
Surprise
BELUM SEPARUH TAHUN dijalaninya, Shalima merasa tahun ini bukan tahunnya. Kesialan beruntun terjadi kepadanya sejak awal tahun dan belum pernah dia merasa sepayah ini. Diamuk Naga Porsesa ternyata bukan yang terburuk.
Ngomong-ngomong soal naga spiritual itu, dia kembali muncul dalam mimpi Shal semalam. Shal berada di atas punggung salah satu anak Naga Porsesa, sementara induk naga dan dua anaknya yang lain terbang di depannya. Mereka terbang di atas sebuah kastel keemasan yang berada di gurun. Dari ketinggian, Shal bisa melihat sedang terjadi pertempuran di halaman istana. Induk naga lalu berteriak, seperti memberi peringatan. Setelah itu mereka semua terbang semakin tinggi dan terdengar sebuah ledakan dari arah istana.
“Energi itu dipakai untuk latihan, bukan melamun!”
Shalima pernah mengakui suara bass ini enak sekali masuk ke telinganya, tapi kalau sedang cemooh mode on, suara itu jadi seperti kaleng rombeng. Bukannya menoleh ke asal suara yang bicara kepadanya, Shal malah memalingkan mukanya untuk menatap pepohonan.
“Selain dungu dan bisu, kau tuli juga?”
Ah, ternyata pepohonan di Battle Arena cantik-cantik juga.
Shal berusaha mengalihkan pikirannya dengan hal-hal positif.
“Don’t provoke, me, Shal!” Thann menarik lengan Shal sehingga kini gadis itu menghadap kepadanya. Shal menatap Thann tajam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kita perlu bicara,” ucap Thann tegas. Sikap yang sama sekali tidak membantu kalau mau bicara dengan seorang gadis yang sedang marah.
“Hai!” Tiba-tiba Amara muncul di samping Shal. Shalima lega karena merasa Amara bisa menyelamatkannya. Namun, wajahnya kembali muram saat melihat gadis Elf itu datang bersama Zovras.
“Aku bisa bicara dengan Shalima sebentar, kan?” Thann meminta izin, tapi lebih terdengar seperti memberi perintah.
“Tampaknya tidak bisa karena aku dan Shal mau latihan bersama sekarang,” jawab Amara datar. Begini yang seru, sesama orang angkuh bersikeras dengan keinginan masing-masing.
“Baiklah,” Thann mengalah, “Kalau begitu aku akan menunggu kalian selesai latihan.”
“Oh, bagaimana kalau kau ikut latihan bersama kami? The more, the merrier, right?”
Amara jelas mengabaikan pikiran Shalima yang mengatakan bahwa ucapannya tidak benar sama sekali!
“Aku tidak keberatan, sih. Tidak tahu kalau yang lain,” sindir Thann.
“Mereka juga tidak keberatan! Ayo!”
Amara menarik tangan Shal menuju ke salah satu ruang latihan Battle Arena. Jelas dia mengabaikan pikiran Shalima yang mengatainya tengah mabuk halusinogen.
Sudah satu jam mereka berlatih, tapi Shalima masih saja merajuk kepada Amara. Membawa Zovras dalam latihan mereka saja sudah mengesalkan, apalagi mengajak Thann!
“Berlatih bersama mereka berdua tidak seburuk itu juga, kok. Kau jadi bisa menghayati sesi tinju dengan beruang” Amara mengomentari sesi pemanasan Shal.
“Kalau itu sih karena kemampuan jabku semakin baik,” cibir Shal.
“Kau juga semakin berani memukul titik lemah para musuh saat Mode Latihan Bertarung tadi,” lanjut Amara santai, sambil sibuk mengatur Mode Latihan Asteroid Tingkat Dua – Easy untuk empat siswa di layar virtual.
Setelah melihat Thann melumpuhkan induk babi di Ginggo Forest, Shal jadi terinspirasi untuk mempelajari titik lemah berbagai makhluk. Pukulan yang cukup kuat di titik-titik tertentu memang bisa melumpuhkan. Sekarang juga Shal sedang berusaha berlatih kempo, salah satu teknik bela diri di mana level akhirnya adalah seiho atau totokan. Dalam pengobatan, teknik totok bisa memperlancar peredaran darah, tapi bisa juga digunakan untuk menghalangi peredaran darah.
Target untuk latihan ini adalah lebih banyak pukulan dan tendangan. Berlatih juga membuat barrier yang lebih kuat.
Hampir saja Shal membekap mulut Sang Mentor, pelatih Shalima di Battle Arena. Percuma juga, toh mentornya hanyalah sosok artificial intellegence yang diproyeksikan dari mesin. Shal melirik ke arah Thann. Tampaknya lelaki itu sedang sibuk bicara dengan mentornya juga sehingga tidak punya waktu mendengarkan ucapan mentor Shalima. Baguslah, setidaknya lelaki itu tidak punya bahan baru untuk mengejeknya.
“Latihan siswi Amara Leowyns dari Asrama Fantasi dimulai!” Amara berseru sambil menjauhi Shalima dan bersiap menempati space-nya. Di luar Amara terlihat anggun, tapi di dalam Battle Arena, dia adalah Elf barbar yang suka “mengoleksi” jiwa-jiwa musuh.
Zovras dan Thann mengikuti jejak Amara. Mau tidak mau, Shal juga ikut menempati space-nya dan berseru, “Latihan siswi Shalima Shero dari Asrama Fantasi dimulai!”
Ruangan meredup sebentar. Saat kembali terang, mereka sudah berada di sebuah padang gurun luas. Kini mereka berada dalam simulasi pertarungan siswa vs antek proasteroid. Zovras mereplika dirinya untuk melawan pasukan proasteroid, sedangkan Thann melancarkan serangan lewat udara.
Dalam Mode Latihan Asteroid sebelumnya, Shal melihat sosok Zovras dalam bentuk simulasi. Namun, antara sosok simulasi dan real ternyata memang lebih menakjubkan yang real. Shal melihat dua sosok lelaki Wizard itu dengan luwes menggunakan pengendalian tanah dan api untuk melawan musuh. Ini juga untuk pertama kalinya Shal melihat Thann bisa mengeluarkan semburan cahaya yang melumpuhkan lawan dari ujung jarinya. Inikah yang membuat lelaki itu diterima di Maple Academy? Bakat menyerap energi dan menembakkan cahaya yang melumpuhkan? Kenapa waktu di Ginkgo Forest Thann tidak mengeluarkan jurus itu untuk melawan induk babi?
Kenapa kau bengong? Baru pertama kali lihat energy shot?
Teguran Sang Mentor membuat Shal segera maju untuk menyerang lawan. Shal melumpuhkan beberapa dari mereka dengan pukulan di belakang kepala dan tendangan di dada. Sambil bertarung, dia mengamati teman-teman simulasi di sekitarnya.
Terlihat Lily-Simulasi tampak tak berdaya di atas pasir gurun. Cih, kenapa simulasi ini bisa tahu dia agak sentimen dengan Lily? Shal segera berlari menuju sosok Lily. Setelah membuat barrier, disentuhnya tangan gadis itu. Shal mencoba menelusuri tubuhnya dan tak lama kemudian dia tahu bahwa Lily-Simulasi mengalami luka sayatan yang tidak terlalu dalam di lengan kanannya dan patah tulang rusuk.
Lily-Simulasi sangat sopan, sehingga tidak mengeluh macam-macam. Kalau itu Lily asli, mungkin Shal akan disumpahi habis-habisan karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyembuhkan lukanya.
“Tratarvis!” seru Shal. Tidak terjadi apa-apa. Sudahlah, terima saja kalau kau itu bukan Wizard dan tidak punya bakat soal mantra!
Shal membuat simbol rune penyembuhan di lengan Lily-Simulasi. Hasilnya masih tetap kekecewaan. Ditatapnya lengan Lily-Simulasi dengan tatapan kuyu. Selalu seperti ini. Shal sudah semakin baik mendiagnosis tubuh makhluk, tapi hanya sampai di situ saja. Dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk makhluk yang terluka.
Barriernya koyak dan Shal tidak peduli. Sebuah pedang berhasil menggores punggungnya dan gadis itu hanya mendecak kesal. Dia sekarang tidak punya rasa takut karena tahu luka-luka itu hanya memberi rasa sakit yang sementara lalu kemudian sembuh dengan sendirinya.
Awalnya, tersayat pedang meninggalkan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun, setelah Shal membiasakan diri tergores-gores pedang setiap latihan, dia jadi terbiasa dengan rasa sakit. Selain itu, rasa sakitnya tidak bertahan lama karena kemudian lukanya sudah sembuh dan tertutup rapat. Shalima berencana membiasakan diri dengan tusukan atau tebasan, yang penyembuhannya lebih lama. Sakitnya luar biasa, tapi gilanya Shal sangat menikmati proses saat sel-sel tubuhnya beregenerasi setelah ditebas.
Dengan sigap Shal memukul dada musuh yang menyayat punggungnya sehingga sosok itu rebah dan kemudian lenyap. Sosok Lily-Simulasi yang juga menghilang. Tanpa sengaja netra Shal terpaku pada sosok Thann. Lelaki itu kini berdiri di atas pasir dan mengarahkan kedua tangannya ke langit. Dia pernah melihat hal serupa di Ginkgo Forest, saat Thann menyerap energi anak babi. Bedanya, kali ini Thann tampak berusaha menyerap energi asteroid dari jarak jauh.
Tanpa sadar Shal melangkah meninggalkan space-nya dan menuju space Thann. Dia tidak mempedulikan Sang Mentor yang memperingatkan bahwa hal itu tidak disarankan selama latihan bersama.
Shal menyentuh bagian belakang telinga kiri Thann, salah satu bagian tubuh yang tidak tertutup seragam latihan. Shal menelusuri tubuh itu sekali lagi, seperti saat mereka ada di dalam gua. Shal tahu pusaran yang menyerap energi itu masih ada di dalam tubuh Thann, tapi sudah sangat stabil sekarang. Pusaran itu terus-terusan menyerap energi, seperti tidak ada habisnya.
Thann menoleh ke belakang dan menatap Shalima dalam-dalam.
“Aku hanya mau memeriksa lubang energimu. Tampaknya, sekarang itu sudah tidak berbahaya lagi, ya?” ucap Shal gugup sambil menarik tangannya. Tiba-tiba Thann menyeringai sinis. Tangan kirinya bergerak mengambil tangan Shalima dan menggenggamnya.
“Kau itu mau sampai kapan naif terus? Kalau mau baik, kau sebaiknya pilih-pilih. Mulai sekarang, kau sebaiknya buka mata lebar-lebar karena tidak semua hal akan berakhir semujur kejadian di Ginkgo Forest.”
Waktu berlalu sangat lama saat keduanya saling menatap. Ini seperti di Ginkgo Forest, saat gadis itu menyentuh kening Thann dan sadar bahwa energi dalam tubuhnya terhisap. Namun, berbeda dengan waktu itu di mana tubuhnya memerintahkan Shal untuk segera melepaskan sentuhannya dengan Thann, kali ini tubuh Shal sangat tenang. Tubuhnya seperti tahu dia tidak akan kehilangan energi, sebanyak apa pun itu diserap oleh Thann, karena energi gadis itu terus-terusan diproduksi seperti mata air.
Thann juga tampak menyadari sesuatu dan berucap pelan, “You never stop surprising me, Shal.” Seringai di bibirnya memudar dan dia menatap Shal dengan tatapan lembut.
Namun, wajah Thann perlahan menegang begitu merasakan sesuatu yang lain terjadi dalam tubuhnya. Shal juga merasakan kalau lubang tak kasatmata di tubuh Thann kini berusaha menyerap sesuatu yang lain selain energinya. Kali ini, tubuh Shal memberi sinyal bahaya.
“Jangan selalu mempercayai apa yang kau pikirkan saja. Buka pikiranmu pada kemungkinan-kemungkinan lain.” Thann menatap Shal intens. Dia berusaha mengendalikan apa pun itu yang terjadi dalam tubuhnya.
Tiba-tiba genggaman tangan mereka terlepas karena seseorang meninju pipi Thann sampai lelaki itu tersungkur di lantai ruang latihan Battle Arena. Suasana gurun pasir sudah menghilang, digantikan dinding cermin.
“Kau gila!” Zovras meneriaki Thann karena berang. Dengan sigap Amara memapah Shal yang kakinya lemas karena syok.
“Thann, we really need to talk about this! Find the time!” Amara menatap Thann dengan pandangan yang tidak bisa ditebak lalu pergi memapah Shal keluar dari ruangan itu.