
Anti-Prefek in Action!
BEBERAPA HARI KE belakang, banyak sekali desas-desus tentang adanya pecahan Asteroid Emas. Diduga Harpi menggila karena tak sengaja memakan salah satu serpihan Asteroid Emas yang tersebar di beberapa tempat. Para siswa pun sibuk membicarakan kejadian tersebut. Bahkan salah satu siswa baru mengaku pernah melihat pecahan Asteroid Emas dengan pongahnya. Sampai-sampai Miss Therenia memberikan penyuluhan secara mendadak di perpustakaan dan berakhir dengan kerusuhan yang diciptakan oleh Lily dan Maya.
Karena staff dan guru masih sibuk mengurus Harpi dan pecahan asteroid, akhirnya diadakan kelas gabungan yang melibatkan seluruh angkatan, baik dari asrama fantasi maupun sci-fi, berkumpul di aula akademi. Setiap bangku ditempati oleh dua siswa. Tak ada yang boleh duduk seangkatan. Posisi duduk telah diatur sedemikian rupa agar gerombolan siswa bermasalah bisa dipisah. Di atas podium, Miss Therenia berdiri mengulangi penjelasannya tentang Asteroid Emas karena desas-desusnya masih heboh diperbincangkan akhir-akhir ini.
Saat ini Lily duduk sebangku dengan siswa berkulit sawo matang yang memiliki darah serigala. Vendard, itu yang Lily ketahui saat namanya dipasangkan dengan adik kelasnya. Lily menopang dagu dan menulis dengan malas. Meski begitu, catatannya selalu lengkap tanpa pernah terlewat materi sedikit pun. Berbeda dengan Lily, adik kelas sebangkunya justru hanya mencoret-coret buku. Sesekali manusia serigala berwajah manis itu mencuri pandang ke arah Lily. Karena merasa diam-diam diperhatikan, Lily akhirnya ikut menoleh. Vendard yang ketahuan asyik memandangi Lily langsung memasang senyum termanisnya, hingga menciptakan lesung di pipi bagian atas. Lumayan tampam juga, batin Lily sambil membalas senyum manis Vendard. Kejadian saling lempar senyum itu terus berulang selama Miss Therenia menjelaskan materi.
“Buku siapa itu?” tanya Lily saat Maya asyik menyalin catatan seseorang. Mereka masih berada di aula. Miss Therenia memberikan waktu istirahat. Beberapa dari mereka memilih untuk tetap di aula, sisanya sudah pergi entah ke mana.
“Ashlina,” jawab Maya. “Catatannya lengkap sekali, tapi tulisannya seperti rumput yang diinjak-injak.”
“Tumben sekali kau meminjam buku catatan,” cemooh Lily.
Maya seketika menghentikan kegiatan menulisnya. “Aku? Meminjam?” Maya tertawa terbahak-bahak. “Tentu saja aku memanipulasinya,” lanjutnya dengan gerakan mengusap air mata.
Maya, si ahli manipulasi. Yang tak banyak orang lain ketahui, bahwa Maya adalah otak dari segala muslihat. Jika kebanyakan orang memandang Lily sebagai ketua geng, maka mereka salah besar. Nyatanya, Lily dan Efron hanyalah kaki-tangan dari kejahilan Maya. Gadis yang diam-diam pandai mengatur strategi ini selalu menempatkan diri di belakang Lily, berlaku lugu seolah gadis bodoh. Faktanya, ia dan Lily memang sengaja bekerja sama supaya terlihat demikian. Mereka membiarkan pandangan terfokus pada Lily yang memang lebih mencolok, sedangkan Maya sibuk berpikir di balik tingkah anehnya. Tak ada yang mendominasi di antara keduanya. Mereka menganggap bahwa itu adalah tindakan saling menguntungkan.
“Ashlina itu yang mana, May?”
“Hm, dia yang sok tau tentang Asteroid Emas waktu di perpustakaan. Gadis berkuncir,” jelas Maya.
“Namanya Ashlen, bodoh! Lagipula bukankah dia laki-laki?” Lily menoyor kepala Maya.
“Orang dia cantik gitu, kok,” cibir Maya masih menyalin catatan Ashlen. Setelah selesai menyalin, Maya berdiri sambil membawa buku milik Ashlen.
“Mau ke mana?” tanya Lily.
“Sepertinya mengerjai adik kelas terdengar menyenangkan,” jelas Maya yang dihadiahi dua jempol oleh Lily.
“Hai,” sapanya.
“Hai?” sahut Lily, tetapi dengan ekspresi penuh tanya.
“Kau Lily James, kan?” tanya laki-laki itu kemudian.
“Ya … dan kau?” tanya Lily basa-basi walaupun ia sudah tahu semua teman seangkatannya baik dari asrama fantasi maupun sci-fi.
“Levi! Levi Strauss dari asrama sci-fi.” Levi menyodorkan tangan, mengajak Lily bersalaman. Lily menyambut uluran tangan dengan senang hati. Mereka lanjut bercengkrama setelah perkenalan singkat itu. Dan Lily baru mengetahui fakta bahwa laki-laki yang tengah mengajaknya mengobrol adalah pencipta hujan abu saat acara penyambutan tahun ajaran baru beberapa waktu lalu. Cukup menarik menurut Lily.
Levi memang sedikit banyak omong. Laki-laki itu sangat senang menyampaikan apa-apa yang terlintas di kepalanya. Entah itu ide aneh, teori-teori konspirasi, bahkan mengeluhkan tentang akademi. “Peraturan asrama yang melarang membawa barang-barang unik membuat penelitianku terbengkalai,” celetuknya. “Sangat merepotkan.”
Poin berikutnya yang membuat Lily tertarik adalah mereka sama-sama suka menyelundupkan barang-barang unik dan aneh ke dalam asrama untuk kebutuhan tertentu. “Kurasa kita bisa bekerja sama,” tawar Lily dengan senyum ceria. “Kau tak setuju dengan peraturan akademi, aku juga. Kau tak suka dengan para prefek, aku pun sama. Dan lagi, kita sama-sama menyukai sesuatu yang aneh.”
Mendengar hal itu Levi refleks menegakkan punggung, mengangkat dagu, dan tersenyum bangga. Hanya Lily yang setuju dengan ide gilanya. Dan itu makin membuat Levi tertarik. “Kita akan bekerja sama?”
“Ya!” seru Lily antusias.
“Lalu, kita sebut apa kerja sama kita ini?” tanya Levi.
“Bagaimana dengan … Anti-Prefek?” cetus Lily.
“Anti … prefek?” Levi menimbang usul Lily. “Terdengar sangat keren!” Ia berdecak senang.
Mereka berdua kemudian berjabat tangan dengan rasa bangga dan penuh keyakinan. “Anti-Prefek!” ucap mereka bersamaan dengan mantap.
“Menurutmu, mereka membicarakan apa, Ef?” tanya Venalu yang tengah duduk berduaan dengan Efron di pojok aula.
Efron tersenyum lembut dan berkata, “Bukan urusan kita.” Kemudian mereka lanjut berbincang tentang banyak hal sampai waktu istirahat selesai.