
Autumn—is—land
“HOEK!”
Venalu menepuk punggung lehernya sendiri dengan keras, berusaha memuntahkan sesuatu. Seumur hidup, baru kali ini ia muntah. Bukan karena mabuk setelah menaiki Rolling Pumpkin, tetapi serangga kontrak milik Lily lah yang menjadi penyebabnya.
Sewaktu labu raksasa berguling kencang, Lily yang panik karena tak mengenakan pengaman pun ikut terguncang tak tentu arah. Hal tersebut rupanya memancing Lady, kumbang kepik yang selalu bersembunyi di balik rambut merah Lily ikut panik dan terbang tak keruan. Sementara Venalu yang beberapa kali tertimpa tubuh Lily berusaha menghindar. Akan tetapi, karena terlalu fokus menghindar dari Lily, Venalu melupakan keberadaan seekor makhluk kecil hingga tak sengaja menelannya.
“Uhuk, uhuk! Serangga sialan!” umpat Venalu saat Lady telah berhasil keluar dari mulutnya. Segera ia merapikan pakaian dan mengambil kain segitiga dari saku mantel, lalu menghampiri Lily yang kini masih terkapar di samping labu raksasa dengan pandangan kosong ke arah langit.
“Cepat bangun! Pakai ini dan kita harus segera pergi.”
“Apa aku berada di Nirwana?” celoteh Lily sedikit melantur.
“Cih, bahkan Nirwana pun tak sudi kaupijaki,” cibir Venalu sembari mendorong pundak Lily untuk bangkit.
“Lalu kita di mana?” tanya Lily sembari menatap takjub hamparan pasir berwarna merah di sekitarnya. Tak jauh dari tempatnya duduk, terdapat tebing bebatuan di mana air sejernih kristal dan berkilauan mengalir menuju lautan lepas.
“Cepat pakai slayer-mu, lalu akan kujelaskan sambil kita berjalan.” Venalu mengangsurkan kain segitiga berwarna oranye berlogo Maple Academy.
Mereka mulai berjalan menyusuri tepian tebing. Bahkan kerikil-kerikilnya tampak seperti kristal berwarna gelap. “Kita berada di bagian tenggara Maple Island,” jelas Venalu. Lily hanya mengangguk spontan dengan tatapan kagumnya. “Sebenarnya tempat ini lebih dekat dengan asrama kita, tapi karena tak ada akses jalan, makanya kita harus ke Villagic dulu untuk menyewa alat transportasi.”
Mendengar kata transportasi, seketika membuat Lily menoleh. “Lalu kenapa harus menaiki labu gelinding menjijikkan itu?”
“Sebenarnya, ada banyak sekali kereta yang bisa dinaiki, tapi kata Miss Elafir, untuk kelas jelata seperti kita lebih baik naik Rolling Pumpkin. Yeah, mengingat semua biaya ditanggung sekolah,” jawab Venalu yang diakhiri dengan dengkusan.
Lily mencebik. Sampai kapan pun wakepsek tetaplah wanita yang penuh perhitungan. “Huh, dasar tante-tante pelit!”
Kali ini Venalu setuju dengan pemikiran Lily. Miss Elafir adalah Elf yang pelit. Bahkan ia mampu menggunakan segala cara serta mengupayakan agar pengeluaran biaya di akademi dapat seminim mungkin.
“Nah, kau bisa lihat pulau kecil di sana?” tanya Venalu sambil menunjuk daratan di tengah lautan yang dijawab dengan anggukan antusias dari Lily. “Itu adalah Autumnland.”
“Autumnland? Maksudmu tempat para Wizard? Tempat asal Efron?”
Venalu tiba-tiba tersipu saat mendengar nama Efron disebut. “Bukan. Itu hanyalah pulau kecil. Pulau musim gugur yang menjadi pusat pertanian dan peternakan dan dikelola oleh para centaur. Kau ini bukannya paling pintar masalah sejarah, ya?” jelas Venalu yang diakhiri dengan sindiran.
“Aku memang pintar, kok. Aku sedikit lupa saja,” elak Lily.
“Setiap hari Minggu, anggota Club Pencinta Satwa bergantian pergi kemari untuk mengambil stok makanan para satwa,” jelas Venalu kembali. “Nah, lihat benteng di ujung tebing itu. Itu adalah tempat penjaga perbatasan.”
Setibanya di benteng perbatasan, mereka menemui salah satu guardian. Setelah melakukan pengenalan melalui slayer yang ternyata menyimpan chip di bagian logonya, keduanya digiring menuju sebuah lemari dengan ukiran rumit. Venalu memutar beberapa ukiran hingga menyatu. Kemudian lemari itu terbuka dan menampilkan 22 anak tangga menuju ke bawah.
“Astaga, apa lagi ini? Kenapa ribet sekali?” keluh Lily saat melihat kapsul yang sepertinya hanya muat dinaiki dua orang setelah menuruni tangga.
“Diam dan cepat naik lalu pasang pengaman. Aku tidak mau kau membuat masalah lagi.”
“Nyenyenye,” cibir Lily, tetapi tak membantah perintah Venalu.
“Apakah ini sebuah stasiun kapsul?” tanya Lily sembari memperhatikan lalu-lalang di ruangan tersebut.
“Ini adalah pusat perdagangan Autumnland. Mereka mengekspor hasil panen dan ternaknya di sini.”
“Kita sudah menyebrang ke pulau musim gugur?”
“Tidak dan tidak akan pernah. Apalagi status kita hanya seorang siswi.” Venalu berjalan memimpin menyusuri loket-loket yang dijaga para manusia setengah kuda.
“Lalu?”
Venalu berhenti berjalan. Ia mengode Lily untuk mendekat lalu membisikkan sesuatu, “Kita berada di bawah laut perbatasan. Transaksi hanya dilakukan di bawah air dan bangunan ini berada tepat di bawah permukaan laut.”
“Aduh, pinggangku!” keluh Lily sembari mengurut pinggangnya sendiri. Kini ia berada di Villagic setelah mengantar Venalu mengambil persediaan pakan satwa. Di mana pakan yang berupa serangga-serangga aneh juga beberapa tanaman unik dimasukkan ke dalam koper berukuran kecil, tetapi berbobot berat. Menyebabkan nyeri di pinggang Lily setelah berhasil menariknya.
“Jangan mengeluh, katanya kau gadis kuat,” ejek Venalu mengingatkan perkataan Lily beberapa saat lalu saat ia dengan sombongnya menawarkan diri untuk menarik koper itu sendirian. Venalu berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang. Netra kelabu pucatnya menatap jauh seolah mencari sesuatu. “Apakah ada yang mengikuti kita?”
Lily ikut menoleh, lalu mengendikkan bahu saat tak mendapati apa pun berada di belakang mereka. “Perasaanmu saja kali,” ucapnya dan kembali mengeluhkan keadaan. “Apakah tidak ada jasa pengangkutan? Ini merepotkan sekali.”
Venalu menghela napas sebelum menjawab, mungkin memang perasaannya saja. “Ada, tapi—”
“Wakepsek pasti melarangnya,” potong Lily cepat. “Rasanya ingin kucakar wanita itu.”
“Tidak sopan!” Suara anak kecil sedikit nyaring menginterupsi. Tak lama, sebuah payung clover terbang melewati mereka dengan tubuh kecil Mevel yang bergelantungan di bawahnya. “Bergosip dan berbicara tidak sopan tentang wakepsek, poin kalian masing-masing berkurang 15,” teriak Mevel yang tubuhnya makin menjauh terbawa arus angin.
“A-apa?”
“Mungkin dia yang kau maksud mengikuti kita.” Lily mendengkus kesal. Ia mengambil kerikil dan melemparnya ke arah Mevel pergi. “Anak kecil kurang ajar! Padahal tahun pertama tidak ada bocah ini, kenapa di tahun kedua ada dia di mana-mana? Pasti setelah ini aku menjadi bahan cemooh si cebol.”
Dan benar saja. Ketika Lily sedang menikmati sisa akhir pekannya, Shalima bersama antek-anteknya datang hanya untuk mengomel masalah poin asrama yang kembali berkurang. Lagi-lagi Venalu harus menyaksikan adegan yang membuatnya sakit kepala.
“Apakah begini cara anak manusia berperilaku? Sangat tidak sopan dan hobi merepotkan,” komentar Amara. Elf bangsawan yang masih berkerabat dengan Venalu itu memang suka berbicara pedas tanpa basa-basi. Ia menatap malang Venalu yang sepertinya tertekan oleh situasi.
Maya tak terima karena kaumnya dihina. Ia maju hingga berhadapan langsung dengan Amara dan membalas, “Lalu apakah begini sikap seorang bangsawan Elf? Setahuku kaummu itu ahli beradu senjata, tapi kau …,” Maya menjeda kalimatnya sejenak sambil memicing, “kau justru ahli beradu mulut.”
Amara tak berekspresi apa pun, tetap anggun seperti biasa. Ia melempar senyum sinis dan tatapan menantang. “Manusia primitif!”
Sebelum drama itu berlanjut, Elleanor—lagi-lagi—melerai. Ia menarik tangan Amara untuk mengajaknya hengkang dari suasana panas di sana. Namun, alih-alih mengikuti, Amara justru menarik kasar tangannya agar terlepas dari genggaman Elle. “Aku bisa sendiri, Anak Manusia.”
“Dan kau tak perlu berlaku kasar pada Elle, Putri Bangsawan Elf!” sela Valfred yang tak terima dengan perilaku Amara. Sudah rahasia umum bahwa lelaki serigala itu tertarik dengan primadona angkatan pertama. Dan sudah rahasia umum pula jika Amara tak menyetujui perasaan temannya, sebab ia memang tak terlalu suka pada kaum manusia—pengecualian untuk Shalima tentu saja.
“Aku sumpahi kalian mengurangi poin asrama juga!” teriak Lily.
“Tidak akan!”
Sejak tadi Venalu merasa gelisah mengingat ada sesuatu yang mengikutinya saat perjalanan dari pulau musim gugur. Meski setelahnya muncul sosok Mevel, tapi ia yakin bukan anak kecil itu yang mengikutinya. Bahkan, ia sendiri merasakan tanda lingkaran di dahinya menyala meski hanya sekejap. Terlebih tanda itu hanya mampu menyala untuk mendeteksi adanya energi berbahaya.
Semoga hanya perasaanku saja.