Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
The Vow in Ginkgo Forest - First Sight




First Sight


“KITA TIDAK PERLU bawa apa pun, kan?”


Gadis berambut hitam mengangguk. Dia melirik laki-laki jangkung yang berjalan di sebelahnya. Laki-laki yang melontarkan pertanyaan.


“Kita tidak ketinggalan sesuatu, kan?”


Shalima Shero menggeleng sambil tersenyum tipis. Sedari tadi semua pertanyaan dijawabnya hanya dengan isyarat. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia yakin seratus persen laki-laki berambut hitam di sebelahnya banyak bertanya karena gugup. Ini adalah tugas pertamanya sebagai Prefek Utama.


“Gugup?” tanya Shalima dengan nada suara yang mencoba untuk tetap terdengar santai.


Thedon tersenyum. Dia tidak menjawab pertanyaan Shalima dan hanya terus berjalan. Shalima hanya mengangkat bahu dan mengikuti langkah Elf tinggi itu. Di depan sebuah pintu kayu besar, keduanya berhenti. Shalima dan Thedon bertatapan satu sama lain.


“Di sini, kan?” tanya Thedon.


Shalima mengangguk dengan yakin. “Sesuai dengan arahan Miss Elafir.”


Keduanya menunggu di depan aula. Sesekali Thedon mengusap bet prefek berwarna merahnya. Bet yang tersemat di lengan kirinya itu tampak mencolok dibanding bet Shalima.


“Tampaknya kau menyukai bet itu?” tanya Shalima.


“Tampaknya kau sedikit banyak berubah dibanding tahun kemarin.” Bukannya menjawab pertanyaan bersahabat dari Shalima, Thedon malah melontarkan pernyataan yang membuat  Shalima tertunduk.


Laki-laki itu menghela napas kecil, tersenyum lalu berujar, “Maaf. Maksudku, kau sekarang jauh lebih percaya diri dibanding tahun lalu.”


Shalima hanya mengangguk kecil, tapi masih tidak mengangkat kepalanya. Perempuan itu hanya menggembungkan pipinya. Thedon merasa bersalah melihat remaja putri berambut hitam itu tak membalas. Dia merutuk dalam hati.


“Tidak seharus ….” Belum sempat Thedon melanjutkan kalimatnya, pintu di hadapan mereka berdua terbuka lebar. Miss Elafir melangkah keluar dengan anggun. Matanya menatap dua siswa berlencana prefek dengan tajam.


“Thedon Ulsador. Prefek Utama. Asrama Fantasi.”


Thedon berdiri dengan tegap dan berkata, “Siap.”


“Shalima Shero. Prefek Asrama Fantasi.”


Shalima mengangkat kepalanya.


“Lalu di mana Habibie Alfarabi?”


Kedua siswa itu saling berpandangan. Mereka melupakan siswa dari asrama sci-fi yang juga sesama prefek. Seharusnya mereka bertiga memang berkumpul di depan aula. Berhubung Shalima dan Thedon satu asrama, mereka berdua pergi bersama-sama dari ruang berkumpul asrama fantasi.


Miss Elafir hanya mendesah dan memutar bola matanya.


“Kalian berdua ikuti saya. Dan bawa dua kotak itu.”


Baik Shalima maupun Thedon hanya mengangguk. Keduanya berjalan mengikuti langkah wakil kepala sekolah yang terkenal tegas dan pelit sambil membawa kotak besar bewarna jingga. Sewarna jubah yang mereka kenakan.


Di depan ruangan Batu Bintang, seorang siswa berjas warna jingga tampak mondar-mandir. Saat melihat kedatangan tiga orang itu, Habibie tersenyum melambaikan tangan.


“Kenapa kalian lama sekali?” serunya.


Miss Elafir berhenti tepat di depan Habibie. Dia hanya menatap siswa dari asrama sci-fi itu singkat.


“Kalian bertiga tunggu di sini.”  Miss Elafir melenggang masuk ke dalam ruangan Batu Bintang.


“Kalian kok bisa bareng wakepsek?” tanya Habibie santai.


“Kita kan harusnya berkumpul di depan aula,” jelas Shalima. “Kamu sendiri kenapa di sini?”


“Aku lupa. Baru ingat waktu ketemu Elle di depan asrama. Dia bilang kalian berdua sudah jalan ke aula.”


Thedon dan Shalima sama-sama mendengkus kesal mendengar alasan Habibie yang kelewat santai.


“Makanya aku langsung ke sini. Pintar, kan?” sambung Habibie tanpa memedulikan pandangan mencela kedua temannya.


Tidak lama, James Dakota, Miss Naina, dan Miss Yuna berjalan menghampiri ketiga prefek. Di belakang mereka dua baris siswa baru berjalan teratur. Semuanya masuk ke ruangan Batu Bintang dengan rapi melewati para prefek. Beberapa siswa baru nampak melirik ingin tahu.


“Kau tidak tertarik untuk melirik salah satu dari mereka?” bisik Habibie ketika pintu ruangan Batu Bintang tertutup.


Thedon tersenyum menggeleng.


“Padahal kulihat banyak yang cantik.”


“Kita bertugas untuk memandu mereka. Bukan menarik perhatian mereka.”


“Ish, kau sama sekali tidak seru,” rutuk Habibie. Laki-laki itu memberengut melihat prefek utama yang tampak biasa saja. Padahal Habibie bisa menilai barisan siswa baru itu—terutama para siswinya, yang baru saja memasuki ruangan Batu Bintang, sangatlah cantik. Terutama yang berambut cokelat sebahu dari ras Fallen Angel. Dia sudah bersiap untuk berkenalan dengan siswi itu.


Shalima menatap Thedon heran lalu bertanya, “kenapa harus?”


Thedon mengangkat bahu. “Entahlah. Rasa penasaran yang dimiliki para manusia, mungkin?”


Shalima mendengkus pelan lalu tertawa lirih.


“Kau salah bertanya, Pak Ketua. Pertanyaan itu harusnya kau lontarkan pada seorang Levi Strauss.”


“Ah, iya. Laki-laki itu.” Thedon tersenyum membenarkan.


Tak lama Miss Elafir keluar dari ruangan. Dia menghampiri Thedon dan menyerahkan selembar perkamen. “Nama-nama siswa yang sudah dapat asrama akan ditandai. Siapkan jubah dan jas dari dalam kotak.” Miss Elafir menunjuk dua kotak yang sebelumnya dibawa oleh Thedon dan Shalima. “Berikan itu sesuai dengan asrama yang ditunjuk.”


Setelah mengucapkan arahan, wakil kepala sekolah segera masuk kembali ke ruangan.


Tiga prefek yang tidak sempat mengucapkan sepatah kata itu pun hanya mengangguk. Ketiganya melirik perkamen yang tergulung di tangan Thedon.


“Jangan-jangan, sebenarnya mereka sudah ditentukan asramanya?” duga Habibie.


“Hei, memangnya tahun kemaren, kau sudah tahu akan masuk asrama mana?” sela Shalima. Matanya menyiratkan kekaguman melihat perkamen itu. Dia tampak tak sabar melihat keajaiban yang akan muncul.


Habibie tersenyum bodoh memperlihatkan seringainya yang tampak aneh di mata Shalima. Dia mengacak-acak rambutnya. “Tentu saja, tidak!”


 Thedon hanya tersenyum melihat perdebatan kedua anggotanya. Dia membuka perkamen yang tergulung. Tampilan perkamen membuat ketiganya tercengang. Bukan kertas papyrus melainkan tab yang canggih. Ada dua puluh dua nomor. Dan belum ada nama yang tercantum.


“Wooah!” seru Habibie, “ini baru yang namanya keajaiban.”


Thedon tersenyum dan berujar, “Kau tidak perlu mencari namanya, kan?”


Shalima mengerutkan kening mendengarnya. “Maksudmu?”


“Kudengar dari Amara, temanmu dari ras Fallen Angel itu sebenarnya satu angkatan dengan kita?”


Wajah Shalima bersemu merah seketika. Dia tidak menjawab malah memalingkan wajah, membuat Thedon terkekeh. Kekehan yang menarik perhatian Habibie.


“Weh, kau bisa tertawa juga rupanya. Kupikir cuma bisa senyum.”


Seketika Thedon kembali tersenyum. Habibie menutup mulut. Dia menggerakkan jarinya seolah menarik risleting dari ujung bibir kanan ke ujung kiri.


Ngeri juga lihat senyum Pak Ketua!


Baik Shalima maupun Habibie berpura-pura sibuk membuka kardus yang berisi jubah dan jas. Thedon menggeleng-gelengkan kepala melihat dua siswa tim prefeknya. Dia kembali memperhatikan tab-perkamen di tangannya.


Kemudian nomor satu tiba-tiba berisi nama.


“Chalia Aetosir. Fantasi,” sebut Thedon.


Pintu mengayun terbuka. Elf berambut merah masuk dengan pakaian resmi Maple Academy bewarna jingga. Dia menghampiri Shalima dan Habibie yang berdiri satu langkah di depan Thedon. Shalima menyerahkan seragam fantasi untuk siswa yang masuk asrama fantasi, sedangkan Habibie menyerahkan seragam scifi untuk siswa yang masuk sci-fi.


Shalima menyerahkan jubah panjang ciri khas asrama fantasi kepada gadis yang lebih pendek dari dirinya itu. Senyum ceria gadis itu menular ke Shal.


“Terima kasih.”


Thedon langsung mematung. Suara yang didengarnya membuat jantungnya tiba-tiba berdebar. Dia memandang gadis yang masih berdiri di depan Shalima dengan intens. Sesuatu tiba-tiba melintas di benaknya.


Pada saat bersamaan, gadis bernama Chalia itu menoleh dan menatapnya. Kedua pasang mata dari ras Elf itu saling memandang. Bibirnya tersenyum manis.


Thedon sama sekali tidak membalas senyum itu. Namun, perhatiannya tidak juga teralih, bahkan ketika Elf itu sudah berlalu menuju lokasi meja asrama fantasi yang dipandu oleh Zovras dan Adniel.


Nggiiiiinggg!!!!


Thedon menekan daun telinganya. Dia menundukkan kepala tiba-tiba.


Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang tugas kalian sebagai prefek adalah memandu, bukan menarik perhatian atau memperhatikan mereka?


Suara melengking Miss Elafir terdengar sangat jelas di telinga Thedon. Dia merutuk pelan karena sempat teralihkan. Kemudian, kembali memasang senyumnya saat menyadari ada seorang siswa berambut putih yang berdiri di hadapannya.


“Addison Spiegel Atum. Fantasi.”


Shalima gegas menyerahkan jubah kepada siswa berambut putih itu. Siswa tersebut hanya menganggukkan kepala dan berlalu dari hadapan Shalima dengan penuh gaya setelah mendapatkan seragam. Addison sudah masuk akademi beberapa bulan meski belum penerimaan siswa. Katanya dia di bawah bimbingan langsung kepala sekolah.


Sebaiknya kau tetap berkonsentrasi pada tugas mudahmu, Mr. Ulsador!


Peringatan Miss Elafir tak hanya terdengar oleh Thedon, tapi juga tertangkap di telinga Shalima dan Habibie. Kedua siswa itu terkekeh sambil melirik Thedon penuh makna.


Prefek utama bertubuh jangkung itu tersenyum sambil menghela napas.


Sial. Kenapa cewek itu bisa diterima di akademi? rutuknya dalam hati.