Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
The Vow in Ginkgo Forest - First Hug




First Hug


Chalia dan Thedon akhirnya mengikuti para Dwarf. Berdasarkan jejak bau, Dwarf itu berlari menuju Ginkgo Forest. Sementara Chalia masih fokus pada indra penciumannya, Thedon merasakan gerakan arah angin yang aneh. Ia berhenti dan langsung menarik Chalia saat sebuah perangkap terangkat ke atas.


Mereka berdua menyadari para Dwarf itu sudah memasang beberapa perangkap untuk memperlambat mereka. Berbekal kemampuan supersense Chalia, semua perangkap itu bisa diakali dan keduanya bisa terus selamat sampai mereka menemukan sebuah gua yang tertutupi oleh tanaman rambat.


Merasa terpojok, para Dwarf menyerang secara membabi buta. Namun, Thedon berhasil mengalahkan ketiganya menggunakan perangkap yang mereka ciptakan. Ketiga Dwarf itu tidak ada yang mau mengatakan soal buku yang dicuri. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Bahkan menawarkan transaksi kepada Thedon dan Chalia. Kedua siswa itu mulai merasa usaha mereka sia-sia, saat Chalia melihat ada yang berkilauan di atas salah satu puncak pohon ginkgo.


 Thedon memanggil hewan kontraknya, yaitu seekor Elang Philipine. Ia meminta bantuan pantauan dari langit. Sambil menunggu laporan dari elang, Thedon dan Chalia hanya menatap sekeliling mereka. Barulah mereka menyadari keindahan Ginko Forest di sekitar mereka. Seorang Dwarf berujar, kedua siswa itu sangat berani datang ke Ginkgo Forest hanya dua. Tiba-tiba angin bertiup dan daun ginko berwarna kuning berguguran menghujani Thedon dan Chalia.


Ginkgo Forest. Sebuah tempat yang tidak jauh dari akademi. Tempat ini juga menjadi salah satu arena kelas atau tempat berkumpul beberapa klub siswa. Hutan yang selalu berwarna kuning ini membuat para siswi selalu mengaguminya.


Kecuali Chalia, pikir Thedon.


Laki-laki tinggi itu kini mengikuti Chalia yang bersemangat melangkah masuk ke Ginkgo Forest. Dia hanya bisa mengernyitkan dahi melihat langkah kecil itu bergerak ringan. “Kau yakin mereka ke sini?”


“Yakin. Aku tidak mungkin salah mengikuti.”


“Dari mana kau bisa tahu?”


“Bau mereka.”


Thedon menghela napas panjang. Dia salah mengajak bicara perempuan di depannya. Perempuan itu tidak akan menjawab ketika sedang serius. Terutama ketika sedang menggunakan kekuatannya.


“Kenapa harus ke sini, coba?”


Chalia menengok dan mendengkus. “Sepertinya kau melupakan sebuah pepatah lama.”


“Apa?”


“Bahwa persembunyian terbaik adalah di tempat yang tak terduga, contohnya Ginkgo Forest ini.”


Thedon menggelengkan kepala. Saat Amara dan Venalu terpukau dengan hutan ini, Chalia justru menatap hutan ini dengan ngeri.


“Kenapa kau melihat Ginkgo Forest seperti itu?”


“Karena tempat seindah ini bisa menyembunyikan banyak hal menakutkan.”


Thedon memutar bola matanya. Dia menyesal menganggap Chalia berbeda. “Kau juga mengagumi hutan ini?”


“Tentu saja. Ini hutan yang cantik. Namun, sekarang ….” Chalia bergidik sendiri. “Sudahlah, kita sebaiknya segera masuk. Entah kenapa aku merasa tidak aman.” Chalia berjalan cepat. Elf berkuncir kuda itu mulai tidak nyaman. Entah karena dia terluka atau memang para Dwarf itu bisa menyembunyikan diri dengan baik, perempuan itu kesulitan mengenali bau yang menuntun mereka.


Thedon yang menyadari tingkah Chalia, menghampirinya. “Kamu tidak apa-apa?”


Chalia menggeleng. Dia berdiri diam sambil celingukan. Hidungnya sudah tidak dapat mengenali bau yang ada di hutan itu. Dia beralih untuk untuk memfokuskan telinga.


Sementara itu, Thedon mendengar desingan udara yang bergerak aneh. Refleks dia meraih pinggang Chalia dan melompat tinggi ke salah satu dahan pohon ginkgo. Sebuah perangkap bergerak ke atas, semacam jerat untuk binatang hutan.


“Apa itu?” Chalia yang merangkul tengkuk Thedon bertanya sambil berbisik.


“Perangkap.” Thedon mengedarkan pandangannya. “Dan sepertinya tidak hanya satu.”


“Apa?”


Seruan Chalia yang tepat di telingnya, membuat Thedon menjauhkan kepala dan menatap Chalia. Dia sewot sendiri karena gadis itu malah berteriak. Namun, dia menyesali tindakannya. Chalia dan Thedon kini saling bertatapan dengan saling merangkul.


“Eh ….” Chalia sontak melepaskan rangkulannya. Dia bergerak mundur dan kakinya tidak bisa berpijak sempurna karena keduanya sedang di atas dahan.


“Wuah, bukankah kita berada di dahan yang cukup tinggi. Kau bisa melompat setinggi ini?” tanya Chalia saat ia menunduk dan melihat ke bawah.


Tanpa menjawab, Thedon hanya memutar pergelangan tangannya. Sebuah pusaran angin kecil muncul di telapak tangannya. Chalia takjub melihat pusaran angin yang kian menipis dan hilang itu.


“Kalau sudah selesai mengagumi, bisa bantu aku?”


Chalia mengerjap-ngerjapkan mata. Dia malu karena ketahuan baru saja mengagumi kekuatan Thedon. “Bantu apa?”


“Aku yakin, perangkap tidak hanya dibuat satu. Bisa bantu aku memastikan hal itu.” Thedon menunjuk beberapa titik kejauhan. “Di sana. Di sana. Dan di sana.”


Chalia menatap arah yang ditunjuk Thedon. Tertutup daun ginkgo yang rimbun, matanya dapat melihat sebuah perangkap yang tergantung siap untuk dijatuhkan. Gadis itu memberengut menyadari jebakan itu. Chalia mengalihkan pandangan menuju arah yang ditunjuk Thedon selanjutnya, sebuah kayu besar tampaknya siap menghantam mereka.


“Yep. Dua yang pertama memang ada. Namun, satu lagi … aku tidak yakin,” kata Chalia sambil menatap Thedon.


“Aneh. Aku bisa merasakan pergerakan udara di ujung sana tidak stabil.”


“Apakah kamu tahu kita ada di sebelah mana Ginkgo Forest?” tanya Chalia.


Thedon yang mendengar tanya itu pun mengedarkan pandangan. Dia sama asingnya dengan hutan ini. Meskipun tidak dipungkiri, ini masih bagian dari Ginkgo Forest. “Sepertinya ini jauh dari akademi,” ujar Thedon.


Red tiba-tiba menyalak, membuat Chalia dan Thedon sama-sama menunduk. Rubah berbulu merah itu tampak melompat-lompat. “Dia meminta kita untuk turun,” jelas Chalia.


“Kamu bisa turun sendiri?”


Chalia menatap Thedon. “Kamu menantangku?”


Thedon hanya mengangkat bahu.


“Watch this!”


Chalia segera melompat ke bawah. Tangannya menggapai satu dahan terdekat. Dia sempat berakrobat dan kembali meluncur ke bawah. Badan kecilnya bergerak lincah dari satu dahan ke dahan lainnya hingga akhirnya mendarat dengan mulus di tanah.


Tidak lama, Thedon juga memijakkan kakinya di sebelah Chalia. Dia mendarat halus tepat di sebelah Red. Rubah berbulu merah itu menyalak ringan pada Thedon.


“Dia mengucapkan salut atas pendaratan mulusmu,” jelas Chalia.


Thedon hanya menaikkan alis kanannya dan tersenyum miring.


Bah, baru dipuji segitu saja sudah merasa ge-er.


Chalia hanya menempelkan telunjuk di bibirnya.  Jangan berisik. Ada apa memanggil kami?


Di depan sana ada sebuah gua rahasia tersembunyi.


“Apa?” tanya Chalia setengah menjerit.


“Ssst … jangan berisik,” sela Thedon. Dia menatap Chalia dan Red bergantian.


“Tapi Red bilang ….” Chalia menunjuk Red yang masih menggoyang-goyangkan ekornya.


“Apa?”


“Ada sebuah gua rahasia di ujung sana.”


“Di mana?”


“Tempat yang kau bilang pergerakan udaranya tidak stabil.”