
Smile
“MASIH INGAT WAKTU aku bilang apa yang dilakukan seseorang bisa berbeda 180 derajat dengan apa yang dia pikirkan?” Amara bicara sambil meletakkan secangkir masala chai di depan Shalima. “Kurasa itu berlaku banget untuk kasus si Thann.” Amara duduk di kursi yang ada di depan Shal dan bicara sambil memainkan bibir cangkirnya.
“Saat tadi dia menyerap energimu, pikirannya jadi sedikit tidak awas. Aku sempat memasuki pikirannya, tapi mungkin karena dia terlatih waspada di setiap kondisi, aku belum berhasil membaca pikirannya dengan sempurna.” Amara lalu menyesap teh maghrebinya sambil tetap memperhatikan Shal yang tengah mengaduk-ngaduk minumannya sambil merenung.
“Yang jelas, dia tidak ada niat menyakitimu, Shal. Dia hanya mau memperingatkanmu, tapi caranya saja yang kelewatan. Kurasa, dia memang menyembunyikan sesuatu.”
Shalima masih ingat saat Thann menatapnya dengan lembut begitu sadar Shalima punya kemampuan lain yang unik. Lelaki itu turut bahagia untuknya. Malah, berkat Thann, Shal bisa lebih memahami tubuhnya. Gadis itu merasa bisa saja bukan hanya sel-sel tubuhnya yang bisa beregenerasi, tapi energinya juga.
Soal Thann, dia tidak hanya bisa menyerap energi dan melakukan energy shot, tapi juga bisa menyerap sesuatu yang lain. Apa itu? Yang jelas, tubuh Shal memberinya tanda bahaya.
Jangan selalu mempercayai apa yang kau pikirkan saja. Buka pikiranmu pada kemungkinan-kemungkinan lain.
Kalau Thann menganggap Shalima dungu, seharusnya lelaki itu bicara secara gamblang. Gadis itu sekarang jadi bingung dengan perkataan Thann yang seperti teka-teki.
“Kurasa benar kata Zovras, kau harus berhati-hati dengan Thann dan keluarganya. Well, kita memang tidak bisa menghakimi orang seenaknya, tapi waspada juga tidak ada salahnya.”
Begitu nama Zovras disebut, Shal jadi gugup. Dia sebenarnya mengajak Amara ke Bread & Butter Café untuk menasehati gadis itu soal Zovras. Namun, Shal masih bingung memulai pembicaraan.
Tiba-tiba Valfred duduk di samping Amara sambil melempar senyum tanpa dosa ke segala arah. Bukannya kesal atau bingung, Amara malah bilang kalau dia sudah memesankan butter cake kesukaan Valfred.
“Kapan kalian berbaikan?” Shal menatap keduanya dengan tatapan menyelidik.
“Tiga hari lalu,” jawab Valfred sambil tersenyum lebar, “Maaf kalau aku jadi menyebalkan. Kurasa ini soal pubertas werewolf.”
“Yang penting kalian sudah baikan. That’s the only thing matters.”
“Well, bertengkar itu memang tidak enak, tapi bukan berarti tidak ada manfaatnya,” tukas Amara. “Aku tentu kehilangan kalian, tapi aku jadi bergaul dengan siswa lain, yang bahkan pernah jelas-jelas kujauhi karena prasangka. Ternyata menyenangkan bisa mencicipi pikiran beragam makhluk! Aku jadi belajar bahwa makhluk itu kompleks dan kita tidak akan pernah bisa menilai mereka sepenuhnya atau menghakimi mereka dengan adil. Creatures consist of many shades.”
Shalima terkesima dengan Amara yang bisa memetik pelajaran berharga bahkan dari kejadian buruk sekalipun. Apa yang kita anggap buruk, ternyata tidak sepenuhnya buruk. Selalu ada yang bisa dipelajari dari hidup yang terus berjalan.
“Aku setuju! Karena kemarin tidak ada orang bijak di sekelilingku, aku jadi bergerak dengan insting hewan liar. Awalnya, kukira ditolak Elle berarti kiamat. Ternyata biasa saja, kok! Bermain-main dengan adrenalin itu mengasyikkan! Menurutku, masa muda itu jangan disia-siakan untuk hanya terikat dengan satu orang. Have fun to the max, guys!”
Shalima bukan hanya melongo karena mendengar pelajaran yang dipetik Valfred, melainkan juga karena Amara terlihat sangat setuju dengan hal itu. Keduanya sampai melakukan high five di udara. Perseteruan kemarin tampaknya benar-benar membawa perubahan yang besar bagi keduanya.
“Lagipula, dua puluh empat jam setelah ditolak aku sudah bisa move on, kok,” pamer Valfred.
“Dua puluh empat jam? Aku move on darimu kayaknya tidak cukup enam jam, deh,” cibir Amara.
“Move on dari siapa, Am?” Shalima meminta Amara mengulangi ucapannya sebelum menyeruput masala chai-nya. Amara dan Valfred tersadar kalau Shalima belum tahu sesuatu.
“Aku dulu sempat naksir Valfred, Shal,” ujar Amara santai. Masala chai yang masuk ke mulut Shalima jadi tersembur keluar, untung tidak kena siapa-siapa.
“Tenang, Shal. Aku baru sadar kalau ternyata aku sangat mudah jatuh hati. Hanya perlu kenal sebentar, aku sudah bisa langsung naksir.” Amara bicara santai sambil menatap Valfred. Entah kerasukan setan dari mana, keduanya malah kompak saling merangkul sambil bilang, “Masa muda itu jangan disia-siakan untuk hanya terikat dengan satu orang!”
“Tunggu! Bukannya kau itu pacaran dengan Zovras?” sergah Shalima kepada Amara, membuat gadis Elf itu menyemburkan teh dari mulutnya.
“Astaga! Behave, ladies! Behave!” Valfred memperingatkan kedua sahabat perempuannya itu sambil membantu mereka mengelap meja yang penuh semburan cairan. “Bukannya kau yang sering nge-date dengan Zovras?”
“Iya! Bukannya Zovras juga sudah bilang mau lebih dekat denganmu? Setelah kalian menghabiskan banyak waktu bersama, kok bisa kau masih berpikir dia tertarik kepadaku? Dia itu jelas-jelas menyukaimu!” cecar Amara.
Tak ketinggalan, Shal juga merasa bersalah kepada Zovras. Dia pernah menganggap lelaki itu seorang player karena mempermainkan Amara. Ternyata, memang tidak ada apa-apa di antara mereka berdua.
“Aku sempat naksir Zovras, sih. Siapa coba yang tidak tersengsem dengan cowok sejuta talenta seperti dia? Tapi lama-lama aku bosan membaca pikirannya. Isinya kalau bukan benda langit dan cat, ya Shalima,” racau Amara. “Dia bahkan bisa tahu Shal kurang tidur padahal wajahnya terlihat baik-baik saja. Oh iya, salep moon rabbit yang waktu itu kuberikan sebenarnya dari Zovras. Dia minta ini dirahasiakan, tapi kalau sudah kepalang basah begini ngapain lagi ditutup-tutupi.”
Kau senang, kan, Shal?
Shalima berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kepada Amara, “Kok bisa kau jadi naksir banyak cowok? Bukannya kau bilang kesetiaan itu basic manner?”
“Tentu saja! Makanya, sebelum menautkan hati pada seseorang, lebih baik memperluas pergaulan dulu supaya bisa memilih dengan baik. Seperti mencicipi makanan sebelum kau benar-benar memakan mana yang kau suka. Bagaimana, ya? Ini kayaknya hanya bisa dipahami oleh mind-reader. Pokoknya, semua orang punya sisi menariknya masing-masing. Kalau diibaratkan makanan, pikiran manusia itu kaya rasa. Ada yang pahit seperti kopi, tapi bukan berarti tidak enak, kan? Ada yang pedas seperti cabai, tapi bukan berarti kau tidak mau menikmatinya. Jadi, bingung juga kalau harus menentukan mana yang benar-benar mau kau makan,” jelas Amara. Gadis Elf itu terkekeh begitu membaca pikiran Shalima yang penuh tanda tanya.
“Naksir bukan berarti harus pacaran. Pokoknya, sekarang ini aku sedang dalam fase senang ‘mencicipi’ pikiran para makhluk. Sejauh ini, di Maple Academy, baru ada satu yang menurutku isi kepalanya fenomenal.”
“Siapa?” tanya Shal dan Valfred bersamaan.
“Pak Kepala Sekolah. Dia pernah sekali mengizinkanku masuk ke dalam pikirannya. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat pemandangan yang indah lewat mind-reading, padahal biasanya hanya lewat suara. Pokonnya, kepala sekolah kita memang keren!” Amara bicara sambil menopang dagunya. Entah pemandangan apa yang dilihat gadis itu dalam pikiran Mr. Navarro, tapi melihat ekspresi Amara saat ini, kayaknya gadis itu benar-benar kagum.
Tiba-tiba, Amara senyum-senyum sendiri. Label anggun yang selama ini menempel kepadanya menguap sudah.
“Sebenarnya ada satu lagi ….”
“Siapa?” Shal dan Valfred kembali bertanya bersamaan. Melihat gelagat Amara, tampaknya yang satu ini istimewa.
“Pikirannya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di satu sisi pikirannya penuh dengan ambisi dan rasa kesepian, tapi di sisi lainnya, pikirannya itu cemerlang, meriah, dan penuh gagasan. Kalau aku gambarkan, pikirannya itu seperti kembang api warna-warni yang meledak-ledak di langit malam. Di situ sisi menariknya.”
Shal dan Valfred berusaha menebak siapa kira-kira lelaki kembang api yang berhasil membuat Amara tersipu-sipu hanya dengan memikirkannya. Namun, tebakan mereka selalu salah.
“Kalau ngomongin kembang api, aku jadi ingat si Levi,” canda Valfred yang sudah malas menebak. Dia mengalihkan pembicaraan dengan membahas kejadian awal tahun pelajaran. Shal tertawa menanggapi candaan Valfred. Putri bangsawan yang bijaksana bersanding dengan ilmuwan gila yang gegabah. Kalau gitu sih jadinya bukan romance, tapi komedi satir.
Beberapa detik kemudian suasana jadi awkward karena Shal dan Valfred malah melihat Amara kembali tersenyum dengan semburat merah di pipinya.
Zovras menyerahkan sebuah amplop besar kepada Shalima. Isinya adalah gambar-gambar yang berkaitan dengan mimpi Shalima. Lelaki itu meminta Shal meneliti gambar-gambar itu sekali lagi, sebelum mereka melakukan dream interpretation lewat astrologi.
“Gambar yang lubang gua hilang. Nanti aku cari lagi, ya!” kata Zovras. Dia lalu mengeluarkan dua buah gelang dari sebuah kantung kulit di tangannya. “Aku juga punya hadiah untukmu.”
Tanpa sadar, Shalima mengangkat tangan kanannya, mempersilakan Zovras memakaikan gelang itu di sana. Zovras tersenyum lalu memasukkan salah satu gelang ke pergelangan tangan Shal.
“Ini gelang dari batu amethyst, prehnite, blue chalcedony, dan lapis lazuli. Batu-batu ini bisa menangkal mimpi buruk. Anggap saja untuk berjaga-jaga.”
Shal terkesima memandang batu berwarna-warni yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini bukan soal batu, melainkan perhatian Zovras kepadanya.
“Kalau yang ini dari batu lepidolite, black tournaline, dan rose quartz,” jelas Zovras sambil memasangkan gelang yang kedua di pergelangan tangan Shalima. “Ini untuk membuatmu tidur lebih nyenyak dan semakin dalam masuk ke alam mimpi.”
Zovras memainkan tangan Shalima sambil memperhatikan gelang yang melingkar di sana. “Waktu kecil, aku pernah bermimpi tentang sekumpulan moon rabbit. Ternyata, itu petunjuk supaya aku mencari Eloysa. Jadi kupikir, bisa saja yang kau alami itu bukan mimpi buruk, melainkan sebuah wahyu atau penglihatan.”
Wahyu atau penglihatan? Kedengarannya keren sekali!
“Ini belum pasti juga. Semoga dengan semakin masuk ke dalam mimpi, kau bisa memperoleh gambaran yang lebih jelas. Saranku, kalau kau bermimpi lagi, coba untuk berkomunikasi dengan naga-naga itu. Siapa tahu itu bisa memberi petunjuk lain.” Zovras tersenyum sambil melepaskan tangan Shal.
Shal mengangguk sambil memutar-mutar batu-batu di gelangnya. Dia lalu membalas senyum Zovras. “Terima kasih, ya. Aku rasa, mimpi-mimpiku memang tidak seburuk itu. Justru karena bermimpi, aku jadi bisa mengenalmu lebih dalam.”
Terdengar suara burung-burung ramai berkicau di atas pohon. Untuk beberapa saat, Zovras dan Shalima hanya saling menatap dan melempar senyum. Zovras lalu menepuk-nepuk puncak kepala Shalima dengan lembut, “Bukankah sebentar lagi kau harus magang di klinik sekolah? Ayo, biar kuantar!”