Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Secret Mission to Mirror Island - Memories




Memories


NAVARRO BERJALAN MENJAUHI para muridnya yang berisik, terutama Habibie dan Addison yang heboh karena Helena akan dibawa ke akademi. Hal itu mengingatkan dirinya pada masa-masa silam, ketika Half-Blood Noblesesses masih utuh dan tidak ada perpecahan di antara mereka.


Masa-masa itu mungkin tidak akan terulang lagi. Ketika mereka sama polosnya dengan anak-anak itu dan tidak ada ambisi terpendam yang akan menghancurkan persahabatan mereka.


Navarro memandang Mirror Island yang retak. Pulau ini mempresentasikan sesuatu yang ingin dilihat. Ia membayangkan Half-Blood Noblesses dalam formasi lengkap dengan memakai seragam Wisteria Academy, tetapi tidak ada apa-apa selain kekosongan.


“Kenapa tidak ada muncul apa pun? Apa karena aku tidak begitu ingin melihat mereka lagi?” tanyanya kepada diri sendiri.


Navarro kemudian membayangkan seseorang dari masa lalu. Tidak berapa lama, sulur-sulur cahaya saling berkelindan dan membentuk seorang gadis cantik berambut hitam dengan gaun putih berornamen merah dan emas yang sedang tertidur.


“Bangunlah, Putri Tidur. Mau sampai kapan kau tidur? Keadaan sekarang semakin kacau. Waktunya sudah tidak lama lagi. Aku masih membutuhkan pertolonganmu sekali lagi.”


“Dia siapa, Sir?” Tiba-tiba Addison telah berdiri di belakangnya, diikuti Habibie, Thann, dan Helena.


Navarro segera membalikkan tubuh dan memasang ekspresi senormal mungkin. “Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang dari masa lalu. Kalian sudah siap?” balasnya sambil berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Dia cantik sekali. Meski sedang tidur pun wajahnya terlihat bercahaya. Aku ingin sekali berkenalan dengannya,” celetuk Habibie.


Navarro memandang Habibie lebih dekat. “Saya sarankan tidak, karena sainganmu bukan orang sembarangan.”


“Sir, saya tidak mau jadi tukang kipas lagi,” protes Thann sambil menggenggam dua kipas Hello Kitty di tangannya.


Navarro tertawa. “Tidak usah, kali ini kita akan pakai portal. Terima kasih atas kerja kerasnya, Thann. Shalima pasti bangga padamu.”


Setelah Navarro berbicara seperti itu, seekor burung pos ke mana saja, kecuali ke neraka datang dan hinggap di bahu kepala sekolah. “Wah, ada surat darurat untukku. Apa isinya, ya? Perasaanku jadi tidak enak.”


Wajah Navarro yang awalnya bahagia langsung berubah setelah selesai membaca surat itu. “Pulang ke akademi sepertinya akan berbahaya. Apa kalian mau kita jalan-jalan ke Hiddenland dan berkunjung ke rumah Habibie dulu?”


“Eh, kenapa tiba-tiba, Sir!” Habibie langsung panik karena akan dikunjungi oleh kepala sekolah.


Navarro menyerahkan surat itu kepada Habibie. “Miss Elafir baru saja mengamuk setelah mendapat tagihan karena aku memanggil meteor dan menyebabkan kerusakan bawah laut.”


“Wah, berbahaya sekali. Kami tidak ikutan soal ini, Sir,” ucap Addison dan berusaha lari dari masalah.


“Jadi kita akan ke Hiddenland, Sir?” tanya Thann bersemangat karena itu berarti bisa mengunjungi tanah kelahiran Shalima.


Kepala sekolah itu mengangguk. “Helena, ke sini sebentar. Bajumu sangat berbahaya sekali di tengah para buaya ini. Aku akan membuatkan baju yang lebih aman untukmu.” Navarro merampalkan mantra dan baju Helena yang transparan berubah jadi seragam misi siswa akademi. “Seperti ini lebih aman dan mata para buaya tidak ke mana-mana ketika berbicara padamu.”


Navarro membuat portal di atas Mirror Island yang retak dan mereka pun menuju Hiddenland, tetapi malah tersesat di Invisibleland karena medan sihir yang tidak stabil di kawasan itu.


Petualangan mereka berlanjut di Invisible Kingdom.