Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
The Vow in Ginkgo Forest - First Punishment




First Punishment


SUNMARKET ADALAH SALAH satu tempat yang istimewa bagi penduduk Maple Island. Berbagai toko yang menyediakan semua kebutuhan penduduk Maple Island. Dan tidak hanya untuk penduduk, Sunmarket juga memiliki toko-toko yang bisa dinikmati oleh siswa akademi.


Thedon Ulsador berjalan tegap mengekori seorang wanita bergaun merah dengan belahan dada rendah. Wanita itu tersenyum setiap melewati makhluk-makhluk berjenis kelamin laki-laki.


“Miss, haruskah saya yang menemani Anda?” tanya Thedon sopan. Dia berbisik pelan di telinga pustakawati sekolah.


“Tentu saja. Kepada siapa lagi saya bisa meminta bantuan kalau bukan kepada prefek sekolah.” Miss Therenia mengerling genit, membuat Thedon mundur beberapa langkah dan mulai menjaga jarak. Terkadang kerlingan dan senyuman Miss Therenia terlihat menakutkan di matanya.


Meskipun sejauh ini tidak ada siswa yang pernah terpengaruh dengan sihir succubus, Thedon tetap mencoba untuk menjaga jarak. Semua siswa tahu sihir succubus terhalang oleh kontrak kerjanya dengan Kepala Sekolah. Masalahnya, Thedon saat ini berada di luar dinding akademi.


Miss Therenia berhenti di depan Bibliohile Store. Thedon yang hanya mengekori akhirnya ikut berhenti. Saat dia melihat papan nama di etalase kaca, laki-laki itu menatap Miss Therenia dengan ngeri.


“Miss?” panggil Thedon.


“Ya?”


“Kita berhenti di depan Bibliophile Store.”


Miss Therenia menengok. Bibirnya yang terpulas merah stroberi tersenyum. “Iya, tentu saja. Ada pesanan buku yang perlu aku ambil.” Wanita itu melangkah ke dalam toko.


Thedon masih berdiri di tempatnya. Dia hanya melihat sambil menghela napas panjang. Bukankah tempat ini terlarang untuk siswa?


 Saat Thedon masuk ke Bibliophile Store, laki-laki itu mengernyitkan hidung. Isi toko ternyata memang tidak jauh dari bayangannya. Beragam buku tebal tampak bertumpuk tidak beraturan di lantai toko. Rak-rak di sepanjang dinding nampak seperti tidak pernah disentuh atau dibersihkan. Namun, satu hal yang tidak diduga oleh remaja itu, pengunjung di Bibliohile Store ternyata tidak sedikit.


Thedon perlu beringsut maju sedikit ke dalam toko untuk menemukan Miss Therenia yang sedang asyik mengobrol dengan goblin berkacamata tunggal. Wanita itu terlihat terkikik sambil menutup mulut. Tertawa atas gurauan goblin yang terlihat seperti lelaki tua keriput di mata Thedon.


“Kemarilah, Nak,” panggil Miss Therenia yang melihat Thedon hanya berdiri. “Kita harus menunggu sebentar. Buku-buku yang akan kita ambil mereka simpan di tempat tertentu.”


Thedon hanya mengangguk. Meskipun Miss Therenia menawarkan sebuah kursi di sebelahnya, laki-laki itu memilih untuk sedikit menjelajahi toko tersebut. Berbagai buku sangat lengkap di toko ini. Tidak sedikit buku mencurigakan juga ada di sini. Apakah siswa dilarang membeli buku di sini? Kalo iya, sepertinya aku harus menandai toko ini.


Saat Thedon kembali ke tempat Miss Therenia, wanita itu tidak terlihat di mana pun. Prefek utama akademi hanya bisa mendengkus. Dia tidak menyukai tingkah pustakawati sekolah yang kadang suka seenaknya.


“Ini buku-bukunya, Nak.” Goblin lainnya menaruh dua tumpuk buku di dekat Thedon.


“Err … ini buku siapa, Sir?” tanya Thedon pelan, demi sopan santun.


“Tentu saja pesanan Nona Succubus tadi. Ke mana dia?”


Thedon hanya menggeleng. Goblin itu pun mendengkus kesal. Ternyata ada yang sama kesalnya sepertinku, batin Thedon. Matanya tiba-tiba menangkap sinar dari salah satu buku. Tangannya terjulur menyentuh buku tersebut.


Namun, sebuah tangan kecil menangkap pergelangannya. Goblin di depannya menggeleng. “Hati-hati, Nak. Tidak semua buku layak dibaca. Terutama oleh siswa akademi sepertimu.”


“Apa maksud Anda, Sir?”


“Aku akan memberi sedikit saran karena kau bersikap baik dan sopan. Apa pun yang kau lihat tadi, itu hanya sebuah kilau memabukkan. Bukan berarti akan menunjukkan apa yang dia punya. Itu hanya sebuah ilusi. Ada syarat tertentu yang hanya bisa dipenuhi oleh orang-orang pilihan. Misalnya darah ….”


“Nah, bukunya sudah siap.” Miss Therenia tiba-tiba muncul di belakang Thedon. Menghentikan kalimat goblin yang langsung berbalik badan, meninggalkan Thedon yang masih bingung.


“Hanya sebuah tempat kecil,” bisik Miss Therenia sambil tersenyum aneh. Goblin berkacamata tunggal muncul di belakang wanita itu tersenyum semringah, membuat Thedon menatapnya aneh.


“Baiklah, Mr. Ulsador. Sekarang aku membutuhkan bantuanmu untuk membawa semua buku-buku itu ke akademi.”


 Dengan tambahan beberapa buku yang cukup berat, Thedon berjalan di belakang Miss Therenia. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala melihat pustakawati sekolah yang melenggang sambil tebar pesona. Dia bahkan yakin apa yang dikerjakan wanita itu dengan Goblin berkacamata tunggal di ‘tempat kecil’, berhubungan dengan sihirnya sebagai succubus.


Kembali ke akademi, Thedon melewati beberapa toko yang banyak dimasuki oleh siswa. Dia sempat melihat Adniel dan Elle yang berjalan menuju Waymart. Salah satu toko yang menyediakan kebutuhan siswa akademi. Dua siswa itu tidak terlalu menarik perhatian Thedon, apalagi saat menengok ke Gameloft, dia bisa melihat Elf berambut merah yang dikuncir kuda berjalan beriringan dengan pemuda berambut gelap. Thedon terus saja memperhatikan Chalia dan Baskara yang mengobrol seru.


Bruugh!


Tubuh jangkung Thedon tersungkur di atas jalanan berbatu Sunmarket. Buku-buku yang dibawanya berjatuhan. Tanpa mememedulikan sekitarnya, Thedon segera bangkit dan merapikan buku-buku itu. Dari ekor matanya, Thedon melihat ada ujung batu yang tak rata di jalan. Kakinya  tersandung ujung batu tersebut. Sial, gara-gara tidak  fokus. Malah jadi begini.


Beberapa orang membantu Thedon mengumpulkan buku yang berserakan. Thedon hanya bisa membungkukan badan sebagai ucapan terima kasih. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya, tanpa menghitung jumlah buku. laki-laki itu bergegas menyusul Miss Therenia yang sudah jauh melangkah meninggalkannya. Tidak peduli sediki tpun dengan insiden yang baru saja menimpanya.


Dasar perempuan iblis! umpat Thedon


  “KENAPA BISA HILANG?!”


Suara teriakan yang hampir menjerit itu terdengar menggelegar di telinga Thedon. Dia hanya  bisa diam tak menjawab. Kepalanya menunduk menatap lantai perpustakaan. Di meja Miss Therenia berserakan buku yang dibawanya dari Bibliohile Store. Namun, ternyata ada satu buku yang tidak ada. Sebuh buku yang menurut wanita itu sangat penting.


“Itu adalah buku pesanan khusus. Kau tidak tahu berapa biaya yang harus kukeluarkan demi mendapatkan buku itu! Aaarrggh!!” Miss Therenia menjerit kesal. Thedon melihat ada taring yang muncul di antara gigi-gigi cantik Miss Therenia.


“Bagaimana kejadiannya?” tanya Miss Therenia garang.


“ Saya terjatuh, Miss.”


“Lalu?”


“Saya tidak tahu.” Hanya itu yang bisa diucapkan Thedon karena memang itulah faktanya.


“Aaarrgghh! Jawaban apa itu? Kamu perlu tahu, buku itu pesanan Mr. Navarro. Kalau dia tahu itu hilang ….” Miss Therenia tidak berani membayangkan kelanjutan dari kalimatnya yang menggantung.


Thedon tersentak begitu Miss Therenia menyebutkan nama kepala sekolah. Hal yang tidak ingin dilakukannya adalah mengecewakan pihak sekolah, terutama kepala sekolah.


“Sebagai bentuk tanggung jawabmu, kamu harus mencarinya! Sampai ketemu!” putus Miss Therenia.


“Siap!” Thedon menjawab lantang. Ini semua demi nama baiknya sebagai prefek utama. Dia harus bisa memperbaiki kesalahannya.


“Dan saya rasa kamu tidak bisa mencarinya sendirian.” Sebuah suara membuat Thedon dan Miss Therenia menoleh. Mr. Samael berdiri sambil memegang sebuah buku yang terbuka.


“Hai, Sam,” panggil Miss Therenia dengan syahdu.


Mr. Samael hanya mengangkat sebelah alisnya. Dia meletakkan buku yang dipegangnya ke meja terdekat lalu mendekati Thedon. “Saya sarankan kau pergi bersama Mrs. Aetoris,” ucapnya setelah berpikir selama beberapa detik. “Dia partner yang terbaik untuk tugas dadakan ini.”


Thedon menahan napas saat Mr. Samael mengucapkan nama itu. “Maksud Anda, Sir?”


“Keahliannya sebagai super-sense tentu akan membantumu.”