Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Tricky Days with the Troublemaker -Trick and Attack




Trick and Attack


“JANGAN BERISIK, NANTI kita ketahuan.”


Dua manusia berjubah hijau mengendap-endap mendekati dinding di bagian dalam kandang satwa. Salah satu dari mereka yang tampak lebih pendek memeluk erat pergelangan tangan temannya. Sembari menoleh waspada, ia berkata, “Aku benar-benar takut. Hantu wanita itu selalu bersuara saat aku melewati lorong malam-malam. Padahal murid lainnya tidak pernah mengalaminya, huh!”


“Psstt … sudah kubilang, pelankan suaramu. Itu karena kau terlalu penakut.”


Dua manusia itu, yang tak lain adalah Lily dan Maya telah berdiri tepat di depan pintu gudang. Mereka menyingkap tudung jubah hijau yang mereka kenakan, jubah yang hanya dimiliki oleh empat siswa di akademi. Empat siswa itu adalah komplotan yang suka mencuri jam malam untuk keluar dari asrama, Lily, Maya, Efron, juga Jace. Jubah kebanggaan itu sudah mereka gunakan sejak tahun pertama, hanya ketika ingin melarikan diri. Namun, kali ini mereka melakukan misi saat jam makan malam, di mana semua orang masih berlalu-lalang. Juga tanpa Efron. Karena lelaki Wizard itu memiliki tugas yang tak kalah penting.


“Kau punya kuncinya?”


“Aman. Aku sudah menduplikatkannya setelah Venalu menyuruhku merapikan gudang tadi.” Lily menunjukkan kristal biru berbentuk segi lima dengan bangga.


“Baiklah, mari kita mulai misi kali ini.” Lily merentangkan telapak tangannya menghadap dinding bercat hijau itu, lalu membisikkan sebuah mantra pembuka yang sebelumnya telah diajarkan oleh Venalu. Seketika dinding bergeser, menampilkan lorong sempit yang di ujungnya terdapat pintu besi berbentuk bulat dan bergerigi. Ruangan tersebut adalah strong room atau ruangan yang dirancang khusus agar tahan api dan tak mudah dimasuki oleh sembarang orang.


Saat didekati, di tengah pintu bergerigi itu terdapat lekukan berbentuk segi lima. Lily meletakkan kunci kristal yang dibawanya ke dalam lekukan tersebut, lalu memutarnya hingga terdengar suara gesekan besi dari dalam. Dalam sekejap pintu terbuka dan dua siswi itu menghilang di baliknya.


 “Di mana Lily dan Maya? Aku sepertinya belum melihat mereka sejak tadi.” Venalu meletakkan baki berisi sayuran untuk menu makan malamnya ke atas meja panjang. Sebelum duduk, ia menyempatkan untuk mengawasi sekitar untuk menemukan dua siswi merepotkan yang akhir-akhir ini membuatnya pusing.


Efron ternyesum manis dan menggeleng pelan sembari menjawab, “Aku tidak tahu.” Tatapannya kemudian meneliti makanan Venalu yang hanya berisi sayuran dan buah-buahan—seperti biasa. “Kau tak makan daging?”


Venalu mengibaskan tangan dengan ekspresi ingin muntah. “Aku tak memakan itu. Kau tahu? Aku selalu membayangkan bahwa dagingku sendiri yang dihidangkan. Rasanya pasti tidak enak.”


Mereka melanjutkan makan malam dengan obrolan-obrolan ringan dan sesekali saling melontarkan candaan. Namun, di balik obrolan ringan tersebut, Venalu merasa ada sesuatu yang disembunyikan Efron.  Tampaknya Wizard itu tak pandai berlakon di hadapan Venalu. Entah mengapa, sejak tadi pikirannya tak bisa tenang dan merasa ada yang aneh. Maka selepas menyelesaikan makannya, ia bertanya, “Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan, Ef?”


“A-apa? Aku … tentu saja aku tidak menyembunyikan apa pun darimu. Memangnya apa yang akan kusembunyikan?” Efron berusaha menutupi kegugupannya dengan tersenyum begitu manis.


“Ada. Jika kau menyembunyikan sesuatu, pasti jawabannya adalah …,” Venalu sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Efron sembari ia membereskan peralatan makannya, “temanmu,” lanjut Venalu penuh penekanan.


Efron hanya diam, tak menyangkal ataupun membenarkan perkataan Venalu. Hal tersebut membuat Venalu menghela napas kasar. Pasti firasatnya benar. Mengingat tingkah dua siswi yang ia maksud itu sangat kacau melebihi deretan huruf rune yang harus ia pelajari. “Ayo, ikut aku!”


“Ke mana? Sebentar lagi memasuki jam malam. Tak seharusnya kita berkeliaran malam-malam begini, kan?” cegah Efron, tetapi tetap mengikuti langkah cepat Venalu.


“Ya. Dan tak seharusnya dua temanmu itu berkeliaran malam-malam. Seharusnya kau berbicara ini kepada mereka,” sindir Venalu.


Venalu berhenti tiba-tiba. Dagunya terangkat menyebabkan sepasang netra pucat nan berani itu bertumbukan dengan sepasang mata sayu milik Efron. “Tak perlu bicara jika hanya membual!” Setelah berkata demikian, Venalu segera memalingkan wajahnya dan kembali melangkah dengan tergesa. Terlalu lama menatap Efron tak sehat untuk jantungnya. Ia juga tak ingin terlihat salah tingkah dalam situasi seperti ini.


Tak memerlukan waktu lama, mereka kini telah tiba di kandang satwa gaib. Entah kenapa, feeling Venalu mengarahkannya menuju tempat ini sejak tadi. Saat memasuki ruangan, tak ada yang mencurigakan. Semua terlihat baik-baik saja seperti biasanya. Namun, ketika berjalan lebih jauh ke dalam, sayup-sayup terdengar suara seseorang. “Kau benar-benar membohongiku rupanya,” desis Venalu saat mendapati tak ada dinding yang menghalangi lorong rahasia menuju strong room.


“Kau tidak menguncinya, ya?”


“Ini di luar perkiraanku. Seharusnya tak ada yang masuk kemari.”


Suara itu makin jelas terdengar saat Venalu mendekat. Pintu gerigi terbuka separuh dan menampilkan bayang-bayang dua orang di dalamnya. Dengan tak sabaran, ia membuka pintu itu makin lebar hingga dua perempuan di dalam terlonjak kaget.


“Jadi, apa yang kalian lakukan dengan ini semua?” tanya Venalu pelan, tetapi begitu menusuk.


Di dalam sana begitu kacau. Makanan para satwa yang seharusnya tertata rapi dalam loker-loker terpisah berserakan tak keruan. Beberapa benda juga berceceran. Lily dan Maya yang gugup juga tampak kebingungan.


“Sumpah, bukan kami,” sanggah Maya.


“Aku tidak percaya.” Venalu mengambil langkah mundur dengan tatapan menghakimi. “Ini tidak bisa dibiarkan. Kali ini aku akan melaporkan kalian,” imbuhnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan.


“Tidak! Kau tidak bisa melakukan itu karena bukan salah kami!” teriak Lily sembari berlari mengejar Venalu.


“Diam kau, Lily! Aku tetap akan melapor.”


Mendengar kalimat Venalu, tubuh Lily langsung berhenti bergerak seolah membeku. Mulutnya pun tertutup rapat. Sial, kutukan Miss Elafir!


Melihat Lily berhenti bergerak, Venalu kembali berbalik. Namun, belum sempat melangkah, ia memejamkan mata dan merasakan energi negatif berada di dekatnya. Perlahan, tanda lingkaran di dahinya menyala membuatnya mengurungkan niat untuk keluar dari kandang satwa.


“Makhluk apa itu!” teriak Maya sembari menunjuk ke atas. Makhluk dengan tubuh burung dan berkepala wanita cantik berada tak jauh dari mereka. Mereka semua mundur, kecuali Lily karena perintah Venalu benar-benar membuatnya diam seperti patung.


“Lily, bergeraklah!” perintah Venalu yang membuat Lily kembali bergerak.


Lily bertahan pada posisinya. Menatap makhluk aneh yang juga menatap liar mereka seperti haus darah. “Harpi,” gumamnya setelah berusaha mengingat sesuatu.


Harpi, makhluk tersebut pernah beberapa kali diceritakan oleh Miss Aimer ketika pelajaran Mitologi. Seharusnya tak terlalu bahaya, tetapi apa yang mereka lihat kali ini jauh dari apa yang mereka pelajari. Setidaknya itu yang ada di kepala mereka berempat sebelum makhluk itu menukik hendak menyerang.


“Lily, awas!”