
Hope
“BATU-LIUR-CUELEBRE! Bisakah kau berhenti mondar-mandir, Thedon Usador?”
Kekesalan Shalima Shero, prefek wakil asrama fantasi, sudah sampai ke ubun-ubun. Gadis berambut hitam itu tampak sebal melihat sang prefek utama sedari tadi hanya mencatat sambil berjalan mondar-mandir. Ini membuat Shalima, yang sudah gugup sejak minggu lalu, akhirnya meledak juga.
“Ada apa memang dengan liur Cuelebre?” bisik prefek wakil asrama sci-fi, Habibie Alfarabi, kepada gadis anggun berkacamata di sampingnya, Elleanor Galina Thompson. Cuelebre adalah ular raksasa dengan sayap kelelawar di punggung. Liurnya bisa berubah jadi batu ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit. Namun, di saat seperti ini rasanya kurang tepat membahas zoologi dan mitologi.
“Shal sedang berusaha menghafal beberapa khasiat penyembuh dengan umpatan,” bisik Elle sepelan mungkin.
“Batu-liur-Cuelebre!” Kini Habibie yang mengumpat ala Shalima. “Anak itu sangat suka sekali belajar, ya?” Habibie menggelengkan kepala. Elle mengedikkan badan. Dirinya juga suka belajar, tapi memang tidak sampai mengumpat segala.
Dalam ruangan itu tengah berkumpul enam murid yang terpilih menjadi prefek—semacam gelar bagi siswa yang membantu mengawasi murid dan menegakkan disiplin di sekolah. Sejak lima hari yang lalu, mereka berkumpul untuk mempersiapkan acara penyambutan tahun ajaran baru, termasuk penyambutan siswa baru. Acaranya akan berlangsung dua hari lagi. Miss Elafir, wakil kepala sekolah, menyuruh para prefek untuk mempersiapkan acara yang berkesan. Padahal, waktu angkatan pertama masuk sekolah, acara penyambutannya sederhana sekali.
Sebenarnya, persiapan mereka sudah rampung delapan puluh persen. Namun, masih belum ada ide tentang malam penutupan. Sejak pagi tadi Thedon terus-terusan berdiskusi sambil mencatat dan jalan mondar-mandir.
Zovras Aldebaran, salah satu dari tiga prefek anggota, hanya menyeringai lucu. Dia menikmati tontonan drama sekolah di hadapannya. Sementara Elion, prefek anggota dari ras Fallen Angel, mencoba bersikap waspada. Kakeknya pernah berkata kalau amarah wanita bisa disamakan dengan lava gunung berapi.
“Cobalah lebih santai, Pak Ketua. Kita semua berbagi beban yang sama,” ujar Elle bijak.
Shalima kini menunduk sambil menggembungkan pipinya. Guratan merah terlihat di pipinya yang kecokelatan. Sulit sekali jadi anggun, padahal itu ada dalam daftar resolusinya untuk tahun ajaran baru.
“Mungkin sebaiknya kita beristirahat?” tawar Zovras yang memang dikenal sangat santai. Menurut Thedon, guru-guru menunjuk Zovras jadi prefek anggota karena dia mudah bergaul dan bisa membuat suasana menjadi riang.
“Aku setuju,” kata Shalima, “Aku juga harus menemui Madam Polina.”
“Kau sakit?” tanya Thedon merasa bersalah. “Separah itukah meeting kita?”
Gadis yang ditanya langsung meringis. Seremeh itukah kemampuan self-healing-nya, sampai-sampai meeting saja bisa membuatnya sakit?
“Aku mau mendengarkan pengarahan Madam Polina soal magang di klinik sekolah.”
“Wow, itu kesempatan yang sangat bagus!” ujar Elle. Shalima membalas ucapan Elle dengan anggukan yang sangat kuat dan senyum yang merekah. Hanya hal-hal berbau kesehatan yang bisa mengembalikan mood The Queen of Regeneration.
Akhirnya keenam prefek itu membereskan barang-barangnya.
“Flavonoid-dan-Saponin!” pekik Shalima seiring dengan jatuhnya sebuah kotak makan dari tasnya.
Habibie terperangah mendengar Shalima mengucapkan sesuatu yang seperti ilmu pengetahuan dalam bentuk umpatan. Siswa dengan kemampuan menetralkan radiasi itu tidak tahu kalau Shalima Shero ternyata sangat suka mengumpat.
Kotak makan Shal jatuh di dekat kaki Zovras dengan tutup yang sudah terbuka. Ada kue berwarna merah menyala berjejer rapi di dalam sana. Tanpa izin, Zovras langsung mengambil salah satu kue itu dan memakannya.
Shal suka kangen keluarganya saat di asrama. Makanya, saat liburan kemarin, Shal belajar memasak bersama ibunya. Bolu kukus adalah salah satu kue tradisional yang dipelajarinya. Dengan membuat dan memakan kue-kue yang sering dibuat ibunya, Shal berharap rasa rindunya bisa terobati. Namun, tentu saja dia tidak semahir ibu dalam membuat kue. Pagi ini saja dia memasukkan terlalu banyak ekstrak kranberi ke dalam bolu kukusnya. Dia juga tidak yakin dengan rasanya.
“Enak! Warnanya mirip fire flower yang sedang mekar di sekolah,” puji Zovras sambil mengunyah.
“Yup,” kata Elion setuju, “aku akan memakannya sambil melihat bunga-bunga itu. Thank you, Shalima!” Fallen Angel bersayap abu-abu itu melangkah ke luar ruangan sambil menggenggam bolu kukus di tangannya.
Dengan serius, Shalima berbisik kepada kunang-kunang di atas telapak tangannya. Ini membuat Amara Leowyns, si Putri Elf, tidak tahan untuk menggodanya.
“Kau memberikan beban yang seharusnya ditanggung sepuluh kunang-kunang harapan, Shal. Jangan-jangan hewan malang itu jadi tidak bisa terbang karena beban harapannya terlalu berat!”
Shalima hanya menatap Amara sambil cemberut karena malu.
“Semoga kau tidak keberatan menyampaikan harapanku ini pada semesta,” bisik Shal kepada kunang-kunang di tangannya. Dia lalu melepaskan kunang-kunang itu ke udara.
Shal mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman sekolah yang sudah menjadi tempat jamuan makan malam. Para peri dapur sibuk melayani siswa dan guru yang lanjut makan sambil berbincang-bincang. Acara makan malam ini memang dibuat santai. Terlihat beberapa siswa tingkat dua sudah asyik mengobrol dengan siswa baru. Levi Strauss bahkan sudah dikelilingi beberapa siswa yang kagum dengan makhluk mesinnya.
“Dia sedang memperkenalkan klub yang baru mau dirintisnya. Genius Scientist, Mad Scientist, atau semacamnya.” Amara berusaha menenangkan Shal yang curiga Levi akan mengacau. Soalnya, sudah seharian anak manusia dari asrama sci-fi itu berkoar-koar tentang acara penyambutan yang membosankan. “Levi butuh pembuktian setelah—menurutnya—dia dikeluarkan secara tidak hormat dari klub Robotic.”
Shal mengalihkan perhatiannya dari Levi dengan menyapa beberapa murid baru dari ras Elf, termasuk Chalia Aetoris yang sempat membuyarkan konsentrasi Thedon tadi pagi. Dia dan Amara juga sempat bercakap-cakap dengan Baskara Dastradi dari ras manusia.
Setelah merasa cukup menyapa siswa baru, Amara dan Shal pergi mengunjungi gerai cloud candy. Di sana ada Thedon yang terlihat semakin keruh setelah mengetahui ada insiden di kandang satwa gaib pagi ini.
“Malam penutupan yang sangat bermakna,” ujar Amara sambil menunjuk kunang-kunang harapan yang terbang memutar di langit. Sebenarnya, Amara ingin membuat Thedon relaks. Namun, dia lebih terdengar menyindir daripada memuji.
“Ini ide sahabatmu, loh,” kata Shal cemberut.
Setelah Zovras bilang fire flower sedang mekar di seluruh sekolah, Shal jadi ingat dengan kunang-kunang harapan. Mereka satu-satunya serangga yang kuat meminum nektar fire flower. Walaupun begitu, masa hidup mereka sangat singkat, sepuluh hari saja. Setelah kawin di hari kelima, pejantannya hanya memenuhi perut mereka setiap malam dengan nektar bunga sampai mati. Kalau meminum banyak nektar fire flower, mereka akan terbang sampai tubuh mereka hangus terbakar di langit. Ada yang percaya kalau harapan yang dibisikkan kepada kunang-kunang harapan akan terurai di langit saat tubuh mereka hangus. Harapan itu akan menyatu dengan semesta dan semesta akan membantu mewujudkannya. Sangat pas dengan awal tahun ajaran baru di mana harapan untuk setahun kedepan memenuhi benak setiap murid dan guru.
“Apa sih yang kau minta sampai khusyuk begitu tadi?” cetus Valfred dari ras werewolf yang tiba-tiba bergabung bersama mereka. Dari tadi dia sibuk menanyai murid-murid baru tentang kesukaan mereka memasak. Dia berencana merintis klub Baking and Cooking.
“Ingin kembali ke Ginkgo Forest?” goda Thedon. Cerita Shal yang menjadi korban naga mengamuk saat penelitian lapangan sudah menyebar karena sempat disinggung Mr. Navarro dalam pidato penyambutan. Kejadian itu termasuk salah satu contoh kejadian tak terduga yang bisa terjadi di Maple Island, sehingga selalu ada alasan untuk berhati-hati dan mengasah pertahanan diri. Shalima malu sekali.
“Dia pasti mau bertemu dengan Fallen Angel yang punya black hole itu, ya?” Valfred melontarkan tebakannya kepada Amara. Lelaki serigala itu yakin Amara sudah membaca pikiran Shal saat gadis itu mengucapkan harapannya tadi.
Tidak juga. Tadi Shal mengucapkan banyak harapan, termasuk bertemu Malechite dan jadi gadis yang menawan supaya tidak terlalu timpang kalau nanti bertemu Thann. Namun, saat mau mengucapkan harapan untuk bertemu Thann, Amara keburu menginterupsi.
“Black hole? Maksudmu si Tudung Hitam?” tanya Thedon sambil menunjuk salah satu murid angkatan mereka yang sedang duduk di atas atap sekolah. Jubah dan tudung hitamnya berkibar tertiup angin malam.
Shalima baru sadar kalau memang ada murid yang digosipkan anaknya The Prof karena mereka sama-sama misterius. Namanya tidak tercantum dalam daftar nama murid dan tahu-tahu dia dipanggil si Tudung Hitam. Dia tidak pernah terdengar suaranya di kelas dan bisa tiba-tiba ada lalu menghilang. Para guru juga tidak mempermasalahkannya. Bahkan, saat para prefek berkumpul seminggu sebelum tahun ajaran baru, dia juga terlihat sudah berkeliaran di sekolah.
“Dia punya black hole?” Valfred balik bertanya.
“Ah, informasinya masih tidak jelas, sih. Aku tidak sengaja mendengar waktu Miss Elafir membahas si Tudung Hitam dengan Mr. Navarro di ruangannya. Beliau ada menyebut soal lubang yang menyerap energi. Kupikir itu black hole yang kalian maksud.”
Tiba-tiba, terdengar lantunan indah khas para siren dari Lakevender seiring munculnya seekor nuskabadori yang terbang mengelilingi lokasi acara. Semua anak baru terlihat takjub. Setelah mengakhiri nyanyiannya, makhluk itu terbang ke lengan si Tudung Hitam.
Dahi Shalima berkerut. Tadi black hole dan energi, lalu sekarang nuskabadori. Ini terlalu kebetulan, kan?
Semua orang masih menatap ke angkasa karena kunang-kunang harapan di langit mulai hangus. Mereka berubah menjadi asap merah yang indah sebelum menghilang diserap semesta. Semuanya seperti yang sudah direncanakan sampai sebuah ledakan besar muncul di langit. Ledakan itu menyisakan cahaya merah yang meluncur ke bawah menjadi hujan abu. Semua yang ada di halaman tertutup abu merah, termasuk para guru dan siswa.
Shalima dan Thedon saling berpandangan. Siapa yang cukup gila melakukan ini semua?
“Levi Strauss!”