Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Secret Mission to Mirror Island - Lake




Lake


THANN DAN ADDISON hanya memandang hamparan halaman sekolah yang berlubang-lubang dengan wajah lesu. Mereka baru saja diomeli Shalima atas kekurangan 30 point untuk asrama fantasi. Waktu itu hari Sabtu, tidak ada pelajaran dalam kelas. Para siswa sibuk mondar-mandir atau bersantai setelah latihan bakat. Dua orang siswa asrama fantasi, Sam dan Ashlen, yang kebetulan lewat menyapa mereka, tetapi tidak dihiraukan. Bahkan Levi yang lewat sambil bicara sendiri menendang kaki Thann yang terjulur, membuat remaja itu hampir tersungkur, pun tetap tidak dihiraukannya.


Thann merutuki diri sendiri karena kebodohannya terperangkap trik murahan kepala sekolah. Bisa-bisanya amplop warna-warni itu berubah normal ketika diserahkannya kepada Shalima. Sepertinya kepala sekolah memang sudah merencanakan sejak awal. Entah apa maksudnya, Thann juga tidak tahu. Kadang kepala sekolah memang usil dan susah ditebak.


“Hei kalian, jangan memasang wajah seperti itu,” tegur Habibie sambil berjalan mendekat dengan senyum secerah matahari. Naga hitamnya menguik-nguik di pundaknya ketika melihat Addison mengeluarkan seekor anak domba cantik bewarna putih dari dalam cermin.


“Asrama fantasi kehilangan 30 point dan Shalima mengamuk seolah kami baru saja menjatuhkan meteor ke dalam sekolah.” Addison merapikan rambut dengan cermin yang dipegangnya. Menjadi kebiasaan, dalam situasi apa pun, lelaki berambut putih itu selalu memperhatikan penampilan. Ia dikenal dengan lelaki pesolek seantero sekolah, tetapi anehnya masih banyak saja siswi yang menyukainya.


Thann menghela napas panjang. “Seharusnya aku sudah bisa menebak kalau amplop warna-warni itu jebakan kepala sekolah.”


“Tidak apa-apa. Santai. Tenang saja, 30 point bukan angka yang besar. Asrama sci-fi malah baru saja kehilangan 60 point karena Levi, 15 point karena diriku.” Habibie tertawa seolah itu pencapaian besar. Kalau saja Shalima mendengar mereka berkata seperti itu, Addison dan Thann pasti sudah dililit akar lalu dikubur hidup-hidup. Seluruh sekolah sudah tahu bagaimana Shalima terobsesi menjadi yang terbaik dalam hal apa pun, meski ia sendiri pernah membuat asrama fantasi kehilangan point.


“Rasanya mau pindah ke asrama sci-fi saja. Andai prefek asrama kami seperti dirimu, pasti masa remajaku menjadi sempurna,” keluh Addison sambil mengayunkan tangan untuk memanggil dombanya yang sedang bermain kejar-kejaran dengan naga Habibie.


“Apa yang kalian lakukan di halaman sekolah yang gosong ini?” teriak Mevel dari lantai dua. Bocah itu berdiri di pinggir pembatas dengan jubah jingganya berkibar-kibar ditiup angin.


Habibie, Thann, dan Addison menengadahkan untuk melihat orang yang memanggil mereka. “Bukannya tadi menyuruh kami menunggu di sini?” tanya Addison sambil berdiri.


Mevel menggeleng lalu mengangkat payung clover-nya. Ia mulai meniti pembatas sambil merentangkan kedua tangan untuk pengatur keseimbangan. “Tidak! Aku menyuruh kalian menunggu di Lakevender tadi.”


“Kau yang barusan bilang menunggu di sini.” Habibie mulai jengkel.


“Hei, Dik, turun ke sini. Nanti kau jatuh. Sekarang kepala sekolah ada di mana? Buat apa juga kami ke Lakavender?” kata Addison.


“Aku tidak pernah bilang seperti itu, lho. Anak kecil tidak pernah berbohong. Aku bilang di Lakevender.” Mevel tersenyum lalu melompat sambil memegang erat payungnya. “Sampai jumpa di Lakevender.” Ia tidak jatuh, malah terbang menggunakan payung hijau itu menjauh dari halaman sekolah.


“Bocah itu menyebalkan sekali!” kesal Habibie.


“Sama dengan kepala sekolah,” tambah Thann.


 Thann, Addison, dan Habibie akhirnya sampai di Lakevender. Danau yang selalu berubah warna itu sekarang sedang bewarna jingga, persis warna jubah Mevel, membuat mereka semakin kesal saja.


“Di mana kepala sekolah? Jangan bilang bocah itu mengerjai kita,” kata Habibie sambil berkacak pinggang di atas batu di pinggir danau. Jubah misinya yang bewarna jingga berkibar ditiup angin danau yang lembut. Matahari baru saja naik di cakrawala, membuat permukaannya berkilau cantik diterpa cahaya.


Addison mengeluarkan kipas portable yang ia pinjam dari Tristian dari dalam tas misi. Selain itu, ia membawa payung mini, tabir surya, sisir, parfum, topi pantai, dan hal remeh lainnya. Perlengkapannya seperti sedang liburan, bukan menjalankan misi rahasia. Habibie dan Thann yang melihat itu hanya memasang wajah aneh dan tidak berkomentar apa-apa.


“Segarnya kipas mini ini, seperti angin surga. Aku harus mengoleskan tabir surya juga kalau tidak mau kulitku terbakar.” Addison mengeluarkan tabir surya bewarna putih dengan brand ambassador seorang lord kerajaan malaikat yang menyandang nama kegelapan. Sungguh tidak cocok dengan gelar dan reputasinya.


Thann dan Habibie berusaha mengabaikan Addison. Kedua remaja itu sibuk memandang sekeliling danau untuk menemukan sosok Mr. Navarro.


“Kau tidak mau memakai tabir surya, Habibie? Lihat kulitmu,terlihat cokelat dan kusam karena tidak perawatan.” Addison menyodorkan tabir surya kepada Habibie dengan senyum cemerlang.


Habibie memandang jengkel Addison. “Kulitku cokelat bukan karena tidak perawatan, tetapi karena sudah sejak lahir seperti itu. Padahal kau anak Dewa Matahari, bisa-bisanya takut sinar matahari. Pantas saja kulit kau pucat seperti itu. Dasar aneh!”


“Tidak ada hubungan kepribadianku dengan ayahku! Lagian, kau harus hormat padaku karena ayahku adalah dewamu. Secara otomatis, aku juga dewamu.”


“Karena aku dari Mesir berarti secara otomatis aku meyembah dewa Mesir Kuno. Zaman ayahmu menjadi sembahan sudah berakhir.”


“Ke sini kalian, kepala sekolah sudah menunggu!” Mevel berteriak dengan mendekatkan kedua tangan mungilnya di dekat wajah.


“Kami tidak bisa ke sana, Dik,” balas Addison. “Dan aku tidak mau mengotori seragam baruku dengan air danau ini,” tambahnya dengan suara yang lebih pelan.


Mevel hanya tersenyum dan menunjukkan Thann. Habibie dan Addison langsung paham yang dimaksud bocah itu.


Kenapa harus aku? kata Thann dalam hati sambil mengeluarkan sayapnya. Sepasang sayap sehitam malam tumbuh di punggung Thann. Thann mengepakkan sayapnya satu kali dan tubuhnya terangkat ke udara. Habibie dan Addison langsung melompat dan berpegangan pada kedua kaki malaikat itu. Selama beberapa saat, Thann kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya memelesat menuju danau.


Habibie dan Addison mendarat lebih dahulu di lantai perahu lalu diikuti oleh Thann. Perahu kehilangan keseimbangan beberapa saat ketika mendapat beban tambahan secara tiba-tiba. “Di mana kepala sekolah?” tanya Habibie sambil merentangkan tangan kirinya dan naga mendarat di lengannya.


“Di sisi seberang?” Mevel menunjukan asal.


“Di seberang mana?”


“Pokoknya di sisi seberang.”


“Aku tidak bercanda!” Habibie mulai tidak sabar.


Addison langsung menghalangi Habibie. Ia menurunkan penutup kepala Mevel dan berbicara dengan lembut. “Kami sedang tidak ingin bermain, Dik. Ada misi khusus yang harus kami selesaikan. Nanti setelah misi selasai, aku akan bermain denganmu.” Meski Addison agak aneh, ia memiliki jiwa kebapakan dan selalu sabar menghadapi bocah itu.


“Di sisi seberang. Aku tidak bohong. Kepala sekolah menunggu di sisi seberang portal dan aku memiliki tugas mengantarkan kalian ke sana.”


“Di sini tidak ada portal, Dik.” Addison tetap memelankan intonasi suaranya.


Mevel tersenyum. “Kalau kalian membaca sejarah Maple Island, pasti tahu yang aku maksud.” Mevel berdiri dan memberikan dua buah kipas bergambar Hello Kitty kepada Thann dan Habibie.


“Jangan gambar ini lagi,” kata Thann dengan wajah lesu menerima kipas bewarna merah muda. Sepertinya ia trauma melihat gambar kartun kucing yang lucu itu.


“Untuk apa ini?” tanya Habibie dengan wajah semakin kesal.


“Dayung,” jawab Mevel singkat. “Kalian cukup mengipaskannya ke belakang perahu sekuat mungkin.” Setelah mengatakan itu, Mevel menghadap ke depan perahu lalu merentangkan kedua tangan. Beberapa saat kemudian, lingkaran sihir yang besar tercetak di permukaan danau. Addison, Thann, dan Habibie tahu itu lingkaran sihir bewarna hijau menyala yang sering digunakan kepala sekolah sebagai portal.


“Sekarang!” teriak Mevel bersamaan dengan munculnya lubang raksasa di permukaan danau.


Thann dan Habibie mengayunkan kipas kecil itu sekuat tenaga. Hantam angin dahsyat langsung keluar dari kipas, sehingga memberikan momentum kepada perahu untuk melaju dengan kecepatan tinggi.


“Kita akan terjun!” teriak Habibie dengan naganya yang menguik-nguik ketakutan.


“Sekali dayung lagi, lebih kuat!” perintah Mevel.


Habibie dan Thann mengayunkan kipas secara bersamaan sekuat tenaga. Angin  dahsyat langsung bergulung bagaikan tornado. Perahu terbang dengan kecepatan tinggi menuju lubang di depan mereka. Mevel dan Addison di bagian depan perahu hanya tertawa ketika perahu menukik dan terjun bebas ke dasar danau.


“Kita akan mati menghantam dasar danau!” teriak Habibie panik.


“Menyenangkan sekali! Yuhuuu ….” teriak Addison.


“Kenapa aku harus terjebak dengan orang-orang aneh ini!” rutuk Habibie di tengah gemuruh air dan angin.


Aku mau pulang saja, Thann hanya mengeluh dalam hati.