Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Levi Strauss and the Journey to the North-West - Levi Strauss’s Show




Levi Strauss’s Show


CAIRAN BERWARNA HIJAU lendir dari dalam tabung erlenmeyer besar mengepulkan asap dan beriak-riak. Seseorang baru saja mengisinya dari bejana di sudut ruangan yang juga mengeluarkan asap. Di bawah bejana tersebut, kobaran api kecil masih menari-menari riang, tertiup udara dari ruangan yang sudah bercampur zat kimia. Kelihatan beracun jika tidak menggunakan pelindung wajah. Di ruangan berukuran 3x4 meter itu, instrument toples kaca dan termos tertata indah pada rak dan lemari. Berbanding terbalik dengan beberapa keramik, buku-buku, helaian kertas, besi-besi, dan mesin yang berserakan di beberapa sisi lantai. Bahkan meskipun tempat itu kelihatan seakan-akan pengap karena dipenuhi alat-alat dan peralatan alkimia, nyatanya suasanya terasa begitu sepi.


Setidaknya begitu yang dirasakan oleh anak laki-laki itu. Levi Strauss.


“Oke, sepertinya hasil penyulingan zat ini sudah sesuai dengan yang kuharapkan.” Ia bergumam setelah memerhatikan cairan kental berwarna biru laut dari sebuah alembic—tabung penyulingan. Suaranya sedikit teredam karena mengenakan masker antiradiasi kesayangannya. Dengan hati-hati, ia mengambil sedikit cairan itu dan menuangkan ke dalam tabung reaksi, kemudian bersara bara meletakkan pada tempat penyimpanan khusus miliknya. “Dengan begitu, semuanya sudah lengkap. Perfect!”


Levi melepaskan masker antiradiasi beserta kacamata penelitian lalu menguap lelah. Seharian ini ia berkutat di ruangan penelitian dan memilih bolos kelas mitologi. Alasannya? Karena malas saja. Lagipula, ia tidak terlalu memedulikan Aimer Venmaris, guru yang mengajar di kelas itu akan menghukum atau mungkin memakinya. Toh, dia juga sudah mendapati reputasi dan cap jelek di sekolah ini. ‘Orang gila dan stres seperti namanya’. Bukankah itu hebat? Oh, jelas!


“Kurasa sudah dua kali bolos kelas mendongeng itu. Cih! Jika tidak ada peraturan yang membuat siswa tidak bisa naik kelas tanpa lulus mata pelajaran itu, mungkin aku bisa lebih bebas. Menyebalkan!” Levi menggerutu di akhir kalimatnya. Ia mengambil sebuah labu ukur dan menggoyang-goyangkan senyawa di dalamnya dengan malas. “Mereka hanya mengoceh tentang sesuatu yang bisa saja tidak terbukti kebenarannya. Mitos? Nyeyeye… bahkan anak fantasi yang menyedihkan itu tampak terkagum-kagum. Bagiku, mereka kelihatan dungu. Kau setuju, kan?”


Labu ukur yang diajak bicara tidak menjawab. Tentu saja, karena benda mati. Levi menghela napas berat dan seketika terpikir akan sesuatu. “Ah, tidak semua anak fantasi itu dungu, sih. Lily James pengecualian. Hah … aku sangat menyayangkan dia masuk ke asrama tukang halu itu. Padahal, sebagai ras manusia ia lebih cocok bersamaku di sci-fi. Lebih realistis. Namun, tetap saja aku membenci asrama fantasi. Hari itu … aku tidak akan pernah lupa.”


Jadi begini, Levi Strauss adalah anak tingkat dua Maple Academy. Ia berada di asrama Sci-fi, tempat orang-orang nerd dan agak psikopat berkumpul. Kebanyakan orang mungkin akan tersulut emosi, tapi Levi masih menganggap itu keren. Ia hanya memiliki segelintir teman—bisa dibilang hampir nihil—karena tidak ada yang mampu mengimbanginya. Ia juga punya klub yang saat ini hanya beranggotakan ia sendiri. Awalnya ia bukanlah seseorang yang terkenal seperti kebanyakan anak fantasi yang namanya muncul kepermukaan setelah mengalami petualangan besar. Levi berbeda. Dia dikenal orang saat pertunjukkan The Scient Show.


Hari paling amit-amit terjadi selama hidupnya di dunia. Tepat saat malam penutupan prefek yang membosankan.


Kala itu, Levi dengan bangga menyuarakan pernyataan bahwa anak sci-fi dapat menciptakan sebuah makhluk tanpa perlu embel-embel mantra ataupun sihir. Hanya perlu menggunakan alat, mesin, dan alkimia, semuanya akan bisa teratasi. Namun, sesuatu yang tidak disangka terjadi hari itu. Saat kunang-kunang harapan baru saja diterbangkan, saat para siswa mulai mempertimbangkan omongan Levi Strauss yang kelihatan meyakinkan, sebuah energi dari alat yang ia sebut sebagai elemental crucible, melayang ke udara dan meledak bagai bom nuklir.


Teriakan memecah keheningan disusul kasak-kusuk. Levi yang tidak percaya perhitungannya salah, sebisa mungkin mencoba mengatasi kekacuan itu. Sayangnya, ia tidak mampu. Bersamaan dengan hujatan yang tertuju padanya, Levi mulai dibenci. Sejak hari itu, nama Levi Strauss meroket mengalahkan nama-nama yang biasanya trending di papan pengumuman. Ia adalah satu-satunya anak dari asrama sci-fi yang menjadi superstar.


“Kejadian itu memang sudah lama, tapi semuanya masih terekam jelas,” ujar Levi. Tanpa sadar, ia mengepalkan tangan dan tertawa lantang. Matanya melotot membayangkan kata-kata hinaan yang kembali berputar di atas kepalanya. Ia berjalan menuju cairan hijau lendir dalam tabung erlenmeyer yang sudah tidak mengepulkan asap. “Besok adalah hari pembalasan. Agar semuanya berjalan sempurna, aku sudah menyiapkan sesuatu untuk mereka. Lihat saja, kali ini tidak akan ada kesalahan. Tingkat keberhasilan untuk momen itu adalah seratus persen.”


Sebuah pintu rahasia terbuka di ruangan 3x4 meter itu. Perlahan-lahan, sesuatu yang tersembunyi di dalamnya mulai terlihat. Levi menyeringai lebar. Seringai yang tidak biasa. “Besok aku akan menunjukkan sesuatu yang luar biasa kepada mereka. Wahai ciptaanku yang sempurna, kita beri mereka pelajaran karena sudah merendahkan harga diri calon Alkemis terhebat sedunia. Levi Strauss. Hahaha .…”


Sepasang mata yang gelap seperti lubang hitam menyala merah. Itu berasal dari sebuah humanoid. Robot berbentuk manusia.


 Di sinilah Levi berada sore ini. Ia tengah menderek benda besar yang ditutupi kain hitam dengan penuh semangat yang membara. Tadi pagi, ia sudah menyebarkan brosur pertunjukkan penelitian terbarunya ke penjuru sekolah. Dan lagi-lagi membolos. Ya, walaupun brosur tersebut lebih banyak berakhir menjadi sampah kering atau bahan bakar, setidaknya sekumpulan anak terutama mereka yang berasal dari asrama fantasi sudah mulai duduk sambil berbisik di ujung halaman. Levi mengelap keringatnya sembari memandang berpasang-pasang mata yang mengejek, penasaran, dan sebagian tidak peduli. Sekilas ia melihat Addison seperti tengah memperhatikanmya dari atas gedung dengan malas. Cih! Anak kesayangan kepsek itu berada di tempat yang aman, menyebalkan!


Namun, bagaimanapun juga rencananya kali ini, akan berjalan lancar. Bagaimana tidak? Sebentar lagi anak-anak yang sudah mengejeknya waktu itu akan berlutut meminta maaf dan mengakuinya sebagai jenius yang tak terkalahkan. “Ah, unbelievable!” seru Levi menyeringai tiba-tiba. Ia menyadari sesuatu dan merasa bangga dengan dirinya.


Levi berdiri di tengah halaman, merentangkan kedua tangan lebar-lebar sambil menyambut para siswa yang sudah tidak sabar. “Aku yakin kalian sudah sangat menunggu momen ini, kan? Well, tenang saja. Sebagai calon ilmuan hebat dan jenius, aku akan membagikan momen tak terlupakan ini. Percayalah, sehabis menonton pertunjukkan yang akan aku selenggarakan—“


“Lama banget! Tidak usah banyak bicara, Looney Levi!” Seorang perempuan tengil dari asrama fantasi menginterupsi. Levi tahu pasti siapa ia, Maya. Salah satu dari orang yang tidak ia sukai di Maple Academy. Hanya saja, ia merupakan salah satu dari teman satu geng Lily James. “Kami tidak butuh omong kosongmu! Bukan begitu teman-teman?”


Orang-orang membalas dengan sorakan setuju.


“Well, sepertinya ada satu anak tidak sabaran dan ingin acaranya ini segera dimulai.” Levi membalas tanpa terpengaruh omongannya yang kasar. “Baiklah, tanpa perlu lama-lama lagi, aku tunjukkan pada kalian mahakarya Levi Strauss yang luar biasa. TARAAA!!” Setelah melontarkan teriakan penuh hasrat itu, Levi menyingkap kain yang menutupi benda yang dibawanya. Begitu semuanya melihat ....


Keheningan menyebar di udara. Selama beberapa saat, tempat itu seakan tidak memiliki penghuni sama sekali. Levi yang masih tersenyum lebar, tampak kebingungan dan bertanya-tanya. Tiga detik setelahnya, pecahlah tawa di halaman tersebut.


“Kau bilang itu mahakarya? Aku lebih menyebutnya sebagai penghinaan dengan gaya,” balas Maya lagi. Sorakan bernada ‘huuu’ yang panjang menggema. “Akan aku laporkan kepada Miss Elafir biar tahu rasa.”


“Ya ampun, Miss Eflair terlihat sangat konyol. Seperti pembantu di rumahku. Taruhan, mukanya pasti sangat merah padam kalau melihat ini.”


Berbagai kata ejekan dilontarkan ke arahnya. Levi berdiri di sana. Tegak dengan kepala tertunduk. Penonton mungkin akan mengira bahwa Levi mengalami tekanan mental setelah mendapati bertubi-tubi hinaan tersebut. Akan tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Mereka tidak percaya bagaimana seorang Levi Strauss tertawa dengan sangat keras. Bahkan rasanya, tawa tersebut menggema ke seluruh penjuru sekolah. “Kalian sebenarnya memang bodoh atau hanya tahu cara mengejek orang lain, sih?” tanyanya. Mata Levi menajam. “Kalian pikir aku membuat robot menyerupai wakepsek tidak memiliki tujuan, begitu? Salah besar. Dan asal kalian tahu, ya, tujuan itu tercapai saat kalian menghina benda ini.”


Terdengar kasak-kusuk di kursi penonton.


“Seperti yang kalian tahu Miss Elafir adalah orang yang galak dan sangat tidak suka direndahkan. Nah, kalian kan baru saja merendahkan robot ini yang notabene menyerupai wakepsek. Robot maid ini pemarah, loh? Kebetulan banget, kalian baru saja memancing amarahnya!”


Levi mengeluarkan sebuah remot pengendali dari jasnya. Ia menekan tombol berwarna merah dan seketika robot bergerak. Kedua matanya memancarkan aura kemerahan yang menakutkan. Ada suara yang keluar dari mulut robot tersebut. “Hancurkan! Hancurkan!” Sebelah tangan besi robot itu terangkat dan dari telapaknya keluar sebuah corong besi silinder. Robot itu tampak seperti hendak membidik. “Tembak!”


Cairan hijau kental memelesat ke arah Maya dan Jace. Cairan itu tidak mengenai mereka, tetapi berhenti di tanah dekat ujung sepatu. Cairan itu mengeluarkan asap dan melelehkan tanah. Teriakan terdengar kembali. Kali ini lebih mengarah kepada kepanikan.


“Bukannya tadi mengejekku, ya? Kok sekarang malah panik, sih?” tanya Levi memiringkan kepala. Ia mengarahkan remot pengendali dan menekan tombol terus-terusan sehingga robot itu menembak ke arah yang ditentukan. Robot itu menembakkan cairan beracun tanpa henti mengejar anak-anak yang sudah lari terbirit-terbirit, sebagian lagi mencoba membalas robot yang mengamuk itu dengan bakat dan keahlian mereka. Levi terus terbahak-bahak. Anak itu benar-benar menikmati aksi balas dendamnya.


“Levi, hentikan sekarang juga. Apakah kau ingin melukai kami?” sorak Maya panik ketika jubahnya terkena cairan hijau. “Ya ampun, jangan sampai kulitku yang mulus  menjadi rusak! Aku sudah lelah manicure-pedicure!”


“Melukai? Enggak, tuh. Aku tidak menyentuh kalian sama sekali. Salahkan robot maid ini kalau kalian terluka. Atau kalau mau ekstrem, ya, salahkan Miss. Elafir. Hahaha ….”


“Dasar tidak waras!”


Levi tidak memerdulikan hal itu dan semakin terbawa suasana. Ia tak sengaja menekan secara kasar remot pengendali dan menyebabkan korsleting. Akibatnya, robot maid yang tadinya mematuhi perintahnya kini berubah agak aneh, seperti robot rusak. Kemudian, kepala robot tersebut berputar 360 derajat. Awalnya pelan, tetapi semakin lama putaran itu semakin kencang. Hal yang menakutkan mulai terjadi. Cairan asam ditembakkan tiada henti ke sisi yang lain. Levi tersentak kaget. “Sialan! Ini di luar rencana.”


Kekacuan terjadi di halaman dengan cepat. Beberapa bagian dari gedung dekat halaman meleleh, tanaman hangus, dan tidak sedikit dari seragam siswa yang hanya numpang lewat terkena cipratan cairan itu. Levi bergegas mengambil tas jinjingnya dan mencoba memperbaiki kekacauan. Namun, ia malah semakin merusaknya sehingga remote tersebut tidak berfungsi. Dengan pikiran yang kusut, Levi membanting alat itu dan menginjaknya sampai hancur. Ia tidak sadar bahwa kelakuannya barusan menciptakan kejadian lain. Robot gila yang menyiram cairan ini berhenti. Kepalanya menengadah ke udara dan mulutnya membuka lebar. Sangat lebar sampai sebuah corong silinder berukuran besar terlihat. Dari corong tersebut sebuah kumpulan cairan dan seketika meletus bagai lahar gunung berapi.


Halaman sekolah meleleh dan membentuk seperti ceruk di lautan.Uh-oh.


Tak lama setelahnya derap langkah kaki dari segala sisi mendekati lokasi Levi berada. “Apa-apaan ini?” Suara dari seorang wanita paruh baya menggema dalam keheningan.


Levi tersentak kembali. Suara itu … dia sangat mengenalinya. Itu suara milik Miss Elafir, wakil kepala sekolah yang asli. Sekarang, wanita itu melihat semuanya dan benar-benar tidak senang. “Levi Strauss! Anda pasti bisa menjelaskan semua kekacuan ini, kan?”


“A-anu ....” Belum sempat Levi menyelesaikan kalimatnya, sebuah cairan tiba-tiba saja memelesat ke arah wajah wakepsek. Semua mata terkejut. Bahkan Levi sendiri tidak menyangka hal itu akan terjadi. Ia menggerutu dalam hati. Sudah dipastikan ia berada dalam masalah yang sangat besar.


Energi sihir terpancar tiba-tiba dan langsung menghancurkan robot buatan Levi. Kepala robot itu menggelinding di bawah kakinya, menganga seperti ingin bilang bahwa ia benar-benar pecundang. Levi menelan ludah, lalu menengok ke arah Miss Elafir yang kelihatan seperti banteng mengamuk.


“LEVI STRAUSS! KE RUANGAN SAYA SEKARANG JUGA!” Teriakan Miss Elafir menggetarkan kastel sekolah karena ia memang mempunyai kekuatan suara supersonik.


Acara pembuktian dan balas dendam tersebut pada akhirnya berujung kacau untuk kedua kalinya.