Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Levi Strauss and the Journey to the North-West - Watch and Learn




Watch and Learn


“JANGAN MENANGIS, LEVI. Ayah mengerti perasaanmu, Nak. Kehilangan sosok ibu memang menyakitkan. Namun, begitulah dunia bekerja. Suatu saat kita pasti juga akan berpisah. Maka dari itu, kuatkanlah hatimu. Jangan berlarut dalam kesedihan. Tunjukkan pada dunia bahwa kau adalah anak yang kuat dan pantang menyerah!”


Mata Levi terbuka. Semburat mentari menyiram tubuhnya yang terlentang di udara. Levi tidak merasakan apa-apa selama beberapa saat. Hanya ada putih di sekitarnya. Bahkan rasanya dunia seakan melambat. Suara dari masa lalu bergema berulang kali di dalam kepala anak itu. Levi mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya, tapi saat ini ia hanya mampu mengangkat tangan kiri. Ada sarung tangan lecet terlihat saat tangannya terangkat. Sarung yang memiliki simbol. Mendadak, Levi tersadar dan dunia kembali semula.


Ia ingat kalau sedang melawan raja kalajengking.


“Apakah monsternya—“


“Diamlah, Penggerutu.” Seseorang berkata sambil membopong tubuh Levi. “Kupikir kau akan berakhir menjadi potongan daging, tetapi aku salah menilaimu. Bagaimana? Enak tidak tidurnya, Levi Staruss?”


Levi bengong saat mengetahui bahwa yang sedang menggendongnya bagai seorang putri adalah Lord Betelgeuse. Ditambah lagi, pria berambut hitam itu kini mengedipkan sebelah mata sambil melemparkan senyum tidak biasa. Mendadak Levi meronta-ronta minta dilepaskan dan … bruuuk!


“Ups! Bukan salahku, ya? Kau yang meminta hal ini,” ujar Lord Betelgeuse dengan nada tidak berdosa setelah ia melepaskan genggamannya.


Di bawah sana, Levi mengaduh karena punggungnya yang memiliki bekas sayatan terkena hantaman pasir gurun. Ia mengerang sambil meneriaki nama Lord Betelgeuse. Pria itu tidak menghiraukan karena ia baru saja menggaruk telinga. Ia maju mendekati raja kalajengking yang kini sudah menampakkan diri. Aura amarah yang menggebu dari monster itu tidak mereda, justru malah sebaliknya.


` “Itulah mengapa aku benci melawan monster. Mereka pikir dengan menggeram akan terlihat menakutkan. Padahal, bagiku itu terkesan memaksa,” ujarnya sambil memutar bola mata. Lord Betelgeuse berjalan dengan santai mendekati makhluk itu. Meskipun udara disekitar berusaha menekannya, pria itu tidak menunjukkan reaksi waspada. Ia malah mengejek raja kalajengking dengan pandangan yang sinis. “Kenapa? Kau kesal, ya, karena aku ejek, monster rendahan?”


Geraman kembali mengudara bersama datangnya serangan dari raja kalajengking. Capit raksasa menerjang tepat ke arah Lord Betelgeuse yang saat itu menyeringai lebar. Tabrakan tak terelakkan, sekali lagi menciptakan badai pasir. Levi menunduk dan berusaha bertahan agar tidak terempas. Ia mencari-cari keberadaan Lord Betelgeuse sambil berharap capit raksasa itu tidak melukainya. Bagaimanapun, capit kalajengking itu sangat mematikan. Sekali saja terkena sabitannya, mereka akan berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet.


“Lord Betelgeuse?”


Levi memanggil nama raja Malice Island dengan nada yang sumbang. Kedua bola matanya memeriksa keadaan yang sudah hening. Walaupun Lord Betelgeuse menyebalkan, tetapi ia tidak ingin kehilangan sosoknya. Sejak perjalanan ini dimulai, Levi mulai menyukai pria itu. Ia merasakan adanya kehadiran sosok ayah pada diri Lord Betelgeuse. Meskipun, ia pernah berniat mengoleksinya menjadi objek penelitian, Lord Betelgeuse tidak benar-benar marah ataupun dendam kepadanya. Bahkan, saat ia mengira Lord Betelgeuse hendak menjadikannya tumbal, pria itu justru menolongnya. Levi menggertakkan gigi gerahamnya. “Lord Betelgeuse, jawablah!”


Ketika pandangannya mulai jelas, senyum lega terkembang di wajah Levi. Ia menemukan sosok yang dicari. Lord Betelgeuse masih berdiri tegap ditempatnya, bahkan tidak beranjak sedikitpun. Hanya, di sekelilingnya sudah ada tangan-tangan kegelapan yang menahan capit raksasa kalajengking. Tangan yang keluar dari bayangan Lord Betelgeuse. Itu … sihir hitam? bisiknya dalam hati.


“Jangan cemas, Levi,” ujar Lord Betelgeuse seakan tahu isi pikiran Levi. “Aku tidak akan mati dengan mudah. Well, meskipun pada akhirnya semua yang bernyawa akan merasakan kematian, tetapi tidak untukku sekarang. Harga diriku akan jatuh jika terbunuh oleh makhluk rendahan ini dan seseorang yang berkuasa di Maple Academy akan menari-menari jika itu terjadi. Takkan kubiarkan Fairy blasteran menyebalkan itu tertawa.”


Levi bergerak menuju tempat yang aman. Dalam pikirannya, ia menduga-duga apakah yang dimaksud Lord Betelgeuse adalah kepala sekolahnya atau tidak. Jika itu benar, pasti ada hubungan atau peristiwa yang terjadi antara orang-orang itu di masa lalu. Dia akan mikirkan cara untuk mencari tahunya nanti. Ya, nanti. Karena sekarang, Levi lebih memilih duduk beristirahat dengan perih yang masih bersarang di punggungnya. Rasa sakit ternyata membuat seseorang tak bisa berpikir dengan jernih.


“Grraaahhhh!”


“Menyerahlah, monster. Nyawamu akan kuampuni jika pergi dari sini sekarang juga.”


Namun, perkataan Lord Betelgeuse justru membuat raja kalajengking semakin kesal. Harga dirinya sebagai raja penguasa gurun antah-berantah itu terinjak oleh orang asing. “Oh, tidak mau, ya? Baiklah jika itu yang kau inginkan,” balas Lord Betelgeuse lagi. “Levi Strauss, sekarang aku akan mengajarkanmu cara menghadapi musuh satu lawan satu. Pertama, kau harus tenang dan jangan pernah menunjukkan ketakutan. Mengapa? Karena predator dapat merasakan aura ketakutan pada mangsanya. Jangan memposisikan dirimu sebagai mangsa!”


Di ujung sana, raja kalajengking tampak menyiapkan kuda-kuda. Makhluk itu tiba-tiba meloncat dengan ekor runcing yang sudah siap siaga menusuk targetnya. “Kedua, berikan intimidasi kepada lawanmu. Itu akan membuat mereka berpikir dua kali untuk menyerang.”


Benar saja, setelah Lord Betelgeuse menyampaikan hal itu, raja kalajengking tiba-tiba berhenti di tempat. Wajahnya menengadah ke atas, menampilkan raut ketakutan. Seakan-akan yang dilihatnya saat ini adalah sosok yang begitu besar, begitu kuat, dan memancarkan aura menakutkan. Monster itu mundur ke belakang saat seringai penuh kemenangan dari seorang malaikat jatuh baru saja mengembangkan sayap-sayap hitamnya yang besar. Sayap-sayap itu bahkan menutupi sebagian sinar matahari, seperti keadaan gerhana. “Ketiga, berikan serangan menyakitkan kepada musuhmu.” Lord Betelgeuse mengangkat kedua tangannya. Dari sana, energi hitam berkumpul membentuk bola void yang besar. Sihir tersebut dilancarkan ke arah monster dengan kecepatan penuh, sampai ledakan dahsyat mengguncang tempat itu.


“Apakah dia sudah mati?”


“Belum, monster itu kubiarkan sekarat,” jawab Lord Betelgeuse. Ia menghampiri Levi yang penuh keringat karena menahan rasa sakit. Satu jarinya mengeluarkan sihir yang dapat mengibaskan jas Levi. Lord Betelgeuse membuka pocket yang tergantung di pinggang anak itu dan mengambil salah satu tabung berisi cairan berwarna biru. “Pelajaran terakhir untukmu, Levi Strauss. Jangan pergi sebelum musuhmu benar-benar ‘kalah’. Sekarang, kita mulai adegan penutupnya.”


“M-maksudnya?”


Lord Betelgeuse hanya memberikan isyarat agar Levi memperhatikan. Pria itu mendekati sosok monster yang terkapar dan melolong lemah. “Sebagai seorang raja, kau lebih memilih melawan meskipun kemampuanmu tidaklah sebanding. Baiklah, sebagai hadiah atas keberanian itu, kematianmu tidak akan berakhir sia-sia.”


Tabung berisi senyawa biru yang dipegang sang malaikat dilempar ke tubuh rikuh raja kalajengking. Hidrogen. Saat senyawa itu menyentuh udara, genangan air muncul membasahi gurun di bawahnya. Menjadikannya seperti danau kecil. Air tersebut menelan kalajengking yang tidak bisa lagi menghindar. Di tengah peristiwa yang masih menimbulkan pertanyaan, Levi melihat bagaimana sosok Lord Betelgeuse melapalkan sebuah mantra sihir, kemudian mengarahkan tangannya ke permukaan danau.


“Dark Magic: Demon Rose Garden.”


Ajaib, entah bagaimana caranya sulur akar berduri tajam keluar dari dalam genangan. Akar-akar itu memenuhi seluruh danau, mengurung sosok tak berdaya di dalamnya. Suara erangan terakhir dari raja kajalengking menandakan pertarungan telah berakhir. Levi kaget tidak percaya. Ia mengucek mata karena baru saja melihat darah mengalir dari balik sulur-sulur itu. Tak lama kemudian, bunga mawar bermekaran dari sana. Bangkai itu seketika berubah menjadi taman mawar yang indah.


“Kematiannya tidak sia-sia. Ia berakhir menjadi keindahan di tengah gersangnya gurun pasir,” ujar Lord Betelgeuse. “Bukankah ini adalah sebuah mahakarya, Levi Strauss?”


“A-aku ….” Levi hendak berdiri ketika kepalanya berputar-putar. Pandangannya seketika mengabur dan ia jatuh terjerembap ke tanah. Napasnya mulai tidak teratur dan sayatan dipunggungnya kembali memberikan rasa perih. Sial, aku pasti terkena racun, gumamnya.


Merasa tidak bisa menggerakkan tubuh, Levi memandang langit yang bersih tanpa awan. Ia tertawa kecil sambil menduga apakah hidupnya akan berakhir di sini. Seseorang memandangi tubuhnya yang melemah, Levi yakin itu adalah Lord Betelgeuse. Namun, dua sosok lain muncul dari belakang pria itu. Sosok yang ia kenal, tapi pandangannya sekarang sudah semakin memudar. Dua sosok familier itu mendekatinya sambil bersuara. Tanpa sadar, Levi meneteskan air mata.


“A-yah … I-ibu ….”


Lalu ia terlelap.