Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Secret Mission to Mirror Island - Mirror




Mirror


ADDISON JARANG MELIHAT atau bertemu Mr. Navarro. Meskipun kepala sekolah jadi pembimbingnya bersama Habibie dan Thann, mereka jarang sekali bertatap muka. Namun, ketika sore itu saat ia sedang memperhatikan percobaan aneh Levi di halaman asrama, ia dipanggil oleh hewan kontrak kepala sekolah untuk menghadap. Sambil merapikan seragam jingganya, ia mengikuti hewan sebesar kucing itu menaiki tangga menuju ruangan pribadi kepala sekolah. Sesampainya di depan pintu bewarna hijau dan jingga berukir pohon maple, ia menekan salah satu ukiran akar. Beberapa saat kemudian mekanisme ukiran tersebut bergerak dan pintu mengayun terbuka.


Addison memang jarang bertemu kepala sekolah dan lebih jarang lagi memasuki ruangan pribadinya. Sambil menghela napas, lelaki berambut putih itu mengedarkan pandangan ke dalam ruangan yang didominasi warna hijau. Sensasinya masih sama ketika kali pertama ia masuk ke ruangan ini dan resmi menjadi siswa Maple Academy.


“Kau akhirnya datang juga Mr. Spiegel. Kami baru saja membahas bagian penting untuk misi kali ini,” kata kepala sekolah sambil mengangkat wajah dan menjulurkan tangan ke arah hewan kontraknya. Hewan itu melompat dan entah bagaimana berubah jadi jubah dan membungkus tubuh kepala sekolah.


Misi? Addison membantin sambil memandang kepala sekolah lalu beralih ke seniornya, Thann dan Habibie yang sudah datang lebih dahulu. Thann hanya memandangnya tanpa ekspresi, sementara Habibie tersenyum sambil menggaruk-garuk perut naganya yang bertengger di pundak.


“Misi apa, Sir?” tanya Addison sambil melangkah mendekat lalu berdiri di sebelah lemari kecil tempat buku sihir yang sedang mendengkur.


“Ya ampun, aku lupa menyampaikan pesan kepada hewan kontrakku mengenai misinya. Sepertinya penyakit lupaku makIn parah. Padahal dosisku sudah ditambah Madam Polina.” Kepala sekolah seolah berbicara pada diri sendiri dan tidak ada juga yang berani menanggapi.


Thann dan Habibie hanya saling lirik menahan eksperesi wajahnya tetap datar. Seisi sekolah sudah tahu kalau kepala sekolah tidak pernah meminum obat atau ramuan apa pun untuk penyakit lupanya setelah tidur panjang selama 400 tahun.


“Jadi begini, kita mendapat misi untuk menghancurkan dan menetralkan radiasi Asteroid Emas. Seperti yang sudah kalian tahu, radiasi dari benda asing itu memberikan efek yang tidak baik jika bersentuhan langsung dengan manusia.” Mr. Navarro mengisyaratkan Addison untuk duduk. Ia duduk di sebuah kursi aneh dari lilitan akar, bersebElahan dengan akuarium yang isinya entah tengkorak hewan apa.


“Berdasarkan pengamatanku, misi ini sangat cocok untuk kalian,” lanjut kepala sekolah sambil menelangkan kepalanya sedikit. “Terutama Thann dan Habibie yang memiliki bakat dalam penyerapan dan penetralan energi.”


“Tapi saya tidak memiliki bakat seperti itu, Sir.” Addison segera menyesali ucapannya. Selain diucapkan terlalu cepat, kesannya ia tidak percaya diri. Memang ia sedikit tidak percaya diri jika dibandingkan dengan Thann dan Habibie yang memiliki bakat luar biasa. Ia tidak tahu kenapa bisa dibimbing langsung oleh kepala sekolah. Hanya sedikit siswa yang mendapatkan kesempatan itu.


“Pecahan itu ada di Mirror Island. Sepertinya tidak ada siswa mana pun di akademi yang lebih tahu Mirror Island selain kamu. Bukankah begitu?” kata kepala sekolah sambil memandang Thann dan Habibie.


Addison tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Mendengar Mirror Island, ingatannya kembali ke masa-masa suram sebelum ditemukan oleh kepala sekolah dan diajaknya ke akademi. Entah kenapa, cermin cakram matahari yang ia pegang terasa panas.


“Betul, Sir. Addison paling cocok sebagai pemandu kita untuk misi ini.” Habibie menyetujui sambil memandang Addison sambil tersenyum.


“Bakat cerminnya pasti sangat berguna jika dilakukan di media cermin yang sangat luas.” Thann juga ikut menyetujui.


“Jadi bagaimana? Yakin tidak tertarik?” tanya kepala sekolah lagi.


“Tentu saja saya tertarik, Sir. Misi apa pun pasti akan saya jalani dengan senang hati.” Addison memandang Habibie dan Thann. Mereka semua tahu, misi adalah hal-hal yang paling ditunggu. Selain bebas dari pelajaran, mereka akan bebas berkeliaran selama beberapa hari setelah selesai menjalankan misi.


Mr. Navarro sedikit tersenyum sambil menulis dengan pena berkarakter Hello Kitty di buku. “Jadi sudah diputuskan misi kali ini adalah Thann, Habibie, dan Addison. Misi ini tingkat A, jadi kalian harus benar-benar berhati-hati. Seragam misi kalian sudah dipersiapkan di lemari masing-masing oleh peri rumah.”


Hello Kitty. Ketiga siswa itu hanya saling pandang dan berusaha menampilkan ekspresi senatural mungkin “Ba-baik, Sir.” Than berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil.


“Misinya dimulai besok,” kata Mr. Navarro sambil merobek tiga lembar kertas. Mememasukkan ke amplop warna-warni masih bergambar Hello Kitty lalu dibubuhi stempel lilin logo sekolah. “Serahkan ini kepada Shalima sebagai wakil prefek agar disampaikannya kepada guru yang mengajar kalau kalian sedang dalam misi.”


Thann menerimanya dengan ragu. “Surat ini, Sir?” tanya Thann sangsi, membayangkan ia memberikan amplop yang seperti surat cinta itu kepada Shalima.


Mr. Navarro memandang Thann. “Kenapa? Kamu tidak suka gambarnya? Saya ada karakter kucing lucu lain kalau kamu mau. Saya mendapat banyak hadiah dari gadis kecil ketika berjalan-jalan di peradaban manusia di Hiddenland.”


“Ti-tidak, Sir. Saya suka sekali,” jawab Habibie cepat-cepat sambil mengambil surat yang disodorkan kepala sekolah.


“Saya juga suka kucing, Sir.” Addison langsung menjulurkan tubuh ke arah meja, menendang kaki Thann lalu menarik surat yang disodorkan.


Kepala sekolah tersenyum misterius. Matahari senja menembus kaca jendela bewarna hijau di belakangnya, sehinggga membuat auranya berpendar hijau menyeramkan. “Kalau begitu, sampai jumpa besok. Nanti Mevel yang akan memberitahu kalian jam dan titik berkumpulnya.”


“Baik, Sir,” jawab Thann sambil membayangkan bocah kecil berkerudung jingga yang sering berkeliaran di akademi, membawa payung clover dan buku catatan kecil. Buku catatan itu berisi semua dosa siswa yang akan dilaporkan kepada kepala sekolah. Thann yakin, dosa Lily dan Levi paling banyak.


“Oh, ya, satu lagi sebelum saya lupa, Mirror Island yang akan kita kunjungi dekat dengan negeri Zaadia. Jadi kita akan ke sana dahulu karena itu portal terdekat yang bisa diakses.” Kepala sekolah masih tersenyum misterius. “Selamat sore. Nikmati waktu santai kalian. Saya harus pamit dulu karena ada siswa yang baru saja melelehkan patung sekolah.” Kepala sekolah menjulurkan tangannya, mengisyaratkan untuk mengusir tiga remaja tanggung itu di ruangannya.


Ketiga siswa itu serentak berdiri lalu pamit dari ruangan aneh yang selalu menguarkan bau manis itu. Sesampainya di luar, pintu berdebam kuat di belakang mereka. Ketiga remaja itu saling pandang lalu tidak bisa menahan tawa lagi.


“Kalian lihat pulpen dan buku catatan kepala sekolah?” tanya Addison sambil memegangi perutnya. “Rasanya perutku kram menahan tawa di dalam tadi.”


Habibie ikut menimpali sambil memukul-mukul dinding, sementara naganya menguik-nguik seperti anak babi. “Dari sekian banyak hal-hal menyeramkan dalam ruangan itu, kenapa harus Hello Kitty?”


“Aku tidak tahu harus bagaimana memberikan ini pada Shal,” kata Thann sambil memandang kertas bewarna merah muda dengan gambar kucing itu.


“Surat cinta, nih,” ledek Habibie sambil membentuk isyarat love dengan telunjuk dan jempolnya. “Seperti ini isyarat cinta di dunia manusia. Shalima pasti meleleh ketika kauberikan itu.”


“Bisa-bisanya kepala sekolah memberikan surat seperti ini,” keluh Thann dan sepenuhnya mengabaikan ledekan Habibie. Ia sudah kebal diledek teman seangkatannya itu sejak lama.


“Jangan sampai kepala sekolah meminta anggaran kepada Miss Elafir untuk mengadakan alat tulis Hello Kitty,” kata Addison semakin menjadi-jadi.


“Aku lebih baik mendengar ocehan supersonik wakil kepala sekolah daripada memakai pulpen seperti itu.” Habibie ikut menambahkan.


Tanpa mereka sadari, sudah ada seseorang yang sejak tadi berdiri sambil memperhatikan dengan mata cokelatnya. “Astaga! Sejak kapan kau ada di situ, Dik?” teriak Addison sambil memegangi dadanya, membuat kaca yang dipegangnya hampir saja terjatuh.


“Membicarakan kepala sekolah, point kalian masing-masing dikurangi 15,” kata Mevel sambil menuliskan di buku catatan bergambar Hello Kitty. Ia tersenyum lalu berlari-lari kecil menyusuri lorong sambil menarik payung clover-nya.