
See You When I See You
“KAU JADI SANGAT mirip adikku jika menangis seperti itu. Mukanya jelek banget.”
Levi dibantu berdiri oleh Lord Betelgeuse. Ia yang semula menangis bahagia, sekarang terkekeh karena menyadari hal memalukan yang dilakukannya. Untung saja saat ini tidak ada siswa lain. “Habisnya, saya sudah menganggap anda sebagai orang tua saya.”
“Bukan om-om lagi?”
Levi menggaruk kepala. “Sedikit, sih,” katanya. “Ngomong-ngomong, semuanya sudah berakhir kan, Lord?”
Lord Betelgeuse mengangguk kemudian memandang sekelilingnya. Tempat ini sudah menjadi peninggalan sejarah. Ia kemudian duduk pada sebuah batu sambil mengambil napas panjang. Pertarungan ini menguras banyak energinya. Cih,begini, ya, kalau sudah tua!
“Perempuan itu, apa yang terjadi padanya?”
Orang yang dimaksud Levi adalah sosok perempuan yang terbaring tak jauh dari tempat mereka. Lord Betelgeuse menjelaskan bahwa dia awalnya penguasa kastel emas ini. Mereka bertarung cukup sengit, sampai akhirnya perempuan itu terbunuh. “Aku tidak berniat membunuhnya, tapi karena dia memaksa, aku tidak memiliki pilihan lain.”
“Aku tidak melihat adanya luka ataupun bekas pertarungan.”
“Aku mencuri jiwanya, Levi,” ujar Lord Betelgeuse berterus terang. “Jiwanya masuk ke alam baka bersama para arwah. Mungkin dia dan bawahannya akan mengalami orientasi di sana.”
Levi kaget seketika. “Serius? Dunia arwah juga memiliki hal semacam itu?”
Lord Betelgeuse hanya tertawa.
“Saat pertarungan tadi, arwah kedua orang tuaku datang. Mengapa bisa terjadi?” Levi bertanya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana kedua arwah itu melindunginya di saat-saat genting.
“Mereka adalah pengecualian,” jawab Lord Betelgeuse. “Aku hanya memanggil arwah-arwah yang masih menyimpan dendam dan korban akibat kejadian besar di tahun 2222. Namun, saat portal terbuka, kedua orang tuamu datang. Mereka berkata ingin melindungi. Dari sini, kau tahu siapa yang ingin mereka lindungi, kan?”
Levi memandang hamparan langit yang luas, bersih tidak berawan. “Ya, itu aku.”
“Aku pernah membaca sebuah pepatah entah kapan. Bunyinya begini, kasih sayang orang tua sepanjang masa. Paham?”
Levi menganngguk pasti. “Aku seratus paham mengerti.”
“Jika begitu, sudah saatnya kita pergi dari tempat ini,” tutur Lord Betelgeuse sembari bangkit dari duduknya. “Akan sangat berisiko jika kita berlama-lama di sini.”
“Bagaimana dengan jasad perempuan itu?”
“Biar aku yang mengurus,” balas Lord Betelgeuse. “Kau duluan keluar. Aku sudah memanggil kereta kencana di sana.”
Levi hanya mengangguk mematuhi dan bergegas pergi dari sana sementara Lord Betelgeuse memandangi jasad perempuan yang tampak seperti seorang putri sedang tidur panjang. “Sayang sekali kau memilih untuk mati, padahal aku bisa membawamu ke istanaku,” jawab Lord Betelgeuse. “Dengan penuh rasa hormat, aku berikan mawar putih ini sebagai tanda perpisahan.”
Setangkai mawar putih diletakkan di bagian dada jasad Sang Ratu. Kini, tidak ada yang tersisa dari kastel emas tak terlihat itu. Bahkan sinar keemasan yang menyelimuti seluruh bagian kastel juga sirna setelah hancurnya serpihan asteroid. Hanya waktu yang merekam bagaimana tempat ini menjadi puing-puing yang ditinggalkan. Lord Betelgeuse berbalik meninggalkan jasad itu di sana dengan membawa kesuksesan atas sebuah misi.
Kini hanya senyum janggal yang terkembang sebelum sosoknya menghilang.
Levi akhirnya sampai di Ginko Forest saat malam. Ia diturunkan di tempat yang sama saat pertama kali misi ini dilakukan. Saat itu, Levi masih ingat bagaimana ia tidak tertarik melakukan perjalanan hingga mendapati pengalaman paling berharga bersama seorang penguasa dari Malice Island. Pengalaman yang takkan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.
Levi Strauss menatap lekat pria tampan di depannya itu. “Jika bukan karena Anda, saya mungkin akan menambah masalah berkepanjangan.”
“Kita tidak pernah tahu takdir berjalan seperti apa, Nak,” balasnya. “Dan sekarang, takdir membawamu pada sesuatu yang luar biasa.”
“Ya, aku sangat berterima kasih pada takdir itu.”
“Sebelum berpisah, aku akan memberikanmu ini. Voucher pembelian produk dari Witchcraft Laboratory.” Lord Betelgeuse memberikan sebuah kertas special kepada Levi Strauss.
“Apa gunanya, Lord?”
“Perjalanan ini mengakibatkan sarung tanganmu rusak, bukan? Aku akan dengan senang hati membuatkan yang baru untukmu. Pastinya dengan ketahanan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.”
Mata Levi berbinar. “Benarkah?”
Lord Betelgeuse mengangguk. Kemudian, ia memunculkan sayapnya dan memetik tiga helai bulu hitam untuk ia berikan kepada Levi. “Sesuai janjiku. Gunakan bulu ini sebaik mungkin untuk penelitianmu, Nak.”
“Padahal, aku sudah melupakannya.”
Lord Betelgeuse mengedipkan mata. “Seorang laki-laki tidak boleh lupa dengan janjinya, Bocah,” ujarnya. “Ah, satu lagi! Ada informasi yang harus kau sampaikan kepada Navarro terkait perjalanan ini.”
“A-apa?”
“Mendekatlah.”
Lord Betelgeuse menunduk, menempelkan kepalanya dengan kepala Levi, dengan maksud untuk mentransfer informasi tersebut melalui pikiran. Dengan rasa canggung, Levi merasakan semua kata-kata Lord Betelgeuse tersimpan dalam memori otaknya dengan jelas. “Ini adalah caraku untuk bertukar informasi secara rahasia,” katanya. “Besok, datanglah menemui Navarro dan cukup ketuk keningmu tiga kali. Semua informasi itu akan keluar otomatis dari mulutmu. Paham?”
Levi mengangguk pelan, ada rasa janggal saat kepalanya bersentuhan dengan kepala pria itu.
“Kalau begitu, selesai sudah pertemuan kita saat ini, Levi Strauss. Sampaikan salamku juga nanti kepada kepala sekolahmu yang menyedihkan itu, ya?”
“Laksanakan, komandan.”
Lord Betelgeuse tertawa. “Benar-benar anak yang menarik.”
“Satu lagi, apakah suatu hari nanti saya boleh bertualang bersamamu lagi Lord Betelgeuse?”
Lord Betelgeuse berhenti ketika membuka pintu kereta kencana miliknya. Ia memandang Levi dengan mimik wajah yang menantang. “Boleh saja, asal kau tidak menjadi beban. Lain kali, aku tidak akan baik hati, lho.”
Levi Strauss tertawa senang. “Baiklah! Jika hari itu tiba aku pastikan Anda akan terkejut dengan kemampuan yang hebat.”
“Aku pegang kata-katamu,” ujarnya lalu masuk ke kereta.
Levi meloncat dengan tangan terkepal ke udara. Ia sekali lagi mengucapkan salam perpisahan sebelum berlari masuk menyusuri Ginko Forest. Perjalanan bersama Lord Betelgeuse membuka banyak pikirannya tentang banyak hal. Ia juga merasa senang karena bisa dekat dengan seseorang. Meksipun ia membenci hampir seluruh aspek yang ada di sekolahnya, tapi ada satu orang yang membuat kebenciannya tertahan.
“Lain kali, aku harus mengajak Lily James makan malam berdua,” gumam Levi kepada pepohonan. “Kira-kira dia bersedia tidak, ya?”