Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
The Vow in Ginkgo Forest - First Mission (with Her)




First Mission (with Her)


“Hei!” Chalia setengah berlari menyusul Thedon. “Bisa tidak langkahmu pelan sedikit?” gerutunya.


“Ini sudah pelan,” jawab Thedon tanpa menoleh sedikit pun.


 Chalia mendengkus tanpa berniat membalas jawaban laki-laki yang kini sudah kembali jauh di depannya. Perempuan berambut merah itu menoleh sebentar ke Red, rubah berbulu merah peliharaannya.


Masalahnya adalah satu langkah kaki dia sama dengan tiga langkah kakiku, keluh Chalia pada Red.


Keluhan yang hanya dijawab kekehan oleh Red. Namun, kekehan itu hanya bisa didengar oleh Chalia. Thedon hanya mendengar dengkingan rubah yang menganggunya.


“Bisakah kau berjalan cepat sedikit? Jangan lambat!” Thedon memanggil Chalia. “Dan suruh rubahmu untuk berhenti mendengking!” lanjutnya. Dan kekehan  pun terdengar semakin panjang.


“Aku sudah cepat. Kau yang terlalu cepat.” Chalia tidak suka dibilang lambat.


“Hah, siapa suruh kau jadi pendek sekarang,” bisik Thedon pelan. Dia yakin tidak ada yang akan mendengar bisikannya itu.


Tiba-tiba sebuah kerikil menimpuk kepala Prefek Utama Maple Academy. Thedon mengaduh dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Chalia hanya bersedekap sambil menatapnya nyalang.


“Kamu yang menimpukku dengan kerikil?”


Chalia tidak menjawab. Dia malah berjalan menghampiri Thedon. Perempuan itu lalu mendongak menatap tepat ke mata Thedon.


“Aku bukan pendek. Kau yang terlalu menjulang tinggi untuk ras Elf.”


Thedon terdiam menatap mata kehijauan Chalia. Dengkingan  menyadarkan lamunannya.


“Ya sudahlah, tidak usah mempermasalahkan hal itu.” Thedon memutuskan kontak mata. Dia lalu kembali meneruskan langkahnya. “Kita harus cepat ke Sunmarket.”


Chalia yang melihat cara Thedon memalingkan pandangan darinya hanya mendecih. Dia menatap Red, Dia kenapa sih?


Dia gugup sama kamu


Aneh.


Sudahlah, cepat susul dia. Nanti kamu kena omel lagi, Red mengingatkan. Chalia hanya mengangkat bahu dan mempercepat langkahnya dengan setengah berlari.


“Kau sudah punya dugaan siapa yang mengambil buku itu?” tanya Chalia saat langkah kakinya sudah mulai sejajar dengan Thedon.


Thedon tidak menjawab. Mereka baru saja sampai di pintu Sunmarket. Dia lalu berujar, “Aku curiga sama orang-orang yang membantuku?”


“Siapa?”


“Entah.” Thedon mengangkat bahu. “Yang aku ingat hanya tiga orang yang tinggi badannya tidak jauh denganku. Semuanya laki-laki berjanggut. Dan bau mereka seperti bau para bajak laut.”


“Hah?” Chalia tak mengerti dengan kalimat akhir Thedon.


“Mereka bau minuman keras,” jelas Thedon membuat Chalia mengangguk-anggukan kepala.


“Kita berpencar. Kamu ke arah sana.” Thedon menunjuk arah kirinya. “Aku akan mencari ke arah yang sebaliknya.”


“Kenapa harus berpencar?”


“Biar cepat, Pendek.” Thedon menyeringai sedikit melihat Chalia yang mendengkus karena dipanggil pendek. “Lagipula aku sudah memberikan deskripsi mereka. Tidak sulit bagimu untuk menemukannya.”


“Oke. Kita ketemu lagi di sini dalam waktu setengah jam.” Chalia kemudian bergegas meninggalkan Thedon.


 Chalia bersandar pada dinding di salah satu toko. Thedon yang berdiri di sebelahnya pun menghela napas. Mereka sudah lelah keluar-masuk toko. Ternyata tidak mudah menemukan ‘si pelaku’.


Kau sepertinya kecewa, kata Red. Dia memilih berbicara dengan telepati antara majikan dan pet contract.


Iyalah, ternyata misi ini malah seperti sendiri-sendiri.


Makanya, jangan terlalu berharap.


Apa?


Kau masih suka sama dia, kan?


Sssttt…


Apa?


Diam. Aku dengar sesuatu yang mencurigakan.


Chalia menajamkan pendengarannya. Dia memejamkan mata. Telinga runcingnya tampak bergoyang-goyang. Dia mulai memilih beberapa percakapan yang sempat mampir ke telinganya. Fokusnya adalah mendengarkan percakapan tentang buku dan siswa akademi.


Thedon yang melihat tingkah Chalia pun tampak bersiap. Dia ikut memperhatikan gadis itu.


“Di belakang toko buku,” kata Chalia begitu mulai membuka mata.


“Toko buku mana?” tanya Thedon, meskipun dia curiga dengan toko buku yang didatanginya bersama Miss Therenia.


Hati Thedon mencelos. Itu memang Bibliophile Store. Seharusnya ia sudah menduganya.


Kedua siswa itu gegas menuju arah yang ditunjuk Chalia. Saat Thedon hendak masuk ke toko, Chalia menahannya. Dia menggeleng.


“Bukan ke situ.” Telunjuknya justru menunjuk sebuah gang di sebelah toko.


“Kau yakin?”


Chalia menganggukan kepala. Pendengarannya tidak mungkin salah. Apalagi dengan jarak sedekat ini.


Diikuti oleh Red, mereka berdua berjalan perlahan. Semakin masuk ke gang, keduanya mendengar percakapan banyak orang. Suara-suara yang terdengar sangat serak dan tua, diselingi tawa dan beberapa geraman.


Begitu sampai di ujung gang, baik Chalia maupun Thedon terperangah. Mereka tidak melihat tiga orang dewasa dengan perawakan tinggi besar, melainkan enam Dwarf yang sedang minum-minum.


“Siswa Akademi!” Seorang dari mereka berteriak melihat kehadiran Chalia dan Thedon. Teriakan itu membuat lima Dwarf lainnya bergerak cepat. Tanpa sempat dicegah, semua Dwarf itu memelesat berlari. Mereka berpencar ke segala arah.


Thedon dan Chalia pun berpencar mengejar para Dwarf itu. Chalia mengejar beberapa Dwarf yang meloncati tembok di ujung gang. Postur tubuh Chalia yang kecil membuatnya lincah mengejar mereka.


Sementara Thedon mengejar dua Dwarf yang berlari ke arah jalan besar Sunmarket. Thedon mengejar keduanya. Dia melemparkan tali dan dibantu gerakan angin yang dikendalikannya, tali-tali itu langsung bergerak ke arah kaki kedua Dwarf.


Keduanya terjatuh bersamaan. Mereka saling tumpang tindih. Thedon segera mendekati keduanya dan mulai mengikat mereka dengan satu tali yang tadi digunakannya untuk menjegal.


Kedua Dwarf yang saling berpunggungan itu pun mulai berteriak-teriak.


“Lepaskan kita!”


“Apa hakmu menangkap kami?”


“Kalian cuma siswa kecil?”


“Kami tidak mengambil apa pun!”


“Kami sudah menjual semuanya!”


“Lepaskan kami!”


Merasa lelah mendengar teriakan itu, Thedon kemudian menekan tengkuk keduanya dengan jempol. Seketika dua Dwarf itu tertidur.


“Sekarang jauh lebih baik,” ujarnya sambil menyeringai. Tidak berapa lama, dia mendengar teriakan Chalia.


Thedon segera memelesat meninggalkan dua Dwarf itu dan bergerak menuju arah suara yang tidak jauh dari tembok yang diloncati oleh Chalia dan para Dwarf lainnya.


Saat Thedon sudah meloncati tembok, dia melihat lengan Chalia mengucurkan darah. Elf perempuan itu sendiri tampak menahan luka di lengan kirinya dengan tangan kanan.


Melihat darah yang menetes, Thedon tidak bisa menahan amarahnya. Dia kemudian mengeluarkan kekuatannya dan meninju udara di depannya. Udara yang berkumpul kemudian meninju Dwarf yang memegang belati. Dwarf itu terempas dengan sekali entak. Belatinya jatuh dan  Red langsung menggigitnya, membawanya jauh dari sisi Dwarf yang terkapar akibat tinju angin Thedon.


“Kau tidak apa?” tanya Thedon yang menghampiri Chalia. Raut wajahnya terlihat khawatir.


“Maafkan aku,” lirih Chalia.


“Kenapa minta maaf? Aku tanya, apakah kamu baik-baik saja.”


“Mereka semua lari ke sana!” Chalia mengabaikan pertanyaan Thedon. Dia malah menunjuk satu arah dengan tangannya yang terluka.


“Jangan banyak bergerak. Kau terluka!”


“Seharusnya aku bisa menahan mereka. Sekarang tiga Dwarf itu sudah melarikan diri.” Chalia masih saja mengoceh soal Dwarf yang lari.


“Hei, Chalia. Lihat aku!” Thedon memegang kedua bahu Chalia. “Saat ini kau terluka. Kita obati dulu lukamu.”


Chalia menepis tangan Thedon. “Tidak. Kita kejar dulu mereka!”


“Bagaimana kamu mau mengejar mereka kalau kamu terluka!”


“Ini cuma luka kecil.”


“Kita kembali ke akademi. Lukamu harus diobati dulu. Madam Polina pasti bisa mengobatimu.”


Thedon kemudian mendengar suara robekan. Chalia merobek ujung roknya menggunakan belati yang diantarkan Red.


“Aku bisa membebat lukaku dengan ini.” Tanpa banyak bicara, Chalia membalut luka sabetan dengan robekan kain dari ujung roknya. Thedon hanya bisa melihat gadis itu bertindak melakukan pertolongan pertama pada dirinya sendiri.


Misi pertama dengannya dan membuatnya terluka. Hebat sekali, Thedon!  pikir laki-laki itu.


“Kalau kamu sedang tidak sibuk, bisakah kamu membantuku mengikat ini?” Chalia membuyarkan lamunan Thedon. Prefek itu pun segera membuat simpul. Balutan dari perban alakadarnya itu sudah terikat rapi.


“Terima kasih dan ayo!” Chalia segera berlari.


“Lebih baik kita kembali ke akademi!” seru Thedon.


“Lebih baik kita segera mengejar para Dwarf itu dan menyelesaikan misi! Atau hukumanmu bisa lebih dari sekadar mengejar pencuri!”