
Evil Energy and Sealing
“LAKUKAN APA YANG seharusnya dilakukan.”
Salah satu sayap Harpi telah dilumpuhkan sementara karena terkena semburan bisa ular kontrak milik Maya. Maya bergerak maju seolah ingin menyerang Harpi dengan tangan kosong. Ia sudah hampir mencapai makhluk itu, tetapi gerakan Venalu lebih cepat. Puluhan kupu-kupu cahaya milik Venalu menyebar mengelilingi Maya dan Harpi. Serangga yang tergolong Ymbrine—sejenis burung yang dapat mengendalikan waktu—itu membekukan gerakan keduanya.
Mendapati temannya tak bergerak, Lily berusaha membantu. Akan tetapi, Venalu melarangnya. Gadis itu justru meminta bantuan untuk membawa Maya menjauh dari Harpi. Mereka tak punya waktu banyak karena kemampuan Venalu untuk mengendalikan kupu-kupu cahaya sangat terbatas. Ia juga menjelaskan bahwa Harpi membawa energi negatif yang terlalu kuat. Jadi, mereka tidak bisa terlalu dekat.
“Baiklah, berhenti bermain-mainnya.” Mr. Navarro, kepala sekolah yang jarang terlihat keberadaannya entah sejak kapan berada di sekitar mereka. Pria dengan jubah yang bentuknya mirip kepala rubah itu tiba-tiba sudah berdiri di sana sembari memegang kipas portabel berbentuk boneka kucing berpita pink. “Kalian sebaiknya mundur, kecuali Venalu Vaxalim.”
Mereka tentu tak bisa membantah titah sang kepala sekolah. Selang beberapa saat setelah mereka mundur, muncul beberapa guru yang menyusul kepala sekolah.
“Berusahalah menahan gerakan makhluk liar itu sementara kami akan menyegelnya,” titah Mr. Navarro pada Venalu. Mendengar itu, Miss Elafir berdiri di dekat Venalu dan berusaha mentransfer energi karena siswinya perlu lebih banyak tenaga untuk bertahan lebih lama.
Para guru mengambil tempat mengelilingi Harpi dengan jarak yang lumayan jauh. Miss Naina mengambil tindakan pertama dengan menepuk tangannya, mengeluarkan serbuk biru sebanyak mungkin untuk mengangkat tubuh Harpi tinggi-tinggi. Kemudian guru yang lain mulai mengangkat tangan, mengarahkan kedua telapak tangan menghadap Harpi. Sementara itu, Mr. Navarro tetap diam di tempat dengan kipas portabel Hello Kitty-nya. Meski tubuhnya diam, tetapi mulut sang kepala sekolah terus merapalkan sesuatu hingga cahaya hijau muncul di tiap-tiap telapak tangan para guru.
“Saya sudah tidak kuat, Miss,” keluh Venalu yang kehabisan tenaga.
“Tahan! Sebentar lagi.”
Saat cahaya hijau saling bertabrakan satu sama lain, saat itulah cahaya tersebut berputar mengelilingi Harpi. Tak lama kemudian, muncul magic circle yang hilang dalam sekejap. Setelah itu, para guru menurunkan tangan, kecuali Miss Naina yang masih mengendalikan serbuk birunya untuk menahan tubuh Harpi.
Dari kejauhan, datang dua lelaki bersayap hitam. Samael, guru Rune, datang bersama laki-laki asing berjubah siswa akademi fantasi. Mereka datang untuk membawa Harpi, mengamankan makhluk itu entah ke mana.
“Keja bagus kalian semua.”
“Siapa laki-laki tampan yang bersama Sir Samael tadi—aw!” tanya Maya yang langsung dihadiahi pijatan keras dari Shalima. Saat ini mereka tengah menjalani pemulihan dan pengobatan setelah kehilangan banyak energi melawan Harpi.
Thann Iziah, siswa tampan berdarah malaikat itu menjadi topik yang mereka bahas sejak tadi. Laki-laki yang bahkan tak pernah disadari keberadaannya itu ternyata seangkatan dengan mereka. Dan kedatangannya yang seperti pahlawan saat mengamankan Harpi sungguh menarik perhatian. Shalima yang ditugaskan untuk membantu mengobati entah kenapa merasa jengkel saat beberapa kali ketampanan Thann harus diungkit-ungkit.
“Apa-apaan, sih, kau ini?” protes Maya saat Shalima dengan sengaja menekan punggungnya dengan begitu keras. “Jangan membuatku emosi, ya. Aku sedang tidak ingin membuat masalah.”
“Tidak membuat masalah, tapi dipanggil ke ruang kepala sekolah,” cibir Shalima.
Empat siswa yang terlibat pertarungan dengan Harpi tadi memang sempat dipanggil untuk menghadap kepala sekolah. Bukan untuk dihukum, melainkan untuk dimintai keterangan. Dari sana, mereka akhirnya tahu bahwa kepala sekolah telah mengawasi mereka sebelumnya. Ia sedang melakukan rapat dengan para guru saat tiba-tiba suara melengking Harpi menyita perhatian. Semua siswa di asrama fantasi bahkan sci-fi pun mendengar dengan jelas. Beberapa staff pun ditugaskan untuk menjaga asrama agar tetap kondusif, sedangkan beberapa diperintahkan untuk mengawasi keributan di halaman belakang. Namun, mereka sengaja tak menampakkan diri.
“Tapi … dari mana Anda tahu bahwa kami diikuti oleh Harpi sejak perjalanan kembali dari pulau Autumnland?” tanya Venalu penasaran.
Venalu dan Lily mengangguk-angguk mengingat kejadian dikuranginya poin karena menggosipkan Miss Elafir. Mevel yang tiba-tiba muncul dari belakang, mereka pikir hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
“Sir, apakah Harpi berasal dari Autumnland? Tapi, bagaimana bisa?” tanya Lily yang tiba-tiba teringat bahwa mereka bahkan melakukan transaksi di bawah laut dengan penjagaan ketat dari petugas perbatasan.
Mr. Navarro mengetuk-ngetukkan pena Hello Kitty ke dagunya. Jujur saja, melihat beberapa barang koleksi serba Hello Kitty yang tercecer di meja kepala sekolah membuat empat siswa yang seharusnya merasa tegang malah menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. “Bisa ya, bisa tidak. Saya melihat—ehem—maksud saya, Mevel mengatakan bahwa energi Harpi seperti tak tentu arah. Makhluk itu pengendali angin yang cukup baik dan tentunya kemampuan terbangnya sangat baik pula. Ditambah adanya energi lain dalam tubuhnya, kemungkinan itu menambah kekuatan hingga dia bisa mencapai Maple Island.”
“Eh, omong-omong … Mevel itu siapanya kepsek, sih?” tanya Maya tiba-tiba.
“Mungkin anaknya. Mereka terlihat mirip,” tebak Venalu yang sejak tadi hanya diam menyimak percakapan Maya dan Lily.
“Memang kepsek kita sudah menikah, ya?” celetuk Lily.
“Punya anak, kan, nggak harus nikah dulu,” sahut Venalu.
“Astaga!” pekik Lily dan Maya bersamaan. Mereka berdua saling memandang dengan tatapan jahilnya.
“Nothapodytes nimmoniana!” umpat Shalima, menyebutkan salah satu tanaman obat langka yang dipelajarinya sambil menutup kedua telinga. “Kalian menodai telingaku!”
Venalu mengernyit heran. Apa yang salah dengan pernyataannya? Bukankah benar bahwa tak perlu menikah untuk mendapatkan keturunan? Bahkan ia sendiri tak pernah mengetahui identitas ibunya.
“Mevel adalah kepala sekolah versi mini yang sangat menggemaskan,” gumam Lily. “Saking menggemaskannya, aku ingin sekali mencubit jantungnya.” Setelah mengatakan itu, alih-alih mendapat respons dari orang di sekitarnya, seseorang justru menempelkan kertas di dahi Lily.
“Sayang sekali poinmu harus berkurang lagi, Kakak,” kata Mevel yang entah kenapa tiba-tiba berdiri di dekat mereka semua.
Shalima yang melihat adegan pengurangan poin secara langsung merasa kesal setengah mati. Ia menghirup napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan kata-kata dengan nada yang rendah dan dalam. “Lily … sepertinya mulutmu perlu dinetralkan,” ucapnya pelan. “Bersiaplah, setelah ini akan kuterapi mulutmu agar tak lagi berbicara sembarangan,” lanjut Shalima dengan senyum manis yang dibuat-buat. Berhasil membuat Maya bergidik saat merasakan aura hitam di belakangnya.
Suara besi yang terbuka disambut dengan gemericik air memenuhi ruangan lembap yang minim pencahayaan. Salah satu dari tiga siswa yang berdiri di sana menundukkan kepala, melongok ke dalam lubang gorong-gorong yang penutupnya telah mereka buka. Tangan gadis itu menjulur hingga muncul sebuah water lily yang mengambang mendekat. Kemudian digapainya tanaman tersebut dan membawanya ke atas.
“Not bad,” kata gadis lain yang dari tadi mengamati. Ia mengambil alih water lily tadi dan menyibak bunganya. Di dalamnya tersimpan sebuah benda yang sepertinya sengaja disembunyikan—atau lebih tepatnya diselundupkan.
“Kalau begini caranya, kita bisa lebih mudah membawa barang-barang unik dari HHH Mart ke dalam asrama,” sahut satu-satunya lelaki yang ada di sana. Mereka bertiga kompak tersenyum puas dan mengangguk.
“Mulai besok, sepertinya tempat ini bisa beroperasi. Melanggar salah satu peraturan akademi sepertinya tidak buruk. Toh, kita tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.”
“Ya, kau benar. Antek-antek prefek tidak akan bisa melarang kita. Karena kita ….”
“Tidak pernah takut dengan mereka,” ucap mereka bersamaan, diakhiri dengan tawa kecil hampir tak bersuara.