Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Levi Strauss and the Journey to the North-West - Golden Chariot But Its Dark




Golden Chariot But Its Dark


GINKGO FOREST PADA malam hari cukup mengagumkan. Ada banyak kunang-kunang yang bertebaran di angkasa. Cahayanya menjadi lebih indah saat bersentuhan dengan sinar bulan purnama. Levi pernah mendengar ocehan dari Habibie kalau hutan ini menyimpan makhluk-makhluk cantik. Ia ingin sekali melihat unicorn dan meneliti tanduknya. Ada juga daun ginkgo kuning itu. Levi tidak pernah percaya daun itu dapat menimbulkan cinta hanya karena dua pasang manusia mendatanginya. Lebih kedengaran seperti takhayul rendahan. Dan itu menjijikkan sekali. “Hm, tapi tidak menutup kemungkinan daun itu memiliki kandungan tertentu yang dapat merangsang hormon seseorang. Lain kali aku akan mengambil sampel daun itu dan menelitinya. Siapa tahu, Lily akan jatuh cinta padaku. Hahaha—ARGH! SIAL!”


Levi tak sengaja menjatuhkan tas besar yang secara langsung mengenai kakinya. Ia mengumpat sambil meringis dan menendang benda itu dengan kasar. Detik itu juga, Levi menyesal karena membawa banyak barang untuk perjalanan. Sebetulnya, ia tidak terlalu tertarik mengikuti perjalanan ini, tetapi karena Lord Betelgeuse memberikan penawaran yang menggiurkan, ia akhirnya setuju. Pria itu juga bilang namanya dapat dibersihkan.


Pada akhirnya, Levi mendapati sosok Lord of Darkness sedang berdiri di ujung Ginkgo Forest yang mengarah ke danau. Ia sedang menunduk memandangi pantulan dirinya sambil tersenyum. Saat itu, Levi benar-benar terkesima dengan rupa Lord of Darkness yang bermandikan cahaya bulan. Tampak memesona. “Kau lama sekali, bocah. Jangan bilang kalau perlu merias diri dahulu,” katanya menyadari kehadiran Levi.


“Idih. Ogah banget. Aku bukan Addsion! Anak itu yang suka berdandan.” Levi menyanggah.


“Addison? Pacarmu, ya?”


Levi seketika meraung-raung marah. Tentu saja ia tidak terima dengan pertanyaan menggelikan itu. Lord Betelgeuse hanya tertawa renyah. Sudut matanya mendapati bawaan Levi yang banyak dan seketika menepuk jidat lalu menggeleng. “Mengapa membawa banyak barang, Levi Strauss? Kita tidak akan melakukan camping. Ya ampun! Pisahkan benda-benda yang tidak berguna. Jangan sekali-kali menambah beban dalam perjalanan, Nak.”


Seperti anak yang baru saja dimarahi bapaknya, Levi memberengut sambil mengeluarkan benda-benda dalam tas bawaan. Ia memilih barang berguna dengan cemberut sembari bergumam tidak jelas. Anak itu kemudian memandangi bahu Lord Betelgeuse yang bidang dengan lama. Rasanya ia sangat ingin menculik dan menjadikan lord itu sebagai objek penelitian. Persetan dengan perjalanan ini. Jika ia berhasil menyuntikkan bius berdosis tinggi yang sedang ia genggam ini ke leher Lord Betelgeuse … maka ia tidak hanya mendapatkan tiga helai sayap, melainkan pria ini akan sepenuhnya menjadi miliknya. Levi menyeringai sangat lebar. Ia berdiri dengan pelan dan berjalan tanpa menghasilkan suara yang keras.


“Sudah selesai—“


Belum selesai Lord Betelgeuse bicara, sebuah jarum suntik mendarat mulus di tengkuknya. Ia sempat kaget saat menemukan Levi yang tertawa puas. Beberapa detik setelahnya, Lord Betelgeuse tersungkur di tanah. “Cih! Bahkan kondisi tertidur pun kau masih bisa kelihatan memukau,” ujar Levi menggerutu. Ia mengecek keadaan Lord Betelgeuse yang pingsan. “Namun, tenang saja, Lord. Setelah ini anda akan selalu tertidur dengan tampan dalam tabungku. Ah, sungguh menyenangkan!”


“Sudah kuduga ternyata kau penggemar sejatiku.”


“Bisa dibilang begi—apa?”


Levi segera membalikkan badan dan menemukan sosok Lord Betelgeuse berdiri dengan tangan dilipat ke dada. Sosok itu sedang tersenyum lembut. Ada aura kegelapan meluap-luap di sekitarnya. Mengerikan. Levi yang panik seketika menelan ludah dan memandangi tubuh yang tersungkur tadi. Ajaib, tubuh tersebut berubah menjadi asap. Levi mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia tidak terkena serbuk jamur halusinasi. Namun, asap itu sekarang mengepul dan membentuk wajah yang sedang mencibirinya.


“A-aku bisa jelaskan .…”


“Uluh-uluh, tidak perlu bocah,” balas Lord Betelgeuse. Ia menunduk mendekati Levi yang terduduk lalu menangkat dagu anak lelaki yang sedang tertawa gugup itu. “Aku peringatkan ya, Levi Strauss. Jangan pernah mengulanginya lagi atau kau akan merasakan betapa menakutnya kegelapan.”


“B-baiklah, lord.”


Mata Lord Betelgeuse tertutup dan melengkung ke bawah seperti senyuman. “Bangkitlah, Nak. Kita akan pergi sekarang juga.”


“Kita tidak akan menggunakan portal karena itu kuno dan terkesan membosankan,” jelasnya. “Aku sudah membawa kendaraan yang lebih menarik.”


Tak berselang lama, dari dalam danau sesuatu baru saja beriak-beriak. Semakin lama, riak itu meninggi dan memerlihatkan benda yang tersembunyi. Levi terkejut bahwa ada kereta kencana yang tersimpan di  dalam sana. Kereta yang antik dan berwarna gelap. Ada ukiran putih di setiap sisi badan kereta itu. “Aku tidak melihat kudanya.


Sekali lagi Lord Betelgeuse tertawa mengejek. Ia menjentikkan jari dan dari bagian depan muncul lima ekor ular boa bersisik hitam dengan tanduk putih. Ular-ular itu memiliki besi panjang yang terhubung ke badan kereta. “Ini yang akan menjadi kudanya.”


Bukannya menjadi takut, Levi justru makin terkesima dengan kehadiran ular itu. Rasanya ia ingin memegang kulit hewan yang licin itu dan obsesi untuk menelitinya membuncah kembali. “Asal kamu tahu, ular-ular ini betina. Mereka menyukai pria muda sebagai makanan,” jelas Lord Betelgeuse sambil berjalan masuk ke badan kereta.


“Eh?”  Levi mematung seketika. Mendadak ia berpikir kalau saat ini ia tidak sedang bersama seorang Fallen Angel, tetapi malaikat maut.


 “Kau membuatku teringat dengan adikku dahulu.” Lord Betelgeuse angkat bicara. Saat ini, ia tengah duduk dengan elegan sambil menyeruput teh hitam. Matanya yang tajam tak luput memperhatikan gerak-gerik Levi yang seperti cacing kepanasan di sampingnya. Tidak pernah diam.


“Aku yakin adikmu pasti tidak sekeren aku. Iya, kan lord?”


“Sedikit di atasmu, sih. Dulu ia hanya bisa menggeram dan menghancurkan perabot,” lanjut Lord Betelgeuse. “Sekarang untungnya bisa menjadi orang yang cukup berguna. Ia ada di sekolahmu sekarang.”


“Oh.”


“Satu hal yang menyamakanmu dengan dirinya adalah kegilaan. Kegilaanmu benar-benar membuatku teringat dengan masa lalu.”


Levi hanya nyengir saja sambil menggaruk kepala belakang. Saat ini dia berpikir, apakah perkataan tadi termasuk pujian atau malah hinaan. Karena Lord Betelgeuse tidak tertawa, maka ia anggap sebagai pujian. Lalu Levi berbalik menuju jendela kereta dan memandangi air laut yang gelap. Ia menempelkan tangan kanannya ke jendela itu. “Berapa lama kita akan sampai?”


“Semalam suntuk.”


Levi meringis. Bahunya melorot ke bawah. “Sial! Bakal bosan banget. Andai saja aku bawa peralatan kimia atau mesin robotku.”


“Kau bisa tidur, Nak. Sehabis ini perjalanan kita akan semakin melelahkan,” kata Lord Betelgeuse. Sekarang ia beralih mengaktifkan sebuah benda elektronik berbentuk persegi panjang. “Atau kau bisa bermain game ini bersamaku. Seru, loh, aku sudah level 135.”


Levi melongo memandangi Lord Betelgeuse yang wajahnya kini dipantuli cahaya dari alat elektronik itu. “Bahkan Anda memiliki gamebot?”


“Tentu saja,” balasnya tanpa memandang Levi. Matanya berkutat dengan sesuatu di dalam layar. Terdengar backsound familiar seperti pada kebanyakan game yang pernah ia mainkan dahulu. “Namun, ini khusus untukku saja. Kau pikir duduk di singgasana seharian itu bikin betah apa? Tidak sama sekali.”


Levi berkacak pinggang sambil nyengir kuda. Lord Betelgeuse, benar-benar pria yang menarik.