
Smoke
“KATANYA HEWAN ITU jadi gila karena meludahi rambut Lily!” Thedon bercerita dengan suara menggelegar sampai burung-burung tidak betah bertengger di atas pohon. Di salah satu taman yang ada di Maple Academy, Thedon sedang menunggu giliran dipijat Shalima. Seperti biasa, gadis itu ditemani dua orang bodyguard-nya, Amara dan Valfred.
“Sama gilanya saat kau melihat Baskara dan Chalia yang terlihat akrab?” goda Valfred. Dia juga ada di lobi asrama fantasi saat Ashlen Winter dan beberapa murid angkatan 2 lainnya membahas gosip hewan gila di Maple Academy. “Kukira kau tadi tidak menyimak perkataan Ashlen karena sibuk memelototi Chalia. Aku sampai takut dua bola matamu menggelinding di lantai.”
Terdengar suara muntah dari Venalu Vexalim yang tengkuk lehernya sedang dipijat oleh Shalima. Namun, tidak ada yang keluar dari mulutnya. Shal menatap Valfred tajam, memberi isyarat kepadanya untuk berhenti mengatakan hal-hal yang menjijikan.
Venalu mengeluh sering migrain. Tidak heran, sih. Siapa yang tidak sakit kepala kalau diberi tugas mengawasi Lily James setiap hari? Shalima masih ingat saat dia habis-habisan mengomeli gadis berambut merah itu karena membuat poin asrama fantasi minus 50, bahkan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Boleh saja buat onar, tetapi jangan bikin rugi orang lain, dong!
“Harusnya kau berkaca tadi. Aku hampir mau meletakkan tempayan di bawah mulutmu. Air liur serigalamu itu, bisakah dikendalikan saat melihat anak manusia?” Amara menepuk-nepuk pundak Venalu, sepupunya, sambil berkomentar dingin.
Valfred mengeluarkan geraman serigalanya. Dia tidak suka Amara menyebut Elle, yang tadi memang melewati lobi, dengan sebutan “anak manusia”. Masalahnya, nada ucapannya itu sinis benar.
“Kenapa memang dengan anak manusia? Tidak cukup mulia dibanding putri bangsawan Elf sepertimu?” sindir Valfred. Amara terdiam sebentar. Tiba-tiba api kemarahan menyala di kedua iris matanya. Gadis itu menyibakkan rambut panjangnya sebelum pergi dari hadapan mereka. Khas putri bangsawan itu saat merendahkan seseorang.
Shalima mengusap kepala Venalu sambil memandang sosok Amara yang menjauh. Dia jadi ingat salah satu harapan yang dibisikkannya pada kunang-kunang harapan.
“Aku harap bisa berteman dengan Amara dan Valfred selamanya.”
Paling nanti malam mereka sudah berbaikan. Amara dan Valfred memang suka adu mulut, tapi tidak pernah marah sampai berlarut-larut.
Shalima menyesal sudah percaya pada kunang-kunang harapan. Apanya yang berteman selamanya? Hanya karena sindir-sindiran soal “anak manusia” tempo hari, pertemanan Shal-Amara-Valfred kini bagai di ujung tanduk.
Amara dan Valfred sudah seminggu lebih menjaga jarak. Valvred menghabiskan waktunya berlatih fisik dengan para werewolf dan justru semakin terang-terangan mendekati Elle. Di sisi lain, Amara sibuk bercengkerama dengan beberapa siswa lain dan fokus berlatih lira untuk mengisi Autumn Festival yang masih akhir tahun nanti dilaksanakan. Karena itulah Shalima merasa ditinggalkan sendirian.
Sejak awal, gadis itu sudah pemalu. Sekarang, dia semakin tidak berani menatap wajah orang, apalagi mengajak mereka bercakap-cakap. Gadis itu tahu dia sudah dicap galak oleh murid Maple Academy karena memarahi Lily soal poin asrama yang minus. Padahal, waktu itu sebenarnya dia merasa panik. Itu adalah hari pertamanya bertugas menjadi wakil prefek asrama fantasi secara resmi, tapi dia sudah langsung merasa gagal.
Shal merasa tidak butuh juga ngobrol dengan banyak orang. Berteman dengan Amara dan Valfred saja sudah cukup. Namun, saat kedua sahabatnya itu bertengkar dan punya kesibukan masing-masing, Shal merasa kesepian sekali.
Ini untuk kesekian kalinya dia makan tanpa kedua sahabatnya itu. Shal menggigit potongan buncisnya dengan tidak bersemangat sambil memperhatikan Zovras yang asyik bermain dengan seekor moon rabbit.
Aku harap kamu di sini, Male.
Dia jadi teringat dengan sahabatnya, Malechite. Di mana kadal hijau itu sekarang? Apakah dia makan dengan teratur? Kalau dia ada di sini sekarang, apakah dia akan suka dengan buncis?
Kemarilah, Male. Aku tidak keberatan berbagi buncis denganmu.
Seperti sebelumnya, tidak ada balasan dari Malechite. Ini bukti lainnya kalau kunang-kunang harapan tak lebih dari serangga rakus yang suka nektar fire flower. Tubuh hangus serangga tidak akan mempertemukannya dengan Malechite.
Shal membenamkan kepalanya di meja sambil mengacak-acak rambutnya. Dia tidak peduli saat kulit kepalanya meronta-ronta dan seluruh tubuhnya memperingatkannya untuk tenang.
Healing untuk jiwa memang yang paling sulit. Luka bisa terlihat, tubuh bisa—perlahan—disembuhkan. Namun, saat jiwa yang rusak, Shal masih belum tahu bagaimana cara yang tepat untuk langsung memulihkannya.
Male! Aku benar-benar membutuhkanmu!
Suara bel tanda bahaya memecahkan kesunyian malam.
“Asrama fantasi diserang! Bersiap untuk bertarung!” Jam tua di ruang berkumpul asrama fantasi berteriak memperingatkan para penghuni asrama.
Semua murid asrama fantasi berhamburan ke luar asrama. Mereka memang sudah dilatih tentang protokol saat terjadi penyerangan di asrama. Namun, saat hal itu benar-benar terjadi—di mana sebelumnya mereka kira tidak akan pernah terjadi—mereka tetap saja kalut. Siapa yang bisa tenang kalau semua mendadak jadi gelap karena asap hitam mengerikan sudah memenuhi semua ruang?
Di luar asrama, para murid sudah bersiap-siap menghadapi serangan. Beberapa Fallen Angel dengan sigap melaksanakan protokol menghadapi penyerangan lewat udara. Shalima melihat seorang Fallen Angel bersayap hitam terbang mengitari langit, lalu menyentuh asap hitam pekat yang seperti menelan seluruh asrama. Buat Shal, ini semua seperti mimpi. Jangan-jangan, ini halusinasi karena asap?
Tak lama kemudian, Fallen Angel itu melapor kepada Samael dan Mr. Navarro yang baru tiba. Mereka berbincang sebentar di udara. Setelah itu, Samael dan Mr. Navarro terbang rendah, sementara seluruh Fallen Angel mendarat untuk menyimak hal yang akan disampaikan guru mereka.
Tubuh murid asrama fantasi yang tadinya tegang langsung melunak. Samael sudah menyampaikan bahwa asap hitam yang memenuhi asrama mereka bukan hal yang perlu dikhawatirkan, walau akan sedikit menyusahkan.
“Seseorang yang sembrono kemungkinan sudah salah merapalkan mantra. Dia merapalkan summoning charm untuk asap hitam, yang mirip dengan mantra untuk mengundang mimpi buruk atau pet contract. Siapa pun dia, saya harap segera melapor untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tegas Samael.
Beberapa murid serentak melirik ke arah Lily dan Maya yang terkenal biang kekacauan.
“Sumpah, itu bukan aku!” seru mereka bersamaan.
Samael lalu mundur untuk mempersilakan Mr. Navarro berbicara.
“Untuk malam ini semua penghuni asrama fantasi akan tidur di aula. Miss Naina akan memandu kalian sesuai protokol. Kalian juga akan membantu para peri rumah menyiapkan ranjang. Saya harap besok asrama ini sudah bebas asap, tapi kalau belum, mungkin kalian akan tidur di aula selama dua malam.”
Beberapa murid mengerang tak suka, tapi semuanya tetap mematuhi perintah Pak Kepsek. Para penghuni asrama fantasi berjalan menuju aula dengan teratur, kecuali Shalima yang berkeringat di tengah udara malam yang dingin. Ingin rasanya gadis itu melangkah dengan berani, tapi kakinya seperti terpaku ke tanah. Shal hanya bisa menatap kakinya yang berbalut sandal tidur.
“Murid teladan sudah pintar membuat keributan sekarang, ya?” Terdengar sebuah suara mencemoohnya. Cemoohannya sangat nyata sampai-sampai Shalima tersadar ini bukan mimpi. Perlahan, Shal mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki Fallen Angel yang berdiri di hadapannya dengan mengenakan piama.
“Ayo, kutemani kau menemui Samael!”
Dengan langkah gontai, Shalima berjalan menuju aula.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Shalima pada Fallen Angel yang berjalan di sampingnya.
“Bahkan mengucapkan terima kasih saja tidak. Selain belajar membuat onar, kau juga sudah kehilangan sopan santun rupanya.”
Shalima mengembuskan napasnya berat. Kalau yang di depannya ini lelaki lain, pasti Shalima sudah memukul tepi leher lelaki itu supaya dia kesakitan dan jera. Namun, yang di depannya ini Thann Iziah!
“Malam ini sudah berat. Sedikit empati saja cukup, kalau memang kau tidak ingin menjawab pertanyaanku.”
Mereka kembali berjalan dalam sunyi.
“Aku jadi murid di Maple Academy,” ucap Thann setelah pintu aula mulai terlihat.
“Oh, kok bisa?” tanya Shal keheranan. Shalima sudah memeriksa daftar nama siswa angkatan 2 berkali-kali, tapi nama Thann Iziah tidak ada di sana. Thedon sempat mengira Shal memiliki gangguan mental sampai akhirnya Amara bercerita kalau Shal punya teman Fallen Angel yang—siapa tahu—masuk Maple Academy karena pintar.
Sedetik kemudian, ucapan itu langsung disesalinya, “Ah, ya. Kau kan pintar. Apa sih yang tidak bisa kau lakukan?”
Walaupun terdengar seperti sindiran, sebenarnya Shal tulus mengucapkannya. Lelaki itu bahkan bisa tahu kalau dialah yang sudah mengucapkan summoning charm awan hitam—yang demi ular milik Aesculapius sebenarnya diucapkannya untuk memanggil Malechite. Setelah Shalima dihukum tidak mengikuti pelajaran esok hari untuk menghilangkan asap, Thann juga yang mengusulkan untuk meminjam alat penghisap asap buatan anak sci-fi. Alat itu sempat dimodifikasi untuk menghisap abu merah Levi. Asap hitam di asrama fantasi memang terlalu pekat dan luas sehinga tidak bisa langsung dihilangkan dengan mantra angin.
“Tentu saja. Makanya, belajar yang benar!” ujar Thann angkuh sambil mengetuk kening Shal dengan jari telunjuknya sebanyak tiga kali. Jadi, siapa yang sudah kehilangan sopan santun sebenarnya?
Thann membuka pintu aula. Terlihat tembok sihir yang memisahkan area tempat tidur siswa dan siswi. Lampu di ruangan sudah gelap dan tubuh para murid sudah tidak bergerak di atas kasur lantai yang berjejer rapi. Mereka kelelahan karena harus menyiapkan tempat tidur di tengah malam.
“Selamat tidur, Pengacau!” ucap Thann sambil berlalu.
Ini bukti lagi kalau kunang-kunang harapan tidak seajaib itu. Apanya yang menawan saat dia bertemu Thann?
Dari jauh Shal bisa melihat satu tempat tidur yang kosong di samping tempat tidur Amara. Dia percaya sahabatnya pasti sudah membantu peri rumah untuk menyiapkan tempat tidur itu. Dengan berhati-hati, Shal membaringkan tubuhnya lalu menatap langit-langit aula yang penuh kaca warna-warni.
Tadi Samael dengan keras menegur Shalima yang terlalu gegabah mencoba summoning charm baru, padalah Shal tahu benar dia kurang mahir dalam mantra. Sebenarnya, summoning charm untuk pet contract tidak terlalu sulit, tapi Samael menyesali Shal yang tidak berkonsultasi dengannya terlebih dahulu. Terbukti, summoning charm yang mudah saja dibuatnya jadi petaka!
Prefek Wakil Asrama Fantasi yang galak berhasil memenuhi asramanya dengan asap hitam, membuat penghuni asrama tidur di aula, dan mengurangi 50 poin lagi untuk asramanya. Kurang sempurna apa?
“Boleh saja buat onar, tapi jangan bikin rugi orang lain, dong!”
Terdengar suara bisikan yang Shal tahu benar berasal dari tempat tidur Lily James.