
Ache
SHALIMA MENGAKUI KALAU Zovras bisa menggambar mimpinya di atas kertas dengan keakuratan 85%. Sulit sekali bagi Shal untuk tampak tidak tertarik pada gambar-gambar yang memanjakan mata itu.
“Aku tahu kau masih kesal, tapi aku hanya mau memastikan apakah warna hartal ini sudah tepat.” Zovras memohon sambil menunjukkan gambar sebuah batu yang bersinar di kedalaman lahar panas. Masih batu pecahan asteroid.
Shal ada jadwal pemotretan untuk profil sekolah yang akan dibawa The Recruiter. Sambil menunggu, gadis itu memilih duduk di bawah pohon dekat aula. Tiba-tiba saja Zovras datang dan membahas soal gambarnya. Shal menahan tawa karena tahu ini hanya modus Zovras supaya gadis itu melunak dan bisa memaafkannya soal kejadian di Stars Hill kemarin.
“Kurasa gambar ini sudah cukup. Kalau tidak keberatan, kau bisa mulai dengan gambar baru karena semalam aku bermimpi lagi. Itu juga kalau kau bersedia tidak membahas teori konspirasi tentang keluarga Iziah,” ujar Shal.
Tentu saja Zovras tidak keberatan. Lelaki Wizard itu langsung bersemangat kembali karena merasa sudah dimaafkan.
Semalam Shalima bermimpi —lagi-lagi—berada di atas punggung Naga Porsesa. Kali ini mereka terbang di atas sebuah dataran luas yang berisi pantulan langit. Tak lama kemudian dilihatnya dua orang sedang bertarung di dataran itu. Naga Porsesa lalu terbang rendah dan menyemburkan nafas apinya untuk melerai mereka. Di saat yang bersamaan, Naga Porsesa menjatuhkan Shal dari punggungnya.
Kali ini, mimpinya tidak berakhir sampai di situ. Shal berhasil mendarat dengan baik dan melihat kedua orang yang dilerai tadi sedang bersiap-siap melancarkan serangan lagi. Yang satu merupakan perempuan berambut biru dengan gaun putih yang berkibar, sedangkan satunya lagi adalah pria berjubah hitam. Si gadis berambut biru kemudian mengeluarkan sebuah gelombang energi yang sangat dahsyat. Gelombang itu ikut menerpa Shal dan di situlah mimpinya berakhir.
“Mimpimu semakin lama semakin panjang dan detail.” Zovras bicara sambil membuat sketsa di lembaran ketiga. Lincah sekali tangannya bergerak-gerak mengikuti cerita Shal.
“Menurutmu ini baik atau malah buruk?”
Zovras menghentikan aktivitasnya dan menatap Shal dalam-dalam, “Aku masih belum tahu. Menurutku, ini bukan mimpi buruk, tapi masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan. Begini saja, setelah aku menyelesaikan ketiga gambar ini, kita akan segera memeriksa apa yang dikatakan benda langit tentang semua mimpi-mimpimu.”
Shalima mengangguk sambil tersenyum. Melihat Zovras menggambar mimpinya saja sudah sangat menyenangkan, apa lagi melihat lelaki itu melakukan astrology dream interpretation.
“Ngomong-ngomong, bukankah sebentar lagi kita harus sudah ada di aula?” Zovras bicara sambil memeriksa jam tangannya. Shal segera bangkit begitu ingat soal pemotretan profil sekolah. Mereka berjalan bersama-sama menuju aula setelah Zovras selesai membereskan barang-barangnya.
Pantas saja Zovras terlihat berbeda hari ini. Ternyata cowok itu menggunakan seragam resmi Maple Academy dengan bagian kerah jubah yang lebar.
Terlihat tampan, ya?
Bahkan hatinya sendiri berusaha mencobainya.
Ya, tampan juga. Makanya cocok dengan Amara.
Kalau dilihat-lihat Zovras memang cukup menarik. Rambutnya berwarna biru gelap seperti langit malam saat diterangi sinar bulan. Matanya juga berwarna biru. Saat memandanginya, seperti tersedot dalam pusaran galaksi. Kulitnya kecokelatan, lebih gelap sedikit dari Shal. Jangan lupa soal rajah yang memanjang di kedua lengan bawahnya. Shal menemukan dirinya pernah beberapa kali terhanyut saat meneliti tanda yang ada di lengan lelaki itu.
Sebuah simbol lain, seperti gabungan lingkaran, segitiga, dan tanda panah, memanjang secara vertikal di pipi kiri Zovras. Amara bilang itu adalah simbol keramat Wizard elementer, tanda bahwa suatu hari kelak lelaki Wizard itu mungkin bisa menguasai semua elemen alam. Zovras juga selalu memakai anting yang sama dengan simbol itu di telinga kanannya. Bahkan, moon rabbit Zovras yang bernama Eloysa punya simbol serupa di dahinya.
Tubuh Zovras tegap dan solid. Dia cukup tinggi, membuat Shal hanya setinggi rahangnya. Senyumnya juga berkarisma sekaligus misterius. Ada waktu di mana senyum itu membuat Zovras terlihat manis, tapi ada saat-saat di mana senyumnya malah membuat Zovras terlihat sedang memikirkan hal-hal iseng atau mungkin jahat.
Tapi senyum itu lebih sering membuatnya terlihat menarik, kan?
“Apakah ada sesuatu di wajahku yang sangat mengganggumu?” Ucapan Zovras membuyarkan lamunan Shalima.
Ya, karisma.
Diam kau, suara hati!
“Ti—tidak ada! Sumpah!” Shal menjawab sambil melotot karena terlalu panik. Jangan-jangan, sambil membahas tubuh Zovras dalam pikirannya, dia juga memandangi bagian tubuh lelaki itu dengan saksama!
“Oh, kukira kau penasaran soal ini.” Zovras berucap sambil menunjuk simbol yang ada di pipinya. “Banyak orang merasa simbol ini agak berlebihan. Kenapa juga harus muncul di sini, padahal ada tempat lain yang tidak terlalu menarik perhatian?”
Shal sibuk mendamaikan dirinya sendiri dengan kesalahan yang sudah dia lakukan. Tanpa sadar, keningnya berkerut dan pipinya menggembung. Zovras lalu berusaha menenangkan gadis itu.
“Tenang, Shal. Tidak apa-apa, kok. Kita kan sudah sedekat ini, kau bisa tanya apa pun kepadaku. Aku harap … aku juga bisa lebih dalam mengenalmu.”
Zovras salah besar. Bukannya menenangkan, ucapannya itu justru membuat tubuh Shal bereaksi besar-besaran.
Shal masih tidak habis pikir. Mau-maunya Amara, yang kebijaksanaannya bisa menembus atmosfer, menjalin hubungan dengan cowok player. Tidak ada dalam kamus Shal untuk berhubungan dekat dengan kekasih orang, apalagi sahabatnya sendiri!
You have messed with the wrong girl, Zov!
“Kalian ini bukannya couple Maple Academy? Kenapa kaku begitu, sih? Jangan-jangan kalian lagi bertengkar, ya?” Fotografer mereka, seorang demigod bernama Erct, menegur Shalima dan Thann yang sedang berada dalam satu frame bersama. Mereka menjadi wajah utama Maple Academy dengan tema talented and warm. Namun, dari tadi Thann hanya menunjukkan ekpresi datar—wajahnya sehari-hari—sedangkan Shalima menunjukkan ekpresi kesal dan tegang.
“Couple? Couple apaan?” sungut Shalima.
“Ah, sudahlah,” ledek Erct, “Burung-burung pingai dari Ginkgo Forest yang cerita.”
Ternyata teman-temannya Malechite suka bergosip! Shal ingin segera meluruskan cerita itu, tapi dia keburu terkejut karena Thann tiba-tiba memegang pundaknya.
“Tim edit bisa membuat ada kadal hijau kecil berada di sini,” Thann menunjuk tangan Shalima yang sedang digenggamnya. “Mungkin itu bisa mengobati rasa rindumu terhadap Malechite.”
Shalima menyadari ada seutas senyum yang terbentuk di wajahnya. Membayangkan bisa berada bersama Malechite, meski hanya dalam foto, begitu menyenangkan hatinya. Dia juga senang Thann memikirkannya, walau ini semata-mata supaya pemotretan cepat selesai.
Kini Shal dan Thann sudah berpose di depan kamera. Erct langsung serius membidik kameranya ke arah dua insan itu. Semakin lama, gambar yang diambilnya semakin memuaskan. Dia terus mengambil gambar sambil tak henti-hentinya memberikan arahan.
“Ya, senyum seperti itu!”
“Thann, bisa angkat wajahmu sedikit?”
“Bagus, Shal! Teruskan!”
“Coba kalian mengobrol, biar lebih alami!”
Shalima bingung mau mengobrol apa dengan Thann. Selain menghindarinya, Thann juga selalu terlihat tidak nyaman saat Shal mendekatinya atau mengajaknya mengobrol. Makanya, Shal jadi terbiasa menjaga jarak dengan lelaki itu.
“Kulihat kau tidak ada kemajuan berarti di kelas Mantra. Kau yang payah atau tutormu yang ternyata tidak sehebat itu?”
Tutor?
Tanpa sengaja, Shal menautkan kedua alisnya karena serius berpikir.
“Jangan-jangan, kalian lebih banyak bermesraan dibanding belajar? Ya, ampun, Shal, seharusnya kau itu fokus! Coba contoh Elleanor. Sudah sepintar itu, dia tetap menolak teman serigalamu supaya bisa memusatkan perhatiannya untuk belajar.”
Apa? Elle sudah menolak Valfred?
“Kenapa diam? Mendadak bisu?” ejek Thann yang kesal karena ucapannya tidak kunjung digubris.
Shal jadi naik pitam mendengar perkataan Thann. Cowok itu memang pintar, tampan, dan putra bangsawan, tapi kalau soal empati kayaknya dia idiot!
Thann, aku ini bukan hanya gadis polos dan penurut yang kau temui di Ginkgo Forest! Aku juga bisa jadi naga betina!
“Iya, bisu. Kau kan paling jago membisukan orang! Lynean saja nyaris kau buat bisu!”
Senyum meremehkan di wajah Thann memudar. Bukannya merasa puas, Shal malah merasa makin sakit karena melihat kekecewaan dan perasaan terluka dari sorot mata Thann.
“Ma—”
“Lynean memang sempat bisu karena aku, tapi setidaknya waktu itu dia tidak dungu sepertimu.”
Shal tahu hormon adrenokortikotropiknya terus bertambah dan aktivitas saraf vagusnya meningkat tajam. Dadanya kini merasa sesak, jantungnya berdebar, dan perutnya terasa mual.
“Aku tidak paham apa yang dilihat Zovras darimu, tapi kalau mau bersenang-senang, lihat-lihat juga, dong.”
Erct terpaku di balik kameranya. Dia tidak menyangka arahannya untuk mengobrol malah berujung bencana. Begitu juga dengan Thann, dia termangu begitu melihat raut wajah Shal.
“Ma—maksudku lihat-lihat kondisi. Kau kan ….”
Thann tidak melanjutkan kalimat pembelaannya. Semuanya sudah terlambat karena dilihatnya air mata menetes di pipi Shal. Shal menghapus air matanya dengan punggung tangan. Sial, air matanya itu dihapus satu malah turun seribu.
“Aku memang dungu. Saking dungunya aku sampai minta kepada kunang-kunang harapan supaya aku bisa jadi gadis yang menawan ….”
Supaya kita tidak terlalu timpang.
“Astaga, aku benar-benar dungu, ‘kan?”
Thann menelan ludahnya. Dia segera mengangkat tangannya untuk menenangkan Shal, tapi malah ditepis oleh gadis itu.
“Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah jadi cukup baik untukmu. Kenapa juga aku harus peduli?” Shalima menatap Thann tajam lalu berbalik dan berlari keluar dari aula. Di depan pintu, Shal berpapasan dengan Zovras yang sudah menyelesaikan sesi pemotretannya. Dia sebenarnya sedang menunggu Shal.
Begitu dilihatnya gadis itu menangis, dengan sigap Zovras menangkap tangan Shalima. Thann juga keluar dari aula, tapi langkahnya terhenti begitu melihat Zovras sedang menahan Shalima.
“Kenapa, Shal?” tanya Zovras khawatir. Shal menepis tangan Zovras dengan kasar sampai lelaki itu limbung dan menjatuhkan buku sketsa yang dipegangnya.
“Leave me alone!” hardik Shalima. Gadis itu lalu berlari menjauhi aula, sementara Zovras dan Thann bertukar pandangan. Tiba-tiba, pundak mereka ditepuk-tepuk oleh seserang.
“Kisah asmara di sekolah memang tidak selalu lancar, Nak,” desah Mr. Navarro sambil memandang kedua muridnya itu secara bergantian dengan tatapan prihatin. Ia pun melangkah pergi sembari bernostalgia di Wisteria Academy dulu.