Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Secret Mission to Mirror Island - Illusion




Illusion


THANN BERSUSAH PAYAH terbang melintasi lautan api dengan Addison dan Habibie bergelayutan di kedua kakinya, belum lagi ditambah seekor naga. Meski mereka terbang cukup tinggi, tetapi hawa panas di bawah membuat mereka kewalahan juga.


“Apa nagamu tidak bisa berubah besar dan membantu kita terbang? Kau lihat Thann sudah mau mati mengangkut kita,” ucap Addison sambil memandang naga Habibie yang begelayutan di bahunya.


“Itu karena Thann saja yang lemah,” balas Habibie berusaha membela diri. “Lagian nagaku sudah sampai di ukuran maksimal. Naga ini tidak bisa besar lagi.”


“Aku tidak lemah, hanya energi sihirku yang terus berkurang ketika semakin dekat dengan pecahan asteroid,” jawab Thann karena tidak terima disebut lemah di saat mereka hanya bergantung padanya.


Addison kembali memandang naga Habibie dengan matanya yang masih serupa kaca. “Apa gunanya naga sebesar ayam begini? Lebih baik kau sembelih saja, Kenapa kau tidak memilih naga yang lebih besar, keren, dan bisa menyemburkan api?”


Habibie mengusap kepala naganya. “Karena tidak ada yang memilih Alfa makanya aku memilihnya. Terkadang, sesuatu yang luar biasa bisa tercipta dari hal yang sederhana.”


“Namanya Alfa? Kok aku baru tahu?” balas Addison lagi dan baru tahu selama ini naga itu ada nama.


“Karena kau tidak bertanya.”


“Kalian lihat situasi sekarang kita ada di mana? Seenaknya saja kalian bicara santai seperti itu di saat aku bersusah payah membawa kalian.” Thann memperingati kedua temannya yang asyik mengobrol di saat monster api raksasa mengancam mereka. “Addison, letak Mirror Island di mana? Apa kita sudah semakin dekat?”


Addison menengadah ke langit. “Terus saja ke atas. Pulaunya masih tinggi di atas kita.”


“Coba kalian lihat kekuatan kepala sekolah. Mengerikan, ya,” ucap Habibie sambil melihat pertarungan di bawah. Di atas laut yang bergejolak, terjadi pertarungan jarak dekat. Kepala sekolah dan makhluk berapi itu seakan menari dengan gerakan-gerakan tidak terduga dan mematikan. Kalau satu gerakan saja salah, nyawa bisa melayang.


Pertarungan demi pertarungan terus berlanjut. Energi sihir dengan energi sihir saling bertubrukan. Kepala sekolah membuat lingkaran sihir bewarna biru, lalu mengunci makhluk itu. Raksasa api itu berusaha melepaskan diri, tetapi segel yang dibuat kepala sekolah mengikat lebih kuat. Kepala sekolah melepaskan antingnya dan seketika berubah menjadi tingkat clover hijau. Ia membacakan mantra dan segumpal kegelapan muncul di ujung tongkatnya dan langung menghantam makhluk api itu. Terjadi ledakan yang dahsyat dan makhkuk berapi yang tidak jelas bentuknya itu terkapar, tidak bergerak lagi. Kepala sekolah menengadah untuk melihat muridnya jauh di atas sambil mengacungkan jempol. Namun secara tidak terduga, muncul seekor naga berapi dari dalam laut dan langsung menelan kepala sekolah.


“Tidaaak! Kepala sekolah ditelan naga itu! Kita harus menolongnya.” Addison histeris sambil menarik-narik ujung jubah Thann.


“Makhluk apa barusan itu. Mengerikan sekali!” komentar Habibie sambil memandang ngeri ke bawah dan laut yang semula bagaikan neraka sudah beku kembali.


“Tenangkan dirimu, Addison! Kepala sekolah baik-baik saja dan beliau tidak akan kalah semudah itu. Lihat saja, perisainya masih aktif dan sangat kuat, berarti ia masih hidup,” kata Thann berusaha berpikir lebih tenang.


Addison berhenti meronta-rontak dan memandang lautan beku di bawah. “Semoga Mr. Navarro baik-baik saja,” ucapnya masih khawatir.


“Mr. Navarro baik-baik saja. Menahan meteor saja ia sanggup, apalagi cuma ini. Aku malah lebih takut kalau kepala sekolah lepas kendali dan ikut menghabisi kita. Aku dengar dari Tristian kalau kekuatan warlcok itu mengerikan ketika lepas kendali,” kata Habibie bergidik ngeri.


“Sekarang kita fokus ke misi yang sudah diberikan kepala sekolah. Addison, apa pulaunya masih jauh?” Thann berusaha mengalihkan perhatian Addison dari kepala sekolah.


Addison memandang ke atas dan ia melihat lempengan transparan yang melayang-layang di langit. “Sebentar lagi kita sampai. Thann, terbang agak lebih ke kiri. Pulau itu sedikit berada di sisi kirimu.”


Thann mengepakkan sayapnya lebih cepat dan mereka membubung semakin tinggi.


 Thann mendarat sambil mengatupkan sayapnya. Habibie dan Addison telah melompat lebih dulu di atas dataran yang sangat luas. Perisai yang dibuat kepala sekolah menghilang dengan sendirinya ketika mendarat. Sejauh mata memandang, yang mereka lihat hanyalah pantulan langit.


“Menakjubkan sekali! Aku tidak bisa membedakan atas dan bawah, semuanya terlihat sama.” Habibie berdecak kagum melihat hamparan langit luas di atas dan bawah kakinya. “Kau hidup di sini selama bertahun-tahun?” tanya Habibie sambil memandang Addison yang matanya sudah kembali normal.


Addison hanya mengangguk. Ekspresinya terlihat berbeda. Ia seakan mengingat kehidupannya yang sepi di pulau ini. Tidak ada siapa-siapa dan tidak ada apa-apa selain ilusi dan kepalsuan. Addison menurunkan pandangannya dan melihat pantulan dirinya secara terbalik. Ia memandang lelaki berambut putih, berkulit pucat, memegang cermin cakram matahari, memakai jubah jingga, kemeja putih, serta cardigan dan celana hitam. Itulah dirinya sekarang. Memiliki teman dan keluarga, jauh berbeda beberapa tahun lalu, sendiri dan kesepian.


“Bagaimana kau hidup di sini selama bertahun-tahun?” Habibie memutar-mutar tubuhnya untuk melihat sekeliling. “Tidak apa pun di sini selain hamparan cermin yang luas.”


“Kau hanya perlu membayangkan dan semuanya akan menjadi kenyataan,” jawab Addison sedikit tersenyum.


Habibie menampilkan ekspresi tidak percaya. “Ini surga! Apa pun yang diinginkan semua akan terwujud? Kenapa kau mau meninggalkan surga seperti ini dan memilih akademi?”


“Aku tidak suka tempat ini. Pusaran energinya terasa asing,” ucap Thann sambil memandang siaga sekeliling. “Jadi di mana pecahan asteroid itu? Apa kau merasakan radiasi dari benda asing itu, Habibie?”


Habibie menggeleng. “Tidak. Aku tidak merasakan apa-apa. Bukannya kau yang diberitahu kepala sekolah?” Habibie balik bertanya.


“Aku juga tidak tahu. Kita hanya disuruh kepala sekolah ke Mirror Island dan tidak dijelaskan bagaimana menemukan pecahan asteroid itu. Apa di antara kalian tidak ada yang diberitahu oleh kepala sekolah?” tanya Thann lagi memandang kedua temannya.


Addison dan Habibie menggeleng serentak. “Pasti kepala sekolah lupa lagi. Penyakit lupanya semakin parah. Kita benar-benar harus melaporkan ini kepada Madam Polina.”


“Apa mungkin kita bisa membayangkan asteroid itu dan ia akan muncul?” Habibie memberikan usul.


Addison buru-buru membantah. “Itu jelas tidak mungkin. Kita tidak bisa membayangkan sesuatu yang tidak pernah dilihat. Jadi mustahil membayangkan pecahan asteroid itu bentuknya aslinya. Terlebih lagi itu hanya ilusi.”


“Kalau begitu, aku akan coba membayangkan Miss Elafir memakai seragam maid dan berpose seperti kucing,” ucap Habibie yang tiba-tiba terlintas di benaknya. Dari kekosongan, terbentuk sulur-sulur cahaya, saling menjalin dan berkelindan menjadi Miss Elafir memakai seragam maid dan bando bertelinga kucing dengan pose imut. Miss Elafir mendekat ke arah Habibie dengan dada yang menantang dan tubuh yang sensual sambil mengucapkan kata miau.


Addison langung memukul belakang kepala Habibie. “Kau sama gilanya dengan anggota asramamu itu!”


Tidak terima fantasinya dibuyarkan, Habibie hendak membalas Addison. Tetapi ia mengurungkan niat ketika melihat Shalima. Namun, Shalima yang bukan Shalima. Seorang gadis berambut hitam dan berkulit sawo matang memandang Thann dengan malu-malu. Gadis itu mengenakan seragam akademi, tetapi lebih ketat dengan belahan dada rendah dan rok yang sangat pendek.


“Astaga Thann, kau membayangkan Shalima seperti itu?” tanya Addison melotot ke arah Thann.


“Kalau Shalima tahu ini, habis kau!” kata Habibie sambil terkikik.


Shalima yang bukan Shalima itu tiba-tiba buyar seperti ditiup angin. “Aku tidak membayangkan Shal sama sekali,” bantah Thann sambil membuang muka. Jelas-jelas mukanya merah.


“Lalu siapa yang membayangkannya? Tidak mungkin aku atau Addison.” Habibie mulai lagi mengusili Thann.


“Sebaiknya kita mulai mengecek pulau ini. Aku akan mengecek dari atas dan kalian dari bawah,” kata Thann berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia langsung menumbuhkan sayap dan meloncat ke udara.


“Seleramu boleh juga, Thann!” teriak Habibie dari bawah dan mulai tertawa.


Cukup lama Thann berputar-putar di atas sembari membuyarkan pikirannya dari Shalima yang tadi. Aku harus fokus ke misi ini, katanya dalam hati. Setelah cukup lama ia mengudara, Thann pun mendarat di sebelah teman-temannya. “Apa kalian menemukan sesuatu?” tanyanya setelah melipat sayap.


Addison dan Habibie serentak menggeleng dan semakin dilandang kebingungan. “Apa sebaiknya kita tunggu kepala sekolah saja? Atau kita turun untuk mengecek keadaan kepala sekolah, tapi aku malas berhadapan dengan makhluk berapi itu,” usul Habibie


“Lebih baik kita mencari inisiatif sendiri daripada menunggu bantuan. Kepala sekolah pasti tidak senang kalau kita tidak melakukan apa-apa,” jawab Thann.


Mereka pun mulai memikirkan cara menemukan benda asing tersebut. Namun, sangat sulit ketika tidak tahu harus mulai dari mana dan bakat mereka tidak bisa digunakan. Di tengah kebingungan itu, tanpa disadari telah berdiri seseorang di belakang mereka. Seorang gadis berambut biru laut sepunggung, memakai gaun one piece biru laut pucat, dan memegang apel bewarna emas.


Thann yang pertama kali melihat gadis itu, ia membeku dan tidak bisa berkata apa-apa. Melihat Thann yang terdiam, Habibie dan Addison mengikuti arah pandangan Thann. Ketiga cowok itu hanya terpana melihat kecantikan di depan mata mereka. Terlebih lagi gadis itu memakai gaun tipis yang nyaris transparan, membuat pikiran ketiga cowok itu travelling ke mana-mana.


“Habibie, fantasimu sungguh luar biasa,” desah Thann sambil melirik Habibie.


Habibie menggeleng. “Bukan aku, mungkin Addison. Aku tidak pernah membayangkan gadis secantik ini. Kecantikannya tidak manusiawi, seperti dewi.”


Addison hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Tanpa sadar, kakinya bergerak begitu saja menuju gadis itu. Ternyata ada makhluk yang lebih indah dariku, gumam Addison dalam hati.


Tangan Addison terangkat ingin menyentuh wajah gadis itu dan memastikan kalau ini hanya ilusi. Ketika ia menyentuh pipi semulus pualam itu, Addison dilanda sengatan yang luar biasa. Tidak mungkin ini nyata, gumamnya dalam hati. Ia menurunkan tangan dan menyentuh bibir penuh yang merah alami itu. Ia menelan ludah. Nyata!


Addison menurunkan pandangan dan melihat bagian dada gadis itu yang hanya dibalut kain tipis yang agak transparan. Apakah ini juga nyata? batinnya lagi. Tangannya bergerak hendak menyentuh tubuh gadis itu. Tanpa diduga, tangan gadis itu bergerak dan terangkat. Sebuah tamparan mendarat di wajah pucat Addison.


Plakkk!