
Asteroid Flakes
“HMMM… ADA ENAM orang ternyata,” ujar Levi ketika ia melihat lorong gelap menggunakan kacamata yang sudah disetel inframerah. Gelombang tersebut menangkap suhu panas dari orang yang berjaga. “Akan kuselesaikan dengan cepat. Setelahnya, aku tinggal menunggu aba-aba dari Lord Betelgeuse untuk meledakkan tempat ini. Gampang banget!”
Anak laki-laki itu berjalan memasuki kegelapan. Lorong gelap itu tidak terasa lembap bahkan dingin. Suhunya seperti suhu biasa, meskipun di ujung sana Levi melihat cahaya kecil yang berkedip-kedip. Apa pun yang memancarkan cahaya, pasti itu ada ada kaitannya dengan serpihan asteroid. Levi memegang bangunan ini, memeriksa tesktur bangunannya dengan saksama sebelum menyeringai lebar. “Ini sempurna. Karena Lord Betelgeuse menyuruhku untuk bebas melakukan apa pun, maka aku akan mencobanya sekarang.”
Levi membuka suitcase yang ia jinjing, mengambil beberapa jarum suntik yang berisi cairan dan beberapa bola-bola kaca yang berisi sesuatu serupa asap. Setelah selesai, ia meletakkan suitcase itu di lantai lorong sembari mundur beberapa langkah. Ia segera memencet tombol on pada remot tersebut hingga terdengar bunyi ‘bib’ yang cukup pelan. Suitcase tersebut membuka bagian yang lain berisi speaker. Ketika ia menekan tombol power, suara perempuan minta tolong menggema cukup keras.
“Hahaha… ada gunanya juga aku bolos dan merekam suara teriakan Lily James saat praktik pelajaran Zoologi,” gumam Levi sambil tertawa geli. “Penjaga itu pasti teralihkan.”
Benar saja, tak lama berselang derap langkah kaki datang mendekati Levi. Dari iramanya, ada sekitar dua orang yang menghampiri. Begitu sosok dua penjaga yang memakai pakaian kuno mesir dan tombak itu terlihat, Levi dengan cepat melemparkan dua buah bola berisi gas. Bunyi kaca yang pecah menandakan asap berwarna ungu gelap menyebar di sana. Levi mengambil masker antiradiasinya dan diam mematung.
Dua orang penjaga sempat mengoceh dengan bahasa yang tidak ia mengerti sebelum perlahan tumbang dan pingsan. Levi mendekati mereka dan mengecek keadaan. Tidak ada reaksi apa-apa yang ditimbulkan, menandakan kedua penjaga tersebut sudah tidak berkutik. Dengan langkah santai, Levi berjalan lagi dan melakukan aksinya kembali. Dua orang penjaga di lorong bagian tengah baru saja tumbang setelah ia menyuntikkan cairan tersebut ke leher mereka. Levi sempat ketahuan dan hampir saja jadi satai tusuk, tetapi untungnya ia berhasil menghindari serangan tersebut menggunakan kemampuan transmutasi. Saat penjaga terakhir dikalahkan, Levi mendadak merasakan tekanan kuat dari pintu besar di ujung lorong. Anak itu sempat mengalami terapi kejut karena energi yang menabraknya.
“Perasaan tidak enak macam apa ini?!” ujarnya gelisah. Energi yang ia rasakan membuat tubuhnya terasa berat. Bahkan untuk melangkahkan kaki saja, Levi merasa staminanya terkuras dengan cepat. Apalagi, ia sudah melihat sinar-sinar yang keluar dari ujung pintu. “Serpihan asteroidnya … pasti disimpan di dalam sana. Kalau begitu … aku sebaiknya melakukannya dengan cepat.”
Lalu, Levi membuka kembali suitcase dan mulai meracik sebuah bom waktu. Ada gunanya ia mencuri buku cara membuat bahan ledakan di perpustakaan sekolah waktu itu. Lord Betelgeuse memintanya meledakkan lorong bawah tanah ini, pasti karena ia tahu Levi mampu melakukannya. Ia terkekeh lagi, dalam pikirannya sekarang sudah berputar-putar pujian yang akan dilontarkan Lord Betelgeuse padanya. Setelah selesai, Levi menanamkan bom tersebut persis di dekat pintu masuk. Ia menengadah.
“Aku penasaran, apa yang sedang dilakukan Lord Betelgeuse di atas, ya?”
“Saya datang kemari ingin menawarkan pertukaran dengan Anda, Yang Mulia Ratu.”
Lord Betelgeuse yang menyamar sebagai seorang pengelana jauh menunduk di hadapan Ratu cantik itu. Parasnya indah dengan sentuhan rahang yang tajam, setajam matanya. Saat ia memandang, rasanya ada sesuatu yang berusaha menusuk Lord Betelgeuse. Mengintimidasinya. Pakaian yang ia kenakan juga bagai seorang Ratu Mesir. “Pertukaran? Lancang sekali kau! Berani menerobos ke istanaku dan ingin melakukan pertukaran.”
“Percayalah, saya sudah berkelana bertahun-tahun lamanya hanya untuk menunggu hari ini. Saya mendapatkan informasi yang sangat Anda butuhkan. Amat sangat Anda butuhkan.”
Sang Ratu tampak tidak tertarik. “Pembohong. Kau hanyalah pengelana yang tak tahu tujuan. Bagaimana bisa aku mempercayai orang sepertimu yang bahkan tidak bisa menetap di suatu negeri?”
Perkataan itu sedikit membuat Lord Betelgeuse kesal. Ia hampir saja membuka identitasnya, tetapi kesabarannya sedikit lebih besar. Lord Betelgeuse menyunggingkan senyum menantang. “Pepatah pernah mengatakan bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu dari sampulnya, Ratu. Apalagi sebagai orang yang berkuasa di tempat ini, Anda tentu tidak boleh merendahkan siapa pun, termasuk pengelana.”
“Katakan padaku, apa yang kau punya? Aku tidak memiliki banyak waktu.”
“Sesuatu mengenai kebangkitan,” ujar Lord Betelgeuse. Matanya yang tajam serupa ular menatap langsung ke hadapan sang Ratu yang mulai tertarik. “Kebangkitan atas seseorang yang sangat kalian impi-impikan.”
“Jangan bercanda!”
“Empat Darah!” teriak Lord Betelgeuse. “Bukankah itu yang sedang kalian tunggu?”
Keheningan yang lama mengerubungi aula tersebut. Semua mata terbelalak atas ucapan menggelegar dari Lord Betelgeuse. Ia terkikik geli melihat reaksi penguhi kastel emas ini. “Aku mempunyai sesuatu yang kalian cari-cari. Hanya, aku membutuhkan pertukaran yang adil.”
“Siapa kau, Pengelana?”
“Apa?”
Lord Betelgeuse menunjuk ke bawah. Ke arah lantai. “Aku mau kau menukarnya dengan sesuatu yang tersimpan di bawah sana. Di dalam peti itu, kau menyimpannya, bukan? Serpihan Asteroid Emas. Aku mau itu sebagai pertukarannya.”
Sang Ratu terbelalak. Ia tahu maksud dari perkataan Lord Betelgeuse. “Kau! Bagaimana bisa?!” teriaknya dengan nada penuh amarah. “Pertukaran ditolak! Sampai kapan pun, aku tidak akan menggadaikan serpihan itu.”
Lord Betelgeuse memutar kedua bola mata. “Well, kalau tidak mau, ya, sudah. Aku bisa mendapatkannya sendiri, kok. Lagipula, kalau kau menolak, kau akan kehilangan informasi berharga ini dan Empat Darah yang dipuja-puja itu tidak angkat pernah bangkit selamanya,” ujarnya dengan nada mengintimdasi sambil berjalan menjauhi sang Ratu. Kemudian, Lord Betelgeuse membalikkan wajahnya ke belakang dengan tatapan mengejek. “Dia hanya akan berakhir menjadi hantu. Menyedihkan, ya?”
“Kurang ajar! Penjaga tangkap makhluk tidak beradab ini!”
“Whoaa ….”
Para penjaga yang semula berdiri diam dengan cepat berusaha menangkap Lord Betelgeuse. Namun, karena kegesitanyya, pria itu dengan mudah menghindari serangan demi serangan dan mengoceh seolah penjaga yang ada tidak layak disebut petarung. “Aku jadi mengerti mengapa Empat Darah bisa kalah di masa lalu. Toh, pengikutnya lemah-lemah begini. Upss!” hina Lord Betelgeuse. “Jangan dimasukkan ke hati, ya, aku hanya—“
DUAR!
Energi keemasan menghantam tubuh Lord Betelgeuse. Asap tebal mengerubingi tempat itu. Beberapa detik, tidak ada suara yang tercipta di sana. Hingga, sepasang sayap berwarna hitam legam mencuat dari punggung pengelana yang menyamar.
“Kau!” teriak Sang Ratu. “Seorang Fallen Angel. Tangkap dia dan jebloskan ke penjara paling buruk!”
Mendengar pernyataan itu Lord Betelgeuse menghela napas panjang. “Jadi ketahuan, deh!”
Levi hampir saja terlelap jika suara hantaman keras tidak membangunkannya. Tanah di sekitarnya bergetar kuat dan menjatuhkan serpihan tanah dan bangunan. Ia mengerang kesakitan karena kepalanya terkena salah satu satu serpihan tersebut. Refleks, anak itu mengeluarkan kata-kata umpatan segar. “Sial, kupikir ada gempa bumi lewat, ternyata ini ulahnya Lord Betelgeuse. Menyebalkan banget!” gerutunya. “Apa sih, yang dilakukan om itu di atas sana?”
Levi mencoba berdiri meski rasanya tubuhnya memberat. Ia mengaduh. Padahal tubuhnya sudah dilindungi oleh Lord Betelgeuse, tetapi anak itu bertanya-tanya mengenai dampak yang ia rasakan masih sangat kuat. Levi berdiri seratus meter dari pintu sambil menunggu komando yang sudah dipersiapkan. Namun, karena Lord Betelgeuse tidak memberikan aba-aba, ia menjadi tidak sabaran. Terlebih rasa tidak nyaman di tempat ini membuat emosinya meningkat. “Ah, persetan!” pekik Levi. “Maafkan saya, Lord Betelgeuse, tapi saya harus meledakkan pintu itu sekarang.”
Tombol merah pada sebuah remot telah ditekan. Dua puluh detik baru saja menghitung mundur.
Lima belas … sepuluh … enam … tiga…
Satu. DUAR!
Kepingan pintu berserakan sembari membuncahnya cahaya emas dari dalam ruangan. Cahaya yang menyilaukan menjadikan tempat yang gelap menjadi seterang siang hari. Jika Levi tidak menggunakan kacamata pelindung, matanya mungkin saja buta. Ia bergerak perlahan ke dalam ruangan dan menemukan sebuah peti batu di tengah ruangan.
“Ini … persis seperti yang aku mimpikan.”
Anak itu melangkah sekuat tenaga mendekati peti, meskipun ia tahu energi tersebut berasal dari sesuatu di dalam peti. Tanpa babibu lagi, Levi mengaktifkan kemampuan alkimianya dan mengubah unsur pada peti tersebut.
Bunyi berdebum keras menandakan penutup peti telah terbuka. Ia memandang ke dalam sana. Alangkah kagetnya Levi saat yang ia temukan adalah benda yang mereka cari-cari.
“I-ini …betul-betul serpihan Asteroid Emas!”