhkanku,” ucapnya di balik tudung hitam yang besar. Lelaki itu lalu pergi entah ke mana.


Sekali lagi Shal memperhatikan luka Thann dengan saksama, persis seperti luka si Tudung Hitam waktu itu.


“Lukanya ringan, sepertinya dengan salep cukup,” ujar Shal sambil beranjak mengambil salep. Namun, Thann malah memegang pergelangan tangan Shal dengan tangan kanannya.


“Justru karena lukanya ringan, tidak adakah yang lebih praktis dari salep?” ejek Thann.


“Kalau kau mau dimantrai, minta sama Mr. Navarro sana!” sungut Shal sambil menepis tangan Thann. Namun, pria itu menahannya sekali lagi.


“Kau tidak perlu mantra, tapi kepercayaan diri,” ujar Thann tajam. “Dalam dirimu mengalir kesembuhan, Shal. Ingat saat kau menambah energiku di Ginkgo Forest dengan nyanyian? Itu baru suara. Mari kita pastikan apalagi yang bisa dilakukan tangan dan seluruh tubuhmu berkaitan dengan healing.” Thann bicara sambil meletakkan tangan Shalima di atas telapak tangannya yang terluka. Perlahan, Shal bisa merasakan ada energi yang keluar dari dalam dirinya. Thann mengangguk, seperti menyuruh Shal mencoba melakukan sesuatu.


Dengan ragu, Shal memegang tangan Thann dengan kedua tangannya. Shal bisa tahu secara menyeluruh tentang tubuh lelaki itu, termasuk tiga luka sayatan ringan di telapak tangannya, dua lebam di bagian punggung, luka-luka tipis, bahkan bentuk rajah yang ada di permukaan kulit lelaki itu.


Tahu-tahu, Shal sudah mencoba menyapa tubuh Thann. Dengan sedikit berkonsentrasi dia mengalirkan energinya kepada seluruh tubuh Thann sambil meminta mereka bekerja sedikit lebih keras dan cepat. Hal-hal yang terjadi dalam tubuh Fallen Angel itu begitu kompleks, tapi Shal bisa merasakan sel-sel darah Thann bekerja dengan sangat sigap untuk menutup luka, menghancurkan kuman di area luka, dan memproduksi senyawa untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Tak lama, kolagen tumbuh dengan pesat untuk mendorong tepi luka sampai menyusut dan menutup.


Shal tersedak dan melepaskan tangan Thann. Ini pengalaman baru baginya. Karena terlalu berkonsentrasi, dia sampai lupa bernapas.


Thann menarik tangannya lalu memperhatikan bekas luka di telapak tangannya yang sudah mengering. Sambil tersenyum miring, lelaki itu berkata, “Tidak buruk. Kusarankan kau berusaha lebih memahami aliran penyembuhan dalam dirimu sebelum belajar mengontrol dan menggunakannya.”


Shalima memandangi Thann dengan napas tersengal-sengal. Adrenalinnya sangat terpacu dan dadanya berdegup kencang. Ada sebuah rasa senang yang tidak bisa gadis itu ungkapkan dengan kata-kata saat melihat luka di tangan Thann sudah kering.


Shal refleks menutup matanya saat jari Thann mengetuk dahinya dengan telunjuk sebanyak tiga kali. Namun, kali ini berbeda. Ketukan di dahi yang sebelumnya dilakukan Thann untuk mengejeknya, kini terasa begitu lembut.


“Kau masih mau di sini atau sudah mau pulang?” Thann menurunkan telunjuknya dan kembali menjadi Thann yang sinis. Shal memperhatikan jam di dinding dan sadar kalau jam magangnya memang sudah berakhir. Saat Shal sedang membereskan barang-barangnya, seorang perawat datang untuk menggantikan Shalima berjaga.


“Cowok itu tampaknya memang serius denganmu, ya?”


Shalima mencibir, “Sok tahu banget! Memang kau sudah ada di sini waktu kami tingkat satu?”


Thann terpaku sebentar lalu berucap, “Percayalah, aku tahu banyak hal.”


Saat Thann mengucapkan kalimat itu, Shalima hanya bisa terdiam. Entah kenapa Shal merasa kalau wajah Thann ditutupi tudung hitam besar, dia akan mirip seperti murid misterius di kelasnya, si Tudung Hitam. Si Tudung Hitam juga punya nuskabadori dan menurut Thedon kemungkinan punya black hole juga. Mungkinkah?


Fantasi Shal buyar begitu Thann bertanya kepadanya, “Kau tahu ini apa?” Lelaki itu menunjuk gambar padang berbatu-batu yang terlihat dari atas.


Shal menggeleng, “Aku hanya melihatnya dalam mimpi.”


Thann duduk di kursi sambil berpikir. “Ini gambar Padang Batu Katak yang ada di Winterland, Fallen Angels Kingdom. Dulu bentuknya memang tidak seperti ini. Waktu kecil, aku dan Lynean pernah bermain bersama katak-katak di sana. Namun, entah kenapa, katak-katak itu tiba-tiba menyerang kami.”


Kalau itu di Fallen Angels Kingdom, tentu saja Shal tidak pernah ke sana. Dia ternyata benar-benar memimpikan hal-hal yang belum pernah dilihatnya.


Kali ini Thann mengarahkan tatapannnya kepada Shalima lalu melanjutkan ceritanya, “Aku beri tahu satu rahasia. Sebenarnya, suara indah bukan bakat utama Lynean. Waktu kecil dia bisa mengeluarkan teriakkan yang bisa menghancurkan gendang telinga.”


Dahi Shal berkerut. Bukankah Thann juga punya kemampuan seperti itu? Shal menyaksikan sendiri Thann berteriak kepada induk babi di Ginkgo Forest sampai gendang telinganya agak sakit.


“Saat dia berteriak ke arah batu-batu rumah katak, aku tahu dia ingin menghancurkan padang batu, sekaligus katak-katak yang tinggal di dalamnya. Waktu itu aku masih belum sepenuhnya memahami bakatku. Tanpa kusadari, aku sudah menyerap energi suara yang dikeluarkan Lynean, bahkan energi lain di dalam dirinya dan energi sekitar. Terjadi sebuah ledakan. Setelah itu lubang yang ada dalam diriku muncul, padang batu hancur, semua katak musnah, dan Lynean jadi bisu untuk beberapa bulan. Suara merdunya bisa kembali, tapi tidak dengan bakatnya yang lain.”


Shal termenung. Ternyata begitulah ceritanya Thann pernah membuat Lynean bisu.


“Aku … minta maaf soal ucapanku waktu pemotretan,” lirih Shal.


“Yang kau ucapkan kan fakta. Aku memang pandai membisukan orang,” balas Thann santai sambil beralih mengamati gambar-gambar yang lain. “Kenapa Zovras menggambar ini?” tanyanya.


“Aku beberapa kali mimpi buruk. Jadi, dia mau mencoba memberikan astrology dream interpretation lewat gambar.”


“Oh, begitu. Sepertinya sih, ini penglihatan dari langit,” ucap Thann sambil menunjukkan gambar bayangan delapan burung yang terhalang kabut tipis. Shal melihat mereka terbang di bawah Naga Porsesa, saat naga itu menjatuhkannya ke dalam kawah gunung berapi.


“Ini persis posisi terbang ayahku bersama timnya. Beberapa minggu lalu, dia dan tujuh Fallen Angel lainnya terbang ke Pulau Autumnland untuk meneliti kawah gunung berapi. Kalau Naga Porsesa juga ada di sana, kemungkinan rencana ayahku sudah terganggu.” Thann tersenyum misterius lalu menatap Shal lagi, “Ayahku itu tidak sebaik yang kau pikirkan.”


Tanpa membiarkan Shal membantah ucapannya, Thann menunjuk satu gambar lagi. Itu gambar saat Shal sudah mendarat di dataran cermin dan melihat dua orang hendak melanjutkan pertempuran.


“Ini di mana?”


“Tidak tahu. Pokoknya tempatnya memantulkan langit,” jawab Shal.


Thann terlihat mengamati gambar itu dengan serius lalu mengetuk warna sinar kehijauan yang ada di tepi bawah gambar.


“Kuralat, ini bukan penglihatan dari langit. Kalau melihat dua orang ini, sepertinya mereka berdiri di atas sebuah cermin. Artinya, sinar hijau ini juga pantulan dari sesuatu. Kalau lihat warnanya, aku jadi ingat kilau tubuh seekor kadal gua saat sudah bermutasi.”


Shal merebut gambar itu dan memperhatikan kilauan di bawah gambar. Dia lalu  menatap Thann tidak percaya.


Lelaki itu memang jenius!