Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Tricky Days with the Troublemaker - Morning Chaos




Morning Chaos


“LILY, BUKAN BEGITU caranya. Kemarikan! Biar aku saja.”


“Tidak, tidak! Biar aku saja. Kau akan merusaknya nanti jika memakainya.”


Sepasang iris kelabu pucat menyorot tajam pada dua manusia berisik yang sedang ribut tak jauh dari tempatnya berdiri.


Biang onar. Begitu ia menyebutnya. Bahkan seantero akademi pun pasti tahu siapa mereka. Terlebih, liburan sempat tertunda beberapa saat hanya karena ulah konyol yang sempat menggemparkan akademi, pencurian patung berharga berambut emas dari museum. Entah kesialan dari mana ia bisa berjumpa dengan dua siswi bermasalah ini pagi-pagi, bahkan saat hari pertama tahun kedua ia menginjakkan kaki di akademi setelah libur panjangnya usai. Demi apa pun, ia baru memulai harinya di akademi!


Venalu, gadis dengan iris kelabu pucat itu menghela napas kasar. Kemudian, ia berjalan melewati dua siswi yang masih asyik berdebat dengan tak acuh. Diambilnya botol bulat kecil dengan lubang-lubang yang mengeluarkan cahaya biru dari troli besi yang terletak di pojok dinding.


“Permisi,” ucap Venalu setelah berbalik dan mendapati jalannya terhalang.


“Oh? Maaf, maaf. Minggir, May! Kau menghalangi jalan masuk.” Lily, salah satu gadis berisik itu segera menarik Maya, temannya, untuk menyingkir.


Venalu hanya mengangguk sekilas, tak tertarik untuk berbasa-basi. Ia segera melangkah memasuki kandang satwa gaib untuk melakukan sterilisasi, seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi.


Sebagai salah satu penanggung jawab klub Pencinta Satwa Gaib, sudah tugas Venalu untuk rutin mengunjungi kandang satwa. Entah untuk melakukan sterilisasi, bersih-bersih, memberi makan, atau sekadar memastikan satwa dalam kondisi baik-baik saja.


“Apa kau mengenalnya, Lily? Sepertinya aku tidak pernah melihat gadis unik itu. Apa dia siswi baru, ya?” bisik Maya sembari memperhatikan Venalu dengan saksama.


“Dia teman sekelas kita, bodoh!” Lily memukul pelan kepala Maya. “Venalu Vaxalim, ingat? Siswi yang ahli bermain pedang, tapi terkenal sangat pendiam.”


Maya mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali sembari tatapannya masih sibuk mengamati penampilan Venalu. “Aku sedikit kasihan padanya,” celetuk Maya masih dengan nada berbisik.


Lily mengerutkan keningnya bingung. “Memang kenapa?” tanyanya sembari ikut memperhatikan gerak-gerik Elf berkulit gelap tak jauh darinya.


“Lihat saja rambutnya. Masih muda, tapi sudah ubanan,” jawab Maya dengan jari yang menunjuk pada untaian rambut kelabu milik Venalu yang kemudian disambut suara cekikikan dari Lily. Lalu mereka tertawa dengan sedikit keras.


Venalu sebenarnya mendengar dengan jelas percakapan bisik-bisik itu. Namun, ia berusaha untuk tak peduli. Toh, itu bukan urusannya. Apa tadi katanya? Uban? Apa itu uban? Venalu menggerutu dalam hati.


Suara berisik Lily dan Maya kembali terdengar. Tampak memperdebatkan cara penggunaan sebuah alat pembersih canggih modifikasi antara tenaga sains dan sihir yang disebut magicnology. Alat itu masih cukup langka karena baru diciptakan tak lama sebelum ujian terakhir menjelang libur panjang. Venalu sebenarnya bisa saja mengajari cara menggunakannya atau sekadar melerai perdebatan tak berguna itu. Namun, terlalu malas berurusan dengan mereka yang menurutnya pasti berujung petaka. Lily James dan Maya Caliston masuk dalam daftar hitam pertemanannya.


Diletakkannya botol bulat yang ia bawa dengan posisi terbalik pada sebuah tongkat besi dengan ukiran berbentuk sulur tanaman yang didesain khusus sebagai tempat penyangganya.


“Drehendiumn!”


Setelah dibacakan mantra, botol bulat itu bergerak memutar dan mengeluarkan cahaya biru. Cahaya tersebut mulai berkeliling menyusuri seluruh ruangan hingga ke celah-celah kecil. Sterilisasi ini dilakukan untuk mencegah adanya virus berbahaya yang dapat menular, baik pada satwa maupun penghuni akademi.


Hanya butuh waktu tiga menit hingga cahaya biru itu menghilang dan meninggalkan aroma semerbak. Tepat ketika botol berhenti berputar, Venalu bergegas mencopotnya dari penyangga. Kemudian, netra kelabu pucatnya kembali meneliti sekitar dan memastikan keadaan aman sebelum ia meninggalkan ruangan. Sementara dua gadis tadi tampaknya telah melakukan gencatan senjata.


Damainya dunia ini … batin Venalu berteriak senang.


Namun, hanya berjarak beberapa detik keributan itu datang kembali memenuhi pendengarannya. Kali ini lebih parah. Lily, siswi perawakan tinggi dengan rambut mencolok itu berteriak begitu nyaring hingga memekakkan telinga runcing Venalu. Membuat beberapa satwa juga terkejut dan ruangan seketika berubah menjadi riuh.


“Iyuh! Monyet itu meludahiku!” teriak Lily sangat heboh di hadapan terali yang mengurung seekor Clabbert.


“Itu bukan monyet, tapi kodok. Ah, tapi kenapa seperti monyet, ya? Tapi warnanya hijau dan matanya sangat bulat. Menjijikkan.” Maya balas menggerutu.


“Aku tidak peduli! Mau dia monyet ataupun kodok, atau bahkan siluman sekalipun aku tidak peduli! Berani-beraninya dia meludahiku,” keluh Lily sembari mengusap-usap rambut merah panjangnya. “Jangan diam saja, Maya! Bantu aku membersihkan rambutku dari air liur menjijikkan ini. Geli sekali rasanya.”


Venalu menatap malas keduanya. Namun, saat beralih pada botol yang dipegang Lily, tatapannya seketika berubah horor. Botol berisi cairan pembersih itu bergerak seiring gerakan tangan Lily, menciptakan gelembung-gelembung kecil yang siap meluncur keluar dengan bebas. “Nona James, a-awas! Hati-hati dengan—”


Boom!


Belum sempat Venalu menyelesaikan kalimatnya, botol itu telah meledak dengan cairan hijau yang meloncat ke mana-mana. Dan lebih parahnya lagi, cairan hijau itu dapat memberi efek mati rasa jika terkena tubuh. Lily dan Maya pastinya telah menggunakan sihir pelindung seperti aturan pakai sebelum menggunakan cairan pembersih ajaib itu. Sedang nasib Venalu?


Demi pedang Excalibur, mati saja aku!


 “Bagaimana hal ini bisa terjadi?” Miss Naina, Fairy cantik dengan surai biru itu memijit pelipisnya yang terasa pening. Baru tadi ia mengantar siswa-siswi angkatan baru dan menemani beberapa rangkaian acara penyambutan dengan penuh sukacita, tetapi kekacauan terjadi bahkan terlalu pagi di asrama fantasi.


Miss Naina mengatur napas, berusaha menetralkan emosi, lalu dipandangnya Venalu yang kini terbaring dengan tatapan prihatin. Venalu menjadi kaku, tetapi matanya terbuka dan berkedip-kedip. “Apa kau baik-baik saja?”


Bahkan aku sudah seperti mayat hidup, batin Venalu.


“Jangan khawatir, dia baik-baik saja. Untunglah Efron cepat membawanya kemari,” jelas Madam Polina, penanggung jawab rumah sakit, dengan senyum ramah khas dirinya.


Miss Naina menghela napas kasar, entah sudah ke berapa kalinya. Mungkin beginilah yang dirasakan Sir James Dakota saat menghadapi siswa paling merepotkan di asrama sci-fi, Levi Strauss. “Kapan dia bisa kembali normal?”


Masih dengan senyum ramahnya, Madam Polina menjelaskan kembali, “Aku tidak tahu dengan pasti. Namun, jika dilihat dari kondisi tubuhnya yang kuat, kukira tak akan membutuhkan waktu terlalu lama. Sebentar lagi mungkin dia bisa menggerakkan bagian tubuhnya kembali.”


“Huh, aku juga berharap demikian.” Miss Naina tampak sedikit menerawang. Seketika wajah Miss Elafir terbayang sekelebat di benaknya. Miss Naina bergidik ngeri. Entah sudah berapa kali ia menghadap wakil kepala sekolah super cerewet lagi pelit itu hanya untuk masalah 'kecil' yang diciptakan oleh penghuni asrama fantasi. “Tidak, tidak. Jangan sampai,” gumamnya sembari menggeleng pelan.


“Um, apa ada masalah, Miss?” tanya Efron pelan. Ia tahu bahwa jika dua sahabatnya kembali berulah, semua orang akan merasakan repotnya. Termasuk dirinya sendiri tentu saja.


“Teman-temanmu adalah sumber masalah!” cecar Miss Naina dengan tatapan seperti ingin menguliti siapa pun yang ada di hadapannya. “Panggil mereka berdua dan pastikan mereka telah membereskan kekacauan kecil yang mereka ciptakan di kandang satwa.”


“Ba-baik, Miss.” Efron melangkah dengan cepat setelah mendapat titah dari kepala asramanya itu.


 “Miss?” sapa Lily saat dirinya sudah berhadapan dengan Miss Naina.


Miss Naina berdeham cukup keras. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu. Melangkah mondar-mandir mengelilingi tubuh Lily. “Kita harus memikirkan sebuah siasat.”


“Si-siasat?” ulang Lily dengan ragu. “Apa maksudnya, Miss?” Diremasnya jemari yang berkeringat dingin. Perutnya sudah bergejolak, kandung kemihnya bereaksi seperti biasa saat ia merasa panik. Ayolah, jangan sekarang, kumohon. Kandung kemih sialan!


Miss Naina menepuk tangannya, mengeluarkan serbuk biru yang seketika itu terbang ke arah Lily—mengangkat dagu dan menegakkan punggung Lily. “Berdiri dengan tegak, Nona James!”


“Baik, Miss. Um, yang tadi itu … siasat … untuk apa maksudnya?” tanya Lily takut-takut.


Miss Naina tersenyum manis dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Untuk mengelabuhi wakil kepala sekolah tentu saja!”


“Maksudnya Miss El—”


“Psstt!” Miss Naina langsung menutup mulut Lily dengan jari telunjuknya. “Jangan menyebut namanya. Terlalu bahaya!”


“Memang kenapa kalau menyebut nama Miss Elafir?” tanya Maya dengan begitu polosnya yang dibalas pelototan tajam Miss Naina. “Um, aku … tidak salah, bukan? Aku hanya menyebut nama Miss Elafir saja, tidak lebih,” ulang Maya yang kembali mendapat ekspresi horor dari Fairy cantik di hadapannya.


“Miss Caliston, kau—”


Ngiiing!


Semua menutup telinga saat tiba-tiba telinga mereka berdengung dengan sangat keras.


“Aku sudah memperingatkanmu!” ucap Miss Naina dengan suara tertahan, menatap tajam Maya yang tampak tak berdosa di hadapannya. “Demi debu peri, bahkan ini terlalu awal untuk sebuah petaka!”


“Miss Naina!”


Miss Naina memejamkan mata saat suara keras tanpa wujud itu memanggil namanya.


“Tidak perlu gugup begitu, Miss Naina. Aku hanya memintamu datang ke ruanganku. Segera setelah aku menyelesaikan urusanku dengan siswa-siswi baru. Jangan terlambat dan jangan lupa untuk membawa serta semua yang ada di sana dan tentu saja murid kesayanganku itu kemari. Aku akan menjamu kalian!”


Bahu Miss Naina terkulai lemas. Tak ada gunanya ia memikirkan siasat. Terlalu sulit pula jika sudah berurusan dengan 'perjamuan' wakil kepala sekolah. Ia pun menghela napas pasrah. “Sebelum jam makan siang, kalian datanglah ke ruang wakil kepala sekolah,” ucapnya lantas bersiap untuk pergi.


Lily menelan ludahnya dengan kepayahan. Hari ini seharusnya hukumannya berakhir, tetapi sepertinya ia terlalu berkhayal lebih. Hukuman berikutnya telah menanti.


Venalu mengedipkan matanya dengan tatapan bertanya-tanya. Apakah aku juga harus ikut ke sana juga?


Madam Polina yang mengerti gerak-gerik gelisah dari Venalu kembali tersenyum dan berkata, “Tentu saja.”


Demi pedang Gram milik Odin, kali ini aku yang menjadi tumbal? Tidak mungkin!