
Stone
LAYAR NAVIGASI FLYBOARD menunjukkan Shalima sudah berada di ketinggian 20 meter di atas permukaan tanah. Dari kejauhan, Shal bisa melihat sebuah bangunan dengan menara tertinggi di Maple Island, yang ada di puncak Stars Hill. Itulah Stars Hill Observatory and Planetarium, yang biasa disebut SHOP.
Setelah menggambar beberapa mimpi Shalima, Zovras merasa batu-batu yang dilihat Shal dalam mimpinya mirip dengan pecahan asteroid. Mereka merasa akan membantu jika melihat batu itu secara langsung. Akhirnya, Zovras dan Shalima mengatur siasat supaya Shal bisa pergi ke SHOP untuk melihat batu pecahan asteroid yang ada di sana. Batu itu aman dilihat karena sudah dalam kondisi netral.
Zovras lalu mengajukan permintaan bantuan tugas di hari Minggu untuk membantu Klub Astronomi. Biasanya, tugas seperti ini ditujukan untuk siswa dalam masa hukuman. Levi dan Lily juga ada dalam daftar. Namun, Lily sudah sibuk dengan kandang satwa dan Levi tidak direkomendasikan karena sempat berseteru dengan Four, salah satu pembimbing Klub Astronomi. Akhirnya, Miss Elafir dan Miss Naina setuju memberikan tugas ini kepada Shalima.
Zovras menoleh ke arah Shalima dan tersenyum melihat mata gadis itu berbinar-binar. Setidaknya, kunjungan mereka ke SHOP bisa sedikit menghibur Shal yang semalam kembali bermimpi buruk. Dalam mimpinya tadi malam, Shalima merasa berada di punggung naga Porsesa yang terbang di atas kawasan gunung berapi. Naga itu kemudian menukik tajam lalu masuk ke kawah gunung berapi yang bergejolak. Gadis itu sempat berpikir kalau Naga Porsesa menaruh dendam kepadanya sampai terus-menerus membantainya lewat mimpi.
Akhirnya, rombongan itu tiba di gedung Stars Hill Observatory and Planetarium, yang disebut memiliki desain lengkungan geometri kosmos yang rumit. Namun, dari ketinggian sekalipun, yang Shalima lihat adalah bangunan megah dan modern yang didominasi warna putih. Well, kalau dia paham soal kosmos, pasti sejak tahun pertama sudah masuk asrama sci-fi dan Klub Astronomi.
“Ini Risus, staff yang ditugaskan khusus membantu Klub Astronomi saat datang ke SHOP.” Bialaer memperkenalkan kurcaci yang menyambut mereka di pintu depan kepada Shalima. Kurcaci pria itu mengenakan seragam putih dengan logo SHOP di dada kiri dan tanda pengenal resmi tergantung di leher.
Klub Astronomi merupakan satu-satunya klub yang memiliki hak eksklusif untuk pergi ke Stars Hill dalam rangka kegiatan klub. Klub ini juga satu-satunya yang memiliki dua ketua dan dua penanggung jawab karena terbagi dua, yaitu Astronomi-Astrologi dan Astronomi-Kosmologi. Penanggung jawab Klub Astronomi-Astrologi adalah Bialaer Farohyra, Wizard yang juga merupakan guru Astrologi. Sementara penanggung jawab Klub Astronomi-Kosmologi adalah Four yang berasal dari ras alien. Four juga adalah guru Kosmologi dan penanggung jawab Klub Robotic.
Sambil berjalan mengikuti Risus, Shalima berbisik kepada Zovras, “Kalian sudah punya bantuan khusus rupanya. Terus, kenapa Four dan Bialaer masih mengizinkan aku ikut?”
“Tidak apa-apa, kok,” balas Dmitri Mendeleev, siswa sci-fi yang merupakan ketua Klub Astronomi-Kosmologi. “Aku sudah bosan sejak tahun pertama berkegiatan dengan cowok-cowok. Sekali-sekali ada bintang di langit yang gelap bagus juga. Asal sesuai dengan perjanjian awal, ya!” Dmitri sama sekali tidak membiarkan Zovras membalas pertanyaan Shal.
”Siap!” seru Shal. Gadis itu memang berjanji pada Dmitri untuk patuh kepadanya selama berada di Stars Hill.
Setiap bulan, SHOP mengirimkan laporan pergerakan benda langit pada Four dan Bialaer. Ini dilakukan untuk mengawasi hal-hal tak lazim atau mencurigakan, terutama tentang asteroid yang diramalkan akan datang lagi menghantam dunia. Kedua guru itu wajib memberikan laporan kepada Mr. Navarro setiap tiga bulan, kecuali ada yang mendesak. Tahun ini, Mr. Navarro meminta laporan tersebut dibuat lebih menarik karena akan dilihat juga oleh para murid. Dmitri usul membuat video di Stars Hill, dengan bentuk roleplay ala presenter perkiraan cuaca di dunia manusia.
”Kostum Anda sudah disiapkan di dalam.” Risus menunjukkan sebuah ruangan kepada Shalima dengan sopan.
”Kostum?” Shalima mengerutkan dahinya.
Dmitri tersenyum licik, ”Kau belum tahu tugasmu, ya?”
”Menggulung kabel, ’kan?”
Tentu saja Bialaer dan Four tidak akan membiarkan Shalima datang ke Stars Hill kalau hanya menggulung kabel. Seseorang harus melakukan ”pekerjaan kotor” dan itulah Shalima. Dengan wajah yang menyembul dari balik kostum bola gembul berlekuk, Shal menjadi ”gambaran kreatif” asteroid saat Four dan Bialaer melaporkan pergerakan benda langit tiga bulan terakhir. Shal merasa sangat bodoh. Entah ”julukan kreatif” apa lagi yang akan diperolehnya setelah video itu disaksikan seantero Maple Academy.
Kesialannya tidak berhenti sampai di situ. Saat Shal melihat batu pecahan asteroid yang dipajang di planetarium, sama sekali tidak terjadi apa-apa. Padahal, dia berharap ada petunjuk tambahan yang bisa dia dapatkan. Sekarang Shal malah ketakutan sendiri karena tiba-tiba memimpikan batu pecahan asteroid.
Zovras berusaha memperbaiki mood Shalima dengan membawa gadis itu berkeliling. Dmitri dan Risus sibuk mengedit video, sedangkan para guru mengobrol santai dengan Tuan Najma Venmaris, direktur SHOP sekaligus saudara kembar guru Mitologi mereka.
”Dmitri sama sekali tidak mengizinkanku ikut campur soal naskahnya. Aku juga baru tahu soal kostum asteroid itu, Shal.” Zovras menjelaskan sambil meletakkan tikar rumput di tengah-tengah planetarium.
”Bagaimana, ya?” Shal pura-pura marah, padahal hatinya sudah mencair sejak diajak jalan-jalan mengelilingi SHOP. ”Aku akan memaafkanmu kalau apa yang kita lakukan setelah ini benar-benar keren.”
Zovras bilang ada hal keren yang hanya bisa dilakukan di hari Minggu oleh petugas SHOP. Namun, karena Zovras sudah dapat lisensi untuk menjadi tour guide dan operator SHOP, Shalima bisa ikut merasakan privilese itu.
”OK! Challenge accepted!” seru Zovras penuh percaya diri.
Mereka berdua lalu berbaring di atas tikar rumput dan memandang langit-langit planetarium. Zovras memencet sesuatu di kartu lisensinya, lalu memencet beberapa tombol virtual di udara. Lampu langsung meredup dan langit-langit planetarium berubah menjadi gambaran langit malam. Ini mirip seperti yang ada di planetarium Maple Academy, tapi lebih besar dan ... nyata!
”SHOP punya teleskop super canggih dengan hasil pencitraan dan kualitas rekaman yang sangat baik. Aku akan putar salah satu rekaman paling cantik.”
Shal fokus melihat langit malam yang penuh bintang. Tak lama kemudian terlihat sebuah bintang bergerak cepat dan meninggalkan jejak cahaya dibelakangnya. Zovras memutar sebuah tombol virtual lagi dan kini mereka serasa semakin dekat ke langit. Tak lama kemudian, semakin banyak bintang yang bergerak cepat dan meninggalkan jejak cahaya. Ada yang berwarna putih, kuning, hijau, dan biru. Dada Shal berdebar-debar.
”Anda sedang menyaksikan fenomena astronomi yang terjadi saat bumi berpapasan dengan benda angkasa dalam jumlah yang banyak.”
Shal tersenyum simpul mendengar Zovras menjelaskan seperti seorang tour guide.
”Debu batuan yang terbawa ma—”
Ucapan Zovras terputus saat sadar Shal sudah memandanginya dengan tatapan lucu sambil mengulum senyum.
Zovras menjawab dengan senyum khasnya, ”As you wish, Shal.”
”Jadi, aku sudah dimaafkan, ya?” tanya Zovras.
Pemandangan hujan meteor telah berakhir, tapi Shal masih enggan beranjak dari pemandangan langit malam bertabur bintang yang dilihatnya saat ini.
”Sure!” balas Shal sambil menatap Zovras yang berbaring di sampingnya. Sekarang Shal baru sadar kalau jarak di antara mereka mungkin terlalu dekat. Gadis itu segera menatap langit-langit planetarium lagi, ”You should thank those stars! Eh, meteor, I mean.”
Zovras tertawa kecil, ”Aku selalu kagum melihat orang sepertimu. Selalu bersemangat, bahkan di kelas sekalipun.”
”Aku kan tidak pintar. Makanya, aku harus berusaha ekstra keras di kelas,” balas Shal. Dalam hati, dia sebenarnya sedang berteriak keras-keras kepada jantungnya supaya berdetak stabil.
Jantungnya malah balik mengomel, Salahkan si adrenalin dan norepinephrin, dong! Lagipula, akui saja kalau kau juga menikmati momen ini!
”Kau selalu terlihat antusias. Aku mencari banyak kegiatan supaya bisa menikmati masa sekolah. Namun, hanya dengan memijat para siswa secara gratis, kau sudah berseri-seri.”
”Mungkin aku mudah disenangkan,” tukas Shal. Gadis itu sibuk menyeimbangkan kadar hormon adrenalin dalam darahnya.
”Bisa jadi. Aku ini sebenarnya tidak terlalu suka jadi prefek anggota. That kind of thing is too serious for me. Namun, melihat kau bersemangat sekali mencoba hal-hal baru di kelas, aku jadi berpikir untuk mencoba hal-hal baru juga. Tidak buruk, kok. Paling seru kalau ada yang bertengkar.”
Shal mendelik ke arah Zovras yang malah tersenyum lebar. Mau tidak mau, gadis itu kembali membuang muka.
”Ternyata begini jadi anak sekolahan. Awalnya aku tidak terlalu suka belajar di sekolah formal, tapi lama-lama asyik juga mencoba hal-hal baru di sini.”
”Termasuk jadi elang pengintai, ya?” ledek Shal.
Zovras tertawa lagi, ”Kalau itu, sih, mau tidak mau. Memangnya ada yang bisa melawan kehendak Pak Kepsek? Ilmuku belum setinggi dia. Bisa-bisa aku disihirnya jadi kipas kucing berwarna pink.”
Mumpung tidak ada Mevel yang berkeliaran, mereka merasa bebas bergunjing tentang Kepala Sekolah.
”Aku juga sebenarnya tidak suka terlalu aktif di kelas atau jadi prefek, tapi aku belajar keras dan rajin berkegiatan supaya curriculum vitae-ku menarik. Aku ingin dapat pekerjaan yang bagus nanti.” Tahu-tahu Shal sudah cerita panjang lebar.
”Wow! Kau sudah berpikir sampai sejauh itu, ya!” ungkap Zovras takjub.
”Ah, tidak juga. Itu hanya pikiran saat makan biskuit,” ucap Shal mencoba terdengar santai. Padahal, dia malu sekali. ”Ah, sebaiknya kita bergabung dengan Four dan Bialaer.” Shal segera beranjak dari tikar rumput di lantai.
”Kudengar dari Amara kau kenal dengan keluarga Iziah, ya?” Zovras kembali membuka percakapan dengan Shal supaya gadis itu lebih relaks. Dia menekan sebuah tombol di kartu lisensinya dan lampu planetarium kembali menyala.
Shal mengagguk, ”Tuan Eero Iziah jadi sponsorku saat aku datang di Maple Island.”
Zovras mengucapkan sebuah mantra lalu tikar yang sudah dilipat Shalima melayang dan masuk ke ruangan asalnya. Dengan sebuah gerakan lembut di jarinya, semilir angin bergerak untuk menutup pintu ruangan itu. Bahagia sekali jadi Wizard elementer yang pandai mengucapkan mantra!
”Thann dan keluarganya tinggal di Pulau Winterland, ya?” Zovras dan Shal kembali bercakap-cakap dalam perjalanan menuju lounge tempat para guru bersantai.
”Ya, mereka bangsawan di sana.”
”I’m not really sure about that one,” gumam Zovras.
Shal mengerutkan dahinya.
”Tidak banyak yang tahu, Maple Island juga jadi tempat ”pembuangan” bagi makhluk yang dinilai berbahaya pada level tertentu. Mereka diberi tempat yang baik di masyarakat, tapi sebenarnya hal itu dilakukan agar gerak-gerik mereka lebih mudah diawasi.”
”Maksudmu, keluarga Iziah berbahaya?” Nada suara Shal terdengar meninggi.
Zovras menarik nafas sebelum berucap dengan nada rendah, ”Aku hanya memintamu berhati-hati, Shal. Teman Fallen Angel-mu itu juga belum tentu seperti yang kau bayangkan. Dia pernah mencelakakan kakaknya sampai nyaris bisu. Menurutku, kau se—”
”Tampaknya aku lebih perlu berhati-hati denganmu, deh,” potong Shal tajam. Sambil membuang mukanya, gadis itu berjalan mendahului Zovras.