
First Jealous
SUARA SORAK BERGEMURUH menarik perhatian Thedon yang berjalan melewati perpustakaan. Dia melirik sekilas sambil mengernyitkan dahi. Sebagai prefek, dia menyadari bahwa sebentar lagi waktu istirahat selesai. Sudah seharusnya perpustakaan tidak seramai ini.
Dia melangkah masuk dan mendapati hampir setengah dari siswa asrama fantasi justru memenuhi perpustakaan. Terlihat Ashlen, salah seorang siswa angkatan kedua dari ras Fallen Angel sedang berdiri di atas meja.
Thedon berdiam dan menyilangkan tangan. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Penasaran dengan hal yang akan disampaikan oleh salah satu siswa yang sudah diidentifikasi sebagai salah satu pembual terbaik di angkatannya.
“Kenapa kalian tidak percaya? Apa aku harus membuktikannya?” seru Ashlen.
“Ayo buktikan!” Lily James menjawab seruan Ashlen.
“Ya. Buktikan bahwa kau pernah berdekatan dengan asterois emas.” Kali ini suara Maya—teman satu frekuensi Lily, yang sama-sama selalu mendapat pengawasan khusus dari Thedon dan Shalima.
“Aish … kalian tidak pernah tahu, kan. Bahwa di Winterland, semua kekuatan sihir saling tarik-menarik ….” Ashlen sengaja menggantung kalimatnya. Dia sendiri berbicara dengan lambat sehingga terkesan dramatis.
Thedon yang mendengarnya hanya mengnagkat alis tak percaya. Dia memang belum pernah ke negeri para keturunan malaikat. Namun, teman seangkatannya yang juga berasal dari Winterland tidak pernah menceritakan hal tersebut. Teman-temannya justru sangat normal dibanding para Fallen Angel angkatan kedua ini.
Perlahan prefek utama itu mengamati siswa Fallen Angel angkatan kedua. Pertama, Ashlen Winter, si pembual. Thedon yakin dia terkadang menggunakan sedikit kekuatannya dalam bertutur kata. Laki-laki yang menarik tapi sayangnya berwajah cantik. Meminjam istilah Shalima, Ashlen berwajah ‘oppa-oppa Korea’. Istilah yang mungkin hanya dipahami para manusia.
Kedua, Mikaela Midagad. Siswa bertubuh tinggi besar itu justru terlihat seperti adiknya Mr. Samael dibanding siswa di Maple Academy. Belum lagi wajahnya yang tampak selalu serius. Tak jarang siswa lain merasa harus menghindar untuk berurusan dengan anak itu.
Ketiga, Sam Uine. Sejak awal tahun ajaran, remaja berambut putih panjang itu tampak mengagumi Lily James. Thedon menilai laki-laki itu akan mengikuti jejak teman asramanya yang gemar mengurangi point asrama. Salah satu siswa yang berada dalam list-nya.
Keempat dan sekaligus yang terakhir ada Claryn Raquel. Satu-satunya perempuan dari ras Fallen Angel yang diterima di Maple Academy angkatan kedua. Sejauh ini, dia hanyalah siswa yang tidak banyak tingkah. Entahlah, bagi Thedon, ada satu siswa yang bisa menjaga sikap adalah sebuah keajaiban. Dia terlalu banyak berpikir, begitu menurut Amara. Bisa jadi, Claryn adalah yang paling normal di antara sesama ras Fallen Angel tahun kedua.
Pengamatannya terinterupsi oleh suara gebrakan yang cukup kencang. Tidak hanya Thedon, tapi semua siswa yang saat itu berada di perpustakaan pun tersentak kaget. Seorang wanita cantik berambut panjang dengan gelombang di ujungnya berdiri di dekat meja tempat Ashlen bercerita. Laki-laki itu segera turun begitu melihat tatapan sinis dari wanita tersebut, sang penjaga perpustakaan.
Suara gebrakan keras itu berasal dari buku-buku tebal yang kini tersusun di atas meja. Thedon tampak terpukau dengan keahlian wanita tersebut yang sanggup membuat suara keras tanpa membuat buku berserakan.
“Maaf, Miss. Kami akan segera bersiap.” Sam yang berdiri tepat di sebelah wanita itu baru saja hendak mengangkat kaki untuk mundur secara teratur.
Miss Therenia—pustakawati sekolah yang teramat cantik itu mulai membuka buku-buku yang ia taruh di meja. Ada enam buku yang semuanya dibuka di halaman tertentu. Setelah semua halaman yang diinginkan terbuka, Miss Therenia menekan salah satu sisi meja lalu dinding perpustakaan tempat Thedon bersandar berubah. Muncul hologram di dinding tersebut.
Thedon akhirnya bergabung dengan siswa lainnya karena merasa tertarik dengan keterangan yang disampaikan oleh Miss Therenia.
“Menurut buku ‘Power of God’, asteroid yang jatuh ke Bumi biasanya memiliki kekuatan yang tidak biasa. Adapun kekuatan itu tergantung jenis asteroid yang jatuh. Pelindung Bumi sendiri terkadang membuat kekuatan yang dimiliki oleh asteroid menjadi semakin menipis. Sehingga seringkali kejatuhan asteroid selalu diabaikan oleh para penghuni Bumi.”
Layar hologram kemudian menampilkan halaman buku selanjutnya. Kali ini disertai ilustrasi, sebuah sinar yang memiliki ekor panjang.
“Dari buku ‘Science of Space’, tidak semua benda langit yang jatuh ke Bumi adalah asteroid. Begitu banyak benda langit yang sering singgah ke tanah kehidupan para makhluk. Namun, yang harus diyakini setiap benda langit memiki kekuatan untuk dirinya sendiri maupun makhluk di sekitarnya.”
Layar hologram berganti lagi. Kini ilustrasi sebuah sekolah yang membuat siswa dari ras Wizard berjengit. Wistoria Academy. Ilustrasinya terlihat masih baru, tidak seperti yang sebelumnya.
“Ini sebuah buku baru. Wisdom of Earth. Penulisnya adalah orang yang pernah bersekolah di sana. Di sini tertulis, semua benda memiliki energi. Baik energi negatif ataupun energi positif. Terutama benda yang berasal dari luar tanah kehidupan. Energi tersebut dapat meningkatkan setiap energi yang ada pada setiap makhluk. Namun, energi yang berasal dari luar tanah kehidupan tidak pernah bisa diprediksi, tidak bisa diukur, dan tidak bisa dikendalikan.”
Seketika layar hologram di dinding menghilang. Para siswa mendesah kecewa karena mereka masih penasaran.
“Jadi ….” Miss Therenia menatap para murid. Tatapannya berhenti di Ashlen. Tatapan yang membuat Thedon menahan tawa karena Ashlen telihat seperti orang yang kehabisan napas. “Kesimpulan dari buku-buku tersebut adalah, asteroid yang memiliki kuasa dan energi besar seperti Asteroid Emas tidak mudah ditaklukan. Salah-salah malah dapat menyebabkan kegilaan bagi mereka yang tidak sanggup menahan atau menampung gelombang energinya.”
Miss Therenia kemudian menutup buku dengan keras. Tatapan mata wanita yang selalu memakai gaun dengan belahan dada rendah itu membuat semua siswa ikut melihat arah tatapannya.
“Dengan kekuatanmu sekarang, bisa jadi kau akan mengalami kegilaan jika mendekati asteroid itu. Atau kau memang sudah gila?” sindir Miss Therenia.
Seketika para siswa menyoraki Ashlen. Beberapa dari mereka melempari remaja Fallen Angel itu dengan bola-bola kecil dari kertas. Ashlen tampak melindungi diri dengan merunduk dan mengangkat kedua tangan ke atas kepalanya.
Lily dan Maya jelas tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melemparkan beberapa kertas yang sudah dimantrai sehingga akan mewarnai objek yang dikenainya. Sayangnya karena Ashlen melindungi diri, lemparan kertas bola bermantra itu justru terlempar ke beberapa murid lainnya. Sehingga kehebohan pun tercipta di perpustakaan.
Jubah para siswa berubah warna-warni. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, bahkan ungu. Semuanya jadi saling menertawakan. Thedon yang berdiri jauh, terhindar dari insiden bola kertas warna, tapi ia tetap tertawa melihat yang lainnya. Saat itulah manik matanya melihat Chalia dan Baskara tertawa bersama.
Seketika tawa di wajahnya menghilang.
“Lily James. Maya Calliston. Pemotongan poin untuk Asrama Fantasi. Lima belas poin dari masing-masing kalian!”