Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Secret Mission to Mirror Island - Wave




Wave


MR. NAVARRO DAN Addison mendarat tidak jauh dari Habibie dan Thann yang mati-matian menahan gelombang energi dari gadis itu. Ia mengepakkan sayap perinya sekali lalu sayapnya mengecil dan menghilang.


“Dasar kaum rendahan! Berani-beraninya makhluk itu membakar jubahku!” umpat kepala sekolah dengan wajah kesal. Ia menepuk-nepuk telinga jubahnya yang sedikit hangus. “Ia tidak tahu kalau jubah ini dibuat dari bulu kucing jantan belang tiga blasteran chimera!”


Addison memperhatikan kepala sekolah dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tidak ada kerusakan apa-apa selain ujung telinga jubahnya yang terbakar. Melihat api yang melahapnya tadi, Addison mengira kepala sekolah akan hangus jadi abu laut.


“Sir, kami sudah tidak sanggup menahannya lagi,” keluh Habibie dengan memutar kepalanya menghadap kepala sekolah yang lebih mementingkan jubah norak itu. “Gadis ini benar-benar liar!”


Mr. Navarro berhenti menepuk-nepuk jubahnya lalu mengucapkan mantra non-verbal sehingga gelombang energi lenyap begitu saja. Ia berjalan mendekat dan berdiri di antara Habibie, Thann, dan gadis itu. Kepala sekolah memandang gadis itu dan mengucapkan kata yang tidak dipahami oleh ketiga muridnya.


Gadis itu menghentikan serangannya. Ia melayang turun dan berdiri di hadapan kepala sekolah. Selubung yang menutupinya hilang ketika ia mulai berbicara dengan bahasa yang juga tidak dipahami oleh Habibie, Thann, dan Addison.


Cukup lama mereka bicara sampai gadis itu mundur agak jauh lalu mulai melakukan serangkaian gerakan. Mula-mula hanya gerakan berputar dan melingkar, kemudian gerakannya semakin cepat.


“Apa gadis ini mantan penari tiang?” tebak Habibie sambil memandang tidak berkedip kepada gadis yang melakukan tarian aneh, tetapi entah kenapa masih terlihat anggun dan sensual saat baju tipisnya tersingkap sedikit demi sedikit.


“Air liurmu menetes, Habibie Alfarabi,” cela Addison sambil memandang jijik ke arah lelaki berambut cokelat itu. “Tidak bisa melihat yang seksi dan cantik sedikit saja. Dasar buaya padang gurun peliharaan Firaun!”


Thann berdiri di antara Habibie dan Addison dengan pandangan mata tidak berkedip juga. “Ini tarian pemanggilan. Aku pernah melihat gerakan yang seperti ini sebelumnya.”


“Tarian pemanggilan?” ulang Addison sambil berpikir. “Jangan-jangan ….”


Thann mengangguk.


Gadis itu berhenti menari. Sekarang tangannya naik-turun selama hampir semenit, kemudian mulai menari lagi dengan sangat cepat. Ia berputar-putar dan meliuk-liuk sambil memandang langit. Setelah agak lama, ia berhenti mendadak dengan tangan menyentuh dada, kemudian suatu benda kecil berkilauan muncul dari dalam tubuh gadis itu, tepatnya di bagian dada.


“Asteroid Emas!” seru Addison. “Pantas saja gadis itu tidak mau aku pegang dadanya. Ternyata ada benda berharga di sana.”


“Ada gunung emas dan Asteroid Emas, makanya gadis itu tidak mau kausentuh,” timpal Habibie dengan jawaban ambigu.


Addison tidak menjawab ucapan Habibie meski tangannya gatal ingin menampol mulut lelaki itu. Ia   hanya mengalihkan pandangan ke arah gadis itu lagi. Benda berkilauan yang muncul dari dalam tubuh gadis itu awalnya hanya sebesar ibu jari, lalu secara perlahan membesar. Benda itu membubung tinggi dan seakan menutupi langit di atas Mirror Island. Cahaya matahari terhalang oleh asteroid sebesar rumah itu, membuat keadaan di bawah agak temaram.


“Habibie, tugasmu. Jangan melongo seperti itu,” perintah kepala sekolah sambil memandang Habibie yang terkesima. “Lakukan penyegelan sempurna. Kali ini jangan sampai gagal. Kalau gagal, aku akan menurunkanmu ke kelas 1 tahun depan.”


Habibie mengangguk dan melakukan serangkaian gerakan tangan, lalu benda hitam berbentuk kubus muncul dari telapak tangannya. Benda itu membesar dan melayang ke langit. “Target terkunci sempurna,” lapor Habibie ketika sudah berhasil mengurung Asteroid Emas itu.


Kepala sekolah memandang Addison. “Sekarang giliranmu. Mirror wave yang kamu miliki sudah cukup sempurna.”


“Sekarang kau ada di atas cermin Mr. Spiegel. Semua cermin di sini adalah mediamu. Semua cermin di sini adalah kekuatanmu. Apa lagi yang kau ragukan?” tutur kepala sekolah dengan wajah serius.


Addison menelan ludah saat mendengar kepala sekolah memanggil nama belakangnya. Berarti orang tua itu sedang serius. Sementara Addison masih belum yakin karena belum pernah melakukan mirror wave atau gelombang cermin dengan permukaan seluas ini. Menggunakan cermin kecilnya saja ia agak kesulitan.


  “Aku akan membantumu. Kau terlalu banyak berpikir sedangkan waktu kita tidak banyak. Energi sihir di sini tidak stabil, semakin lama di sini mana sihir kita semakin disedot,” ucap kepala sekolah sembari melepas anting di telinganya. Anting itu berubah menjadi tongkat clover.


“Anda akan membantu?” ulang Addison. “Berarti Anda sudah berhasil menduplikasi kekuatan saya?” Wajahnya terlihat terkejut dan tidak terima kekuatan spesialnya ditiru diam-diam.


Kepala sekolah tersenyum. “Memangnya aku belum bilang kalau sudah meng-copy kekuatanmu, ya?”


“Kapan Anda bilang, Sir?” sela Addison. “Pasti ia akan berlindung di balik alasan penyakit lupa atau paling parah menyalahkan orang lain,” gerutu Addison masih tidak terima.


“Aku tidak bisa menahan ini lama-lama. Kenapa kalian malah ngobrol!” teriak Habibie sambil menandang kepala sekolah dan Addison dengan wajah jengkel. Sementara Thann sedari tadi hanya diam untuk melakukan pemulihan diri seperti yang diajarkan Shalima.


Kepala sekolah membacakan mantra dan Addison juga melakukan hal serupa. Sebelah mata kepala sekolah langsung berubah seperti cermin, begitu juga dengan Addison, tetapi ditambah dengan tanduk di kepalaya.


Aura keemasan muncul dari mata mereka lalu menyebar dan membesar. Addison mengarahkan matanya ke arah cermin cakram matahari, sementara kepala sekolah mengarahkan ke tongkat clover-nya yang sudah berubah jadi kaca. Terjadi pantulan demi pantulan antara kedua kaca tersebut. Setelah itu, mereka mengarahkan ke cermin di bawah kaki mereka dan cahaya itu jatuh bagaikan air. Cermin bergetar dan mengeluarkan cahaya keemasan menyilaukan. Cahaya cermin cepat menyebar ke seluruh Mirror Island.


Kepala sekolah dan Addison saling pandang lalu mengangguk. Mereka berjongkok dan merentangkan tangan di depan wajah, setelah itu mengentakkan tangan di cermin. Mirror Island begetar hebat, goncangannya sungguh kuat. Tidak berapa lama, cahaya keemasan bagaikan laser langsung menukik ke angkasa dan menghantam Asteroid Emas yang sudah dikurung di dalam blackbody milik Habibie. Blackbody berfungsi untuk mengurung serpihan dan menetralisir efek radiasi dari Asteroid Emas ketika hancur.


Terjadi hantaman energi yang dahsyat antara Asteroid Emas dan mirror wave. Mirror Island bergetar hebat dan melayang tidak stabil selama beberapa saat. Sementara air laut di bawah meluap bagaikan tsunami. Habibie berusaha menahannya sekuat tenaga, tetapi ia tidak yakin berapa lama. Ia tidak menyangka efeknya akan sekuat ini.


“Gawat! Asteroidnya semakin turun menuju Mirror Island. Aku tidak sanggup menahannya lebih lama!” teriak Habibie panik.


“Aku akan membantumu menahannya,” balas Addison sambil melakukan mirror wave sekali lagi dan mencoba menembak Asteroid Emas itu yang mulai bergerak turun.


Kepala sekolah berjalan mendekat lalu membacakan mantra. Lingkaran sihir bewarna hitam muncul di cermin dan mengelilingi Habibie. “Ini akan menambah kekuatanmu. Kau hanya perlu menahannya dan menetralkan radiasinya,” kata kepala sekolah tetap tenang. Ia juga menuju Addison dan melakukan hal yang serupa kepada lelaki berambut putih itu.


Setelah itu, Mr. Navarro mendekat ke arah Thann yang masih berusaha memulihkan kekuatan. “Thann, aku akan melepaskan semua segel di tubuhmu. Kau harus melepaskan semua energi yang kauserap selama bertahun-tahun ini. Aku sudah mengajarkan caranya, sekarang tergantung kau menguasai atau tidak.”


Thann mengangguk yakin. “Saya akan melakukan dengan baik, Sir. Saya sudah berlatih untuk ini selama bertahun-tahun.”


Kepala sekolah mengulurkan tangan dan meletakkannya di perut Thann. Lingkaran sihir hitam berasap muncul di perut Thann. Mr. Navarro membacakan mantra dan lingkaran sihir berubah menjadi lubang hitam berpusaran mengerikan di perut remaja malaikat itu. Seluruh mata Thann berubah hitam dan tato di tubuhnya mengeluarkan asap hitam mengerikan.


“Lepaskan semua energi negatif yang pernah kauserap!” perintah Mr. Navarro.


Thann terbang ke angkasa dengan kecepatan penuh. Setelah cukup dekat, ia berhenti dan merentangkan sayap. Ia berteriak sangat kuat dan dari perutnya muncul energi hitam yang selama ini diserapnya. Cahaya hitam itu menembak langsung ke dalam blackbody dengan  kecepatan cahaya. Terjadi benturan dahsyat energi negatif dengan negatif. Langit seakan menggelap, laut seakan mengamuk di bawah mereka, dan awan-awan seakan tersibak dan menjauh.


“Seharusnya kali ini berhasil. Negatif dikali negatif kan hasilnya positif. Sederhana sekali. Tidak percuma aku tidak bolos pelajaran matematika di Wisteria Academy, meski si malaikat narsis itu selalu mengajakku untuk membolos,” ucap kepala sekolah seolah pada dirinya sendiri. “Aku memang selalu unggul dari si narsis itu. Hahaha ….”