Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
The Vision from the Sky - Comrade




Comrade


SEEKOR NUSKABADORI MENYANYIKAN sebuah lagu pengantar tidur di jendela kamar Shalima. Gadis itu tengah tertidur sangat lelap, entah karena lagu nina bobo atau gelang batu yang dikenakannya. Tak lama kemudian, Shal menemukan dirinya terbang di langit malam. Suara kepakan sayap naga terdengar seperti biasa.


Kalau Malachite berhasil menghubungimu dalam mimpi, bukankah kau sendiri bisa berbicara secara langsung dengannya?


Itu yang dikatakan Mr. Navarro saat mereka bertemu tadi siang. Shal meminta Mr. Navarro untuk menyampaikan pesan kepada Malachite kalau beliau tak sengaja bertemu dengan kadal itu dalam penyelidikan.


 Rupanya, gambar lubang gua yang hilang—entah bagaimana—bisa berada di tangan Pak Kepala Sekolah. Begitu mendengar cerita Zovras soal Shalima yang bermimpi aneh, Mr. Navarro langsung memanggil Shal untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Pria itu juga meminjam gambar-gambar Zovras yang lain untuk dipelajari.


Ternyata, beberapa waktu lalu, Harpi gila yang sempat bikin kekacauan di kandang satwa pernah berkunjung ke gua yang ada dalam gambar: Gua Khatuna di Pulau Autumnland. Mr. Navarro curiga ini ada hubungannya dengan pecahan batu asteroid. Pria keturunan Fairy dan Wizard itu kini sedang menyelidiki kemungkinan pecahan batu asteroid dengan radiasi aktif di wilayah lain, yang bisa saja ada hubungannya dengan lokasi di mimpi-mimpi Shalima. Apalagi, Shal juga bermimpi tentang pecahan batu asteroid di kedalaman magma yang ada di gunung berapi Pulau Autumnland.


Sudah ada dua orang yang menyarankannya untuk menjalin komunikasi lewat mimpi dan sudah dua orang pula yang meyakinkannya bahwa mimpi itu adalah penglihatan dari Malachite. Jadi, Shal merasa dia memang harus mencoba berkomunkasi dalam mimpinya.


“Mala … Mala ….” Shal mencoba memanggil sahabatnya itu.


 Menurut Kepala Sekolah, komunikasi jarak jauh dengan pet contract memang beragam. Ada yang telepatinya langsung klop, ada juga yang butuh latihan berbulan-bulan. Mengingat Shal dan Malachite berpisah tak lama setelah “teken kontrak”, wajar saja kalau mereka masih saling menduga dalam berkomunikasi.


Walaupun tidak terdengar jawaban, Shal tidak putus asa. Dia terus-terusan memanggil Malachite, bahkan memanggil-manggil Naga Porsesa beserta anak-anaknya.


“Shal? Shalima? Hai … hai Shal!” Tiba-tiba terdengar suara yang sangat Shalima rindukan. Ini suara sahabat kadalnya! Walaupun sudah berbulan-bulan mereka berpisah, Shal bisa tahu ini benar-benar suara Malachite!


“Mala, kau di sana? Ini benar kau, kan?” seru Shalima excited.


“Iya, ini aku, Shal! Akhirnya, telepati ini berhasil juga!”


Malachite langsung bercerita bahwa setelah berpisah dari Shal, dia mengikuti Naga Porsesa karena ingin mengetahui soal mutasinya. Ternyata, Naga Porsesa berkenan ditemui. Malah, kadal itu diizinkan terbang bersama Naga Porsesa dan anak-anaknya untuk menjelajahi beberapa benua dan dunia, sekaligus meningkatkan spiritualitasnya.


Kadal itu bahkan mengaku sudah diadopsi menjadi anak keempat Naga Porsesa dan diasuh bersama dengan anak-anaknya. Mala lalu memperkenalkan naga-naga itu seperti keluarganya sendiri. Misalnya, Aiszarga, nama asli dari Naga Porsesa, yang kini dipanggilnya Ama—Ibu. Dia juga memperkenalkan Param, anak sulung Aiszarga yang berwarna keunguan; Kahue, anak naga yang berwarna kecokelatan; dan Baharu, anak naga yang berwana kebiruan.


“Suatu hari, Ama merasa ada yang berbisik kepadanya kalau seseorang sangat ingin bertemu denganku. Makanya, dia menyuruhku menghubungimu dengan cara termudah, yaitu telepati melalui mimpi,” beber Mala.


Wah, apakah ini artinya bisikan semesta lewat kunang-kunang harapan berhasil?


Kini gantian Shal yang bercerita panjang lebar soal kunang-kunang harapan, insiden asap hitam, pertemuannya dengan Thann di akademi, pertengkaran Amara dan Valfred, Zovras yang menggambar penglihatan dari Malachite, sampai kepala sekolahnya yang merasa ini semua ada hubungannya dengan batu pecahan asteroid.


“Ama memiliki firasat buruk berkaitan dengan sahabat-sahabatnya, beberapa batu yang tersebar di berbagai wilayah. Akhirnya kami kembali ke Maple Island untuk memeriksanya. Saat itulah pertama kali aku melakukan telepati jarak jauh denganmu.”


“Oh, yang kau terjun bebas ke gua itu?”


“Ah, iya. Saudara-saudaraku itu memang suka bermain-main denganku, termasuk menjatuhkanku dari ketinggian dan menyemburkan nafas apinya ke arahku. Sekilas info, aku ternyata kebal api!”


“Wow, that’s so cool! Eh, keren, maksudku,” seru Shal bangga.


Jangan selalu mempercayai apa yang kau pikirkan saja. Buka pikiranmu pada kemungkinan-kemungkinan lain.


Shal masih tidak paham dalam konteks apa Thann mengatakan hal itu. Namun, untuk saat ini, nasihat itu applicable sekali.


“Waktu Param menjatuhkanku ke gua, sebenarnya kami mau memeriksa batu sahabat Ama yang ada di dasar sungai dalam gua. Saat kami tiba, batunya sudah hancur. Ama terlihat sangat sedih.”


“Apakah batu-batu ‘sahabat’ ibumu itu berbahaya? Setahuku, batu pecahan asteroid memancarkan radiasi yang bisa menyebabkan kegilaan.”


“Ama bilang sahabat-sahabatnya itu memang punya kekuatan besar, sehingga dia pergi dari satu tempat ke tempat lainnya untuk memeriksa keberadaan mereka dengan teliti. Batu-batu itu kurasa memang magis. Bukankah kekuatan yang kau miliki juga berasal dari asteroid?”


Shalima termenung. Dia teringat pada tulisan dalam buku pengantar Maple Academy yang berkali-kali dia baca saat tahu akan bersekolah di sana.


Asteroid Emas yang menghantam Bumi pada tahun 2222 menimbulkan kerusakan parah pada permukaan Bumi. Namun, asteroid yang berasal dari inti planet purba itu juga melepaskan energi kosmik, sehingga beberapa anak yang lahir setelah bencana tersebut memiliki kekuatan dan bakat luar biasa.


Gadis itu diingatkan bahwa kekuatan, bakat, dan keberuntungan yang dia miliki bersumber dari sesuatu yang pernah menimbulkan bencana. Bisa ada hal baik dari kejadian yang buruk. Shal juga jadi ingat saat Amara bilang pikiran makluk itu kompleks dan terdiri dari banyak warna atau rasa. Walaupun kopi pahit, bukan berarti tidak bisa dinikmati.


“Ngomong-ngomong, batu asteroid memang jadi incaran banyak pihak. Ingat orang jahat dengan tattoo matahari hitam yang menyerangmu di Ginkgo Forest? Aku bertemu pria lain dengan tattoo yang sama di Pulau Cermin. Waktu itu juga kayaknya aku berusaha menghubungimu, tapi koneksinya terputus karena aku harus menolong seorang penduduk pulau yang diserang oleh pria itu.”


“Si gadis berambut biru itu, ya?”


“Iya. Setelah kami menolongnya, dia malah menghilang. Mungkin dia ketakutan.”


Tiba-tiba pikiran mereka beralih saat melihat kilatan petir dari kejauhan.


“Kata Ama, itu petir abadi.”


Shal terkesima melihat pemandangan di atas langit yang bisa begitu menegangkan. Gadis itu sadar bahwa hal-hal yang dia lihat selama ini adalah penglihatan Malachite. Dia melihat melalui mata Malachite.


“Aku masih belum bisa ada di sampingmu saat ini. Kuharap kau tidak keberatan. Aku masih mau melihat banyak hal dan belajar dari Ama,” pinta Malachite.


“Tentu saja aku tidak keberatan, Mala! Kita bisa terus berlatih membangun komunikasi. Kuharap kelak kita bisa melakukan telepati di luar mimpi. Sejauh apa pun kita berpisah, kita pasti selalu menemukan cara untuk saling terhubung. Jiwa kita sudah terpaut dan menyatu, ‘kan?” ujar Shalima.


“Betul sekali! Kita harus terus berlatih supaya aku juga bisa melihat melalui matamu, Shal. Tidak sabar rasanya aku melihat teman barumu yang charming itu. Gini-gini, aku bisa diandalkan untuk menyaring lelaki, apalagi setelah ikut bimbingan spiritual Ama,” tutur Malachite bangga.


Shal tertawa mendengar perkataan Malachite. Dia turut bahagia untuk sahabatnya itu karena bisa bertualang dan mengembangkan diri. Beberapa bulan lalu dia hanyalah kadal kecil dalam sebuah gua di Ginkgo Forest. Setelah sempat mengalami krisis identitas, sekarang dia sangat menikmati menjadi anak angkat Naga Porsesa—eh, Aiszarga—naga spiritual yang luhur. He gets both a mother and the best teacher all at once!


Tiba-tiba, terdengar teriakan Aiszarga, seperti memperingatkan anak-anaknya. Dari ketinggian, Shal bisa melihat badai sedang melanda sebuah pulau.


“Aku harus bersiap-siap karena Ama bilang kami akan mengalami fase elektrostatis. Aku tidak tahu maksudnya apa, tapi kayaknya ini bakalan keren!”


Shal tertawa lagi karena sahabatnya itu sangat bersemangat mengalami hal-hal baru. Dalam sekejap, Param, yang ditumpangi Malachite, mempercepat laju terbangnya. Tampaknya, dia dan adik-adiknya sedang berlomba siapa yang tercepat memasuki kawasan awan petir. Komunikasi Shal dan sahabatnya itu terputus saat petir menyambar Malachite.