
Harpi and a Little Mess
PELUH MENGHIASI WAJAH Lily dan Efron yang tengah berlari di sepanjang koridor belakang. Setelah mendapat serangan mendadak dari makhluk mitologi tadi, Efron segera menarik tangan Lily untuk menjauh dari kandang satwa. Karena tak ingin menyebabkan kerusakan infrastruktur sekolah, Lily sengaja dijadikan umpan untuk menarik perhatian makhluk bernama Harpi itu ke tempat yang lebih terbuka. Dan benar saja, burung berkepala wanita itu langsung mengejar keduanya.
Lily menengok ke belakang dan mendapati Harpi makin dekat dengan mereka. Ia melepaskan genggaman Efron, lalu merogoh jubah hingga menemukan sebutir anggur yang sempat ia ambil dari ruang makan tadi. Ia merapalkan mantra “Bouncha Gigantium!” kemudian melempar anggur hingga membentur lantai dan berubah menjadi besar. Anggur itu memantul ke arah Harpi dengan kencang hingga menabrak dinding yang kemudian retak. Lily lanjut berlari mengikuti Efron, sementara Harpi sempat berhenti dan mengeluarkan suara melengking.
Mereka kembali bergandengan tangan hingga mencapai halaman belakang dan menatap sekitar penuh waspada. Lily memegang lutut dengan napas terengah-engah. “Di mana Maya sialan? Bisa-bisanya dia enak-enakan diam di tempat, sedangkan aku dijadikan umpan?”
Selang beberapa saat, suara melengking Harpi kembali terdengar bahkan makin dekat. Seketika punggung Lily menegak, lalu Efron kembali menarik lengannya. Efron membawa Lily menuju satu-satunya pohon di sana. Pohon tua yang berdiri kokoh tak jauh dari gerbang belakang. “Apa kau bisa mengendalikan pohon ini?”
“Apa? Tentu saja tidak! Pohon ini terlalu besar.”
Efron tampak berpikir sejenak. “Aku tidak tahu apakah ini bisa membantu atau tidak, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba,” katanya sembari merogoh saku celana.
“Apa ini?” tanya Lily saat menerima botol kecil berisi cairan berwarna merah pekat dari Efron.
“Obat kuat.”
“Hah?”
Belum sempat Efron menjelaskan, Harpi telah berada tak jauh dari mereka. Efron segera memaksa Lily untuk menelan cairan merah tadi, sedangkan ia berusaha menghadang di depan. Beberapa serangan mampu ia hindari dengan menggunakan tongkat sihir dan mantra-mantra penyerang. Namun karena sempat lengah, tangannya tak sengaja tersambar oleh kuku-kuku tajam milik Harpi. Efron mengalami cedera di lengan kirinya. Belum puas melihat Efron cidera, Harpi berusaha menyerang kembali. Namun, ranting-ranting pohon tua mulai bergerak menggapai tubuh makhluk itu.
“Kau tidak bisa ke mana-mana, jelek!” teriak Lily diakhiri cegukan. Ramuan yang diminum rupanya memberi efek cegukan, tetapi lumayan menambah energi. Ia menggerakkan tangan sebagai perintah untuk mengendalikan pohon tua. Ranting-ranting makin memanjang dan melilit tubuh Harpi hingga terkunci. Efron yang tak mau kehilangan kesempatan mulai bangkit dan kembali mengangkat tongkat sihirnya.
“Yuhuuu, bala bantuan datang!” Suara Maya terdengar nyaring dari kejauhan. Ia dan Venalu datang dengan menaiki flyboard yang langsung disambut dengan teriakan berbunyi “Curang!” dari Lily.
Maya tak acuh dengan teriakan Lily. Ia menghampiri teman baiknya itu sembari menyerahkan flyboard yang sengaja ia bawakan. Hal yang sama dilakukan oleh Venalu, mengangsurkan flyboard sembari berkata, “Kau harus membantuku.”
Lily bersendawa dengan keras. Bersamaan dengan itu, kekuatannya melemah. Agaknya efek ramuan mulai menghilang. Ranting-ranting yang membelit tubuh Harpi mulai mengendur. Merasa memiliki kesempatan, makhluk itu menggerakkan sayapnya dengan kencang. Harpi berhasil terbebas. Bukannya kehabisan energi, makhluk mitologi itu justru terlihat makin kuat. Sayapnya dikibaskan beberapa kali hingga menciptakan angin kencang. Harpi yang makin menggila membuat keempat siswa kewalahan menghadapi serangannya.
Seolah terhipnotis, Harpi langsung menghentikan serangan dan segera menoleh pada Maya. Saat tatapannya bertumbukan dengan mata Maya, ia seperti terlempar menuju dimensi lain di mana semua tempat berubah menjadi putih dan hanya ada Maya yang berdiri dengan berani di hadapannya. Makhluk itu seolah linglung, lupa dengan tujuannya. Mendapati kondisi Harpi yang demikian membuat Maya tertawa kencang, lalu diam dan menatap tajam Harpi. Ia merentangkan telapak tangan ke depan dan berucap, “Kubilang, serang aku.” dengan penuh penekanan. Seolah mendapat perintah, Harpi mengeluarkan suara nyaringnya dan bersiap menyerang.
“Di sini!”
Venalu datang dengan pedang cahayanya dari arah belakang. Gadis Elf itu menggunakan flyboard-nya untuk menyejajarkan posisi dengan Harpi sambil tangan kirinya bergandengan dengan Efron.
“Kau ahli menggunakan pedang?” tanya Maya saat mereka akan menyusul Lily dan Efron.
“Lumayan.”
Maya menarik lengan Venalu, memintanya berhenti melangkah. “Kalau begitu dengarkan aku,” katanya. “Ya, mungkin aku selalu dijuluki biang onar, tapi otakku ini tak jelek amat untuk membuat siasat.”
Venalu mengendikkan bahu. Ia tak langsung menolak, tetapi bukan berarti setuju begitu saja. Ia perlu mendengar penjelasan lebih lanjut dari Maya.
“Dengar, aku melihat bahwa Harpi memiliki kekuatan yang entah apa, tapi sangat kuat. Aku menangkap energi asing yang terlalu mustahil ditaklukkan oleh siswa tingkat dua seperti kita,” jelas Maya.
“Jadi?”
“Jadi … kalau kita ingin menyerang, aku sarankan untuk menyerangnya … dari belakang.”
Awalnya Venalu menampilkan ekspresi tak setuju, tetapi mendengar penjelasan Maya setelahnya membuat ia berpikir kembali. Mungkin strategi Maya ada benarnya. Bahwa dengan berhadapan langsung sama saja menyerahkan nyawa dengan cuma-cuma.
“Aku dan Lily mungkin akan mengalihkan perhatiannya. Dan Efron akan membantumu, karena anak itu mampu melakukan pergerakan cepat yang tak mudah disadari,” ucap Maya meyakinkan. “Itu kesempatan kita untuk melumpuhkannya.”
Venalu telah bersiap untuk mengayunkan pedangnya. Pedangnya bahkan sudah hampir menikam Harpi, tetapi sesuatu yang ia lihat dalam tubuh makhluk itu membuatnya menghentikan gerakan. “Mundur!” serunya kemudian sambil berusaha menarik Efron. Hal itu membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Efron. Lelaki itu langsung menuruti perintah Venalu dan secepat kilat mereka berada jauh dari Harpi.
“Apa yang kalian lakukan!” geram Maya. Semua menjadi kacau seketika. Harpi kembali tak terkendali. Melihat teman-temannya akan diserang, Maya menyibak rambut. Di balik rambut belakang warna-warninya terdapat dua ekor ular kecil yang meliuk-liuk dan menjulurkan lidahnya. Merasa dipanggil, kedua ular itu menjulurkan badannya hingga berada di kanan-kiri kepala Maya. Gadis berisi itu seperti membisikkan sesuatu, lalu ular di sebelah kanannya meludahkan sesuatu yang tepat mengenai salah satu sayap Harpi.
“Lakukan apa yang seharusnya dilakukan,” desis Maya yang masih kesal dengan tindakan Venalu.