
Promise
“INI NYATA! KALIAN lihat, ia baru saja menamparku!” seru Addison kesenangan setelah mendapat tamparan di pipinya. “Lihat, ada bayangan dirinya di cermin. Kalau ilusi, tidak ada bayangan sama sekali!”
Habibie dan Thann hanya diam melihat tingkah Addison yang kesenangan setelah ditampar. Mereka agak iri juga kepada Addison yang dapat menyentuh wajah gadis itu. Apalah arti satu tamparan jika dapat menyentuh bibir merah itu.
Thann buru-buru mengenyahkan pikirannya. Ia buru-buru mengingat Shalima di akademi. Sesuatu yang tidak dimiliki memang selalu menggoda. Aku hanya perlu bersyukur dengan yang telah kumiliki, katanya sok bijak. Padahal tadi ia tidak berkedip juga melihat gadis itu.
“Apa yang kalian cari di sini?” tanya gadis itu membuka suara. Ia memandang ketiga cowok di depannya bergantian tanpa ekspresi.
Habibie yang pertama menjawab. “Kami sedang mencari pecahan Asteroid Emas. Barangkali kamu tahu di mana lokasinya? Eh, pertama, aku mau tahu namamu dulu,” kata Habibie dengan memandang gadis itu sambil tersenyum ala buaya.
“Kalian tidak akan pernah mendapatkannya!” seru gadis itu. Ia menutup mata dan langsung mengeluarkan gelombang energi yang kuat.
“Ini pancaran radiasi!” seru Addison yang bergerak menjauh dari gadis itu dan berlindung di balik tubuh Thann.
Thann langsung membuka segel pertama di tubuhnya dan menyerap energi yang dipancarkan gadis itu. “Energi asing yang aku rasakan sejak tadi ternyata berasal dari gadis itu. Ia berbahaya, ia bisa memancarkan energi yang sangat kuat.”
“Waw, tipe gadis barbar. Langsung serang,” ucap Habibie setengah memuji. “Tipeku banget!
Melihat serangan gelombang energinya dengan mudah diserap oleh Thann, gadis itu mengeluarkan pancaran energi yang lebih kuat. Seberkas gelombang biru transparan langsung menerjang ketiga siswa Maple Academy itu.
Habibie memutar-mutar tangannya di depan tubuh, lalu sebentuk kotak hitam kecil melayang di antara tangannya. Blackbody. Bakat yang dimiliki Habibie adalah menyerap radiasi elektromagnetik atau radiasi benda lainnya. Pancaran energi yang dilontarkan gadis itu langsung dinetralkan oleh Habibie.
Melihat serangannya dipatahkan oleh Thann dan Habibie dengan mudah, gadis itu menyerang Addison yang terlihat paling lemah. Ia mengeluarkan energi biru dan fokus menerjang ke arah cowok berambut putih itu. Secepat kilat, Addison mengarahkan cerminnya ke energi biru yang menerjang. Terdengar derik yang membuat ngilu saat menyentuh cermin. Selama beberapa saat terjadi benturan, sampai energi itu berbalik arah ke si gadis dengan kecepatan tinggi.
Gadis itu tidak menyangka serangannya akan berbalik arah. Ia tidak sempat mengelak dan langsung terpental beberapa meter.
“Eh, maaf aku tidak sengaja,” ucap Addison.”Yah, padahal mau kenalan, tetapi malah jadi begini.”
Gadis itu berdiri dan sekarang terlihat marah. Matanya memencarkan cahaya kebiruan dan apel di tangannya juga memancarkan cahaya. Secara perlahan, tubuhnya terangkat dan melayang, lalu selubung tipis langsung melingkupi tubuh gadis itu.
“Hayo, kau sudah membuat cewek itu marah. Aku tidak mau tanggung jawab, lho,” kata Habibie dengan wajah senang kepada Addison. Sepertinya sudah terjadi saja persaingan cinta di antara mereka.
“Kau harus ingat, cewek tidak pernah salah. Kalau cewek salah, itu penyebabnya cowok.” Habibie tertawa senang. “Habis sudah kesempatan kau mendekati gadis itu. Sekarang kesempatanku terbuka lebar.”
“Bukannya kau sedang mendekati Claryn?” tanya Addison dengan memasang wajah jijik. “Dasar buaya gurun!”
“Kalau Claryn tidak dapat, gadis ini juga boleh. Sama-sama cantik.” Habibie terkekeh sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.
“Teman-teman, ini berbahaya! Serangan gadis itu berbeda dari yang tadi,” kata Thann memberitahu yang lain. Sehingga Addison dan Habibie tidak melanjutkan perdebatan.
“Ini pancaran radiasi Asteroid Emas,” ucap Habibie kaget. “Jangan-jangan gadis itu sendiri Asteroid Emasnya. Jangan sampai, deh. Aku tidak tega harus menghancurkan gadis secantik ini.”
Gadis itu merentangkan tangan dan gelombang dahsyat langsung menerjang ketiga siswa Maple Academy itu. Thann membuka segel kedua dan ketiga sekaligus dari tubuhnya dan menyerap energi yang dipancarkan. Namun, Thann tidak bisa terlalu lama dan banyak menyerapnya.
“Gawat! Aku tidak bisa menyerap energi ini terlalu lama. Malah energi sihirku yang diserapnya balik.” Thann terjatuh dan langsung diterjang gelombang energi. Ia terlempar beberapa meter.
Habibie langsung mengejar Thann dan menyegel kembali lubang hitam yang terbuka di tubuh remaja malaikat itu. “Biar aku tangani,” kata Habibie bersungguh-sungguh setelah menutup lubang di tubuh Thann. Habibie mengeluarkan benda hitam yang lebih besar dan menyerap seluruh energi yang dipancarkan gadis itu.
Melihat energi yang dipancarkan diserap kembali, gadis itu berteriak marah dan hantaman energi yang lebih dahsyat langsung menerjang ketiga siswa Maple Academy itu. Habibie berusaha menyerap dan menetralkan, tetapi daya serapnya semakin terbatas. Thann berusaha bertahan dengan menggunakan sayapnya, tetapi energi sihirnya semakin berkurang. Addison berusaha memantulkan dengan cerminnya. Derikan dari cermin Addison terdengar memekakkan telinga. Selama beberapa detik, Addison terus bertahan meski tubuhnya terus terjajar ke belakang.
Kekuatan apa ini? batin Addison sambil berusaha bertahan, tetapi tubuhnya terus terseret. Dengan mengeluarkan segenap kekuatan, akhirnya energi itu dapat ia pantulkan kembali. Namun, tubuh Addison terpental sangat jauh melewati tepi Mirror Island dan jatuh ke laut api di bawah.
“Thann, kejar Addison!” teriak Habibie sambil terus menetral radiasi di sekelilingnya.
Thann berdiri dan merentangkan sayapnya. Namun, ia langsung terjatuh karena energi sihirnya yang terus diserap. “Gawat! Pulau ini benar-benar mengacaukan mana sihirku,” kata Thann frustrasi.
Addison melihat lautan api di bawah yang bergejolak. Apa ini akhir dari hidupku? batin Addison. Ia memikirkan semua hal yang sudah dilalui, mulai dari terkurung di Mirror Island, bertemu Mr. Navarro, dibawa ke sekolah, dan memiliki banyak teman di akademi. Maafkan aku mengecewakanmu, Mr. Navarro. Addison menutup mata dan aliran bening jatuh di pipinya.
“Hei, bocah! Apa yang kau pikirkan?” kata Mr. Navarro sambil menangkap remaja itu. “Aku belum mengizinkanmu pergi dari akademi. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak.”
Addison membuka mata dan tersenyum, ia sekilas seperti melihat wajah ayahnya dari Mr. Navarro. Meski ia tidak begitu ingat, tetapi sepertinya itu wajah ayahnya.
“Aku sudah berjanji kepada ayahmu untuk menjagamu. Janji kepada seorang dewa bukanlah janji sembarangan,” ucap Mr. Navarro bersungguh-sungguh. “Jadi jangan pernah kaubuat aku mengingkari janji itu!”