
Nightmare
PAGI TADI SHAL sudah bicara empat mata dengan Valfred. Dia ingin permusuhan antara Valfred dan Amara segera dihentikan. Daripada mengejar-ngejar Elle, lebih baik dia berbaikan dulu dengan Amara. Walau teman werewolf-nya itu memang jadi lebih keren sekarang, bukan berarti Elle akan langsung tertarik kepadanya. Kayaknya, gadis itu lebih suka memacari buku-buku.
Valfred marah dan merasa Shalima terlalu ikut campur. Bukannya membereskan masalah, Shal malah membuat Valfred memusuhinya juga. Asap hitam, hukuman, cibiran, mimpi buruk, dan kini musuh tambahan. Kenapa masalah datang bertubi-tubi?
Sejak asap hitam muncul, Shal sudah beberapa kali mimpi yang aneh-aneh. Mimpinya terasa nyata sampai-sampai Shal masih ingat mimpi itu saat bangun. Ada mimpi dia terbang menembus awan, lalu jatuh bebas. Semalam dia bermimpi anak-anak naga porsesa terbang di atas padang yang berbatu-batu. Mereka saling menyemburkan napas api sampai akhirnya napas api itu diembuskan ke arahnya. Hidupnya tragis, bahkan sampai ke mimpi. Karena itulah, kualitas tidurnya menurun.
“Tadinya mau kuberikan salep, tapi kayaknya tidak perlu.” Terdengar suara lembut Amara mengagetkan Shal. Amara berdiri di sampingnya sambil memegang sebuah salep dengan gambar moon rabbit cantik di pembungkusnya. “Mau kurang tidur seperti apa pun, wajahmu tetap saja sehat dan bercahaya. Self-glowing adalah efek samping self-healing, rupanya.”
Shal tidak peduli. Dia mengambil salep itu lalu memeluk Amara erat-erat. Sejak bertengkar dengan Valfred, Amara tidak pernah lagi menunjukkan perhatian yang manis seperti ini.
“Tidak bisakah kau berbaikan dengan Valfred?” tanya Shal setelah selesai memeluk Amara.
“Bisa saja, sih,” jawab Amara santai, “Nanti-nantilah, kalau aku sudah bisa berdamai dengan pikirannya waktu itu.”
“Pikiran apa?”
“Dia berpikir aku akan jadi perawan seumur hidup karena tidak ada yang mau dengan Elf angkuh sepertiku!” Amara memijat pelipisnya. Dia masih tidak habis pikir kenapa hal sekasar itu bisa terpikirkan oleh Valfred yang lembut dan baik hati. Pada dasarnya, pikiran makhluk memang tidak bisa diprediksi.
“Akan kupukul tepi lehernya nanti!” geram Shalima.
Amara tidak mau membahas soal Valfred lagi, jadi dia mengajak Shalima untuk kembali ke asrama sambil mengobrol. Saat menceritakan salah satu mimpinya, tanpa sadar netra Shalima sudah terkunci pada sosok lelaki yang terlihat di jendela ruangan kepala sekolah. Mata Shal memang sangat prima sampai-sampai wajah sekecil itu pun tetap dikenalinya. Sebentar, ini sebenarnya soal mata atau hati?
“Aku kurang suka dengan Thann.” Ucapan Amara langsung membuat Shal meringis. Amara memang paling jago membaca pikiran, apalagi pikiran yang sedang mengembara dan tidak awas.
Paska kejadian asap hitam, nama Thann Iziah tertulis di daftar nama siswa angkatan satu. Dia mengikuti kelas yang sama dengan murid angkatan satu dan sudah mahir pelajaran tahun pertama. Beberapa kali dia tidak terlihat di kelas, tapi semua guru santai saja. Itu privilege yang dimiliki “para elang”—sebutan untuk para murid yang secara teratur keluar masuk ruang kepala sekolah. Ada yang bilang mereka mata-mata Mevel, kaki tangan untuk melakukan “pekerjaan kotor” Mr. Navarro, kelinci percobaan sihir, dan segudang gosip lainnya. Walaupun gosipnya berbeda-beda, sebenarnya penyebarnya hanya satu: Dalton S. Wolfe dari angkatan dua.
“Dia tidak bisa ditebak dan kelewat peka!” lanjut Amara dengan gusar.
Pipi Shal menggembung. Dia kira Amara tidak suka dengan Thann karena lelaki itu memperlakukan Shal dengan buruk. Thann memang selalu dingin dengan Shalima, seakan-akan gadis itu hanya murid miskin yang disponsori ayahnya. Well, memang iya, sih. Namun, yang terjadi di Ginkgo Forest itu apa, dong? Well, bukan apa-apa juga, sih. Shal hanya nyaris membunuhnya. Oh, jangan-jangan dia jadi dendam kepadanya? Terus, kenapa waktu itu dia mengirim nuskabadori segala untuk mengirimkan ucapan sampai bertemu kembali?
“Don’t get it wrong, dear.” Amara mengusap kepala Shal, seperti sedang memanjakan seekor kucing. “Let me tell you. Apa yang dilakukan seseorang bisa berbeda 180 derajat dengan apa yang dia pikirkan. Makanya, aku sebenarnya mau memastikan pikirannya tentangmu. Namun, pikirannya susah sekali ditembus. Ada sekali dia membiarkanku membaca pikirannya, untuk sekadar menyuruhku berhenti membaca pikirannya. Sombong sekali!”
Sementara Amara mendengus sebal, Shal malah menahan tawa melihat Amara mengomentari sesama makhluk sombong.
Sosok Thann di dekat jendela ruangan kepala sekolah kini sudah berganti dengan sosok Zovras. Lelaki itu juga termasuk “para elang” dan Shal khawatir dia merupakan mata-mata Mr. Navarro untuk para prefek.
Tiba-tiba, Shalima tersenyum nakal. Dia menaik-naikkan alisnya, memberi isyarat supaya Amara membaca pikirannya. Shalima mau menanyakan hubungan antara Zovras dan Amara, yang akhir-akhir ini memang terlihat sangat akrab. Shal juga curiga, jangan-jangan salep moon rabbit tadi diberikan khusus oleh Zovras untuk Amara.
Gadis Elf itu hanya tersenyum simpul saat membaca pikiran Shal.
Shalima mengetuk pintu dua kali. Di satu sisi dia berharap tidak ada yang membuka pintu, tapi di sisi lain dia memang merasa butuh bantuan.
Bagus, teruslah jadi Shalima yang plin-plan!
Self-critic memang sudah jadi temannya sejak lama, bahkan sebelum dia sadar punya kemampuan self-healing.
Harapan Shalima menjadi kenyataan karena tidak ada yang membuka pintu. Namun, pintu ruang Klub Astrologi sudah terbuka lebar dengan sendirinya.
Shal masuk ke sebuah ruangan yang agak gelap, tapi diterangi proyeksi benda-benda langit yang bersinar dan bergerak melayang di ruangan. Proyeksi itu bahkan memenuhi dinding dan langit-langit. Shal seperti berada di langit malam atau di planetarium mini.
Pandangan gadis itu menyapu deretan rak yang berisi moon lamp, teleskop, buku-buku, bebatuan, dan benda-benda asing. Akhirnya, Shal menemukan sosok laki-laki yang duduk di atas meja dekat tirai. Rambutnya yang berwarna biru gelap menyembul dari balik sebuah buku sihir yang melayang menutupi wajahnya. Rambut biru dan buku sihir, sudah pasti itu Zovras.
Beberapa detik kemudian buku sihir itu menutup. Ruangan tiba-tiba menjadi terang dan tirai jendela tersingkap.
“How is your day?” tanya Zovras akrab. Namun, wajah lelaki Wizard itu segera menegang begitu melihat Shalima. Dengan buru-buru Zovras turun dari meja dan berdiri dengan gugup, “Maaf, aku kira kau Amara.”
Shalima tersenyum kikuk dan menjawab, “Amara tidak bisa datang karena mau berlatih lira. Sebagai gantinya, dia menyuruhku datang untuk berkonsultasi denganmu.”
“Kau mau diramal?” tanya Zovras setengah excited dan setengah keheranan.
Zovras Aldebaran berasal dari keturunan Wizard elementer yang mengusai elemen alam. Namun, dia direkrut Maple Academy malah karena bakat khususnya, yaitu self-replication dan self-teleportation. Selain itu, ia menjadi ketua Klub Astrologi dan sering berkeliling mencari makhluk-makluk perempuan yang mau ditatap berlama-lama untuk diramal melalui ‘bintang di matanya’. Tidak banyak yang Shal tahu tentang Zovras. Namun, lewat cerita Amara, dia jadi tahu kalau anak itu punya segudang kesukaan dan talenta.
“Bukan,” jawab Shalima, “Amara bilang kau sedang belajar astrology dream interpretation. Jadi, dia menyuruhku berkonsultasi soal … mimpi burukku.”
Zovras mengerutkan dahinya. Beberapa detik kemudian laki-laki itu tersenyum dengan sangat menawan dan mengangguk.
“As you wish, Shalima. Come and sit,” ujarnya sambil menggerakkan tangannya. Tiba-tiba dua buah kursi menari bersama angin dan berhenti di depan Zovras. Dia menduduki salah satu kursi dan mempersilakan Shal menduduki kursi satunya lagi.
“Semuanya bermula sejak … kejadian asap hitam.” Tatapan intens Zovras membuat Shal langsung memulai ceritanya.
“Ah, yang itu,” balas Zovras bersemangat, “That was awesome! Aku tidak tahu kalau summoning charm bisa mengundang asap sepekat itu!”
Shal tidak merasa punya hidden talent walaupun Zovras terdengar menyanjungnya. Mau dilihat bagaimana juga, asap hitam itu adalah aib yang sudah mencoreng riwayat hidupnya. Bagaimana kalau nanti dia tidak bisa dapat pekerjaan setelah lulus dari Maple Academy? Beberapa murid—yang diinisiasi Lily—bahkan sudah terang-terangan mengejeknya dengan sebutan “Prefek Kegelapan”.
Tanpa sadar kedua pipi Shal menjadi gembung. Mata gadis itu menyelidik Zovras dengan waswas. Kalau bukan karena diyakinkan oleh Amara, Shal tidak akan mau datang ke sini dan berbagi cerita dengan “lelaki asing”.
Ditatap seperti itu membuat Zovras sadar kalau Shal merasa tidak aman bercerita kepadanya.
“Saat pertama kali mencoba summoning charm pet contract, aku juga malah mengundang asap hitam. Namun, asap hitamnya biasa saja. Menurutku, asap hitam sepekat kemarin bisa muncul karena dirapalkan dengan niat yang sangat teguh dan sungguh-sungguh. Kau sepertinya benar-benar merindukan hewan kontrakmu, ya?”
Hati Shalima lumer sudah. Mata gadis itu berkaca-kaca dan tahu-tahu dia sudah bercerita soal Malechite. Bahkan, Shal lanjut berkeluh kesah soal tidurnya yang tidak nyenyak karena mimpi buruk. Gadis itu khawatir kalau mimpi-mimpi aneh itu muncul karena dia tidak sengaja mengucapkan summoning charm mimpi buruk juga. Kata Samael, mantra-mantra itu memang mirip.
“Berapa kali kau merapalkan mantra?” tanya Zovras.
“Sekali saja. Habis itu, langsung muncul asap hitam dari magic circle.”
Zovras menggeleng, “Kalau begitu, tidak mungkin kau mengucapkan summoning charm mimpi buruk juga. Satu mantra hanya bekerja untuk satu hal. Kalau kau berhasil mengundang asap hitam, maka yang kau ucapkan bukan summoning charm mimpi buruk ataupun pet contract.”
Tentu saja Shal senang karena tidak mengundang mimpi buruk, tapi dia jadi bingung dari mana mimpi itu datang dan bagaimana menghilangkannya. Tanpa sadar, pundaknya terkulai lemas.
Tenang, Shal. Sekarang, coba ceritakan mimpimu sedetail mungkin. Aku akan coba menggambar mimpimu.” Zovras mengambil buku sketsa dan pensilnya di atas meja. Sambil bersiap menggambar dia berucap, “Kau bisa mulai dari padang berbatu-batu yang kau ceritakan tadi. Apakah kau ingat bentuk batunya?”
Inilah bakat dan kesukaan Zovras yang lain. Lelaki itu pintar menggambar dan tertarik dengan bebatuan. Cowok multitalenta begini cocok banget sama Amara yang high-class itu.
Amara, he is approved!