
First Kiss
RIMBUNAN TANAMAN RAMBAT terhampar di depan Thedon dan Chalia. Keduanya hanya bisa saling tatap. “Di sini?” tanya Thedon. Chalia memejamkan mata. Dia menajamkan semua fungsi inderanya. Meskipun penciuman Red sudah menuntun mereka ke tempat ini, dia tetap ingin membuktikannya sendiri.
Bau ginkgo terlalu kuat untuk dipecah. Perempuan berkuncir kuda itu tidak dapat membaui apa pun selain ginkgo dan tanah lembap. Kemampuannya masih sekadar mengenali dua jenis bebauan. Jika sudah tersamar, bau apa pun tidak dapat dicari oleh perempuan itu. Dia akhirnya memilih menajamkan pendengarannya. Selain desir angin, Chalia belum mendengar apa pun.
“Mereka sudah di depan.”
“Ssstt … jangan berisik.”
“Aku tidak berisik. Dia yang bersuara.”
“Kalian berdua berisik.”
Chalia tersenyum. Bisikan itu terdengar cukup jelas di telinganya. Melihat senyum itu, Thedon hanya mengernyit. Dia menyentuh pundak Chalia, membuat konsentrasi perempuan itu pecah. “Apa yang lucu?” tanya Thedon.
Chalia hanya menempelkan telunjuk di bibirnya, lalu menunjuk ke arah tanaman rambat dengan telunjuk yang sama.
“Mereka di dalam?” tanya Thedon. Kali ini tanpa suara. Hanya bibirnya yang bergerak.
Chalia mengangguk membenarkan. Mendengar percakapan tiga Dwarf yang hanya saling menyalahkan itu membuat perempuan itu yakin.
“Tunggu di sini,” titah Thedon sambil melangkah masuk.
Belum sempat Chalia protes atas titah itu, laki-laki jangkung berambut hitam itu sudah menghilang di balik tanaman rambat. Perlahan Chalia bisa mendengar suara gema dari langkah Thedon.
Ah, ternyata benar ada sebuah gua. Red menyenggol kaki Chalia dan mendengking. Perempuan itu menoleh lalu menggendong Red.
Ada apa? tanya Chalia. Dia dapat merasakan kegalauan hewan kontraknya.
Entahlah, aku merasakan sesuatu yang aneh.
Apa? Berbahayakah?
Aku tidak yakin. Ini bukan sesuatu yang tidak baik, tapi juga bukan sesuatu yang baik.
Chalia menggaruk tengkuk Red. Kalimat yang dilontarkan Red membuatnya tidak nyaman. Apalagi Thedon belum juga keluar dari gua.
Kamu aneh! kata Chalia.
Aku serius! Lebih cepat kita menangkap pencuri itu, lebih cepat juga kita keluar dari hutan ini.
Kamu takut dengan hutan ini?
Aku hanya merasakan sesuatu bergerak. Bukan sesuatu yang alami.
Thedon masih juga belum keluar dari gua. Kekhawatiran Chalia kian membuncah. Apalagi ditambah dengan semua perasaan Red. Satu hal yang Chalia tahu, hewan kontraknya tidak pernah salah menilai sesuatu. Jika Red sudah bilang ada sesuatu, berarti itu benar adanya.
Haruskah aku masuk?
Jangan! Dia bilang kamu harus tunggu di sini.
Tapi …
Kalimat Chalia tidak selesai. Telinganya menangkap suara gema entakan langkah kaki. Terdengar lebih berat dari ketika Thedon melangkah masuk. Perempuan itu bersiap dan menurunkan Red dari gendongannya. Dia mulai memasang kuda-kuda. Berjaga jika itu bukan Thedon.
Bug!
Sebuah benda dilemparkan dan jatuh tepat di depan kaki Chalia. Perempuan itu melompat mundur. Red mendengking saking kagetnya. Benda itu menggeliat-geliat tak henti. Membuat Chalia merasa jijik mendekatinya. Sementara itu Thedon melangkah keluar dengan rambut yang berantakan. Dia tersenyum bangga dan mendekati benda yang menggeliat tersebut.
Saat Thedon berdiri tepat di sebelah benda itu, barulah Chalia menyadari bahwa yang menggeliat-geliat itu adalah para Dwarf yang sudah diikat bersama. Ketiganya saling memunggungi.
"Kau mengikat mereka?" tanya Chalia takjub.
Thedon hanya mengendikkan bahu. Dia berjongkok di depan salah satu Dwarf berjanggut putih. "Kita sudah berada di tempat yang penuh matahari. Jadi, katakan padaku di mana buku itu?"
Dua Dwarf yang lainnya beegerak tak tentu. Keduanya berteriak menyuruh si janggut putih untuk tidak memberi tahu lokasi buku yang mereka curi. "Kau tidak akan bisa menemukan buku itu, Anak Muda. Tidak akan ada yang bisa!"
Sementara itu, Chalia mendengar sesuatu yang cukup aneh dari dua Dwarf yang berteriak.
"Kalian tidak berhak memiliki itu."
"Hanya kami yang dapat mewujudkan harapan pangeran kami."
Chalia menarik Thedon yang masih mencoba bernegosiasi. Perempuan itu membawa sang prefek menjauh. "Ada apa?" tanya Thedon kesal.
Chalia menatap Thedon lama lalu berujar, "Mereka menyebut-nyebut soal pangeran."
Thedon terdiam, responsnya cukup tenang. "Gimana tepatnya mereka menyebut soal pangeran?"
"Entahlah. Mereka hanya bilang itu milik pangeran kami. Maksudnya buku yang dicuri milik pangeran yang itu, kan?" Chalia melontarkan pertanyaan sekaligus motif pencurian.
"Sebaiknya kita fokus untuk menemukan buku itu saja. Mengenai penyebutan pangeran, cukup itu jadi rahasia kita." Thedon memutuskan untuk tidak memperpanjang kecurigaan Chalia. Baginya, misi yang dia emban adalah menemukan buku yang dicuri.
Melihat Thedon tidak menggubris kecurigaannya, Chalia mendengkur kesal. Dia berkacak pinggang sambil menatap punggung Thedon yang menghampiri tiga Dwarf itu. Gadis itu bergumam tak jelas mengeluarkan kekesalannya.
Akhirnya dia menengadahkan kepala dengan mata terpejam sambil menutup telinga. Menutup suara-suara di sekitarnya. Ketika Chalia membuka matanya, sebuah kilau membuat dia mengerjap-ngerjapkan mata. Kilau itu menarik perhatian Chalia. Gadis itu memicingkan matanya yang berwarna hijau. Dia menajamkan penglihatannya. Senyumnya merekah.
"Hei, Thedon. Kemarilah!" panggilnya dengan suara gembira.
Prefek utama yang baru saja hendak membuka obrolan dengan para Dwarf itu mendesah. Dia membalikkan badan dan menghampiri Chalia yang masih menengadahkan kepala. "Kali ini apa lagi? Bukankah sudah kubilang kita fokus menemukan buku yang dicuri."
"Coba ingatkan aku lagi, bagaimana rupa buku itu?"
Thedon mengernyit. Chalia berbicara tanpa menatapnya. "Buku yang tidak terlalu tebal. Sampulnya berwarna emas atau keemasan. Ukurannya sedikit lebih besar dari buku notes yang selalu dibawa Mevel."
"Bukankah itu bukunya?" Chalia menunjuk jauh ke atas puncak pohon.
Thedon mengikuti arah yang ditunjuk Chalia. Dia bahkan memicingkan mata hingga menyipit sempurna. Namun, tidak sekalipun dia mampu melihat apa yang ditunjuk Chalia. "Di mana? Kau yakin?"
"Di puncak pohon. Haruskah aku memanjat dan mengambilnya untukmu?" tanya Chalia.
Thedon tidak menjawab. Dia berpikir sejenak. "Aku punya ide yang lebih baik." Laki-laki itu bersiul tinggi.
Chalia melihat sekeliling. Tidak ada sesuatu pun. Dia menatap Thedon yang menatap langit. Tiba-tiba suara pekikan burung terdengar mendekat. Thedon langsung mengangkat tangan kanannya. Seekor Elang Phillipine mendarat di lengan Thedon.
Chalia nampak takjub melihat elang itu. Dia cukup besar dibanding elang lainnya yang pernah gadis itu lihat.
"Perkenalkan. Ini Olive," kata Thedon memperkenalkan burung di tangannya pada Chalia.
Burung itu tampak seperti mengangguk di mata Chalia. Gadis itu pun mengangguk pelan,enjawab anggukan salam dari Olive.
Dengan pelan, Thedon membisikkan sesuatu. Olive memekik pelan, menjawab apa pun yang dibisikkan pemiliknya. Burung itu kembali memelesat terbang. Kali ini menuju arah yang ditunjuk Chalia.
"Itu hewan kontrakmu?" tanya Chalia.
"Hhmm."
"Tidak kusangka, ternyata seekor elang."
"Hhmm."
"Dia tampan."
Thedon tertawa kecil. Chalia yang mendengar tawa itu menatap Thedon aneh.
"Olive akan sangat marah mendengarnya."
"Kenapa?"
"Dia betina."
Chalia menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia merasa bersalah sudah berasumsi bahwa laki-laki akan memiliki hewan kontrak berjenis kelamin jantan.
"Hei, murid akademi!" panggil si janggut putih. Baik Chalia maupun Thedon menoleh bersamaan. "Kalian terlalu berani datang ke hutan ini hanya berdua saja!" serunya.
Red tiba-tiba berlari menjauhi Chalia. Dia terkaing-kaing bersembunyi di balik pohon. Sementara itu angin berembus tak wajar. Thedon yang menguasai kekuatan elemaen angin, merasa heran dengan pergerakan desiran angin. Chalia mulai berputar di tempat untuk melihat sekeliling.
Pohon-pohon ginkgo tampak bergerak seperti menari. Bergoyang ke kanan dan ke kiri seirama, lalu embusan angin sejuk bergerak secara vertikal menuju puncak pohon. Embusan itu menggoyangkan dahan dan ranting. Daun ginkgo berguguran serentak.
Chalia tampak takjub. Wajahnya berseri melihat fenomena hujan daun ginkgo secara ajaib ini. Dia menatap Thedon yang juga sedang melihat tepat ke matanya. Langkah kaki mereka saling mendekat. Thedon menunduk. Dia mengamati raut wajah Chalia tanpa ada yang terlewat. Kedua matanya terpaku pada satu tempat. Tanpa ragu, laki-laki itu menunduk, dikecupnya bibir Chalia.